
Warning adult content!!!
Khusus pembaca berumur 21+ bukan 18+.
Harap bijak dalam memaknai sebuah naskah.
———————————————
Jefri POV.
Pagi ini aku terbangun dari tidurku secara mendadak, membuat kepalaku berdenyut pening. Aku kembali memejamkan mataku sebentar untuk mengatasi semua itu. Mengatur napas yang sempat mendadak tersengal, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Telingaku menangkap suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Aku langsung membuka mata, memeriksa posisi istriku yang ternyata memang sudah tidak ada lagi di sampingku.
Biasanya ia akan membangunkanku sebelum pergi untuk mandi. Namun pagi ini sepertinya ia lupa untuk melakukan itu. Aku segera bangkit, duduk kemudian memundurkan sedikit posisi tubuhku. Kuletakkan sebuah bantal untuk mengganjal antara punggungku dengan sandaran kepala ranjang. Lalu kuraih remote televisi dan menekan tombol power-nya. Inilah kebiasaanku jika sedang menunggu Tika selesai dari mandi paginya.
Jariku berkali-kali menekan tombol remote, mencoba mencari saluran televisi yang berkualitas untuk ditonton, namun nihil, tidak kutemukan saluran itu. Mataku melirik jam digital yang berada di atas meja buffet di bawah televisi, di bagian jam digital itu juga terdapat informasi hari serta tanggal. Hari Selasa.
Pantas saja aku tidak menemukan saluran televisi yang menarik, sebab di hari ini saluran yang biasa aku tonton memang sedang tidak tayang. Aku mendengus sedikit kesal.
'Sudah sakit kepala, nonton juga gak ada acaranya.' batinku.
Telingaku masih menangkap suara gemercik air yang jatuh dari pancuran air shower di kamar mandi. Tiba-tiba aku berpikiran untuk menyusul Tika yang sedang asyik mandi itu. Lagi pula, biasanya Tika tidak pernah mengunci pintu kamar mandi jika ia sedang di dalam.
Tanganku segera menekan lagi tombol power untuk mematikan televisi itu. Lalu aku segera beranjak pergi menuju kamar mandi.
Benar saja, pintu itu tidak dikunci oleh Tika, bahkan pintu itu dibiarkan terbuka sedikit. Pantas saja suara gemercik airnya begitu jelas terdengar, berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.
Jantungku mulai berdegup, namun masih dalam batas normal, hanya saja degupannya terasa lebih kencang dari sebelumnya. Dengan pasti tanganku meraih knop pintu lalu mendorongnya pelan. Begitu terbuka, aku masih berdiri terpaku di ambang pintu. Mataku langsung disuguhkan oleh sesosok wanita yang membelakangiku, berdiri di balik kaca yang buram akibat uap dari air hangat yang digunakannya. Ia sedang membasahi rambutnya dengan penuh shampoo serta guyuran air yang mengucur pelan di atas kepalanya.
Wanita itu adalah Tika, istriku.
Dengan perlahan sambil berjalan mendekatinya, kutanggalkan celana training yang tadi malam kukenakan untuk menemaniku tidur bersamanya. Untungnya yang menjadi pembatas antara wilayah kering dan basah itu adalah kaca beruap itu sendiri. Jadi dapat aku pastikan jika Tika tidak akan menyadari kehadiranku.
__ADS_1
Sebelum aku memutuskan untuk mandi bersamanya, aku memperhatikannya yang kini sedang menyabuni tubuhnya, dengan kepala yang masih penuh dengan busa dari shampoo yang digunakannya. Namun saat ia hendak membungkukkan tubuhnya, menggapai bagian betis yang hendak disabuninya, aku dengan spontan langsung bergabung dengannya.
Tanganku menyentuh pergelangan kakinya. Tika sempat bergidik sebelum mengetahui bahwa akulah yang menyentuh kakinya. Di saat itu, aku mendongakkan kepalaku. Sedangkan ia menyampingkan tubuhnya sedikit agar dapat menundukkan kepalanya dan menatapku. Tika menggigit bibir bawahnya. Dan aku memulai permainan pagi ini.
