Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 165


__ADS_3

Masa harus aku tulis mulu sih buat sumbangan Vote-nya disetiap episode???


Aishh, bikin gak semanagat aja πŸ˜”


β€”β€”β€”β€”β€”


Still Tika POV.


Semenjak pulang dari tadi sore, tak banyak yang Jefri katakan padaku. Seperti bukan lelaki yang aku kenal. Dia hanya diam dan diam. Jika ditanya, hanya akan menjawab seperlunya saja.


Setelah selesai dia mengeluarkan barang belanjaan kami dari mobilnya, dia langsung bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Lalu memaksa dirinya sendiri untuk kembali berkutat dengan pekerjaan kantornya. Menggunakan laptopnya dan memandangi layarnya sambil duduk bersandar di atas tempat tidur.


Perlahan aku mendekatinya, berdiri di sampingnya lalu menangkupkan kedua telapak tanganku pada kedua sisi pipinya dan mendongakkan wajahnya untuk menatapku. Aku menatap bola matanya dengan lekat lalu menanyakan padanya apakah dirinya sedang baik-baik saja? Dia hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan juga sebuah senyuman tipis.


Bahkan saat makan malam selesai pun, ia hanya meminta izinku untuk merokok. Tentu saja aku mengizinkannya karena aku pikir perasaannya pasti sedang kalut saat ini dan mungkin rokok adalah jalan satu-satunya baginya untuk menenangkan pikirannya. Mungkin seperti itu, karena dulu aku juga pernah merasakannya. Menganggap bahwa rokok lebih bisa membuat perasaanku tenang tapi nyatanya aku salah.


(author note: ingat merokok itu membunuhmu secara perlahan!!)


"Jefri kenapa?" tanya Max sesaat setelah Jefri melangkah menjauh dari meja makan.


Aku menoleh padanya lalu mengerdikkan bahuku dengan serempak. "Dia lagi banyak masalah. Nanti juga balik lagi."


"Gara-gara perusahaannya?" selidik Max lagi.


"One of them ...," sahutku seraya membuang napasku dan melanjutkan makan malamku yang tersisa sedikit di atas piring.


Mungkin saat ini aku terlihat biasa saja menanggapi sikap Jefri, padahal sebenarnya dalam hati, aku sangat mencemaskannya. Aku takut besok saat di kantor dia menjadi tidak terkendali akibat semua ini. Apalagi jika sampai pak Hardi menunggunya untuk menjelaskan semuanya. Apa dia akan memaafkan pak Hardi? Atau dia tidak akan mau mendengarkan penjelasan apa pun?


"Tika ... kalian gak lagi ada masalah berdua, 'kan?" Kini mamah yang mulai mencercaku.


Aku menjawab dengan malas, "Enggak, Mah. Kami baik-baik aja. Jefri memang lagi ada masalah tapi bukan sama aku," sanggahku.


Aku mengembuskan napasku dan kali ini benar-benar terasa berat. Mungkin aku terlalu mengkhawatirkannya.


β€”β€”β€”β€”β€”


Jefri POV.


Selesai makan malam aku memutuskan untuk merokok setelah sebelumnya aku meminta izin pada Tika. Untungnya dia masih mengizinkanku untuk menyesap lilitan tembakau itu. Kuselipkan sebatang rokok itu pada mulutku lalu menyulutnya. Menikmati hisapan asap demi asap yang kemudian aku embuskan dengan perlahan. Sambil memandangi langit malam.


Pikiranku kembali melayang, teringat akan kejadian yang aku alami tadi sore. Semua begitu kebetulan. Baru saja Brandy memberikan serangkaian informasi tentang pak Hardi dari anak buahnya padaku. Entah itu tentang latar belakangnya, foto pertemuannya dengan beberapa orang, bahkan sampai informasi rekening yang beliau miliki. Semua sudah aku dapatkan sore itu.


Aku akui, memang dari keseluruhan informasi yang aku dapatkan, tentang latar belakangnyalah yang sangat membuatku terkejut. Pasalnya aku terkejut melihat susunan keluarganya yang ternyata Paula adalah anak kandungnya. Pak Hardi bercerai dengan istrinya dengan alasan kekerasan dalam rumah tangga.


