
Happy fasting ...
And happy reading ...
—————
Still Tika POV.
Sesampainya di rumah sakit. Aku, Jefri dan juga bi Mince langsung berjalan menuju ke ruangan bayi, di mana di sana Haikal sudah menunggu kehadiran kami. Haikal sudah mengurusi semua dokumen serta semua kebutuhan file milik kedua anak kembarku. Mereka benar-benar dinyatakan sebagai bayi kembar yang sehat. Aku bersyukur.
Dari kejauhan aku sudah melihat Haikal dengan senyum lebarnya menyambutku. Aku langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Sambil membisikkan sebuah kata 'terima kasih' yang berulang-ulang aku ucapkan di pundaknya.
"Iya iya!" jawabnya sambil mengelus punggungku.
Kemudian kedua bayi kembarku didorong keluar dari ruangan inkubator yang ada di belakang Haikal. Mereka diletakkan dalam satu kereta dorong. Aku menyambut kedua anakku dengan tetesan air mata bahagiaku. Tidak ada penjelasan untuk sebuah perasaan yang aku rasakan saat ini.
Aku membungkukkan tubuhku, menatapi mereka berdua secara bergantian. Sudah tidak ada lagi selang oksigen yang tersemat di lubang hidung mereka. Tidak ada lagi beberapa alat medis yang menempek di tubuh mereka. Dan yang terpenting kini sudah tidak ada lagi kotak kaca yang membungkus diri mereka. Aku bahagia.
Aku akui, memang sangat sulit bagiku untuk memeluk mereka secara bersamaan. Menggendong mereka dengan adil, aku rasa aku tidak mampu. Kecuali jika aku sedang duduk di atas tempat tidur. Mungkin bisa.
Jadi untuk saat ini aku putuskan untuk membiarkan mereka berbaring dalam kereta itu dulu. Aku mengecup kening mereka secara bergantian.
Setelah beberapa saat kemudian aku, Jefri dan juga bi Mince langsung meminta izin untuk pamit pulang. Membawa kedua bayi kembar kami untuk segera pulang ke rumah mamah.
Haikal mengantarkan kami untuk menuju ke lobby. Dia mendorongkan kereta bayiku dengan lembut dan perlahan. Langkah demi langkah, di sepanjang jalan menuju lobby, Haikal menanyakan mengapa aku dan Jefri jadi lebih memilih untuk pulang membawa anak kami ke rumah mamah, bukan ke rumah kami sendiri.
"Kamar mereka belum jadi. Lagian aku belum terlalu mahir buat ngurus sekali dua begini, Kal." Aku memberikan alasan.
"Lagian di sana juga ada Shilla, jadi kan bjsa sekalian belajar sama dia. Pelajaran gratis," tambahku sambil terkekeh geli.
"Bener juga sih. Jadi kalian semua tidur balik ke rumah mamah nih?"
Aku mengangguk. "Iya, Kal. Kalian tunggu di sini, aku ambil mobilnya." Jefri berkata menambahi.
Kemudian Jefri segera melangkahkan kakinya, dengan cepat dia menuju mobil dan segera membawanya ke depan pintu lobby, di mama kami menunggu.
"Sampai berapa lama?" tanya Haikal lagi.
"Gak tahu, Kal. Gak bisa di tentukan kayaknya." Aku menoleh dan menatapnya lalu mengangkat kedua bahuku.
Tak berapa lama kemudian, Jefri datang tepat di depan kami lalu aku segera menggendong salah satu anakku dan yang satunya lagi di gendong oleh bi Mince. Lalu aku dan bi Mince segera memasuki mobil, duduk di kursi belakang.
"Loh, di depan dikosongin," protes Jefri.
"Aku gak mau anak aku duduk di depan, bahaya." Aku menjawabnya dengan tegas, diiringi dengan suara tawa dari Haikal.
Kedua bahu Jefri merosot drastis saat ia hendak masuk ke dalam mobil. Sekali lagi kami semua berpamitan dengan Haikal. Lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, kedua bayi kembar ini terlihat tidur dengan sangat nyaman. Tidak ada suara tangisan sedikit pun. Kedua mataku terus saja menatapi mereka secara bergantian. Kedua sudut bibirku selalu saja tertarik, melukiskan sebuah senyuman bahagia untuk mereka.
