
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Tok tok tok!
Tingtong!
Suara pintu kamar hotel diketuk dan bunyi bel setelahnya. Ya, telingaku mendengar semua itu. Aku memang tertidur dan memejamkan mata, hanya saja tidak nyenyak. Sebentar-sebentar mataku mengerjab, ditambah lagi dengan suara dengkuran ayah yang lumayan nyaring.
Entah bagaimana dahulu bunda bisa tidur nyaman dengan ayah.
“Clara ... Nak?! Bangun sayang!! Ini tukang make up-nya sudah datang.” Ayah menggoyang-goyangkan tubuhku.
Perlahan aku membuka kedua mata. Mengerjab beberapa kali hingga kedua mataku melihat sang perias yang sudah datang dan langsung mempersiapkan segala peralatannya.
“Bentar ya, Kak. Aku mandi dulu lima menit.” Aku meminta izin dari sang perias yang kemudian dizinkan.
Dengan cepat aku langsung beranjak berdiri, meregangkan otot tubuhku lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ritualku. Setelah menggunakan pakaian dalam lalu menutupi tubuhku dengan selembar jubah handuk, lalu aku melangkah keluar kamar mandi yang ternyata mamah mertuaku sudah ada di sini. Berbincang-bincang dengan ayah.
Ya, semenjak kemarin sore aku sudah diungsikan terlebih dahulu ke dalam kamar hotel Raffles ini oleh Max bersama dengan ayah. Dan semenjak itu pula aku hanya berada di dalam kamar ini, sedangkan ayah bebas berjalan ke sana-kemari.
Kemudian aku melangkah duduk di depan cermin rias kamar ini yang lumayan luas. Lebih luas dari kamar tidurku di rumah. Lalu tanpa sadar aku kembali menguap, membuka lebar mulutku dan menutupnya dengan telapak tanganku.
“Masih ngantuk?” tegur mamah padaku.
“Iya, Mah. Masih lumayan.
Mamah terkekeh mendengar jawabanku. Kemudian ayah beranjak membuatkan minuman untuk kami semua. Begitulah ayah, dia tidak malu ataupun segan hanya untuk menyuguhkan secangkir minuman pada tamunya. Lagi pula, kami berada di hotel sekarang, bagaimana mau menyuguhkan yang lain?
Waktu sekarang menunjukkan sekitar pukul empat pagi. Sang tukang make-up sudah memulai menyemprotkan sesuatu pada wajahku setelah sebelumnya dia memintaku untuk memejamkan mata. Kemudian dia memberikan sebuah serum, agar melindungi kulit wajahku.
Sebenarnya acara yang akan aku lakukan ini ada dua tahapan. Yang pertama pagi ini, adalah prosesi sakral dan resminya. Sedangkan makan harinya adalah acara resepsinya. Jadi untuk make-up pun, nantinya pasti akan di touch-up ulang.
Butuh waktu sekitar tiga jam untuk merias wajahku ini, hingga akhirnya aku merasa takjub sendiri dengan keahlian tangan sang perias yang bisa membuat wajahku tetap terlihat seperti aku tetapi lebih ... entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti jenis make-up inilah yang aku sukai.
Kemudian mamah mertuaku berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Tak berapa lama setelah itu tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Bukan sebuah panggilan telepon, melainkan sebuah pesan singkat yang aku terima.
__ADS_1
Segera aku periksa, yang ternyata pesan itu dari Haikal. Yang isinya sungguh membuatku tersipu malu.
(Isi pesan nanti akan aku buat gambarnya, jadi semua menyusul. *lol)
Setelah itu sang perias membantuku untuk mengenakan pakaian pertama pagi ini. Sebenarnya pakaiannya tidak jauh berbeda dengan gaun yang akan aku kenakan saat resepsi nanti malam, tapi kata mamah mertuaku itu tidak menjadi masalah yang penting gaunnya berbeda.
Beberapa kamera dari para photographer langsung menyorotiku begitu semua persiapan telah selesai aku lakukan. Kemudian ada juga pengambilan beberapa scene video untuk dibuat sebagai cinematic video. Itu loh, video singkat dari berbagai persiapan dan acara untuk diupload ke media sosial.
Ya, aku dan Haikal memang menggunakan jasa itu untuk mengabadikan momen indah dalam hidup kami ini. Mungkin bagi sebagian orang, jasa ini tidak terlalu penting. Tapi bagi kami, jasa photographer-lah yang menjadi fokus utama.
Mengapa?
Karena dengan jasanya, kita daoat merekan semua momen tidak terduga selama acara. Yang mana semua itu bisa kami tonton ribuan kali nantinya. Bahkan dengan foto dan video tersebut, aku dan Haikal bisa memperlihatkannya nanti kepada anak-anak kami atau mungkin kepada cucu-cucu kami. Membagikan rasa bahagia yang kami rasakan hari ini.
Dan dengan foto atau video itu, kami bisa kembali mengingat bagaimana perjuangan kami berdua hingga bisa berdiri pada titik ini. Sebagai peredam jika emosi menghampiri masing-masing hati kami. Karena hanya dengan melihat dan mengenang momen bahagia, maka seluruh perasaan negatif akan menjauh pergi dari pikiran ini. Itu menurutku.
Oleh sebab itu, bagiku dan Haikal, tidak masalah menyewa jasa yang satu ini dengan harga yang lumayan mahal. Karena impact-nya ke depan sangat berharga dan berarti untuk menunjang hari-hari yang akan kami lalui setelah hari ini.
Tok tok tok!!
Tingtong!!
Lagi-lagi suara pintu yang diketuk dan juga bunyi bel yang ditekan setelahnya. Apa pengunjung di kamar hotel selalu seperti itu? Selalu memgetuk dan juga menekan papan bel di luar sana? Mengapa tidak salah satunya saja? Menyebalkan!