Bukan pak Hardi yang melakukan kekerasan itu, melainkan istrinya. Dan yang memicu konflik kekerasan itu adalah perekonomian keluarga. Istrinya terkenal dalam dunia wanita sosialita, membuatku tidak heran jika sifat itu menurun pada anak tunggalnya Paula.


Lalu saat Brandy memperlihatkan beberapa lembar foto dari pertemuan pak Hardi dengan Paula yang sedang menyerahkan amplop cokelat berlogokan perusahaanku. Dengan wajahnya yang senang dan kedua bola matanya yang berbinar. Mungkin selama ini aku dan keluargaku memang sudah lama mereka permainkan. Terjebak dalam semua kejadian yang sudah mereka rencanakan dari dulu.


Aku terlalu bodoh dan juga ceroboh!


Belum lagi kejadian kebetulan lainnya yang datang beruntun menghampiriku. Bertemu dengan Paula yang menabrak kereta belanjaan Tika. Sampai melihat pak Hardi sendiri yang saat itu pun sedang memindahkan barang belanjaan anaknya ke dalam mobil.


Sungguh itu merupakan sebuah kebetulan yang menakjubkan. Hanya selang beberapa menit, semuanya benar-benar disajikan secara langsung di depan mataku. Dan tadi sore aku lumayan puas dengan yang aku lakukan di sana.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan dengan gerakan refleks aku menolehkan kepalaku. Aku mendapati Max yang sedang bersiap untuk duduk di sampingku. Dia juga sudah menyalakan ujung rokoknya dan menikmatinya. Aku kembali memandang lurus ke arah depan.


"Ada masalah?" tanya Max padaku.


"Mungkin seminggu lagi aku akan bawa Tika sama anak-anak aku balik ke rumah kami." Aku mengembuskan napasku dengan kasar tanpa berani menoleh menatap Max.


Aku tahu ini adalah keputusan terkonyol yang pernah aku ambil. Tapi seperti pada niatku sebelumnya, aku ingin mengurus keluarga kecilku sendiri. Aku merasa tidak nyaman jika selalu berada di balik bayang-bayang Max. Selalu dia yang melindungi istri dan anak-anakku. Dan keputusan ini sudah aku pikirkan berkali-kali.


"Kamu yakin, Jeff?" Dengan tegas Max melontarkan pertanyaan itu. "Kalian sudah kompromi berdua?" tambahnya lagi.


"Sudah, Tika setuju. Aku benar-benar ingin bertanggung jawab pada mereka karena itu memang sudah kewajibanku." Aku berusaha menjelaskan pada Max alasannya mengapa aku menginginkan untuk kembali ke rumah kami sendiri yang mana akhirnya Max dapat mengerti keputusanku itu.

__ADS_1


Kemudian Max juga menanyakan kondisi perusahaanku saat ini. Aku menjelaskan padanya tentang kendala yang aku alami. Mencoba bertukar pikiran lagi dengannya, hingga akhirnya aku juga menceritakan padanya tentang Brandy yang akan menjadi sekretarisku dan juga menceritakan tentang pak Hardi.


"Oh, jadi tadi sore pak Hardi udah kepergok nih?" Max terkejut dengan ceritaku, sekaligus tidak menyangka jika ternyata pak Hardi adalah ayah kandung dari Paula. "Trus Paulanya tahu juga kalau sekarang kamu yang jadi atasan ayahnya?"


"Aku gak tahu dan aku gak mau tahu, Max. Gimana mereka atau apa pun itu, gua cuman mau cepet keluarin dia dari perusahaan." Aku menoleh menatap Max kilas yang ditanggapi Max dengan sebuah tepukan pada pundakku.


"Kamu harus punya prinsip yang kuat untuk besok dan mulai besok. Tegas jadi pimpinan mereka agar mereka segan sama kamu." Max mulai menasihatiku. Ya, aku dapat banyak pembelajaran dari semua yang aku alami hari ini.