Ya, jujur saja, melihat mereka sehat saat ini dan boleh aku bawa pulang adalah salah satu keinginanku dari beberapa minggu yang lalu. Aku sudah tidak sabar ingin cepat sampai di rumah mamah, agar aku bisa menggendong mereka secara bersamaan.
"Sayang, nanti ranjangnya langsung kamu rakit kan? Begitu sampai rumah mamah?" Aku melirik kaca spionnya yang di tengah dengan lantang.
Sekilas Jefri membalas lirikanku di spion itu lalu mengangguk pelan.
"Sayang, nanti jangan lupa siapin bantalnya loh ya, jangan sampai ketuker." Aku menambahi dan Jefri kembali mengangguk sambil berdeham.
Aku melemparkan pandanganku sekilas keluar jendela mobil lalau tiba-tiba aku kembali mengingat sesuatu. "Sayang, bottle streamer-nya tadi kamu taruh di mana? Itu ntar harus deket terus sama mereka naruhnya. Jadi gak repot."
"Hmm," jawabnya dengan dehaman.
"Trus tiang ayunan juga, Yang, nanti kamu lupa lagi. Kata papah itu perlu biar mereka tidur siangnya nyenyak kalo diayun."
"Hmm."
"Sayang, breast pump yang aku beli di tokped dalam lemari kamu bawa kan?"
"Iyaa, sudah aku bawa semua." Jefri menjawabku dengan nada bicara yang malas.
Aku mengerucutkan bibirku. "Iih kamu kenapa sih, nyahutinnya gitu banget." Aku merajuk.
Jefri mengembuskan napasnya kasar. "Lagian kamu cerewet banget. Toh juga kalo ketinggalan di rumah kan masih bisa diambil. Aku gak apa-apa kalo disuruh bolak-balik, kan cuman butuh waktu setengah jam, kalo macet paling empat puluh lima menit. Bukan jarak yang sehari dua hari juga kan. Jadi gak terlalu kamu khawatirin kalo ketinggalan. Jadi jangan cerewet juga. Aku nyetir butuh konsentrasi loh."
Tetapi tiba-tiba wanita paruh baya yang duduk di sampingku terkekeh pelan, aku sontak menoleh kepada bi Mince. Lalu beliau berkata, "Tapi barusan den Jefri yang cerewet," kata bi Mince pelan dan sontah membuatku tertawa di tahan, agar tidak membangunkan kedua anakku yang masih tertidur pulas.
Sedangkan Jefri hanya mendengus kesal, kemudian menyembunyikan raut wajahnya dari pantulan cermin spion yang kulirik. Mungkin dia malu ditegur seperti itu oleh bi Mince.
Jarak dari rumah sakit Haikal ke rumah mamah cukup lumayan jauh, bisa memakan waktu hingga satu jam lebih. Belum lagi jika macet, jangan berharap ada jalan tikus. Karena jalan tikus di kota ini biasanya sudah dikuasai oleh para ojek online dan transportasi lainnya seperti becak ataupun bajaj.
__ADS_1
Dan sialnya, kami terjebak macet. Sebab saat ini waktu sudah tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Yang mana tandanya ini adalah jam istirahat atau jam makan siang para karyawan kantor. Jadi wajar saja jika macet terjadi.
Tepat pukul dua lewat tiga belas menit kami akhirnya sampai menuju rumah mamah. Untungnya si bayi kembar benar-benar tidak rewel. Mereka masih tetep anteng 'bobo syantiek'.
Jefri memarkirkan mobil lalu mematikan mesinnya dan bergegas turun. Membukakan pintu mobil untuk bi Mince sambil membantu bi Mince turun. Setelah itu barulah membantuku untuk turun juga dari mobil. Kemudian kami langsung masuk ke dalam rumah.
Awalnya mereka yang sedang ada di dalam rumah dan sedang menunggu kedatangan kami itu ingin berteriak, memberikan sambutan. Tapi begitu Jefri masuk lebih dulu untuk sekalian membukakan pintu, Jefri memberi sebuah kode jika anak kami sedang tertidur.
"Sssssttt!!!" desisnya sembari menyuruhku masuk, diiringi dengan bi Mince.
Mamahku dan mama mertuaku langsung mendekatiku lalu mereka langsung meminta untuk menimang cucu mereka. Aku dan bi Mince serta-merta memberikan mereka.
Semuanya aku lihat ada di sini. Hanya Haikal yang tidak ada. Sedangkan Jefri berulang kali menarik pinggangku untuk mendekat padanya lalu mengecup keningku.
