Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 206


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Dengan lembut aku terus mengecup bibir itu, membelit lidahku dan menghisapnya. Bertukar saliva hingga menghasilkan bebunyian halus yang terdengar menggelitik di telingaku. Menikmati setiap gerakan yang kami hasilkan di sana. Lalu tiba-tiba saja Clara melepaskan tautan, hingga membuatku bingung.


“Kenapa?”


Lampu yang masih padam menyebabkan aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali. Hingga aku tidak tahu bagaimana sebenarnya reaksi Clara. Namun, dari sikapnya sekarang yang dengan spontan melepaskan pagutan kami, sepertinya ...


“Kenapa?” tanyaku sekali lagi sambil mencengkeram lengannya dalam kegelapan.


Clara menjauhkan tubuhnya dari dekapanku. Mungkin dia tidak siap aku perlakukan seperti tadi. Dan bodohnya aku melakukan itu, semestinya aku bisa menahan gejolak dalam tubuh ini sedari tadi.


“Mungkin pakaian aku sudah kering jadi aku bisa pulang,” ucapku tiba-tiba lalu melepaskan cengkeramanku padanya. Aku benar-benar merasa tidak enak padanya.


“Di luar masih hujan,” sahutnya terdengar seperti melarangku untuk pulang, tetapi sikapnya seakan menyuruhku untuk segera pergi.


“Kamu punya payung, 'kan?” tambahku mengotot.


“Ada, trus bajunya? Aku gak bisa liat, gimana mau jalan ke mesin cuci?” Kemudian Clara kembali bergerak, seperti berdiri dari duduknya. Tanganku masih mencengkeramnya, jadi aku bisa merasakan jika saat ini dia memang sudah dalam posisi berdiri.


“Trus buat apa kamu berdiri?”


“Pegel aja! Hape kamu mana?”


“Di mobil.”


Hening. Beberapa saat kemudian Clara kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Lalu mengembuskan napasnya dengan berat, membuatku seketika tertawa pelan melihat tingkahnya yang aneh itu.


“Jangan ketawa! Gak ada yang lucu!” hardiknya.


“Gimana aku gak ketawa, kalau kamu kayaknya gelisah salah tingkah begitu,” jelasku pelan dan melepaskan cengkeramanku padanya.


Aku sudah bisa membayangkan, bagaimana raut wajah Clara saat ini yang sedang merajuk itu. Pasti sangat lucu, tapi sayangnya aku tidak bisa menyaksikan itu.


Hening. Suasana kembali menjadi sepi setelah tawaku mulai mereda. Aku juga tidak dapat memastikan, sejauh apa saat ini Clara duduk dari posisiku.


Namun, bunyi hujan di luar sana perlahan mulai ikut mereda. Dan saat ini hanya ada satu hal dalam pikiranku, mungkin secepatnya keluar dari situasi ini lalu pergi pulang adalah keputusan yang paling terbaik. Jika tidak, aku tidak tahu apakah aku mampu menahan lebih lama lagi hasratku ini padanya.


Dan sekedar catatan, aku lelaki normal yang juga memiliki pemikiran liar dalam otakku. Hanya saja, pemikiran ini muncul dengan orang tertentu bukan kepada setiap wanita.


Aku segera berdiri, berniat hendak menyasar menuju ke ruang mesin cuci, di mana pakaianku tadi di masukkan ke dalam mesin itu. Sudah sejam lebih aku di sini, mungkin saja pakaian itu berhasil kering sebelum listrik padam, bisa jadi 'kan?


Mendadak tangan Clara menarik celana trainingku. Aku sempat terkejut. Untung saja tidak melorot dan untung saja listrik masih padam. Jadi dia juga tidak bisa melihat ekspresiku yang terkejut karena celana yang ditarik. Dan mungkin juga Clara tidak menyadari jika yang ditariknya itu adalah bagian celanaku. Bukan, bukan celanaku, tetapi celana milik ayahnya yang aku kenakan.

