
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Aku langsung membawa Haikal untuk menuju dapur. Kemudian menarik sebuah kursi di meja makan untuk mempersilakannya duduk di sana. Lalu aku terus melangkah menuju dapur untuk mengambil dua buah piring makan dan sebuah mangkuk, lengkap dengan sendok juga garpu.
Begitu berbalik dan memandanginya, Haikal terlihat sangat kedinginan, mengigil dengan pakaiannya yang basah kuyup. “Tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana.” Dia tersenyum mendengar perintahku.
Aku segera berlari kecil menaiki tangga, menuju ke kamar. Segera aku mengganti pakaianku lalu mengambilkan sebuah handuk bersih untuk Haikal. Lalu menarik selembar celana training ayah beserta baju kaosnya dari tumpukan laundry di depan kamarku.
Ya, semenjak bunda tidak ada, kami berdua memang memutuskan untuk menggunakan jasa laundry jemput-antar ke rumah. Karena kami berdua sama-sama bekerja dan tidak memiliki waktu banyak untuk melakukan tugas yang satu ini, walaupun kami memiliki mesin cuci serta mesin pengering sendiri di rumah.
Setelah itu, aku kembali ke lantai bawah dan menyerahkan pakaian itu pada Haikal. “Baju kamu basah, ganti nih. Biar aku keringkan itu sembari menunggu hujan reda.”
Haikal menoleh padaku dengan gemeretak giginya di sana, terdengar jelas. Lalu tanpa aba-aba dia langsung saja menarik kaos polo-nya itu, melepaskan dari tubuhnya. Sontak aku terpekik lalu membalikkan tubuhku.
“Kamu kenapa?” ujarnya di belakangku.
Darahku seketika berdesir, diiringi dengan detak jantung ini yang berdegup dengan sangat kencang, sesaat setelah melihat tubuhnya tadi. Gila! Bisa-bisanya dia langsung melepaskan bajunya di sini? Mataku membulat sempurna kemudian aku membuka mulut, mengembuskan napasku dengan perlahan.
“Clara ... kamu kenapa?” serunya sekali lagi, kali ini jemarinya menarik pergelangan tanganku yang berdiri membelakangi tak jauh dari posisi duduknya. Namun aku tidak mau membalikkan tubuhku.
“Di rumah ini ada kamar mandi. Jadi kamu bisa ganti pakaian di sana. Bukan main copot sembarangan.” Tanganku yang satunya lagi menunjuk di mana letak kamar mandi itu.
Krieet!!
Suara kursi yang dimundurkan. Bisa aku tebak, saat ini pasti Haikal sedang berdiri di belakangku dan bersiap melangkah menuju ke kamar mandi. Tapi nyatanya pikiranku salah. Tidak ada aku mendengar suara lainnya yang menyatakan dia akan melangkah menuju ke kamar mandi. Hening. Benar-benar sunyi. Hanya bunyi air hujan yang jatuh di luar sana.
“Kamu gak mau ganti? Ntar tambah kedinginan loh. Udah menggigil gitu,” hardikku.
Tiba-tiba Haikal memperlihatkan pakaiannya yang sudah terlepas dari tubuhnya dan menyodorkannya di depanku. Aku kembali terkejut.
“Ka—kamu udah ganti? Udah pake baju gantinya?” ucapku gugup dan berhati-hati.
“Udah. Apa dalemanku juga perlu dilepas?” bisiknya di telingaku.
Lagi-lagi aku tersentak mendengar ucapannya. Dengan setengah kesal aku menarik pakaiannya yang dia sodorkan di depan mataku lalu buru-buru melangkah menuju ruang mesin cuci untuk mencuci dan mengeringkan pakaian itu. Setelah selesai menekan pengaturan mesin cuci, aku kembali ke dapur lalu duduk di seberangnya.
Dalam diam aku mencuri pandang padanya, sesekali meliriknya dan dia terus saja memerhatikanku yang sedang membuka bungkusan sup dan menuangkannya ke dalan mangkuk. “Sebentar aku ambilkan nasi.”
__ADS_1
Lalu aku kembali berdiri dan mengambilkan nasi dalam mesin penanak nasi. Untungnya aku sudah bisa memasak nasi menggunakan mesin ini. Dan untungnya lagi tadi pagi aku sempat menanak nasi.
Aku sodorkan sebuah mangkuk lain yang berisi nasi itu padanya. “Aku pikir bakalan dituangin ke piringku,” ucapnya sederhana tetapi bermakna.
Manja sekali!!
Dengan sedikit melotot aku menyendokkan nasi itu lalu memasukkannya ke dalam piring makannya, hingga tangannya yang dingin seperti es itu menyentuh punggung tanganku, sebagai isyarat untuk menghentikan sendokan nasi itu.
Aku kembali berdiri, melangkah menuju dapur, membuatkannya secangkir teh hangat dan juga mengambilkan segelas air putih untuknya. Lalu kami makan dalam keheningan.
Suara petir begitu nyaring di luar sana, membuat aku kadang terpekik kaget berkali-kali. Menandakan jika hujan sepertinya enggan untuk segera berlalu. Dan entah mengapa, suasana ini membuatku sedikit canggung berhadapan dengan calon suamiku sendiri.
Begitu selesai makan, aku segera membereskan dan mencuci piring serta perlengkapan lain yang tadinya kami gunakan. Lalu aku kembali menyeduh teh panas, kali ini untukku sendiri. Duduk kembali di atas kursi meja makan dan berhadapan dengannya.