***


Keesokan harinya di kantor, aku mendapatkan kejutan yang tak kalah menariknya. Pak Hardi sudah menunggu kedatanganku di dalam ruanganku. Untungnya aku datang bertepatan dengan kedatangan Brandy pula yang membawakan dokumen kemarin yang aku lihat.


Aku sempat terhenti saat melewati ambang pintu ruanganku karena melihatnya. Dia berdiri menyapaku dengan begitu sopan. Berbeda dengan sebelumnya yang bersikap senior dan banyak bicara. Aku menghela napasku kemudian kembali melangkah menuju kursi kerjaku.


"Duduk," ucapku yang seraya dipatuhi oleh pak Hardi, tetapi sayangnya aku bukan mempersilakan pak Hardi yang duduk melainkan Brandy. "Saya minta tamu saya yang duduk, bukan Anda," timpalku.


Nyaris saja pak Hardi menempelkan bokongnya pada salah satu kursi di depan mejaku. Kemudian beliau langsung kembali berdiri begitu mendengar penuturanku.


Kini di tanganku sudah ada sebuah amplop cokelat berukuran sedang. Perlahan aku mengeluarkan semua isi dari amplop itu lalu aku juga mengambil sebuah map yang aku simpan pada sebuah laci di lemari belakang tempat dudukku.


Untuk sejenak, kupandangi pak Hardi yang masih berdiri sambil menundukkan wajahnya. Entah apa yang ada dipikirannya. Yang jelas saat ini, aku benar-benar menginginkannya untuk mengakui semua kesalahannya pada perusahaan ini, terutama pada papa. Sebab yang menyarankan papa untuk mengikuti tender dahulu itu juga beliau, atas saran beliau.


"Mau Anda yang menjelaskan atau saya?" ucapku tegas lalu bersandar pada sandaran kursi dengan kedua tangan yang berlipat menyilang di depan dada.


Pak Hardi masih terdiam, masih menundukkan wajahnya. Sudah seperti anak kecil yang sedang di hukum oleh orang tuanya karena ketahuan bersalah. Untuk beberapa waktu aku menunggu beliau menjawab, tetapi tetap tidak juga ada jawaban. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut beliau.


"Ndy, maaf, lu bisa tunggu gua di luar sebentar? Mungkin pak Hardi malu untuk mengakui kesalahannya di depan orang lain," ucapku penuh makna. Brandy menyetujuinya kemudian dia beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi keluar ruangan ini. Memberi sedikit ruang agar pak Hardi bisa menggerakkan lidahnga.


"Jadi gimana?" tanyaku lagi sambil mengembuskan napas dengan berat.


Awalnya pak Hardi tidak mengatakan apa-apa. Sampai akhirnya aku membuka sebuah map yang isinya merekam semua catatan tentang penarikan yang beliau lakukan selama dua tahun terakhir. Lengkap dengan nota, memo dan hal-hal lainnya yang menunjang proses penarikan uang yang beliau lakukan selama ini.


"Ini apa? Bisa jelaskan pada saya? Saya anak baru di sini dan saya belum begitu mengerti dengan beberapa hal yang tertera dalam dokumen ini. Begitu juga dengan beberapa tanda tangan yang ada," ucapku dengan tegas tapi berusaha untuk tidak terbawa emosi.


"Saya mohon maaf, Pak. Saya tidak akan melakukannya lagi." Terdengar getaran-getaran suaranya yang hampir pecah.


Aku hanya memandanginya, tidak pula memintanya untuk segera berdiri dari posisinya sekarang. "Menurut Anda dengan kata maaf, semua yang telah Anda ambil bisa kembali? Lebih dari dua puluh empat bulan Anda melakukan ini. Dan selama itu pula saya sekeluarga Anda bohongi. Ini bukan jumlah yang sedikit dan Anda juga memalsukan tanda tangan kami," ucapku tenang.