Sengaja kutempelkan bibirku pada salah satu bokongnya dengan mata yang masih saling bertaut. Kuhisap sebentar lalu kukecup perlahan bergerak naik dengan kedua tangan yang juga bergerak menyusuri bagian tubuhnya. Hingga akhirnya aku mengecup pundaknya.
Kedua tanganku kini melingkar di depan perutnya yang masih terasa rata, membelai lembut setiap jengkalnya. Aku melangkah maju untuk merapatkan tubuhku dengan tubuhnya, mengeratkan dekapanku. Aku paling hafal betul di mana bagian sensitive di tubuhnya ini. Berkali-kali kukecup pundaknya hingga tengkuk lehernya, lalu beralih memainkan ujung hidungku pada bagian belakang telinganya. Semakin ia melenguh dan merasa geli, maka kepalanya akan semakin bergerak seakan menoleh padaku. Pada kesempatan itulah, bibirku dapat mengecap daun telinganya.
Dan itu bagian sensitive dia yang kedua setelah punggungnya. Jika sudah seperti itu, tanganku akan lebih mudah dan lebih leluasa lagi untuk bergerak. Maka dapat aku pastikan, ia sudah menikmati permainan ini.
Tanganku kembali menyelip, meraih keran shower lalu menariknya, agar air yang jatuh keluar dari pancuran air itu lebih banyak. Mempercepat proses membersihkan rambutnya dari shampoo dan membilas tubuhnya dari sabun. Agar aku juga semakin cepat bisa menikmati tubuhnya.
Setelah busa di bagian kepala dan tubuhnya tidak ada lagi, Tika berbalik menghadapku. Mengalungkan kedua tangannya pada leherku sambil menatapku, dengan kucuran air shower yang menjadi penghalang di antara pandangan kami.
Aku memundurkan selangkah kakiku, agar tubuh Tika terguyur sempurna oleh pancuran air shower itu. Lumayan lama hingga saat kucoba menyusuri punggungnya dengan tanganku, sudah tidak terasa lagi adanya sabun. Lalu kutekan kembali keran shower hingga membuat pancuran airnya tiba-tiba berhenti, langsung ku kecup bibirnya, kuselipkan lidahku hingga membuat bebunyian yang menggema, terpantul pada dinding kamar mandi ini.
Aku terkekeh geli saat Tika membalas kecupanku dengan brutal. Kami saling berpandangan, menempelkan dahi dan ujung hidung, sesekali kembali saling mengecap. Hingga tanganku segera meraih handuk pada hangernya lalu membelit belakang tubuh Tika.
"Kenapa tadi gak bangunin aku?" Kukecup lagi bibirnga sebelum ia menjawab pertanyaanku.
"Tapi 'kan aku nganterin kamu ngantor."
"Aku bisa pergi sendiri. Biar nanti pulang kantor aku bisa ambil mobil aku di rumah mamah."
"No! Aku anterin."
"Sayang, siang ini aku ada meeting loh, repot banget kalo mesti naik Crab-car. Pake nunggu-nungguin segala." Tika merengek layaknya seorang ratu. Ya memang benar adanya, dia adalah seorang ratu, ratu di hatiku.
Tidak kujawab rengekkannya tadi, namun bibirku kembali menyambar bibir merah mudanya kemudian lagi-lagi saling mengecap.
Perlahan kuangkat tubuhnya, kugendong bagaikan menggendong sebuah anak kanguru. Ia masih mengalungkan kedua tangannya, lalu sesekali salah satu tangannya menyelip di antara rambutku, mencengkram erat rambut belakang kepalaku. Sedangkan kedua kakinya kini melingkari pinggangku.
Aku berjalan dengan penuh hati-hati, membawanya keluar dari kamar mandi menuju ranjang. Mata kami hanya saling memandang, seakan membiarkan mata ini untuk saling berinteraksi.
__ADS_1
Begitu sampai di pinggir ranjang, aku tidak serta-merta menyuruhnya untuk turun dari gendonganku melainkan aku menaiki ranjang dengan kedua lututku lalu kurebahkan tubuhnya tepat di tengah-tengah ranjang.
