Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 109


__ADS_3

Still Tika POV.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Jefri sudah menungguku di lantai bawah. Aku turun dengan beberapa bingkisan yang aku terima dari beberapa rekan kerjaku.


"Ada party lagi?" sapanya lalu mencium keningku. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia terkekeh.


"Maaf mba, itu semua di taruh di mana?" Seorang satpam menunjukkan beberapa kue dan benda lainnya yang mereka angkat untuk membantuku membereskannya.


"Oh, masukin ke mobil aja klo gitu, mari Pak." Jefri mengarahkan beberapa office boy yang membantuku untuk membereskan beberapa barang yang aku bawa pulang. Termasuk beberapa bingkisan yang tadi di tanganku.


Kupandangi lobby kantor ini sebentar, sambil menunggu semua selesai. Sudah lumayan lama aku menjadi penghuni di kantor ini. Rasanya bukan hal mudah untuk meninggalkan sebuah karir yang sudah aku perjuangkan sejak dulu.


Tapi semuanya harus terjadi. Aku mengelus perutku sendiri dengan lembut. Sambil beberapa kali mengambil napas dan mencoba mengembuskannya dengan pelan. Jefri terlihat sibuk, ia ikut membantu mengangkat beberapa barangku dari meja kerja yang sudah kubereskan. Sampai akhirnya selesai.


"Yuks, udah semua." Jefri mengulurkan tangannya membantuku berdiri dari sofa lobby kantorku. Sekali lagi aku menatap sekeliling lalu pandanganku berakhir pada wajah suamiku yang menatapku.


Begitu sampai di rumah, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


———————————————


Jefri POV.


Setelah selesai check up, makan siang dan kembali mengantarkan Tika ke kantornya, aku segera melaju pergi menuju restoran di mana aku dan Max sudah melakukan janji temu.


Ya, tidak biasanya Max secara khusus ingin bertemu denganku seperti ini. Terdengar sangat formal dan begitu serius.


Setibanya di sana, aku langsung mencari di mana letak Max duduk lalu menemukannya yang melambaikan tangannya padaku. Aku beranjak mendekatinya, bersalaman lalu duduk di hadapannya.


"Sorry mendadak minta ketemu kamu di sini." Max membuka suara.


"Gak papa." Hanya itu yang bisa kujawab.


Tanpa basa-basi, Max langsung mengambil beberapa dokumen yang memang sedari tadi sudah ada di atas mejanya. Membuka map itu lalu menyodorkannya padaku.


Awalnya aku bingung dengan beberapa kalimat awal yang tertulis di lembaran awal kertas itu. Sambil sesekali melirik Max yang masih memperhatikanku. Perlahan aku mulai membaca satu per satu dokumen itu hingga selesai.


Sedangkan Max sambil menyantap makan siangnya di depanku. Aku memang sudah mengatakan padanya, jika aku sudah makan siang bersama Tika tadi. Jadi aku hanya memesan segelas minuman.


"Jadi Great Company kalah tender sama anak perusahaan kamu?" Aku sontak terkejut setelah selesai membaca semua dokumen itu. Max hanya mengangguk lalu menyuapkan potongan daging steak terakhirnya ke dalam mulutnya.


Max makan tenang dan berwibawa. Ya, aku akui itu. Terlihat sangat jelas caranya makan saat ini berbeda jauh dengan saat ia makan bersama dengan keluarga. Mungkin itulah sikap professionalisme yang ia junjung tinggi.


"Semua sudah dijelaskan dalam dokumen itu. Dan sebelum masalah melebar, aku ingin mengajukan satu pilihan. Great Company tetap bisa terus berdiri dan aku bisa memberikan kembali tender itu pada kalian. Dengan catatan, kita akuisisi. Jadi untuk bahan baku kalian yang menyediakan. Pekerja seluruhnya dari kami." Max menjelaskan dengan sangat jelas dan mudah aku cerna. Hanya saja aku merasa perlu berpikir ulang.


"Aku harus bicarain dulu sama papa. Ini hari pertama aku menduduki kursi pimpinan."

