
Selamat membaca ...
—————
Max POV.
Untuk yang kedua kalinya, aku membuka mataku. Mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu yang berada di langit-langit ruangan ini. Kemudian Ranti muncul dari balik tirai, mendekatiku.
"Gimana rasanya? Masih pusing apa gimana?" Ranti memeriksa kondisiku dan lagi-lagi sebuah sinar dari senter kecil diarahkan pada kedua mataku.
"Not bad," sahutku pelan.
Setelah itu aku mengerjabkan kedua mataku. Kembali menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Lalu meminta Ranti untuk sedikit menaikan brankar bagian kepalaku. Agar bagian pinggangku sedikit bergerak.
Tak banyak yang bisa aku lakukan saat ini, sedangkan Ranti langsung berlalu setelah memeriksaku. Tak berapa lama kemudian Haikal muncul. Dia juga mengatakan hal yang sama dengan apa yang ditanyakan oleh Ranti sebelumnya tadi padaku. Lalu sedikit menarik tirai untuk menutup.
"Sudah berapa lama kamu konsumsi Antihistamin?" bisik Haikal padaku.
Aku tergagap, "A–aku ...."
"Max, itu obat alergi yang memang menyebabkan kantuk tapi jika dikonsumsi trrus-menerus gak akan baik hasilnya." Haikal mempertegas apa yang telah aku lakukan.
Ya, perlahan aku mengakui itu pada Max. Aku memang sudah meminum obat itu sejak lama. Sebab aku kesusahan untuk memiliki waktu beristirahat yang cukup dan berkualitas.
"Tapi sudah seminggu ini aku gak ada minum obat itu lagi, Kal." Aku tetap membela diri mencari pembenaran.
Haikal terlihat menggelengkan kepalanya dan aku tahu maksud dari reaksinya ini. Dia sangat membenci kasus seperti ini. Aku tahu itu. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba Shilla menyibak tirai itu, membuat aku dan Haikal terkejut setengah mati. Apa Shilla mendengar semuanya?
"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Shilla seraya mendekatiku dan mengusap wajahku. Aku menyambutnya dan tersenyum padanya.
"Kamu perlu istirahat di sini, dua puluh empat jam!" tegas Haikal dengan kesal kemudian ia berlalu pergi meninggalkan aku dan Shilla berdua di bilik ini.
Shilla hanya terdiam walaupun ia sempat menanyakan padaku mengapa sampai bisa pingsan dan masuk ke rumah sakit. Aku menjelaskan padanya dan mengatakan bahwa aku hanya kelelahan dan kurang istirahat. Dia juga mengatakan jika mamah sedang ada di luar saat ini, bersama dengan Reza.
"Aku keluar dulu, gantian sama mamah. Dia pasti mau ngeliat kamu juga." Usapnya pada kedua pipiku lalu ia mendaratkan kecupannya pada keningku.
Akhirnya Shilla pergi berlalu dan tak berapa lama kemudian mamah datang bersama dengan Haikal. Beliau memelukku lalu menanyakan penyebabnya, mengapa aku sampai bisa seperti ini. Aku menatap mata Haikal setelah itu aku baru menjawab pertanyaan mamah.
"Cuman capek, Mah." Aku menjawab simpel.
__ADS_1
Beberapa lama aku dan mamah berbincang sampai akhirnya Haikal meminta mamah untuk pulang, sebab aku akan menginap di IGD sampai besok.
"Gak apa-apa, Mah. Max cuman butuh istirahat total. Kalau di rumah dia pasti gak istirahat. Ayo aku antar Mamah ke depan, biar Shilla bisa pamitan sama dia dulu." Haikal membujuk mamah untuk pulang. Meninggalkan aku terbaring di tempat ini sendirian.
***
Entah sudah berapa jam aku di ruangan ini. Begitu mamah dan Shilla pulang, Haikal langsung memindahkan aku ke sini. Karena sebelumnya saat di IGD, bberapa kali aku mendengar suara pasien baru berdatangan. Riuh kemudian hening. Begitu terus hingga aku tidak bisa kembali memejamkan mataku. Tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Kini, mendadak Haikal hadir lagi. Tapi kali ini dengan sebuah gelas serta beberapa obat dalam wadah di tangannya.
