Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 156


__ADS_3

Warning, harap membaca dengan perasaan yang biasa aja.


Jangan baper, jangan terlalu mendalami, ntar puasanya batal.


—————


Still Tika POV.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku, lalu menarik selimutku. Tanpa berpamitan dengan Jefri yang tadi berdiri di depan buffet layar televisi. Aku kembali menjulurkan tanganku, meraih saklar lampu tidur di meja sisi ranjang lalu kumatikan.


Dengan tubuh yang berbaring miring, aku mendekap erat selimutku lalu memejamkan mataku. Mengembuskan napasku dengan berat. Pikiranku terlalu lelah. Perlahan aku mencoba untuk tenang dan tertidur.


Tetapi, tidak lama berselang, tiba-tiba sebuah tangan menelusup di sela leherku. Memaksanya untuk menjadi bantalan kepalaku. Lalu tangan yang satunya lagi juga ikut menelusup ke dalam piyama tidurku. Menyentuh langsung permukaan kulit tubuhku pada bagian perut dan memeluk erat.


Aku tersenyum tipis, sebab aku tahu pasti jika ini adalah perlakuan suamiku. Ya, Jefri selalu seperti ini jika ia hendak tidur. Di setiap malamnya. Kepalanya ia tempelkan pada punggung leherku. Terdengar suara desahan napasnya di sana, menghirup dalam-dalam aroma wangi rambutku yang tergerai.


"Tadi siang, ada telepon aneh yang aku terima," lirih Jefri yang semakin mengeratkan pelukannya.


Dengan mataku yang masih terpejam dan fokus pikiranku yang teralihkan, aku tidak begitu mendengar dengan apa yang telah ia ucapkan. "Maksudnya?" Aku bertanya dengan keningku yang pastinya terlihat berkerut.


Aku menggerakan tubuhku untuk berbalik arah agar menghadap padanya, tetapi lagi-lagi dia menahan gerakanku itu. Hingga akhirnya aku hanya bisa diam sejenak, sampai akhirnya Jefri kembali mengatakan bahwa telepon itu berhubungan dengan apa yang telah terjadi tadi siang di rumah ini.


"Trus di telepon itu dia bilang apalagi?" Aku semakin penasaran.


Kemudian Jefri mengatakan jika ia tidak pernah lagi menjawab telepon dari nomer itu. Nomer yang sama yang barusan menghubunginya tadi. Panggilan telepon yang tadi sempat membuatku terbakar api cemburu.


Astaga!


Seketika aku merasa bersalah. Tidak sepantasnya hatiku tadi curiga seperti itu. Mungkin karena ia tidak menjawab pertanyaanku tadi, hingga membuat aku salah menilainya. Aku mengecup lengannya yang menjadi bantalan kepalaku. Lalu tiba-tiba Jefri mengizininkanku untuk membalikan tubuhku, menghadapnya.


Mata kami saling beradu, aku menatap matanya dengan lekat, berusaha mencari sebuah celah kebohongan yang ia rangkai atas perkataannya barusan. Tapi semuanya percuma, yang aku temukan malah sebuah kejujuran dengan mata sayunya yang membuat hatiku merasa teduh. Aku merasakan aman dalam dekapannya saat ini.


Seperti sebelumnya, perasaan yang aku rasakan saat ini padanya tidak berubah sedikit pun, yang ada malah semakin bertambah. Tenang, aman dan nyaman, memang cocok untuk menjadi sandaran hatiku. Sandaran masa depanku.


Dengan kedua telapak tanganku, aku menangkupkannya pada kedua pipinya lalu mengecup bibirnya. Perlahan dengan lembut, sampai aku merasakan adanya reaksi balasan darinya.


Dia menyelipkan lidahnya di antara celah bibirku saat aku menyesap bagian bibir atasnya. Lalu jemarinya merambat naik ke belakang punggungku. Jika sudah hendak tidur, aku memang sudah tidak mengenakan pakaian penutup bagian atasku lagi. Bahkan semenjak tinggal di rumah mamah, aku sudah melupakan pakaian tidurku yang tipis itu.


Oh bukan, bukan semenjak tinggal di rumah mamah. Tapi semenjak kehamilanku yang memasuki minggu ke sebelas. Sebelum kami bertengkar hebat. Saat itu aku sudah menanggalkan pakaian seksiku. Beralih mengenakan piyama.


Jefri semakin menarik tubuhku, membuatku agar lebih menempel padanya. Kami sudah lama tidak melakukan ini. Dan jefri benar-benar sudah lama sekali menahan gejolak ini.