"Bantal?" tawarku.
Tika menggelengkan kepalanya cepat. Mungkin ia lebih merasa nyaman tanpa bantal saat ini. Tanpa permisi lagi aku langsung melahap bibirnya, mengecapnya hingga menghasilkan bunyi-bunyian yang mesra. Saling membelit dan mengabsen setiap jengkal isinya. Tanganku juga tidak mau hanya tinggal diam, keduanya menyusuri satu persatu sambil membelai lembut permukaan kulit.
Aku melakukan semuanya dengan penuh hati-hati. Setiap gerakkan serta sentuhan yang aku hasilkan gunanya hanya untuk membuat Tika nyaman dan menikmati waktunya bersama denganku saat ini.
***
Aku memaksa Tika untuk mengantarnya pergi ke kantor, alasannya simpel, aku tidak ingin dia kelayapan. Dan untuk pergi meeting dia bisa meminta bantuan teman kantornya Metta. Alasannya juga kurang lebih sama, agar kemanapun ia pergi, selalu ada yang menemani. Tika bisa memaklumi alasanku itu dan dia menurutinya.
"Kabarin aku ya kalo kamu keluar dari kantor?" Aku mewanti-wantinya agar terus menghubungiku.
Bukan tanpa alasan aku bersikap seperti itu. Aku sebenarnya khawatir padanya, hanya saja aku tidak ingin memeperlihatkannya terlalu mencolok. Karena aku tahu, Tika bukan wanita yang senang untuk di kekang.
Begitu pula saat ia menceritakan mantannya si Dana itu. Kekhawatiranku menjadi semakin bertambah. Rasa was-was selalu menghantuiku jika kami terpisah jarak. Belum lagi jika ia pergi meeting di luar kantor, aku semakin takut terjadi apa-apa padanya dan calon bayi kami.
Seperti kemarin contohnya, setelah aku men-drop-nya di rumah sakit untuk menjenguk Lisa. Aku memutuskan untuk menelpon pak Hardi, meminta bantuan beliau untuk mengutus anak buahnya demi menjaga Tika selama aku tidak ada. Untung saja kemarin anak buahnya sempat untuk menghalau, jika sampai Dana bertemu dengan Tika saat itu, aku tidak bisa lagi memikirkan apa yang akan terjadi.
Aku memang memiliki rencana untuk melumpuhkan aksi Dana itu, tapi dengan cara yang lebih halus. Mirip seperti caranya yang mengintai Tika saat di tempat kerjanya, bahkan kecurigaan Tika tentang CCTV kantornya itupun sudah terbukti. Oleh karena itu, aku melakukan ini semua.
"Iya, pasti aku kabarin."
"Kamu sih gak mau aku yang antar-jemput buat meeting, kalo enggak 'kan aku gak bakalan gini."
Tika menolak saat aku menawarkan untuk mengantar-jemputnya pergi meeting siang ini. Padahal aku juga sedang tidak ada pekerjaan. Ujarnya lebih baik aku istirahat karena saat masuk kerja di perusahaan papa, itu akan lebih melelahkan lagi. Sebab akan banyak sekali perubahan serta pembaharuan sistem kerja yang harus aku sesuaikan. Benar juga apa katanya.
"Kamu istirahat aja, habis ini langsung ke rumah papa 'kan?"
Aku mengangguk, kemudian ia mengecup 'lima titik' ciuman sempurna yang di akhiri dengan kecupan berselip lidah pada mulutku, sebelum ia turun dari mobil.
Aku juga tidak langsung pulang, melainkan membiarkannya masuk ke dalam kantor dulu, hingga bayangannya menghilang dari pandanganku. Barulah aku meraih ponselku yang kuletakkan di dashboard sejak tadi. Aku langsung menekan tombol di layar untuk menghubungi pak Hardi, memastikan anak buah beliau untuk standby menjaga Tika, jika Tika keluar dari kantornya. Dan memastikan agar Tika terhindar dari segala macam hal yang membahayakan keselamatannya.
__ADS_1
Bersambung ...