
"Maaahh, Mamah!" seruku saat memasuki rumah.
"Mamah dibelakang," sahut Mamah.
Aku dan Jefri langsung menuju ke halaman belakang. Mamah sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah majalah. Aku langsung bergelayutan duduk di sebelah Mamah sambil memeluknya.
"Kamu ini ya, bikin mertua kamu panik aja," tegur Mamah.
"Maaf, Mah, aku lupa tadi malem ngabarin," sahut Jefri sambil duduk di sofa terpisah.
"Iya, lain kali kalian jangan gitu ya? Bikin panik semuanya. Tadi udah Mamah kabarin kok Mama kamu."
"Aku ke kamar dulu ya, beresin barang," izin Jefri lalu pergi.
Aku mengangguk.
"Mah, Haikal punya cewe loh," ucapku pada Mamah.
Mamah menutup majalahnya. Menoleh padaku, dahinya berkerut.
"Masa sih?"
"Iya, kemaren ketemu di mall. Trus ngobrol-ngobrol. Anaknya asik kok,"
"Cakep?"
"Cakep kok, kerja juga."
"Dimana?"
"Perusahaan asuransi. Tapi belum pacaran sih ngakunya, masih deket gitu. Tadinya aku mikir pacarnya, tapi ternyata mereka baru kenal."
"Syukurlah, jadi Mamah gak terlalu kepikiran lagi."
Aku menghela nafas, lalu bersandar di bahu Mamah sambil beristirahat sejenak. Mamah pun kembali membaca majalahnya lagi. Tidak terasa aku memejamkan mataku dan tertidur..
-------------------------------------------
Haikal POV.
Sepulangnya dari mall, waktu menunjukkan jam sembilan malam. Disepanjang perjalanan aku dan Clara hanya diam, sesekali ku lirik dia, sambil melihat kaca spion mobilku. Sampai akhirnya ku lihat dia sedang memperhatikanku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Enggak papa."
Aku kembali fokus menyetir.
"Gua boleh minta anterin langsung ke rumah?" tanya Clara tiba-tiba.
"Boleh. Emang tadi pagi ke rumah sakit naik apa?"
"Diantar."
__ADS_1
"Trus ini alamatnya dimana?"
"Didepan ketemu simpangan belok kanan."
Aku mengarahkan laju mobil menuju ke alamat yang Clara arahkan. Hingga akhirnya sampai didepan sebuah rumah minimalis. Begitu teduh rumah itu terlihat dari luar, dibawah remang-remang lampu pinggir jalan. Dengan pagar besi yang begitu sederhana.
"Makasih ya sudah mau nganterin," pamit Clara sambil membuka safety beltnya.
"Hm," aku menganggukan kepalaku.
Sesaat setelah Clara membuka pintu mobil, tanganku dengan spontan memegang tangannya. Clara menoleh.
"Makasih juga sudah mau nemenin jalan hari ini. Besok ke rumah sakit lagi kan?" tanyaku.
"Ngapain?"
"Kan tadi berkasnya belum kelar."
"Oh, iya, tenang aja, gua bakal kelarin besok sampai selesai."
"Sekali lagi makasih ya?"
"Hm. Tangannya?" pinta Clara sambil menggerakkan tangannya yang masih ku genggam.
"Oh sorry."
Segera ku lepaskan genggaman tanganku padanya. Ia turun dari mobilku dan ku tunggu hingga ia memasuki pagar. Lalu baru ku pergi dari sana, kembali menuju ke rumah sakit.
FLASHBACK ON.
Wanita yang ku cintai saat kuliah. Jasmine namanya. Memang latar belakangnya berbeda jauh denganku. Tanpa status apapun, kami hanya dekat dan saling membutuhkan, ku rasa. Hingga tiba-tiba dia menghilang saat hari kelulusan kami.
Namun setelah satu minggu ku lalui, aku baru mengetahuinya bahwa ternyata dia memiliki penyakit serius.
Hypopherenia. Penyakit gangguan mental yang tiba-tiba sering menangis dan sedih tanpa alasan yang jelas. Bahkan sang penderita tidak menyadari hal itu. Penyebabnya bisa karena rasa kekhawatiran yang berlebihan, pengaruh hormon, penyakit saraf atau kemunduran fungsi otak. Bisa juga karena adanya rasa trauma yang mendalam yang pernah dialaminya.
Namun sebenarnya penyakit itu bisa diatasi dengan cara mencurahkan isi hati kepada seseorang yang dipercayainya atau bahkan bisa ditangani jika ia mau pergi ke psikolog untuk melakukan konsultasi serius secara berkala.
Tapi berbeda dengan Jasmine. Ia lebih memilih untuk memendamnya sendiri. Dan berusaha mengakhiri hidupnya dengan menengak beberapa macam obat depresi.