Tiba-tiba pak Hardi menyentuh kakiku, spontan aku terkejut dan melompat menjauh. Aku tidak mau caranya meminta maaf seperti ini, tidak etis bagiku. Bahkan tergolong tidak sopan, tidak sepantasnya dia merendahkan dirinya seperti ini padaku.


Aku berjalan menjauhinya lalu aku putuskan untuk kembali duduk di kursiku. Tempat paling aman menurutku saat ini. "Kalau Anda tidak ingin menjelaskan apa pun lagi, tolong serahkan surat resign-nya sekarang." Lagi-lagi aku mengambil langkah cepat. Sebab jika aku biarkan, pak Hardi pasti memiliki cara lain untuk memengaruhi keputusanku saat ini.


Pak Hardi tetap pada posisinya kali ini ia bersimpuh dengan membenamkan wajahnya ke lantai. Aku sedikit kasihan melihat itu. Tetapi tidak bisa pula aku pungkiri jika kesalahannya terlalu fatal.


Untuk beberapa saat kemudian, beliau bergerak berdiri, saat aku mengatakan padanya untuk segera bangkit dari sana. "Berdirilah. Dengan sikap Anda yang seperti itu hanya akan merusak penilaian saya pada Anda."


Beliau memang benar-benar diam seribu bahasa. Aku memerhatikannya dengan seksama. Di pipinya tidak ada tanda jika ia menangis. Mungkin dia bukan tipe pria yang menangis jika ada masalah besar seperti ini dalam hidupnya.


"Saya lihat dari tadi Anda tidak membawa amplop ataupun surat resign-nya. Saya akan berikan waktu satu jam untuk membuatnya. Silakan Anda keluar dari ruangan saya. Terima kasih." Aku kembali membereskan beberapa dokumen serta beberapa foto yang tadinya ingin aku gunakan untuk melawan pembelaan darinya.


Tapi tidak kusangka, sepanjang waktu dia hanya diam dan hanha satu kali mengatakan permohonan maaf, itu saja. Sungguh membuang waktuku. Aku membuang napasku dengan kasar begitu beliau keluar dari ruanganku dengan pintu terbuka. Aku memejamkan mataku sejenak, berkali-kali mengambil napas lalu mengembuskannya perlahan.


Tok tok tok!


Aku membuka mata, begitu melihat Brandy di ambang pintu dan berkata, "Boleh gua masuk?" Sambil menyembulkan kepalanya yang kemudian aku balas hanya dengan anggukan kepalaku.


"Trus gimana itu tadi?" tanya Brandy dengan gerakan tangannya yang menunjuk ke belakang dengan jempolnya. Menanyakan tentang pak Hardi.


"Dia gak bawa surat resign-nya. Gua minta satu jam lagi buat kasihin ke atas meja gua." Aku menyandarkan tubuhku sandaran kursi lalu mengusap wajahku dengan kasar.


'Akhirnya satu masalah teratasi,' batinku saat ini.


Setelah itu aku meraih gagang telepon intercom di sudut meja kerjaku, menekan tiga digit angka yang menyambungkan ke telepon divisi Human Resources Development. Lalu meminta mereka untuk memberikanku laporan track record kerja dari pak Hardi selama di perusahaan ini. Bahkan aku meminta sejak awal beliau bekerja di sini. Sebab semua pekerjaan di perusahaanku memiliki sistem yang mana setiap tugas pekerjaan diketahui dan melalui proses divisi itu, baru laporan itu sampai ke tanganku.


"Jadi, gimana, lu udah pelajari dokumen yang gua kasih kemarin?" tanyaku pada Brandy sambul meletakkan kembali gagang telepon itu.

__ADS_1


"Udah, ada beberapa dokumen juga yang udah gua bikinin draft-nya buat meeting lu bulan depan."


Aku mencibirkan bibir bawahku, terkejut mendengar ucapannya. Lalu tersenyum memandangnya sambil mengangguk-anggukan kepalaku. Speechless dengan kecepatannya cara kerjanya dan hal itu sedikit mengobati rasa amarahku.