Aku menjadi bingung, tidak tahu harus berkata apa. Dan aku merasa, kami telah menjadi orang asing saat ini. Kedua telapak tangan ini aku coba tangkupkan pada sisi cangkir teh milikku. Merasakan hangatnya air di dalamnya. Kedua mataku terus memandangi isi cangkir itu, seolah ada yang menarik di dalamnya.
“Apa ada semut sedang bertengkar di dalam cangkir itu?” celetuk Haikal membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya. “Hah?!” bingung.
“Dari tadi liatin ke dalam sana terus. Emang ada semut lagi berantem di sana?”
“Ga perlu.” Haikal menjawab singkat sambil menatapku dengan tajam. Tatapan mengintimidasi sudah kembali muncul. Aku semakin merasa salah tingkah saat ini. Sial! Rutukku dalam hati.
Berkali-kali aku menghela napas dan membuang pandangan ke sembarang arah. Berharap bisa meredam rasa gugup dalam diriku saat ini tetapi rasanya sungguh percuma. Samakin aku mengalihkan pandangan, diri ini semakin terasa bergetar. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul begitu saja.
“Gimana kalau kita nonton televisi?” tawarku pada Haikal.
“Boleh,” sahutnya datar.
Aku berdiri dan melangkah lebih dulu ke arah ruang televisi lalu menyalakannya. Duduk di ujung sofa panjang yang mana Haikal sudah lebih dulu duduk di sofa itu. Canggung. Suasana ini benar-benar menjadi canggung seketika. Lagi-lagi aku merasa Haikal menjadi orang asing bagiku. Astaga perasaan macam apa ini?!
“Kenapa duduknya jauh banget? Udah kayak naik angkot aja. Milih duduk paling ujung,” tegur Haikal sambil tersenyum tipis.
Astaga!!
Aku tersenyum garing mendengar candaannya itu. Aku benar-benar merasa takut sekarang. Rasanya ... jiwa barbarku terbang begitu saja dan berpindah menghinggap pada dirinya, bukan padaku lagi.
Perlahan aku menggeser dudukku hingga akhirnya bersisa tiga jengkal saja dari posisinya duduk. Setelah itu baru Haikal berhenti menatapku lalu kembali menoleh menonton acara televisi itu.
Pikiranku saat ini mendadak tidak sehat. Berbagai macam perasaan datang begitu saja, antara pikiran baik dan juga buruk. Seolah seorang peri dan iblis sedang berkelahi dalam hatiku.
__ADS_1
Blaarr!!!
Petir menyambar!
Listrik padam seketika. Aku spontan melompat dan mengangkat kakiku. Suara petir itu sungguh membuatku takut. Jantungku rasanya hampir lepas karena saking nyaringnya. Dan perlahan sepasang tangan melingkari tubuhku.
“Aku baru tahu kalau kamu takut petir.” Suara Haikal terasa begitu dekat dengan telingaku, membuat aku semakin gugup.
Aroma wangi parfum pada tubuhnya begitu jelas masuk ke dalam rongga hidungku. Terasa begitu menenangkan sistem pernapasan dan juga merilekskan kembali detak jantungku yang sempat tidak beraturan.
Saat tangan itu membelai kepalaku, barulah aku menyadari, kalau saat ini aku sedang berada dalam dekapannya. Dekapan Haikal, calon suamiku. Dan entah mengapa, begitu aku mangangkat kepala tiba-tiba saja napasnya terasa begitu dekat di wajahku. Menyapu lembut permukaan wajah dengan hawanya yang terasa panas.
Saat ini benar-benar gelap, mataku tidak mampu melihat benda apa pun. Yang jelas dan yang aku tahu, saat ini Haikal berada di depanku dengan wajahnya yang mungkin berada tepat di samping pipi kiriku. Sebab di sana embusan napasnya begitu terasa jelas. Dengan lengan atasku yang menempel tepat di dadanya.
Di posisi saat ini, lenganku bisa dengan jelas merasakan detak jantungnya yang stabil tetapi cepat. Kedua tangannya masih melingkari, memeluk tubuhku. Dan saat aku memutuskan untuk memalingkan wajah ... Haikal juga bergerak.
CUP!!
Bibir kami saling menempel, dengan ujung hidung yang entah bagaimana bisa-bisanya meleset, tidak bertabrakan! Napas kami seketika memburu. Begitu panas dan menggebu.
Ini memang bukan yang pertama kalinya bibir kami bertemu. Hanya saja, suasana yang seperti ini bisa-bisa membuat pertahananku jebol begitu saja. Apalagi saat perlahan jemari Haikal menyentuh punggungku dengan begitu lembut.
Haikal memajukan wajahnya lalu menggerakkan bibirnya dan mulai mengecupku. Sekali, aku terdiam. Kedua kali, aku masih berpikir. Lalu saat ketiga kali ... aku membuka sedikit mulutku dan membalas kecupan itu. Saling bertaut dan saling membalas tiada henti.
Sayup-sayup bunyian dari kecupan itu terdengar menggema dalam seluruh ruangan di rumah ini. Haikal terus saja mencecap bibirku bergantian. Begitu pula dengan aku yang terus merasakan bibir tebalnya hingga jemariku perlahan mencengkeram kuat dadanya beserta baju kaos yang ia kenakan.
Menikmati setiap gerakan bibirnya hingga membuat kedua mataku perlahan terpejam. Suara petir yang menyambar di luar sana, tidak lagi membuatku terkejut, aku seakan menghiraukan apa saja yang terjadi di sekeliling kami dan hanya terfokus padanya. Pada lelaki yang saat ini memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.
Bersambung ...
——————————
Aku gak bisa nulis apa-apa lagi 🙈 rasanya mereka berdua terlalu murni untuk aku nodai 🤭
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
@bossytika 💋
__ADS_1