“Astaga!!!”
“Omaigat!!”
Kemudian mereka segera masuk ke dalam kamar yang memang hanya ada aku, perias dan juga beberapa orang dari bagian photographer ini.
“Akk!! Cantik banget!!” pekik Tika.
“Perfecto!!” Shilla menambahi.
“Ayo foto?!” ajakku pada mereka berdua yang kemudian disetujui oleh mereka berdua.
Kami bertiga langsung ber-pose beberapa kali agar hasil fotonya terlihat berbeda di setiap kali jepretan yang dihasilkan. Lalu sang kru videographer, meminta Tika dan juga Shilla untuk ikut andil dalam sebuah konsep pengambilan scene video-nya. Berlagak seolah mereka berdua yang mendandaniku dan membantuku untuk menyempurnakan penampilan di hari bahagiaku ini.
Sebenarnya memang mereka berdua yang membantuku secara tidak langsung. Tika membantuku memberikan beberapa pilihan vendor yang aku inginkan, lalu Shilla membantuku dalam memilih jenis make-up, jenis dekorasi yang sedang happening saat ini dan masih banyak perihal lainnya yang mereka berdua memang berperan penting.
“Apa ayah aku tadi di kamar Haikal?” bisikku pada mereka berdua begitu kegiatan shooting kami selesai.
__ADS_1
Tika mengangguk. “Iya.”
“Kami ke sini karena ingin membiarkan ayah kamu berduaan dengan Haikal di sana. Siapa tahu Haikal dapat wejangan atau apa gitu. Biar dia makin gugup.” Shilla mengakhiri kalimatnya dengam tertawa.
“Shilla jahil banget!” Tika mengejeknya lalu ikut tertawa. Begitu pun dengan aku yang akhirnyabikut tertawa. Entah apa yang akan dikatakan ayah pada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku itu.
Tak lama setelah itu, aku meminta berfoto berdua pada sang perias, sebagai kenang-kenanganku akan keajaiban tangannya yang terampil. Lalu saat Tika dan juga Shilla berpamitan ingin segera kembali ke ballroom, ayah muncul di ambang pintu dengan terperangah melihatku.
“Maaf, Pak. Kita ambil fotonya dulu, Pak ya. Sama beberapa scene buat video,” pinta salah satu kru, ayah mengangguk.
Pandangan mata ayah terlihat begitu berbeda. Entah terpesona atau takjub, aku tidak tahu dan tidak bisa membedakannya. Yang pasti, begitu ayah mendekat, aku memeluknya. Rasanya benar-benar tidak menyangka jika akan sampai pada tahap ini menjalani hidup.
“Jangan menangis ya?! Nanti rusak dandanannya.” Ayah menegur.
Kemudian aku lepaskan pelukan itu. “Tenang ayah, ini sedikit waterproof, jadi gak apa-apa,” ucapku seraya menerima tissue yang diberikan oleh sang perias.
Sedangkan para kru foto dan juga video sudah mulai beraksi sejak aku memeluk ayah. Lalu kembali lagi kamu membuat konsep ala-ala persiapan pernikahan. Asisten kru foto ini memang begitu banyak memiliki ide-ide yang brilliant. Tidak salah aku dan Haikal memilih jasa mereka, membuatku nyaman, santai dan tidak tegang untuk melakukan semua arahan dari mereka.
Hingga akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sekali lagi ayah memberikan petuahnya padaku membuat aku tidak ada henti-hentinya bersyukur karena memilikinya saat inj, walaupun tanpa kehadiran bunda. Tetapi aku yakin, saat ini bunda pasti sedang melihat putrinya ini bahagia dengan awal kehidupan yang akan aku jalani.
Benar, sebuah pernikahan adalah tiket untuk memasuki chapter baru dalam kehidupan. Bukan sebagai akhir dari perjalanan, tetapi sebagai awal dari sebuah kehidupan yang semestinya.
Bersambung ...
——————————
Hallo lohha, ketwmu lagi di hari yang bahagia buat Clara dan juga Haikal atau bahkan seluruh keluarga merasa bahagia saat ini. Aku pun sebagai penulis yang menciptakan mereka juga merasa sangat bahagia 🤣
Oh iya, mungkin tulisan di atas atau di sebelum-sebelumnya banyak terdapat typo, tapi tolong dimaklumi saja yaa, nanti aku edit ulang kalo sudah selesai. Trus beberapa chapter lagi kemungkinan gak aku edit buat tulisan miring dan sebagainya, soalnya aku lagi kejar waktu, ada deadline 😝
Buat yang sudah vote sampai sejauh ini, aku ucapin makasih, tapi jangan berenti ya votenya, sampai dua minggu ke depan. Sekalian kita lihat, bisa masuk rangking lagi gak ini judul 🧐
Trus buat kalian yang vote judul Milik Wanita Lain juga aku ucapkan makasih tapi please ... pleaseeeeeeee banget, kasih votenya jadiin satu ke judul ini aja 🤭 anggap aja sebagai salam perpisahan buat cerita mereka ini *ups spoiler 🙊🤫
Ya sudahlah. Sekarang waktunya dandan, bentar lagi acara pernikahan mau dimulai. Kali ini aku tidak menghadirkan prosesi pernikahan yang detail ya, soalnya aku gak mau menyinggung agama manapun. Biarkan prosesi ini menjadi spesial di hati kalian masing-masing dengan keberagaman agama yang ada di Indonesia ini. Sebab aku menyukai agama manapun tanpa ingin menjadikannya sebuah perbedaan 💋
Udah siap masuk ballroom??
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
__ADS_1
@bossytika 💋