
Lisa POV.
Braak!!
Suara pintu yang dibuka dengan paksa, membuat mataku dan mata Dana sama-sama tertuju pada sumber suara itu. Seorang lelaki berdiri dengan gagahnya dan ...
"Dave?!" seruku, terkejut melihatnya ada di tempat ini. Aku mengerjabkan mataku berkali-kali, hanya untuk memastikan benarkan itu sosok lelaki itu?
Belum sempat aku meyakini jika lelaki itu benar adalah Dave, sesosok lainnya yang muncul di belakangnya semakin membuatku terkejut. Dua orang pria bertubuh kekar sedang memegangi kedua tangan seorang wanita dengan paksa dan kasar.
"Lisa!!!" teriak wanita itu. Ya, dia adalah Tika. Seorang wanita yang aku anggap sebagai sahabatku, sekaligus sebagai pembawa masalah dalam hidupku.
"Tuh 'kan, apa aku bilang? Dia lebih menyayangi kamu daripada aku ataupun suaminya sendiri." Dana menarik kasar daguku agar pandangan mataku teralihkan kepadanya.
Otakku semakin mencerna lebih jelas lagi. Benarkan yang dikatakan oleh Dana? Sebegitu sayangnya kah Tika padaku? Bukan kah dia yang sudah merebut semuanya dariku?
Aku hanya terdiam, saat Dana membuang kasar daguku sambil menampar pelan pipiku. Kemudian ia menuruni tubuhku dan beranjak pelan menuju ke arah Tika. Dalam hatiku, ada satu sisi yang tidak rela jika melihat Tika disakiti, apalagi dengan kondisinya yang sedang mengandung saat ini. Bukan satu orang anak, melainkan dua orang. Anak kembar yang sangat ia harapkan. Tapi mengapa ia malah membahayakan dirinya dan juga kandungannya untuk mendatangiku?
"Wow!! Aku gak tahu loh kalo kamu sedang hamil." Dana tertawa lebar, membuyarkan lamunanku. Aku kembali memandangi Tika dari atas ranjang. Tubuhku seakan sudah kehabisan tenaga. Seharusnya aku berterima kasih padanya, karena dengan kedatangannya itu bisa membuatku mengambil napas, walaupun hanya untuk sejenak.
"Kamu tahu, tubuh kamu semakin seksi jika dalam kondisi seperti ini," lirih Dana sambil mengelus pipi Tika dengan jemarinya.
"Hei ... hei ... bereskan dulu yang satu itu," perintah Dave menarik bahu Dana, aku tahu maksud mereka. Tapi mengapa mereka bisa saling kenal? Darimana mereka bisa seakrab ini? Lalu apa maksud dari semuanya ini?
"Bawa dia ke sana," tambah Dave, kali ini ia menyuruh kedua lelaki yang memegangi Tika untuk membawanya duduk pada sebuah sofa yang berada di dekatnya.
Kemudian Dana kembali menaiki tubuhku. Ia mengulangi semua kebrutalannya padaku dari awal hingga akhir disaksikan dengan suara Tika yang kudengar terus berteriak memohon agar Dana menghentikan perbuatannya padaku.
Aku merasa seperti sedang melakukan sebuah pertunjukan dewasa dengan beberapa pasang mata yang sedang menontoniku. Dengan airmata yang terus mengalir, bahkan aku meronta menggunakan sisa tenaga yang ada. Hingga akhirnya Dana menjauh dari tubuhku, bukan untuk membiarkanku bebas, melainkan ia mengambil sebuah gunting.
Kalian tahu untuk apa?
Dengan tatapan matanya yang siap melahap mangsanya, ia meletakkan gunting itu pada celana jeans yang kukenakan, lalu menjalankan gunting itu untuk membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuhku, kecuali pakaian dalamku.
__ADS_1
Sepertinya, tidak ada gunanya lagi aku menangis saat ini. Lagi pula tubuhku telah kotor, sekotor-kotornya. Mereka berdua telah menikmatiku. Lalu apa gunanya aku menyesal saat ini?
Semua percuma ...
Dana kembali menyesapi setiap bagian di tubuhku, perlahan tapi pasti, hingga mulut nakalku tak sengaja melepaskan sebuah desahan, karena merasa tak sanggup lagi menahan semuanya. Ya, dia tahu betul di mana titik kelemahanku. Begitu itu terjadi, suara gelak tawa Dave menggema dalam ruangan ini.
