Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 104


__ADS_3

Max POV.


Aku dan mamah kini sudah sampai di rumah. Aku mengantarkan mamah masuk ke dalam lalu kami langsung menuju dapur.


Ya, dapur adalah salah satu tempat favorite-ku sejak dulu. Sejak aku kecil dan masih tinggal di rumah ini. Kami sekeluarga lebih banyak menghabiskan waktu kami di tempat ini. Sebab bagiku, saat makan merupakan waktu yang sangat tepat untuk saling berbicara. Mengobrolkan semua hal yang sudah terjadi dan yang akan terjadi.


Bahkan dulu, aku senang berada di sini, sebelum acara makan dimulai. Melihat mamah dan bibi Mince memasak, menyiapkan hidangan untuk kami. Bahkan mamah sempat mengajariku untuk memasak dan mamah juga yang mengenalkanku pada bumbu-bumbu yang ada di dapur.


Jadi tak heran jika semua anak mamah sebenarnya bisa memasak, walaupun tidak seenak beliau apa lagi seenak para koki atau chef's di luaran sana.


Aku langsung menuju wastafel untuk membersihkan wajahku. Membasahi mataku yang tadi sempat meneteskan airmata saat memeluk mamah. Begitupun dengan mamah yang langsung mengambil tissu basah dan menyapukan di wajahnya.


Aku mengeringkan wajahku dengan tissu kertas yang ada di sana, lalu membuka kulkas. Mengambil sebotol air dan langsung mereguknya.


"Sudah berapa kali mamah bilang, pakai gelas. Dari dulu kamu gak berubah!" tegur mamah sambil menepuk pundakku. Membuatku sedikit terkejut. Lalu tersenyum cengengesan.


Mamah juga minum, tapi menggunakan gelas dan mengambil air hangat dari dispenser. Kemudian mamah kembali melamun, menatap pintu belakang dengan pandangan kosong. Aku menoleh melihat pintu itu lalu kembali menatap mamah. Hanya memastikan jika mamah benar-benar sedang melamun.


"Mamah mikirin apa lagi sih?" tegurku. Tapi mamah seakan tidak mendengar suaraku menegurnya. Sampai aku harus kembali memanggilnya. "Mah!" Nada suaraku agak meninggi dari sebelumnya.


Mamah tersadar dan menyahut. "Ya?"


Aku terkekeh melihat tingkah mamah yang sekarang. "Mamah kenapa lagi? Apa lagi yang dipikirin sekarang?" ucapku sambil mendekatinya dan merangkulnya dengan sebelah tanganku.


Kutatapi wajah mamah dari samping. Wajah seorang ibu yang melahirkanku, melahirkan kedua adikku. Kulitnya kini tak sekencang dulu. Namun pikirannya kini memaksanya untuk berpikir lebih kuat dari pada dulu. Ya, aku tahu betul, mamah pasti masih memikirkan kami, anak-anaknya, walaupun kami sudah memiliki keluarga kecil kami sendiri. Terkecuali Haikal yang masih dalam proses.


"Kalau mamah sudah gak ada lagi, apa kamu bisa menjanjikan kebahagiaan buat adik-adik kamu? Dan buat diri kamu sendiri?" lirihnya sambil berpaling menghadapku dan meletakkannya telapak tangannya di dada kananku, tepat di mana jantungku berdetak.


Aku ragu untuk menjawab pertanyaan mamah itu. Entah mengapa, tapi aku merasa tidak yakin bisa membahagiakan diriku sendiri, apa lagi membahagiakan adik-adikku.


Mamah menatapku dengan sendu. Perlahan kuraih tangannya yang melekat di dadaku, setelah kuletakkan botol air yang sedari tadi kupegang. Lalu kucengkram tangannya dengan kedua tanganku. Kutatap wajah mamah lekat-lekat.


"Mah, aku belum berani janjiin semua itu ke mamah. Yang jelas, kami sebagai anak mamah mau mamah yang bahagia. Tapi kalau kebahagiaan mamah berada saat mamah melihat kami bahagia, maka kami akan berusaha selalu bahagia. Untuk mamah dan untuk papah." Aku langsung mendekap mamah, membawanya masuk ke dalam pelukkanku. Kemudian kukecup puncak kepalanya.


Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga mamah selalu disehatkan. Semoga dia bisa melihat cucunya menikah kelak. Menghadiri pernikahan anakku, anak Haikal dan anak Tika.


Tidak ada doa lain yang ingin kupanjatkan saat ini, hanya itu.


———————————————


Jefri POV.


Hari ini adalah hari terakhir kami liburan di Maldives. Rencananya siang ini tepat jam satu pesawat kami akan lepas landas menuju Indonesia. Tapi sebelum itu aku dan Tika menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat. Dibantu dengan supir yang disediakan oleh pihak penginapan, aku dan Tika menyusuri Majeedhee Magu.


Majeedhee Magu merupakan lokasi untuk berburu oleh-oleh khas Maldives. Karena di sana akan banyak penjual yang menawarkan pernak-pernik khas Maldives. Mulai dari pakaian, tas, jam tangan, jam tangan, bahkan hingga alat kosmetik bisa di temukan dengan mudah di tempat ini.


Aku membiarkan Tika untuk berbelanja sambil mengelilingi tempat itu, sedangkan aku memutuskan untuk menunggunya di satu titik sambil merokok.

__ADS_1


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎶


Tiba-tiba saja ponselku berdering. Kurogoh saku celanaku untuk mengambil ponselku lalu melihat siapa yang menghubungiku, ternyata mama. Segera kugeser tanda hijau yang muncul di layar ponselku.


Kemudian mama menjawab di seberang sana dengan nada cemas. Lalu mengatakan bahwa ada keadaan gawat yang segera harus aku atasi begitu aku sampai di Indonesia.


"Tapi, Ma, aku sampenya tengah malam. Memang pak Hardi gak bisa handle dulu sementara? Lagian mana aku ngerti, Ma?!" rengekku bak anak remaja yang meminta hukumannya diringankan.


Tapi yang namanya mama, pasti saja tetap mama. Dia bersikukuh, bahwa hanya aku yang bisa mengatasi masalah anak perusahaan papa yang baru saja dijelaskan oleh pak Hardi. Aku memijit kepala depanku dengan pelan. Menekan tepat di samping di kedua sisi pelipis mataku.


"Ya udah, mama minta pak Hardi buat kirim dokumen Great Company ke email aku. Nanti selama di pesawat biar aku cek dulu." Aku akhirnya pasrah dengan segala jenis bujukan mama.


Belum selesai satu masalah tentang lelaki pengganggu, Dana. Kini muncul lagi masalah anak perusahaan papa. Kepalaku terasa semakin sakit dan berdenyut. Hingga akhirnya aku kembali menyulut sebilah rokokku lagi. Belum juga aku benar-benar menjabat secara resmi, sudah disuguhi dengan begitu banyak masalah.


Aku menghela napas panjang. Tak berapa lama kemudian, Tika datang. Hanya sedikit barang belanjaan yang dibawanya, yang kemudian disambut dengan ramah oleh supir kami.


"Kenapa belanjanya cuman sedikit? Uangnya gak cukup ya?" tanyaku saat ia memelukku.


"Cukup, cuman ngapain beli banyak-banyak?"


Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan senyuman yang kemudian kukecup keningnya, lalu membawanya masuk kembali ke dalam mobil. Kami langsung menuju bandara.


***

__ADS_1


Pesawat kami menuju Indonesia telah lepas landas. Tika asyik melihat pemandangan yang disuguhkan jendela pesawat dari atas, memandangi daratan kota Maldives yang semakin mengecil dan beberapa pulau indah lainnya di sekelilingnya.


Lagi-lagi aku mengembuskan napasku dengan berat. Sungguh berat lalu aku mencoba memejamkan mataku. Meninggalkan Tika yang sedang asyik mengagumi pemandangan dari atas.


Tak lama berselang, aku terbangun dari tidurku. Aku langsung menoleh ke arah Tika, melihatnya yang juga ikut tertidur di sampingku. Menyanderkan kepalanya pada sebuah bantal di dinding kursi.