"Aku gak bisa tidur tenang sejak kejadian itu." Aku membeberkan alasanku pada Haikal.
Bahunya terlihat menaik kemudian menurun seketika. Ia menarik napas dan mengembuskannya. Lalu berjalan mendekatiku. Menyuruhku untuk duduk dan meminum obat yang ia berikan padaku.
"Kamu tahu 'kan, aku paling benci obat tidur. Dan dalam dunia medis obat khusus untuk itu tidak terlalu dianjurkan. Bahkan harus melalui resep dokter." Haikal duduk di tepi brankar-ku sambil menatapku yang sedang memimum semua obat darinya satu per satu.
"Kebanyakan tidur juga gak bagus, bisa merusak sistem kerja otak. Aku tahu kamu pasti kepikiran, tapi semua udah terjadi. Lagi pula, seandainya aku di posisi kamu saat itu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Dan mungkin, aku akan mengarahkan ujung senjata api itu ke kepalanya, tepat di tengah dahinya." Haikal menambahi kemudian menyambut gelas minum yang aku berikan padanya.
"Aku harus jujur sama Tika," lirihku yang kemudian disetujui oleh Haikal. Setidaknya ada kejujuran yang aku katakan, walaupun aku tetap bersalah.
Jarum jam di dinding ruangan ini sudah menunjukkan ke angka tujuh, itu artinya diluar sana langit sudah menghitam. Lampu-lampu jalan dan perumahan sudah mulai dinyalakan. Lalu aku masih berada di dalam ruangan ini sendirian. Lengkap dengan selang oksigen yang masih terpasang pada kedua lubang hidungku dan juga jarum infus yang masih menancap pada salah satu punggung tanganku.
Haikal benar-benar mengurungku di sini. Bahkan ia sengaja menempatkanku di ruangan yang pintunya berseberangan dengan meja merawat jaga.
Tok tok tok!
"Masuk, Za!" ajakku.
Reza berjalan ke arahku lalu duduk di kursi di dekatku. "Kok bisa begini sih?" Dia mendengus. Sedangkan aku hanya terkekeh.
Lalu tak berapa lama kemudian pintu kembali diketuk, kali ini seorang perawat masuk sambil membawakan sebuah nampan berisi makan malamku. Aku ucapkan terima kasih padanya dan begitu perawat itu keluar, dia berpapasan dengan Haikal. Perawat itu menundukkan wajahnya saat itu. Aku tertawa.
"Ada yang lucu?" sanggah Haikal yang berjalan mendekat dengan santai. Lalu memberikan sebuah kotak makan pada Reza yang disambut dengan ucapan terima kasihnya.
Saat itu aku baru menyadari jika ternyata Reza masih mengenakan pakaian yang sama sesaat sebelum aku pingsan. Apa dia tidak pulang ke rumah Lisa? Atau dia memang sengaja tidak ke mana-mana?
"Kamu gak pulang, Za?" celetukku menegurnya.
"Dari kamu masuk IGD, dia nungguin duduk di luar," sosor Haikal dengan cuek. Aku kembali menoleh pada Reza yang dibalasnya dengan senyum tipis.
__ADS_1
Akhirnya kami makan bersama saat itu. Sambil membicarakan beberapa hal penting. Reza juga menceritakan lanjutan rencananya pada perusahaan Dave di London nanti. Reza ternyata memiliki sisi lembutnya di balik sikapnya yang dingin dan juga tangguh, bahkan terkesan tegas.
Setelah selesai makan, Haikal memberikanku beberapa butir obat yang langsung aku telan. Mungkin seharusnya memang seperti ini, aku berkonsultasi terlebih dahulu dengannya soal kondisiku, agar ia bisa menyarankan obat atau opsi lain untuk permasalahanku.