Kini kedua baby twins itu sedang dibaringkan di kamar Max di bawah. Sebab Jefri sedang memasukkan barang-barang kami ke dalam kamarku di atas. Berkali-kali dia, Max dan juga Jerry untuk menaik-turuni tangga hingga akhirnya Jefri merakit sendiri ranjang untuk baby twins.
Sedangkan bi Mince dan Shilla langsung ke dapur untuk memasak. Menyediakan makan siang yang tertunda akibat kemacetan yang kami alami di sepanjang jalan menuju ke rumah.
Lalu aku sedang menggendong Feli yang tertidur dan kami sedang berkumpul di kamar Max. Lengkap bersama mamah Icel dan kedua mertuaku yang sedang memandangi kedua anakku sambil bercengkrama.
Tak berapa berselang. Haikal pun tiba-tiba datang. Ia meluangkan waktunya hingga malam untuk berada di rumah ini, sebab sebelumnya Max yang menghubunginya dan meminta waktunya.
"Ayo makan, Mah, Ma, Pa," ajak Shilla yang seketika memunculkan kepalanya dari balik pintu. Ia juga menguruhku makan dan meletakkan Feli di atas tempat tidur. Membiarkan ketiga anak bayi itu terbaring puas. Tentunya di sekeliling ranjang mereka sudah di pasangi beberapa pagar pembatas.
Begitu pula pada untuk para lelaki. Dengan sigap Shilla menggendong Icel yang sedikit cerewet karena belum akan, lalu menaiki tangga dan mengajak mereka lainnya in untuk segera turun ke meja makan. Dan menikmati makan siang kami yang terlambat.
Anggap saja sebagai makan siang menjelang sore.
Isi dari meja makan terbilang ramai, bahkan sangat ramai. Kemudian semuanya langsung memakan sajian yang ada itu, setelah sebelumnya berdoa untuk semua rezeki yang di dapat dan kembalinya si kembar di tengah-tengah kami pada hari ini.
Semua bergembira, bersuka-cita. Terlebih lagi aku yang sudah lama tidak merasakan kebersamaan seperti ini. Kehidupan yang tenang damai tanpa ada masalah ataupun batu kerikil yang menghujani telapak kakiku dan Jefri.
Aku memilih makan hanya sedikit saat ini, bukan karena tidak nafsu makan tapi karena aku ingin cepat-cepat kembali ke dekat kedua anakku. Betepatan dengan selesainya aku makan, tiba-tiba saja suara bayiku menangis. Segera aku lepaskan piring dan sendok makanku untuk berlari kecil menuju ke kamar Max yang di sana ada bi Mince yang sedang menjaga mereka.
Ternyata yang menangis adalah bayi laki-laki. Aku dengan sigap langsung memberikan ASI-ku padanya. Dan benar saja, bayi laki-laki ku itu sangat terlihat haus saat itu. Dengan lahap ia menyesap, membuatku terus saja tersenyum memandanginya.
Di bantu dengan bi Mince, yang sedang menenangkan Feli yang terkejut akibat suara tangis bayi laki-laki ku tadi.
"Non, sambil duduk aja, nanti cepet capek kalau sambil berdiri. Gak apa-apa kok, Non." Bi Mince mencoba memberitahikan.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku saat bi Mince terus saja bercerita tentang di mana saat mamah repotnya mengurusi kami, ketiga anaknya yang masih sangat balita saat itu, hingga menjadi anak-anak belasan tahun yang susah di atur.
Yang mana secara tidak langsung juga, aku menyadari satu hal. Bahwa bi Mince setengah hidupnya ia gunakan untuk mengabdikan diri pada mamah dan papah, pada keluargaku.
Kemudian tiba-tiba bayi perempuanku lagi yang menangis, setelah sebelumnya bayi yang laki-laki sudah berhasi menerima asupan tubuhnya.
Bi Mince kembali menasihatiku untuk segera memberikan Asi ku yang satunya lagi untuk bayi perempuan ini. Katanya bi Mince biar seimbang dan biar gak sakit. (you know lah buat yang sudah jadi seorang ibu. Haha)
***
Hari silih berganti, senja datang malam menanti. Kicauan burung mulai terdengar kembali. Membiarkan kegelapan mulai menyelimuti.
Satu per satu mereka berpamitan untuk pulang. Di mulai dengan Jerry yang harus menjemput istrinya dan kedua anaknya di rumah mertuanya. Kemudian kedua mertuaku yang harus kembali istirahat.