Aku kembali mengingat tentang telepon mama tadi pagi. Aku berdiri, mengambil notebook dari dalam tas jinjing yang ada di bagasi di langit-langit pesawat. Kemudian membukanya, menghubungkannya pada koneksi internet khusus di pesawat untuk mengecek email.


Email dari pak Hardi sudah masuk. Ada beberapa file yang ia kirimkan kemudian juga ada sebuah pesan singkat, bunyinya:


Semua informasi yang saya dapatkan masih belum bisa dipastikan keabsahannya. Jadi saya harap bapak bisa lebih bijak dari saya. Terimakasih.


Aku mengerutkan dahi saat membaca pesan itu. Pikiranku seakan berkecamuk. Ada apa lagi dengan perusahaan papa. Apa ini juga salah satu penyebab papa jatuh sakit kemarin? Lalu kenapa baru sekarang pak Hardi memberitahukan masalah ini padaku? Sudah lewat berbulan-bulan yang lalu.


Aku sempat melirik Tika yang masih tertidur dengan lelap di kursinya. Lalu perhatianku kembali lagi pada layar notebook yang menampilkan beberapa file tentang Great Company, anak perusahaan papa yang baru berdiri beberapa bulan.


Di sana menjelaskan bahwa perusahaan itu kalah tender yang menyebabkan perusahaan utama mengalami kerugian cukup besar akibat Great Company telah menyetorkan sejumlah dana.


Saat membaca beberapa file di awal, kepalaku sudah merespon dengan cukup cepat, hingga sepertinya otakku butuh suatu kesegaran. Aku gelisah. Sayangnya, semua pesawat rata-rata tidak menyediakan ruangan khusus untuk merokok. Dan saat ini, aku membutuhkan itu.


Aku mengusap wajahku dengan kasar. Tak lama berselang, seorang pramugari melewatiku dan aku memanggilnya.


"Maaf, apa ada minuman yang bisa saya minum?" Aku berucap sambil menekankan pada kalimat bagian akhir.


"Kami menyediakan segelas wine jika bapak menginginkannya." Pramugari itu tersenyum sambil menunggu jawaban dariku.


Aku berpikir sejenak, lalu aku menyutujui tawaran itu. Sang pramugari langsung segera bergerak berjalan menuju bagian awak kabin di depan untuk mengambilkan segelas wine itu.


Tidak sampai lima menit, sang pramugari kembali, ditemani oleh seorang pramugara. Mereka menyediakan gelasnya, lalu sang pramugari dengan perlahan menuangkan wine itu ke dalam gelas di hadapanku. Aku mengucapkan terima kasih setelahnya. Kemudian mereka pun berlalu pergi.


Kunikmati segelas wine merah itu dengan perlahan sambil aku memperhatikan dan membaca lebih teliti lagi isi dokumen tentang laporan Great Company. Perusahaan yang memang seharusnya tidak di calonkan dalam nominasi tender sebuah proyek besar. Tapi entah mengapa papa malah melakukan itu.


Aku melirik jam tanganku, kini sudah delapan jam lebih kami mengudara dalam pesawat ini. Tinggal beberapa jam lagi kami akan sampai, kembali ke Indonesia. Kembali pada rutinitas kami masing-masing. Dan kursi perusahaan papa sudah menantiku.


Aku kembali menatap Tika yang masih saja tertidur dengan pulasnya. Kemudian kusentuh bagian perutnya perlahan. Hingga secara tidak langsung sentuhanku itu membuatnya membuka mata dan terbangun.


Kuberikan ia senyuman manisku. Kemudian kukecup bibirnya mesra.


Bersambung ...


——————————————————


Holaaa, lohaaaa ...


Maaf baru bisa update lagi ...


Mungkin sebagian dari kalian yang sudah mengikutiku di Instagram tahu bahwa ada info dari aku yang meminta untuk rehat sejenak dalam melanjutkan karya ini ...

__ADS_1


Sekali lagi aku memohon maaf, karena kesehatanku sedang menurun, tapi selalu aku usahakan menyajikan cerita yang terbaik untuk kalian. Oleh karena itu, tolong berikan komentar kalian di episode ini, agar aku lebih semangat lagi dalam menulis, terima kasih 😘


Babay 💋❤️


__ADS_2