"Sudah lewat empat puluh hari 'kan?" desisnya saat kecupan kami terlepas, tetapi ujung hidung kami tetap terpaut.


"Mau sekarang?" bisikku tak kalah menggodanya.


Jari jemarinya di punggungku kini semakin bergerak. Mengelus lembut hingga membuatku merasa geli dan makin membusungkan dada. Dengan mata yang terpejam aku menikmati sentuhan jemarinya. Sedangkan bibirnya kembali mengecup bibirku, membelit lidahku dan kami saling bertukar saliva.


Lalu tiba-tiba Jefri melepaskan pagutannya padaku, membuat kelopak mataku seketika terbuka. Ia menjauhkan wajahnya dari wajahku, tetapi masih saling menatap. Kami saling tersenyum tipis dan merindukan kasih sayang seperti ini.


Dia membalikkan tubuhnya, tangannya ia ulurkan untuk meraih saklar lampu meja lalu mematikannya. Menyisakan cahaya yang berasal dari lampu kamar mandi saja. Menciptakan siluet saat ia beranjak naik membelenggu tubuhku.


Di bawah temaran lampu, ia kembali menyerangku, kini dengan lahap menyesap ceruk leherku yang jenjang. Hingga tidak sengaja membuat mulutku meloloskan desahan kenikmatan yang sudah lama tidak aku rasakan. Aku terhanyut dengan permainan lidahnya saat ini. Sekaligus menikmati semua itu.


Tangannya tak tinggal diam untuk menjelajahi semua lekuk tubuhku. Melepaskan kancing piyamaku satu per satu lalu menyingkapnya. Membuatku semakin melenguh pelan. Begitu pula dengan lidahnya yang menyapu seluruh bagian sensitif-ku hingga ke bawah pusarku. Kedua tanganku hanya bisa mencengkram erat bagian lengannya.

__ADS_1


Aku menikmati itu. Sangat menikmatinya.


—————


Jefri POV.


Dalam remang-remang cahaya lampu kamar mandi, sesekali aku membuka mataku hanya untuk melihat wajahnya. Memerhatikan ekspresinya dan benar saja, Tika sedang menikmati semua yang aku lakukan kepadanya.


Matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka sambil sesekali melenguh, meloloskan beberapa desahan yang semakin membuatku bersemangat. Lalu ia semakin menarik lehernya dengan punggungnya yang kini sedikit melengkung, saat lidah dan bibirku menyesap bagian bawah pusarnya.


Cengkraman tangannya pada lenganku semakin membuatku bergairah. Perlahan aku menurunkan celana pendeknya, lengkap bersama g-string yang ia kenakan lalu melemparnya sembarangan.


Aku bersimpuh di depannya dan segera membuka baju kaosku. Saat itu aku melihatnya membuka mata dengan bibir bawahnya yang sengaja ia gigit. Kulemparkan sembarangan baju kaosku lalu kembali melepaskan sisa pakaian yang masih melekat. Kemudian aku kembali menyapu seluruh bagian tubuhnya. Menikmati kepemilikanku yang sudah lama aku rindukan.


Semua terjadi begitu saja. Cepat tetapi saling merasakan dengan suara leguhan yang membakar seluruh tubuh. Napas memburu berpacu dengan detak jantung yang semakin menggebu. Desiran darah terasa lebih cepat mengalir. Dengan keringat yang menetes membasahi tubuh kami, menjadi saksi nyata akan sebuah kerinduan yang akhirnya terobati.


Aku ambruk di atas tubuhnya begitu pelepasan pertamaku berhasil. Sedangkan dia sudah berhasil dengan pelepasannya yang kedua. Telingaku tepat menempel di antara kedua dadanya. Dari sana aku dapat mendengar suara degupan jantungnya itu. Dadanya yang turun naik, mencoba menormalkan aliran pernapasannya. Begitu pula dengan aku, aku pun merasakan hal yang sama.


Aku bergerak menggeser tubuhku lalu merengkuhnya, membawanya masuk ke dalam dekapanku. Untuk sesaat aku membiarkan kondisi kami seperti ini. Namun sepertinya salah satu anakku terganggu dengan suara yang kami hasilkan, hingga akhirnya ia menangis.


Tika bergerak melepaskan dekapanku padanya, tetapi aku malah menarik kepalanya lalu mengecup keningnya sekilas. Kemudian ia berdiri menghampiri ranjang bayi kami. Mataku memerhatikannya, saat ia berjalan ke arah sana tanpa sehelai benang pun lalu mengangkat salah satu anak kami.