"Nanti kamu coba kirim email datanya ke papa ya, Dul? Biar segera papa cek. Takutnya itu pengeluaran yang digunakan buat biaya rumah sakit papa dulu itu." Papa sambil menepuk-nepuk pundak suamiku.
"Kamu ingat kan apa kata mama?" tanya mama padaku saat kami mengantar mereka sampai ke depan mobil mereka.
Aku mengangguk tersenyum kemudian mengecup pipi kiri dan pipi kanan mama secara bergantian. Memeluk papa dan mencium punggung tangan beliau.
"Ya sudah, kami pulang dulu. Nanti kapan-kapan kami ke sini lagi buat jenguk cucu. Iya kan, Pa?"
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya dan pergi berlalu. Aku dan Jefri menunggu berdiri hingga mobio mereka perlahan menghilang di balik tembok pagar.
"Mama bilang apa ke kamu?" bisik Jefri yang mendadak melingkarkan kedua tangannya pada perutku. Aku menoleh heran padanya.
"Rahasia aku sama mama," jawabku seadanya.
"Dih, kok main rahasia-rahasiaan sama suami sendiri?" protesnya.
"Soalnya aku udah janji sama mama kamu." Aku bersikeras.
Akibat sikapku itu, Jefri semakin mengeratkan dekapannya lalu menyematkan kepalanya pada ceruk leherku. Lalu mulai menjalankan aksinya. Aku berseru meminta ampun padanya agar ia segera menghentikan kegiatannya itu.
"Ampun ... ampun! Udah ... udah ya? Ini kita lagi di luar loh!"
"Berarti kalo lagi di dalem rumah boleh dong?" tanyanya sambil kembali menyesap leherku.
"Enggak bisa juga, malu dong sama mamah. Kan ada Max sama Shilla juga." Aku merengek sambil meronta minta di lepaskan dari kegiatan tangannya yang juga jahil.
__ADS_1
"No no no! Terlalu banyak alasan!" tegasnya kembali menggelitiki leherku dengan ujung hidungnya.
—————
Alex POV.
Aku sudah mengetahui apa yang telah terjadi antara Max dengan Lisa dan dengan Tika. Semua informasi kejadian itu aku dapatkan dari Lisa sendiri.
Sebenarnya aku tidak percaya dengan apa yang telah ia akui. Ia mengatakan jika ia cemburu melihat kehidupan Tika yang begitu sempurna baginya. Kehidupan Tika yang selalu bahagia pada akhirnya.
Dan dengan sedikit bumbu pertikaian antara aku dan dia dulu lah yang menyebabkannya semakin mau untuk bertemu dengan Dana di Bali waktu itu. Lalu di saat tawaran itu datang ia pikir bagus untuk sesekali melihat hidup Tika kacau.
Namun tidak di sangka yang terjadi malah seperti ini. Benar-benar di luar dugaan sama sekali. Kemudian Lisa juga mengatakan sempat merasa bersalah saat melihat Tika yang tertembak untuk dirinya. Dia tidak mengira jika Tika malah akan senekat itu.
Namun, saat mendengar cacian yang keluar dari mulut Max membuatnya hilang kendali dan berniat ingin mengakhiri hidupnya. Dengan berjalan di tengah-tengah jalan tol, lajur kecepatan tinggi.
Tapi dia tidak menyangka jika malah kembali tertolong.
"Itu artinya, Tuhan sayang sama kamu. Mestinya kamu bersyukur sampai di berikan dua kali kesempatan untuk hidup. Jarang ada yang mendapatkan itu," ucapku padanya saat aku membawanya ke taman rumah sakit, untuk menghirup udara segar. Dengan mendorongnya menggunakan kursi roda.
Lisa hanya terdiam saat itu. Pandangannya kosong. Pernah juga sekali aku mendapatinya tertidur sore dengan mata yang sembab. Setelah aku kembali ke apartemen untuk mengganti pakaianku. Saat ia bangun dan kutanya, jawabnya hanya dengan gelengan kepalanya.
Aku sempat berpikir putus asa pada wanita ini. Namun hatiku ini yang membuat aku bertahan padanya. Bahkan aku sempat bertanya kepada kedua orangtuaku tentang semua ini. Tapi lagi-lagi mereka berdua semakin mendorongku untuk meneruskan hubungan kami.