Aku masih tidak mengerti apa hubungan Dave dan Dana, yang jelas aku merasa mereka berdua seperti sedang mempermainkanku. Sekali lagi, Dana memainkan lidahnya pada titik kelemahanku, membuatku semakin kuat untuk berontak. Aku acuhkan ikatan tali yang membelit kedua tangan dan di kedua kakiku. Aku meronta dengan sekuat-kuatnya.
Rasa perih pada lecetnya kulitku yang terikat tali sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit hatiku saat ini. Mengapa Tuhan menghukumku dengan cara yang seperti ini?
—————
Tika POV.
Kedua tanganku masih saja dipegangi oleh kedua lelaki yang memang sedari tadi menahanku.
Air mataku telah tumpah melihat Lisa diperlakukan seperti itu. Beringas dan brutal. Sesekali lelaki yang bernama Dave itu mendekati ranjang, di mana Dana menikmati tubuh Lisa dengan lidahnya. Seperti seseorang yang memiliki penyakit kelainan.
"Stop!! Dana stop, aku mohon berenti!! Kalo kamu mau aku, kenapa mesti sakitin dia!!" raungku, suaraku melemah disela isak tangisku.
Tiba-tiba saja Dave mendekatiku, menarik daguku dengan begitu kencang hingga aku dapat merasakan nyeri pada leherku. Terlalu sakit. "Heh, elu gua biarin buat nonton, bukan buat komentar!" serunya sambil menghempaskan daguku ke sembarang arah. Dan mendadak aku menjadi geram lalu menyemburkan salivaku padanya.
Cuh!
Aku meludah tepat pada wajahnya. Ia balas memadangku dengan geram lalu, "Dasar wanita kurang ajar!!" teriaknya.
Plak!!
Lelaki bernama Dave itu menampar pipiku dengan keras, para lelaki yang memegangi tanganku sampai melepaskan cengkramannya pada kedua tanganku, membiarkanku jatuh tersungkur ke lantai. Kupegangi sebelah pipiku bekas tamparannya yang masih terasa panas dan perih. Sedangkan salah satu tanganku yang satunya lagi memegangi perutku.
Braak!!
Sebuah dobrakkan pintu mengejutkan kami semua yang ada di dalam kamar ini. Aku spontan menoleh dan mendapati Max serta Jefri yang berdiri di ambang pintu, dengan kondisi mereka yang ... lumayan membuatku semakin terkejut. Di beberapa bagian tubuh mereka bersimbah darah. Entah itu darah mereka masing-masing atau darah orang lain, akubtidak mengerti.
__ADS_1
Dengan gesit, Dave menarik lalu menyanderaku dengan kedua tangan kosongnya, lalu kedua orang yang sebelumnya memegangi tanganku, sekejap menyerang Max dan Jefri. Baku hantam. Terjatuh, bangkit, menghantam, mendaratkan bogem mentah, saling membalas satu sama lain.
Sedangkan Dana seakan tak mau tahu, ia terus saja mencecapi tubuh Lisa. Menikmati setiap jengkalnya, membuatku semakin geram oleh prilakunya. Di saat kungkungan Dave terasa begitu lemah di leherku, akibat fokusnya yang terbagi, aku melihat sebuah gunting yang tadinya digunakan dana untuk memotong celana jeans Lisa. Tergeletak di ujung ranjang, seolah melambai-lambai, memintaku untuk segera mengambil dan menancapkannya pada punggung Dana. Lelaki yang terus saja melakukan perbuatan kotornya.
Ya, dan itu terjadi. Jarak aku berdiri dengan ranjang panas itu tidak terlalu jauh. Sehingga memungkinkanku untuk berlari dab melakukan semuanya. Akibat dari kelalaian Dave, aku memberontak, meraih gunting itu lalu secepat kilat menamcapkannya pada pundak bagian belakang Dana. Ia berteriak, darahnya mengucur deras. Dengan gunting yang masih menancap dan secepat gerakkanku pula, Dana membalikkan tubuhnya, mencengkram leherku hingga aku harus tersudutkan pada tembok dinding kamar yang berwarna putih.
