Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 55


__ADS_3

Jefri POV.


Ku buka layar ponselku setelah sampai di rumah, sedangkan Tika langsung menuju kamar untuk segera mandi. Kasian dia, mandi tapi gak ganti baju seharian semaleman. Aku bawa kesana kemari seharian ini. Bahkan saat di rumah Mamahnya sendiri, dia sampai lupa buat ganti baju.



Chat WhatsApp dari Haikal.


'Ini Paul ada di rumah sakit sama gua. Kamu kabarin orangtuanya gih, suruh jemputin.'


Aku bisa bernafas lega saat mendapat kabar ini. Segera ku beritahu Pablo tentang kabar baik ini, setidaknya mereka bisa bernafas lega dan tidak merasa khawatir lagi dengan keadaan Paul.


Ku hubungi Pablo via pesan WhatsApp. Untungnya Pablo stanby dengan ponselnya. Ia menjawab pesanku. Katanya ia akan segera menjemput Paul dan dia juga berterimakasih padaku atas informasi yang aku sampaikan.


"Sayang, kamu kalo mau tidur mandi dulu ya!" seru Tika dari kamar tidur kami.


Aku menoleh ke arah tangga. "Mandi sama kamu?"


Tika muncul diambang tangga. Dengan wajahnya yang terheran-heran. "Mau?" tanyanya.


"Maulah!" jawabku yang kemudian segera beranjak dari sofa hendak melangkah cepat mendatanginya.


"Aku sudah mandi," ucapnya tiba-tiba yang membuatku berhenti melangkahkan kaki ku.


Kutatap wajahnya lekat-lekat. "Mandi kilat?"


"Iya, aku ngantuk. Aku tidur duluan ya, boleh?" izinnya padaku.


Aku menghembuskan napas kasar. Kemudian perlahan menaiki anak tangga. Dia selalu mengujiku, batinku.


Ia menyambutku diambang tangga dengan senyumannya. "Kenapa senyum-senyum?" tanyaku.


Lalu Tika mengalungkan kedua lengannya di pundakku, mengelus lembut rambut dibelakang kepalaku hingga ke tengkuk leherku. Tak lama ia pun mulai menghujami ku dengan kelembutan bibirnya yang merona itu. Aku terbuai. Ku sematkan kedua tanganku di pinggangnya. "Gak mau nemenin aku mandi sekali lagi?"


Tika menghentikan aksinya, lalu menatap ku dengan matanya yang... Ya, mungkin ia benar-benar sudah mengantuk.


Ku kecup bibirnya kilas. "Ya sudah, tidur gih! Besok kerja kan?" ucapku lagi.


"Iya besok kerja, tapi bisa-bisa aku dibiarin tidur trus ditinggal lagi." Tika merajuk.


Aku tertawa. Kemudian ku colek ujung hidungnya. "Tadi pagi kamu keliatan capek banget, jadi aku males bangunin kamu."


"Hm, gara-gara itu juga, aku sampai dichat sama si Bos, dikatain jangan seenak jidat izin di kantor."


Aku tertawa. "Masa bos kamu bilang gitu?"

__ADS_1


"Iya, mau liat chatnya?"


Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Ku tatap wajahnya lekat. "Kalo gitu kamu resign aja."


Tika memundurkan kepalanya sedikit, lalu tersenyum. "Kamu ngaco deh."


"Loh, ada yang salah?"


"Masih banyak jobdesk aku yang belum kelar."


"Tapi kamu pernah janji sama aku tentang ini, inget?"


"Aku pikirin dulu ya?"


"Aku mau kamu jaga bayi kita."


"Pasti," ucapnya tegas lalu tersenyum.


Ku kecup keningnya sambil mendekap erat tubuhnya. Terlintas lagi kabar dari Haikal yang menemukan Paul di rumah sakitnya. Namun segera ku tepis pemikiran itu. Aku tidak ingin membuat istriku ini menjadi berpikiran yang macam-macam. Mungkin kabar ini lebih baik aku simpan sendiri, pikirku. Lagi pula aku sdh memberitahu Pablo untuk segera menjemput Paul.


"Udah kamu tidur gih sana! Aku mandi dulu," ucapku memecah keheningan.


"Mandinya gak jadi minta temenin aku?"


"Ja-ja-jangan-jangan, aku ngantuk, beneran sumpah, ampun," pintanya memelas.


Matanya memang sudah terlihat sangat lelah. Ku kecup sekali lagi keningnya, lalu ku lepaskan dekapanku. Ia segera bersiap untuk tidur, sedangkan aku langsung melangkah memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Semenjak menikah dengan Tika, banyak kebiasaannya yang sekarang juga ikut aku lakukan. Begitu juga dengannya. Dan semua itu membuat aku benar-benar bahagia dan merasa beruntung memilikinya.