Namun jika untuk urusan bahan presentasi, Brandy memang ahlinya. Bahkan dulu saat kami masih sekantor, dia memang sering dipercaya untuk ikut menghadiri beberapa rapat penting untuk pemilihan alat serta pemilihan area yang ajan menjadi titik pengerjaan proyek kantor tersebut. Jadi sepertinya tidak akan salah pilihanku untuk membawanya masuk ke dalam perusahaanku.


Setelah beberapa waktu kami asik membahas tentang perusahaan, akhirnya aku juga mengajukan beberapa syarat pada Brandy untuk menjadi sekretarisku. Begitu pula sebaliknya, Brandy juga memiliki persyaratan yang sama untukku.


Cukup lama kami mencoba mencari jalan tengah dari beberapa persyaratan yang masing-masing kami ajukan, hingga akhirnya kami menemukan hasil kesepakatan bersama.


"Gua cuman mau semuanya dilindungi dengan hukum. Jadi lu gak rugi, gua juga enggak. Gak apa-apa, 'kan?" tanyaku lagi pada Brandy tentang kontrak kerja yang akan aku berikan padanya.


Setelah mendapatkan persetujuan darinya, aku langsung meraih kembali gagang telepon dan menghubungi Divisi Human Resources Development, lagi. Namun kali ini aku meminta salah satu dari mereka untuk ke ruanganku dan membawa serta dokumen tentang kontrak kerja yang akan segera kami lakukan pada Brandy.


Tak perlu menunggu lama, salah satu karyawan divisi itu kini sudah berhadir di ruanganku. Dia menjelaskan beberapa poin penting yang harus Brandy ketahui tentang perjanjian kontrak kerja ini. Sebab Brandy mendapatkan posisi kerjanya bukan melalui seleksi ataupun lowongan kerja yang diiklankan. Sehingga tidak ada serangkaian tes khusus yang wajib ia lakukan.


Kami dengan seksama mendengarkan semua penuturan tersebut. Kalaupun Brandy harus melakukan tes, itu hanya tes kesehatan saja dan gunanya untuk memberikan fasilitas asuransi jiwa padanya.


Setelah semua tahapan penjelasan selesai, tiba saatnya untuk penanda tanganan surat kontrak tersebut. Pertama, aku yang membubuhkan tanda tanganku pada beberapa lembar kertas yang disodorkan oleh Jessy, karyawan Divisi Human Resources Development di kantorku ini. Setelah itu, barulah giliran Brandy yang memberikan tanda tangannya di seluruh bagian kertas dan juga memberikan cap stempel basah pada jempolnya.


Semua proses itu berjalan dengan lancar dan akhirnya Brandy sudah resmi untuk menjadi sekretarisku.


"Pak Brandy sudah bisa mulai masuk kerja besok hari dan ini bagian dokumen untuk Bapak simpan. Lalu untuk kebijakan pekerjaan, semuanya Bapak laporkan langsung kepada, Pak Jefri. Tidak melalui kami," ucap Jessy dengan senyumannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Permisi." Kemudian Jessy keluar dari ruanganku meninggalkan aku dan Brandy berdua.


Tak lama berselang tiba-tiba ponselku berbunyi.


🎢


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎢


Aku langsung merogoh saku celanaku dan menarik keluar ponselku, nama papa muncul di sana. Aku sempat mengernyitkan alisku. Menaruh curiga pada pak Hardi. Apa yang telah dia katakan pada papa, hingga papa tiba-tiba menghubungiku saat ini? Begitu mendadak dan begitu bertepatan dengan semua masalah yang terjadi.


"Jeff, itu gak lu terima teleponnya?" tegur Brandy. Aku mengangkat wajahku lalu menatapnya. Mencoba mencari sebuah jawaban yang tepat dari wajahnya. Namun ternyata jawaban itu tidak pernah ada.


Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa papa akan percaya dengan semua bukti yang aku dapatkan? Mungkin seharusnya aku yang lebih dulu memperlihatkan bukti ini pada papa, baru aku bertindak. Benar 'kan?


Bersambung ...


β€”β€”β€”β€”β€”


Jangan lupa votenya dong guys πŸ˜”

__ADS_1


__ADS_2