__ADS_1


"Gak perlu. Jangan ada satu orang pun yang tahu masalah ini, cukup kita. Aku sudah sangat merasa bersalah dengan kondisi papa kamu yang down dan ternyata akibat dari tender ini. Kalau saja dari awal aku tahu Great Company adalah anak perusahaan yang baru dirintis oleh papa kamu, aku pasti akan mundur." Max menyenderkan punggungnya pada kursinya. Meraih segelas wine yang di pesannya.


"Semua keputusan ada di tangan kamu. Walaupun akuisisi, perusahaan itu tetap milik kamu. Aku hanya mencoba mengembalikan sejumlah dana yang sudah dikeluarkan oleh papa kamu. Dan tetap membawa bendera anak perusahaanku untuk melaksanakan proyek itu." Lagi-lagi Max menjelaskan semuanya.


"Apa perusahaan utama juga akan kembali pulih setelah akuisisi?" Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutku. Karena Max sempat menyeringai begitu mendengar pertanyaan itu.


"Semua akan stabil jika kamu mengambil jalan yang tepat. Lagi pula aku dengar kamu ingin mengajak perusahaan bosnya Tika buat kerjasama kan?"


"Iya, aku sudah mengajukan beberapa syarat. Sebenarnya itu hanya alasan, biar bosnya mau ngelepasin Tika buat berhenti kerja di sana." Aku menghela napas.


Max mengernyitkan alisnya. "Dana masih ganggu Tika?"


"Dia kemarin sempat nelpon aku juga. Ngancam mau ngerebut Tika secara paksa dan dengan cara apapun. Dan hari ini, hari terakhir Tika kerja."


Aku menjelaskan pada Max semua permasalahan tentang Dana. Entah itu yang dialami oleh Tika ataupun Lisa. Aku akui, semua masalah ini terjadi memang karena Lisa. Tapi mungkin juga akan tetap terjadi walaupun tanpa kecerobohannya.


"Aku udah tahu. Aku udah denger langsung dari Lisa. Aku juga menyayangkan hal ini harus terjadi. Makasih kamu selalu menjaga adikku sampai detik ini," ucap Max lalu meneguk isi gelasnya dengan sekali angkat.


***


Sudah selesai aku menurunkan semua barang-barang Tika. Dia bahkan sudah menuju kamar mandi terlebih dahulu. Hingga aku memutuskan untuk merokok sebentar, sambil memikirkan tawaran dari Max.


Apalagi katanya tidak boleh ada satupun yang tahu tentang ini. Ada benarnya juga, agar tidak ada spekulasi di luaran sana yang berkembang. Sehingga tidak akan ada pula orang-orang yang menggiring opini publik ke arah yang negatif.


Setelah itu, aku memutuskan untuk pergi ke kamar dan mandi, mungkin Tika sudah selesai. Belum sampai aku menginjakkan kakiku di anak tangga yang terakhir, aku mendengar Tika yang sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang. Aku menghentikan gerakkanku dan mendengarkan.


"Ya gak bisa dong ... mana aku tahu kalo ada beritanya, lagian kamu juga janji kan mau boikot itu berita biar gak muncul, kenapa bisa sampai muncul?" Tika mendengus kesal saat itu.


Aku merasa seperti ada yang sedang ditutup-tutupi. Dan dari kalimatnya, seperti sedang membicarakan hal yang bersangkutan denganku. Perlahan aku melangkahkan kakiku untuk mendekatinya.


"Trus kamu udah bilang sama Jefri? Apa katanya, mau dia diakuisisi?" Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Tika ini seperti sebuah hantaman besar untukku.


Jadi selama ini dia tahu penyebab papa stroke?


Dia juga sudah tahu lama tentang anak perusahaan papa yang hampir collapse?


Kenapa dia tidak memberitahukanku sesegera mungkin?


Seketika rasa amarah menyelimutiku. Ada sedikit rasa kecewaku pada Tika yang mencoba menutupi semua ini. Dan fatalnya lagi, dia tahu dengan jelas semua permasalahan perusahaan papa dari awal.


Aku langsung mengambil ponselnya yang di tempelkannya pada telinganya, dia terkejut. Aku melirik nama siapa yang menelponnya. Ternyata benar dugaanku, telepon itu dari Max. Langsung aku matikan sambungan telepon itu. Kugenggam erat ponselnya.