----------


Haikal POV.


Clara dan Paul makan dengan khidmat, terlihat sekali Paul yang memang kelaparan. Berkali-kali Clara melirik ke arah Paul yang duduk disampingnya, kemudian terkekeh pelan sambil melanjutkan santapannya. Tak terasa kedua sudut bibirku mengembangkan sebuah senyuman, menarik pipiku menjadi lebih kencang.


"Ada yang lucu?" tanya Clara lalu meminum segelas es tehnya.


"Apanya?" tanyaku santai.


"Elu senyum-senyum dari tadi,"--Clara memajukan kepalanya lalu berbisik--"udah kayak orang gila!"


Spontan aku mengernyitkan alisku. Clara tertawa terbahak-bahak.


Setelah mereka selesai makan, aku bergegas berdiri menuju kasir untuk membayar semua yang telah mereka pesan. Namun sayang, belum selesai aku menarik uangku, tiba-tiba Clara mendahuluiku dengan menyodorkan selembar uang seratus ribuan.

__ADS_1


"Pake ini aja, Buk! Duit dia palsu!" seru Clara yang kemudian tersenyum lebar padaku.


"Kan gua bisa bayar."


"Tapi yang makan gua sama Paul, bukan elu." Paula memberi alasan.


Ibu kasir memberikan kembalian padanya. "Buk, es teh satu gelas berapa?" tanya Clara. Aku hanya tercengang melihat tingkahnya.


"Lima ribu," ujar sang ibu kasir.


"Berarti ini kembaliannya kurang lima ribu, Buk! Es tehnya dia bayar sendiri."


Sang ibu kasir langsung memberikan lagi selembar uang lima ribu pada Clara, ia terlihat senang.


"Sama bayat sendiri es tehnya!" ucapnya yang kemudian pergi secepat kilat meninggalkanku yang terheran-heran disini melihat semua tingkahnya tadi.


Kami kembali menuju ke ruanganku. Ku lirik jam tanganku berkali-kali, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Setelah sampai di depan ruangan, akublumayan terkejut dengan pintu ruangan yang terbuka. Didalamya sudah ada Pablo, Paula serta ibundanya Paula.


Paul sempat berniat untuk lari lagi, saat melihat siapa yang ada didalam ruanganku. Namun segera di genggam Clara tangannya, hingga Paul kehilangan keseimbangannya, untung saja Clara lebih gesit yang akhirnya membuat Paul dapat di hentikan.


"Makasih ya sudah tahan Paul," ucap Pablo saat berhasil membawa Paul masuk ke dalam mobilnya setelah drama panjang.


"It's ok, mungkin Paul cuman butuh perhatian kalian lebih besar lagi. Lebih intensif lagi," saranku saat itu.


Pablo mengiyakan kemudian memasuki mobilnya, lalu segera pergi. Aku dan Clara berdiri terdiam disini, di parkiran ini. Memang butuh perjuangan membuat Paul tenang kembali hingga akhirnya Paul mau untuk kembali ke rumahnya.


Clara juga membantuku, bahkan menemaniku sampai mengantarkan Paul memasuki mobil tadi. Hingga saat ini.


"Mau berdiri disini aja? Mobil mereka udah gak keliatan lagi itu," ucap Clara membuyarkan lamunanku.


"Eh? Ya enggaklah." Ku langkahkan kaki ku kembali menuju ke ruanganku, Clara mengikuti.


Aku kembali duduk di kursi kerja ku, kembali mengerjakan beberapa file lagi yang belum senpat ku cek. Sedangkan Clara memutuskan untuk duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Sebenarnya aku tidak tahu apa maksud dan tujuannya untuk datang ke sini. Ku perhatikan tingkahnya. Masa cuman buat mainin ponselnya, batinku.


"Gua boleh nanya sesuatu?" ucapku dengan mata yang kembali menatap layar komputer.


"Hm? Boleh, apa?" sahutnya sambil berdiri dan melangkah mendekati meja kerjaku. Kemudian dia duduk di kursi depanku sambil memperhatikanku.


Aku menoleh. "Kamu ada perlu apa ke sini?"


Clara kembali tersentak, itu terlihat dari raut wajahnya yang kaget. Lalu menegakkan kedua bahunya. "Gak papa, tadi tuh cuman lewat trus penasaran ada elu apa kagak."


Aku menatap matanya tajam.

__ADS_1


__ADS_2