Aku tidak mengetahui keberadaannya bahkan aku tidak sempat melihat jasadnya untuk terakhir kalinya. Berkali-kali aku mendatangi rumah orangtuanya. Mereka menutup rapat kejadian itu, hingga akhirnya mereka merasa siap untuk memberitahukanku segalanya.
Kedua orangtuanya berpisah akibat tidak memiliki waktu untuk bersama. Karena kedua orangtuanya termasuk orang penting. Daddy-nya seorang CEO di salah satu perusahaan saham terkenal. Sedangkan Mommy-nya seorang pejabat negara yang bekerja full time di salah satu kantor negara.
Jasmine hidup dengan ditemani oleh asisten rumah tangga. Dia memiliki seorang adik, lelaki. Namun adiknya tidak sekuat Jasmine menghadapi perceraian orangtuanya. Adiknya dibully saat sekolah. Karena skandal Daddy-nya yang terungkap memiliki wanita lain selain Mommy mereka.
Seluruh televisi memberitakan hal itu. Belum lagi selesai skandal itu, Mommy-nya juga membuat skandal yang sama. Mommy-nya sering terlihat bersama dengan pria yang lebih muda usianya. Keluar masuk hotel.
Belum lagi saat itu Jasmine memiliki pria sebelum aku yang tempramental. Sering memukulnya, tanpa alasan yang jelas hingga akhirnya Jasmine memutuskan untuk meninggalkan pria itu.
Lalu tanpa sengaja aku masuk dalam kehidupan Jasmine. Aku merasa bahagia dengannya. Dia tak pernah sekalipun meneteskan air matanya saat bersamaku. Hingga saat adiknya memutuskan mengakhiri hidupnya. Bunuh diri.
Aku tidak mengetahui jelas kisah adiknya. Karena Jasmine tidak pernah bercerita detail. Adiknya bunuh diri empat hari sebelum hari kelulusan kami. Jasmine terpukul. Aku menemaninya, hingga ia menghilang saat hari kelulusan.
__ADS_1
Pagi itu aku menjemputnya. Namun dia tidak ada dirumah. Seluruh asisten rumah tangganya pun tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya. Hingga ia ditemukan tak bernyawa di salah satu ruangan bawah tanah. Overdosis.
Kurang lebih seperti itu kisah orangtuanya.
FLASHBACK OFF.
Tak terasa aku sudah memasuki halaman parkir rumah sakit. Begitu aku sampai di ruanganku. Aku segera mengganti pakaianku. Pakaian tadi yang sengaja ku minta untuk di antarkan ke rumah sakit oleh pegawai toko dimana aku membeli baju yang ku kenakan.
Beberapa belanjaanku yang lainpun terlihat sudah sampai di atas meja kerjaku.
Ku hempaskan tubuhku di sofa. Ku jambak rambutku sendiri.
"Haah!!! Kok gua mikirin tu cewek mulu sih! Sialan!" gumamku.
Tokk..
Tokk..
Ceklek..
"Kal?" seru Ranti membuka pintu ruanganku.
"Ya? Kenapa, Ran?"
Ranti masuk dan menutup pintu. Duduk disebelahku.
"Kamu abis dari mana sih?"
"Jalan."
"Trus itu berkas apaan?"
"Oh, itu berkas digudang."
"Kenapa gak kamu kembaliin?"
"Biarin aja dulu."
"Ya udah deh, gua balik ke bawah lagi. Lu mending cuci muka dulu deh sebelum ke bawah. Kucel banget."
"Hm."
Ranti berdiri keluar ruanganku. Aku menghembuskan nafasku kasar. Ku lihat kembali tumpukkan kertas diatas mejaku, lalu ku tersenyum tipis.
Aku terlalu jahat mengerjai Clara. Padahal sebenarnya berkas itu tidak perlu disusun menurut tanggalnya. Aku sengaja...
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali aku memutuskan untuk pulang ke rumah sebentar, hanya sekedar untuk mandi membersihkan tubuhku. Biasanya aku mandi di rumah sakit, karena kondisi UGD yang tak pernah sepi. Namun entah mengapa pagi ini aku ingin sekali pulang ke rumahku sendiri.
Ku rebahkan tubuhku sebentar di ranjang kesayanganku, mengistirahatkan tulang belakangku. Kemudian pikiranku kembali melayang, mengingat-ingat lagi saat aku pertama kali bertemu dengan Clara.
Wajah polosnya saat dijatuhi setumpuk kertas. Imutnya saat ia tertidur disebelahku. Bahkan wajah menggemaskannya saat cemberut. Aku tertawa sendiri dengan mata tertutup.
__ADS_1