Padahal sebelumnya aku selalu seperti itu padanya, bercerita dan meminta pendapatnya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku tidak kepikiran sama sekali dengan namanya. Mungkin benar, aku terlalu banyak mengonsumsi obat dengan efek tertidur itu, hingga otakku juga tidak bisa berfungsi lagi.
Tok tok tok!
Pintu ruanganku kembali berbunyi kali ini, tetapi bukan seorang perawat yang masuk, melainkan sepasang kekasih yang datang mengunjungiku. Bukan, mereka bukan mengunjungiku, lebih tepatnya mereka ke sini untuk mendatangi Reza.
Pasangan itu adalah Alex dan Lisa. Mereka memberikan sebuah paper bag pada Reza yang mana isinya adalah sebuah pakaian ganti. Aku memgetahuinya sebab Reza menarik keluar isi dari paper bag tersebut.
"Makasih, ya?" ucap Reza seraya berdiri dan melangkah menuju ke kamar kecil dalam ruangan ini. Meninggalkan kami semua. Kemudian Haikal mempersilakan mereka berdua untuk duduk.
Berbincang bersama hingga melewati malam dingin yang kurasa sepi tanpa kehadiran Shilla.
***
Keesokan harinya aku bangun dengan tubuhku yang terasa lebih segar dari sebelumnya. Entah jam berapa tadi malam aku tertidur dan entah jam berapa pula mereka semua kembali pulang. Aku menghela napasku sambil menatapi langit-langit ruangan ini. Lalu sekali lagi menarik napas dan mengembuskannya kasar melalui mulutku.
Tiba-tiba pintu terbuka tanpa adanya suara ketukan dari sana. Kemudian kepala Haikal muncul dari balik pintu. "Aku pikir masih tidur." Dia berjalan mendekatiku.
"Aku sudah nelpon Shilla buat jemput kamu pulang. Dan ini ... bukan obat tidur, cuman vitamin. Awas kalo kamu minum obat tidur lagi. Gimana pun jangan lupa istirahat," omel Haikal sambil memberikan sebuah wadah berisikan beberapa butir obat. Aku menerimanya sambil tertawa pelan.
"Emang kamu sendiri ingat sama yang namanya istirahat?" ucapku mengembalikan kalimatnya.
"...."
Haikal terdiam, dia hanya menatapku lalu duduk di sebuah kursi. Aku bangkit dari tidurku untuk duduk. Meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa penat. Aku menanyakan padanya, kapan selang di tanganku ini akan ia lepaskan. Namun, tak ada jawaban.
Aku kembali menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan melalui celah mulutku. Menurunkan kakiku dan duduk membelakangi Haikal sambil menggerakan kedua pergelangan kakiku yang menggantung.
Tok tok tok!
"Permisi." Suara seorang perawat wanita yang terdengar beriringan dengan terbukanya pintu kamar ini. Dia berjalan mengarah padaku kemudian setelah aku mengizinkan tugasnya, dia langsung melepaskan satu per satu alat kesehatan yang menempel pada tubuhku. Salah satunya infus sialan ini.
Ya, tanganku sudah terasa kaku dan keram akibat benda tajam itu. Bagaimana tidak? Sejak kemarin jarum itu ditusukkan pada punggung tangan kiriku, aku langsung takut untuk menggerakkan tanganku. Terasa kebas, tetapi kini sudah dapat aku gerakan.
Selang oksigen yang sebelumnya menghiasi lubang hidungku pun sudah berhasil aku lepaskan sendiri. Saat tadi malam dalam kesadaranku yang menipis di kala tidur lelapku. Benar, aku akhirnya dapat tertidur dengan lelap. Setelah Berminggu-minggu aku meminum obat sialan itu.
__ADS_1
Kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Shilla sudah sampai dan kini sedang bersana denganku. Sementara Haikal mengambilkan beberapa barang yang menempel pada tubuhku tadi malam, saat Reza mengirimku ke rumah sakit ini.
Bersambung ...