Diam-diam aku berdiri lalu melangkah menghampiri mereka. Aku tahu betul, Tika masih terlalu letih. Kakinya tidak akan mampu untuk lama-lama berdiri. Kemudian aku merengkuhnya dari belakang, memeluknya sekaligus menahan tubuhnya agar kuat berdiri, sambil kembali menidurkan Nathan dalam dekapannya.


Setelah Nathan kembali tenang dan tertidur, ia meletakkan Nathan dengan hati-hati. Kemudian dengan spontan aku mengangkatnya, membawanya kembali ke atas tempat tidur. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.


Aku membawanya masuk ke dalam dekapanku. Lalu mengelus pundaknya agar ia bisa istirahat dengan nyaman. "Tidurlah," desisku sambil mengecup keningnya lalu aku pun memejamkan mataku.


***


Tiba-tiba aku terbangun, tetapi Tika sudah terlepas dari dekapanku. Di bawah temaram lampu, mataku masih bisa melihat dengan jelas raut wajahnya. Dalam hatiku berbisik, 'Aku sungguh mencintainya.'


Waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih empat puluh menit, saat aku duduk di sofa belakang. Kemudian mengambil sebatang rokokku dari bungkusnya yang sengaja aku tinggalkan di atas meja ini. Sudah lumayan jarang aku menikmati asap tembakau yang satu ini. Tapi entah mengapa saat ini aku menginginkannya.


"Belum tidur, Jeff?" Suara seorang lelaki di belakangku yang spontan membuatku menoleh dan ternyata itu adalah suara Max.


Aku tersenyum. "Kebangun," sanggahku yang melihatnya berjalan menghampiriku.


Max juga membawa serta sebungkus rokok di tangannya, lalu ikut menyulutkan sebatang rokok yang sebelumnya sudah diselipkannya di antara kedua bibirnya. Lalu kami sama-sama menikmati rokok masing-masing dengan pemikiran yang juga entah melayang ke mana.


Mendadak Max menanyakan kembali tentang progress perusahaan yang aku pimpin saat ini. Kemudian Max juga mengusulkan padaku agar aku memiliki seorang sekretaris untuk mengatur segala jadwal dan urusan lainnya. Sehingga aku memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengurusi hal lainnya demi kemajuan perusahaan.


"Cari aja orang yang kamu percayai buat handle sebagian tugas kamu itu, Jeff. Karena pada akhirnya kamu juga pasti memerlukan sekretaris itu. Cari orangnya yang sudah kamu kenal atau cari orang lain sekalian, tapi sebelum kamu terima, selidiki dulu latar belakangnya. Nanti aku bantu," tawar Max padaku.


Aku tidak merespon usulannya itu, yang ada aku malah berpikir keras dan mungkin itu terlihat jelas di mata Max hingga akhirnya ia kembali mengucapkan sebuah jawaban dari pemikiranku itu yaitu, "Kamu gak perlu cari sekretaris wanita, bukan kah seorang pria juga bisa menjadi sekretaris? Bahkan bisa terlihat berkompeten dan lebih tegas."


Ya, benar apa yang diucapkan oleh Max itu. Aku bisa memilih seorang pria untuk dijadikan sekretaris. Jadi aku tidak perlu takut akan godaan sekretaris seksi seperti cerita-cerita yang pernah ada. Dan Tika tidak perlu cemburu jika suatu saat aku melakukan perjalanan dinas seperti papah dahulu.


Pada akhirnya, aku mengangguk-anggukan kepalaku sebagai tanda setuju dengan usulan Max yang satu ini. Usulan yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam otakku. Dan usulan ini juga bisa menghentikan usaha pak Hardi dalam hal yang sama, yaitu sekretaris. Walaupun pada akhirnya beliau tetap akan aku berhentikan dari pekerjaannya itu, nanti.


Setelah itu, aku juga meminta izin pada Max untuk merayakan ulang tahun Tika yang semestinya terjadi beberapa bulan lalu. Atau lebih tepatnya sesaat setelah kami menjemput si kembar untuk pulang ke rumah ini sekaligus untuk merayakan satu tahun pernikahan kami yang juga sudah terlewati.


Ya begitulah, aku dan Tika banyak melewatkan perayaan hari-hari spesial dalam hidup kami. Meskipun setiap pagi begitu aku membuka mata, aku selalu merasakan keistimewaan dan keberuntunganku dapat memiliki dirinya. Hanya saja, aku sungguh ingin membahagiakannya di tengah masalah seperti ini.