__ADS_1


“Aku takut.” Suara Clara terdengar pelan sekali.


Sambil meraih tangannya itu aku berkata, “Takut apa?”


“Takup gelap,” lirihnya semakin pelan.


Kedua sudut bibirku tertarik sempurna, aku baru tahu jika dia takut akan gelap. Tapi aku juga tidak bisa untuk lebih lama berada di sini, dalam keadaan yang seperti ini. Bisa-bisa kontrol diriku lepas begitu saja. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkannya.


Dilema. Aku bimbang harus membuat keputusan yang seperti apa sekarang. Wanita ini sungguh menguji hormon dalam tubuhku.


"Aku tungguin sampai listriknya nyala lagi, tapi aku duduk di sebelah sini. Kamu tetap di situ.”


“Kenapa?”


“Kita gak bisa liat satu sama lain, aku cuman gak mau semuanya jadi gak terlalu spesial lagi buat kamu, begitu juga buat aku nanti.” Aku sengaja mengucapkannya seperti itu agar kami berdua sama-sama menahan segala rasa. Jika Clara menahannya maka aku mampu untuk menghormati keputusannya, begitu pula sebaliknya, menurutku.


Kembali aku duduk di salah satu sofa, kali ini aku memilih duduk di sebuah sofa tunggal. Dan mungkin Clara masih duduk di sofa panjang tadi. Aku sudsh melepaskan tangannya sejak lama.


Beberapa waktu berlalu, rintik hujan kembali terdengar begitu kencang saat menghantam atap rumah ini. Sepertinya cuaca di luar sana benar-benar tidak mengizinkanku keluar dari rumah ini untuk pulang.


Sebenarnya, di hati ini juga ada sedikit rasa takut yang membelenggu. Ya, takut jika tiba-tiba tetangganya datang atau mendobrak masuk ke dalam rumah karena melihat mobilku di luar sana. Bisa saja warga di sekitar sini berpikiran yang tidak-tidak. Itu sebabnya aku harus menjaga jarakku padanya. Seperti yang sering terjadi di dalam sinetron di televisi.


Lagi pula pada akhirnya dia juga akan menjadi milikku, jadi aku hanya perlu menahan diri beberapa hari lagi. Dengan begitu, aku akan memilikinya seutuhnya, selamanya. Dan semoga saja semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada rintangan apa pun.


Cukup lama kami duduk di ruang televisi itu, dalam gelap dan juga dalam keheningan. Membuat mataku terasa mengantuk dan akhir terpejam begitu saja.


**


Sedikit terkejut saat melihat sebuah televisi besar yang menyala lalu dengan ornamen ruangan yang rasa-rasanya bukanlah ornamen di rumahku ataupun rumah mamah.


Perlahan aku menggerakan leher dan juga tubuhku hingga mataku melihat sebuah bingkai di bawah meja televisi yang mana isinya adalah foto seorang anak wanita dan juga dua orang lelaki di sampingnya. Tetapi itu bukan foto kecilku bersama Max dan juga Tika. Melainkan foto anak kecil yang tidak aku kenal sama sekali.


Begitu hendak berdiri, berniat untuk menghampiri foto itu, tiba-tiba aku baru tersadar jika ini adalah rumah Clara dan dia sedang terbaring lelap di atas sofa panjang di depanku. Dengan lekat aku menatapnya, tersenyum lalu berdiri mendekatinya. Mengembuskan napas dan akhirmya memutuskan untuk segera berjalan menuju ruang mesin cuci, mengambil pakaianku di dalam sana yang ternyata memang sudah kering.


Selesai mengenakan pakaianku kembali, aku memutuskan untuk membangunkan Clara dan berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.


“Gak apa-apa 'kan aku tinggal?”


Clara mengangguk. “Kalau ada apa-apa telepon aja ya?” tambahku lagi.