Bahkan di saat kedua orangtuaku bertemu dengan saudara ayahnya Lisa. Beberapa hari yang lalu di ruang rawat inap Lisa. Mereka terus saja mencari dan mencocokkan tanggal mereka. Agar aku melakukan lamaran secara resmi padanya. Aku menyetujuinya.
Bukan karena terpaksa, bukan pula karena mereka ada. Tapi memang karena hati ini selalu ingin merengkuhnya. Ingin menuntun langkahnya di belakangku. Ingin menjadi pangeran berkuda putih untuk menariknya dari sisi kegelapan hatinya. Dan aku mencintai apapun yang ada pada dirinya.
Entah itu sisi baiknya, sisi buruknya, sisi kelamnya, sisi bahasianya. Bahkan aku mencintainya sampai ke titik masa lalunya. Kemudian berdiri denganku untuk menjalani masa depanku. Hanya itu.
"Apa kamu mencintai aku?" Pertanyaan ini selalu aku lontarkan di setiap hari kepadanya. Tepat di saat dia membukakan matanya untuk sesaat menatap langit-langit ruang rawat inap itu.
Namun berkali-kali pula ia hanya menjawab dengan kalimat, "Belum, mungkin suatu saat."
"Biarkan aku menemani kamu sampai saat itu tiba," lirihku di telinganya
Beberapa hari yang lalu, Lisa tidak menjawab kalimat terakhirku itu. Tetapi berbeda dengan hari ini. Ia menarik ujung bajuku di saat aku hendak memutar arah untuk menarik kursi rodanya. "Kenapa?"
Perlahan matanya menatap mataku, bola mata kami saling berpandangan. Lalu ia mengatakan sesuatu dengan sangat pelan. "Temani aku sampai hari itu tiba."
Sekejap hatiku terasa sejuk saat ia mengucapkan kalimat itu. Terasa disirami oleh percikan air pengharapan. Sekali lagi aku katakan, aku mencintai segalanga yang membawanya hingga sejauh ini.
Kemudian pagi ini setelah ia selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi dengan kursi rodanya. Aku membawanya mengelilingi taman. Seperti biasanya.
Bunga-bunga bermekaran, semerbak wangii hadirkan cinta. Memberi kesejukan dan keteduhan jiwa.
Lumayan lama aku dan Lisa menghabiskan waktu bersama di taman. Lisa yang meminta, ia ingin merasakan sinar matahari lebih lama lagi untuk menyentuh kulitnya. Aku menoleh padanya, melihat dirinya yang sedang menengadahkan kepalanya. Hingga dia membuat leher jenjangnya terlihat oleh mataku dengan sempurna, entah dia sengaja atau tidak.
Setelah selesai menghirup udara segar sambil berjemur, membiarkan sinar matahari membakar jiwa dan raga. Lisa meminta untuk kembali menuju kamarnya.
Aku kembali mendorong kursi rodanya, lalu tiba-tiba saja dari kejauhan, mataku menangkap sosok Tika dan Jefri. Dan ada Haikal juga yang sedang mendorong sebuah kereta kecil, mungkin anak Tika dan Jefri yang kembar itu.
Aku menyentuh bahunya, ia mendongakkan kepalanya menatapku lalu ku suruh dia untuk melihat pemandangan yang tersaji di depan sana. Ia langsung mengikuti ke mana arah pandangan mata yang aku maksudkan.
Terdiam. Lisa hanya diam.
"Kamu mau ke sana? Menyapa mereka ...," tawarku.
Dengan cepat Lisa menggelengkan kepalanya. Aku dapat melihat dengan jelas dari posisiku saat ini gerakan kepala itu.
"Gak apa-apa, kalau kamu belum siap ketemu mereka, aku gak akan memaksa. Kamu yang akan menentukan segalanya. Sampai kamu siap untuk mengatakan maaf dengan satu-satunya sahabat yang kamu miliki itu."
Kemudian aku kembali mendorong kursi rodanya hingga masuk ke dalam ruangan rawat inap-nya.
Bersambung ...
—————
Hallo lohhaa ...
Terima kasih sudah mau menungguku untuk menulis dan update cerita ini.
Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)
Aku juga mau minta kalian buat VOTE POIN/KOIN di judul novel ini. Semoga saja ada dari kalian yang berbaik hati mau melakukannya ya?
Silakan bergabung dalam Grup Chat NovelToon
Folow my Instagram @bossytika
__ADS_1
With love,
#salambucin! 💋