Ia mengeratkan cengkramannya di leherku. Napasku perlahan mulai menipis. Dari bola matanya dapat kulihat sebuah kebencian yang tersirat untukku. Emosi yang membara. Di saat itu terjadi, mataku masih sempat untuk melihat Jefri, suamiku yang berjuang memukul salah satu lelaki kekar, begitu pula dengan Max.
Namun seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dave yang tadinya terjatuh akibat pemberontakanku, kini bangkit dan menaiki tubuh Lisa, meneruskan perbuatan Dana. Merobek paksa pakaian dalam yang masih Lisa kenakan. Seketika hatiku kembali runtuh melihat semua itu. Dengan sisa napas yang aku miliki, aku menatap Dana, meraih dadanya dengan tenagaku yang juga semakin menipis akibat sedikitnya udara yang bisa aku hirup. Kucengkram pakaiannya, sedangkan tanganku yang satunya masih memegangi perutku. Sudut mataku perlahan menjatuhkan bulir airmata yang sejak tadi kutahan. Dan aku mulai lemah, kehabisan oksigen. Perlahan mataku mulai tertutup.
Bruugg!!
Tangan Dana terlepas dari leherku. Aku seperti kembali mendapatkan nyawaku yang kedua. Dengan rakus hidung dan mulutku mencoba menghisap udara sebanyak-banyaknya saat tubuhku yang lemah sudah melorot jatuh ke lantai.
Aku mencoba mengatur detak jantung beserta dengan pernapasan sambil menekan dada tengah. Lalu mendongakkan kepala, mendapati salah satu dari mereka sudah terkapar. Aku menduga itu akibat keberingasan Jefri. Lalu Max yang baru saja berhasil menjatuhkan lawannya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerjang Dave yang berusaha merobek kasar celana dalam Lisa, satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya saat ini.
Max dan Dave kini tersungkur lantai, bergulat dengan amarah yang sama-sama menyelimuti jiwa mereka. Begitu pula dengan Jefri dan Dana, yang terus saja bergelut dan saling melayangkan bogem mentah.
Di saat aku masih mencoba mengatur napasku, aku melihat sebuah pisau kecil yang berada di bawah kaki ranjang. Bagai mendapatkan sebuah kekuatan, aku mengesot, bergerak maju dengan bokongku, menjangkau dengan tanganku untuk mengambil benda tajam itu.
Tanpa kata-kata aku langsung memotong tali yang mengikat di kedua kaki Lisa. Setelah terlepas, aku merangkak dari bawah untuk menaiki tubuh Lisa sambil menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Tidak ada sebuah kalimat yang dapat aku ucapkan saat melihat wajahnya yang ketakutan dan menangis tersedu. Jangankan sebiah kalimat, sepatah kata saja tidak mampu untuk aku lontarkan padanya dalam kondisi seperti ini.
Tidak lagi aku berpikir panjang, pisau yang masih tersemat dalam genggamanku langsung kugunakan untuk memotong satu persatu tali yang mengikat kedua tangannya. Sambil sesekali aku melirik, memerhatikan kondisi Lisa yang kini berada di bawahku.
Satu ikatan tangannya berhasil terlepas bersamaan dengan suara sebuah tembakan.
Dorr!!
Mulutku menganga, aku merasakan sebuah timah panas masuk ke dalam dadaku. Belum sempat aku memotong satu tali lagi yang masih mengikat pergelangan tangan Lisa, kepalaku sudahvmenoleh ke arah dadaku sendiri dan mendapati kucuran darah segar yang mengalir membasahi pakaianku.
Tubuhku ambruk di atas tubuh Lisa. Salah satu tanganku sudah menyentuh perutku. Sedangkan tanganku yang tadinya memegang pisau, kini menyentuh pipi Lisa. Aku menyayanginya, bukan hanya karena dia sahabatku, tetapi karena dia memiliki nasib serupa denganku. Bahkan aku masih terbilang beruntung. Sedangkan dirinya?? Mungkin jika aku yang berada di posisinya, sudah lama aku berniat untuk bunuh diri. Mengakhiri hidup dengan kesendirian. Tanpa sosok ayah, ibu, saudara apalagi kekasih.
Bersambung ...
__ADS_1