"Aku hanya ingin membuatnya bahagia, walaupun aku tahu kondisi saat ini tidak memungkinkan. Tapi aku tetap ingin melakukannya." Aku bersungguh-sungguh meminta izin Max untuk melakukan semua ini.

__ADS_1


Sebab saat aku mengecup kening Tika tadi, ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul dalam hatiku. Pasalnya, aku menikahinya dengan sebuah janji. Janji yang aku rasa menjadi doa dalam bahtera pernikahan kami. Dan karena itu, aku merasa lemah jika melihatnya bersedih, padahal aku juga menjanjikan sebuah kebahagiaan untuknya.


Sekilas aku tersenyum saat mengingat kembali janjiku saat melamarnya waktu itu. Aku memang tidak bisa menjanjikan kehidupan yang mulus, tanpa masalah, tapi bukan berarti aku tidak bisa memberikan kebahagiaan padanya 'kan? Meskipun kebahagiaan ini tidak sempurna.


"Besok aku bicarakan dulu sama mamah. Walaupun semestinya kamu gak memerlukan izin kami, karena Tika sudah sepenuhnya milik kamu. Dia tanggung jawab kamu. Dan jika kamu ingin membahagiakannya, itu sudah menjadi kewajiban kamu sebagai suaminya. Tapi untuk semua itu ... aku berterima kasih banyak." Max menepuk pundakku.


Di saat inilah, aku merasakan senang yang luar biasa. Sebab aku dapat merasakan memiliki seorang kakak, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku. Dan Tika juga membawaku ikut masuk dalam keluarganya, menikmati kasih sayang saudaranya yang begitu lekat terasa.


***


Sebuah lidah terasa masuk ke dalam rongga mulutku. Menyesap bibirku hingga menghasilkan bunyi-bunyi halus yang nyaris terdengar oleh telingaku. Aku semakin terkejut saat membuka mata, menemukan kenyataan bahwa Tika sedang mencoba menggodaku pagi ini. Aku terkekeh geli.


Dia menghentikan kegiatannya itu, lalu memberi jarak di antara kami agar kedua pasang mata dapat saling beradu. Dengan sisa kekehan di mulutku yang tersenyum mengembang, aku memandanginya.


Kulitnya yang halus dan lembut, begitu indah saat sinar matahari menyentuh permukaan kulitnya. Rambutnya yang tergerai hitam mengkilat serta wangi menggoda terasa begitu menenangkan jiwaku. Aku memandanginya yang kini menumpuk tangannya di atas dadaku lalu dia meletakkan dagunya di sana.


"Siang ini aku gak bisa pulang buat makan siang bareng. Aku mau ketemuan sama Brandy soalnya." Aku berniat ingin mengajak Brandy pindah kerja ke perusahaanku.


Tika menganggukkan kepalanya. "Gak apa-apa." Kemudian ia mengecup bibirku dengan lembut sambil memainkan lidahnya di sana. Aku membalas permainannya.


"Jangan menggodaku pagi-pagi begini," desisku setelah kecupan kami berakhir dan aku mencolek ujung hidungnya yang mancung itu.


"Tapi sebagai gantinya, aku mau ngajak kamu jalan," tambahku lagi.


Tika terlihat bingung dengan ucapanku. Keningnya berlipat tipis. "Jalan? Trus anak-anak gimana?"


"Titipin Shilla dong, gantian."


"Dih, mana boleh gitu. Itu artinya minta imbalan dong." Tika memperotes usulanku.


"Bukan imbalan, Sayang. Masa gantian gak boleh? Kita juga butuh waktu berdua loh. Inget gak apa kata mamah kamu?"


Tika menggelengkan kepalanya. "Sepasang suami istri itu butuh penyegaran sesekali, waktu berdua, dinner, bermesraan, komunikasi yang lancar. Trus masih banyak lagi yang lainnya." Dengan serius aku mengatakan itu pada Tika.


"Kapan mamah pernah bilang gitu?"


"Ada."


"Kok aku gak inget?"


"Kamu tuh mana inget kalo urusan yang begini. Makanya aku ingetin kamu." Aku memberikan alasan.


"Ya udah terserah kamu aja, tapi kamu yang bilang sama Shilla ya?"


"Beres, Mommy!" Kemudian aku kembali meraih wajahnya lalu menyesap bibirnya yang terasa manis.


Bersambung ...


—————


Mau update malam juga sama aja, isinya tetap begini. Jadi dosa tanggung masing-masing aja deh 😂


Di awal udah diperingatkan, kalo masih penasaran ya udah 🤭


Jangan lupa voteeeeeeee!!!!

__ADS_1


Babay,


#salambucin 💋


__ADS_2