Cuaca di luar masih gerimis, aku meminjam payungnya untuk menuju ke dalam mobil. Lalu melaju pergi meninggalkannya sendirian di sana. Dan ini adalah keputusan terbaik untuk kami berdua.


Dalam perjalanan, beberapa kali aku teringat akan ciuman sensasional yang kami lakukan beberapa jam yang lalu. Tidak sengaja aku mengelus bibirku sendiri. Rasanya sungguh manis, bibir tipisnya itu sangat membuatku tergoda dan membuat pikiranku menjadi tidak karuan.


***


Setiap pagi aku mulai menjemputnya dan mengantarkannya ke kantor. Lengkap dengan membawakannya beberapa tangkai bunga mawar yang selalu bertambah di setiap harinya, untuk aku berikan padanya. Dan dia selalu tersipu saat aku memberikan bunga itu padanya. Walaupun hari sebelumnya juga aku melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Seperti pagi ini. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di kantor, sebelum ia cuti menjelang proses pernikahan kami. Sedangkan aku masih harus tetap bekerja hingga dua hari sebelum acara.


“Jadi kamu baru bisa ambil cuti hari Kamis?” tanya Clara saat dalam perjalanan.


Aku menoleh padanya sekilas lalu menjawab, “Iya. Trus kita terakhir ketemu rencananya kapan? Jadi ayah mau pingit kamu?”


“Kayaknya sih jadi. Mungkin Selasa atau Rabu.”


Aku menganggukkan kepala. Hari ini sudah hari Rabu, itu artinya sebelum pernikahan aku masih memiliki waktu seminggu untuk bertemu dengannya dengan status yang masih menjadi seorang kekasih. Aku menjadi tidak sabar menantikan acara pernikahan kami. Tidak sabar untuk menjadi suaminya dan tidak sabar untuk melihat wajahnya saat pertama kali aku membuka mata. Bukankah itu hal yang luar biasa?


“Nanti siang, biar aku yang ke rumah sakit pake ojek online. Setelah itu baru ke rumah mamah,” ucap Clara menyusun rencana.


Memang siang ini mamah meminta kami berdua untuk ke rumah, katanya sekalian makan siang dan ada yang hendak beliau bicarakan pada kami berdua. Mungkin memberikan wejangan, tapi sepertinya tidak. Mamah bukan seorang ibu yang seperti itu menurutku.


“Ciee udah panggil mamah aja, biasanya bilang tante.” Aku menggodanya. Clara memukul lenganku, wajahnya langsung terlihat memerah. Sepertinya dia malu.


Tak lama setelah itu kami sampai di depan halaman kantornya. “Aku cuman mau membiasakan, gak lucu dong nanti setelah menikah tiba-tiba aku keceplosan panggilnya tante?” Clara berkelit.


“Iya Sayang. Aku ngerti kok. Cuman suka aja liat kamu digodain.”


“Kalau pria lain yang godain? Kamu juga suka ngeliatin wajah aku?”


“Awas aja kalo sampai ada yang berani godain. Aku tulisin ntar di kening kamu, kalau kamu punya aku. Gak boleh dilirik ataupun disentuh.” Aku sedikit emosi.


“Kalau yang lirik nasabah gimana? Aku 'kan berhadapan langsung sama nasabah.”


“Gak bisa. Pokoknya gak boleh ada yang genit. Trus kamunya juga, awas aja kalo genit sama yang lain. Mau itu nasabah kek atau bos kamu kek, awas aja!” Aku mengancamnya.


Seketika gelak tawa Clara meledak, menggema di dalam mobil. Kemudian dia berpamitan padaku dan turun dari mobil.


“Ingat! Jangan nakal, awas kalo nakal!” teriakku setelah jendela kaca aku turunkan, Clara hanya melotot dan tersenyum jahil padaku.


Kemudian Clara melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam gedung kantornya. Sedangkan aku langsung kembali menginjak pedal gas dan melaju pesat menuju ke rumah sakit.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode.


Jangan lupa juga buat vote 😂


Sekian dulu, #salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2