Tika menatapku dengan wajah pucat. "Kamu sudah tahu lama tentang semua ini? Kenapa gak kasih tahu aku?" Aku mencoba menahan amarahku.


Belum sempat Tika menjawab pertanyaanku. Aku kembali mencercanya dengan pertanyaan lainnya. "Bukannya kita pernah janji. Apapun masalahnya kalo bisa secepatnya kita bicarain. Ini sudah terjadi berbulan-bulan. Kata Max gak ada yang tahu semua ini, nyatanya kamu tahu dan memilih buat diem aja?" Aku semakin meninggikan suaraku.

__ADS_1


"Sayang, aku nyari waktu yang tepat buat ngomong ...." Tika meraih tanganku yang segera kutepis dengan kasar. Aku merasa tidak senang diperlakukan seperti ini.


Aku menatapnya dengan penuh kekesalan.


"Aku gak ada maksud buat sembunyiin semuanya, aku cuman—" Tika memberi alasan. Namun segera kupotong ucapannya itu.


"Gak ada maksud tapi kamu lakukan sampai saat ini. Kamu mau ngeliat suami kamu ini dalam keadaan terpuruk saat menggantikan jabatan papa? Kamu masih inget kan aku membuang jauh egoku buat kembali ke posisi ini karena apa? Buat siapa?"


"Sayang aku minta maaf, aku bukannya mau nyembunyiin semuanya, aku cuman butuh waktu buat ngomong sama kamu," rengeknya sambil mencoba meraih tanganku. Aku selalu menyingkirkan tangannya itu.


Aku merasa kecewa dengan sikapnya kali ini. Permasalahan besar di perusahaan papa, ia biarkan berlarut-larut. Mungkin jika masalah lainnya aku bisa memakluminya. Pasalnya biaya pengobatan papa diambil dari beberapa saham yang papa miliki, hingga akhirnya ada beberapa saham yang harus dijual untuk biaya tersebut.


Dan andai aku mengetahui permasalahan ini terlebih dahulu, jauh sebelum aku menjabat. Mungkin aku dapat mengantisipasi tentang pengeluaran kas yang sudah semakin membesar.


Aku meninggalkan Tika masuk ke kamar mandi, dia masih mencoba meraih tanganku. Dan berkali-kali kutepis.


Bruk!!


Kubanting dengan cukup keras pintu kamar mandi.


Aku merasa dikhianati oleh istriku sendiri.


Kuguyur tubuhku dengan air hangat dari pancuran air yang ada. Mencoba kembali menenangkan emosiku. Aku sadar aku salah memperlakukan Tika seperti tadi. Aku yakin dia merasa sakit hati.


Namun aku lebih sakit. Dia dan kakaknya berbulan-bulan menyembunyikan semua ini. Mencoba menutupi semuanya. Bahkan yang kudengar tadi, Max yang dari awal tahu sudah mencoba untuk menekan agar berita ini tidak muncul ke media.


Sebab jika sudah seperti ini. Berita sudah muncul, maka itu akan berdampak untuk semua kerjasama yang sudah dijalankan oleh perusahaan utama. Lalu aku bisa apa??


Mungkin hanya menunggu detik-detik keruntuhan perusahaan keluarga ini.


Aku benar-benar merasa kesal dengan semuanya.


Selesai mandi, begitu aku membuka pintu sudah ada Tika yang berdiri dengan wajah memelasnya penuh dengan air mata. Lalu dengan spontan ia memelukku. Mengatakan permintaan maafnya berkali-kali. Tapi hatiku terlalu sakit untuk semua ini.


Aku bersikap acuh, dengan tertatih akibat pelukannya, aku menuju lamari wardrobe dan memilih pakaianku di sana. Tika masih mengikutiku dengan kedua tangannya yang memelukku. Pikiranku terlalu kalut. Aku tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang ia bicarakan.


Bahkan berkali-kali aku membentaknya dan terakhir aku tanpa sadar sudah mendorongnya. Hingga ia jatuh tersungkur di lantai. Kemudian dengan rasa gengsiku, aku langsung melangkahkan kaki pergi dari rumah. Meninggalkan dia sendiri.


———————


Jangan lupa VOTE POIN.


Trus ritual kasih like, ratting bintang 5 sama tekan love.


Oke?

__ADS_1


Bye 💋


__ADS_2