
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Aku sudah duduk depan teras rumah untuk menunggu kedatangan Haikal. Namun, tiba-tiba saja ayah ikut keluar lalu mendekatiku. Awalnya ayah hanya menatapiku dengan kedua alisnya yang bertaut. Lalu duduk di kursi sampingku dan memandang jauh ke depan.
“Ayah lihat tadi malam, kamu banyak sekali membawa tas bungkusan. Apa kamu minta dibelanjakan sama Haikal?” Ayah membuka pertanyaan yang sontak membuatku terkejut mendengar hal itu.
“Apaan, Yah? Itu aku belanja pakai uangku sendiri bukan minta sama dia,” sewotku dan mengerucutkan kedua bibirku.
Ayah sangat keterlaluan hingga menuduhku seperti itu. Rasa-rasanya, aku tidak akan berani untuk meminta uang kepada Haikal. Apalagi jika hanya untuk membeli keperluan pribadiku sendiri. Malu jika aku harus melakukan perbuatan menjyjykan tersebut.
“Ayah keterlaluan ih. Aku punya uang sendiri, Yah. Tabunganku juga masih ada. Aku tahu dia sudah banyak mengeluarkan uang untuk acara pernikahan kami, tapi bukan berarti aku harus meminta dia untuk membayarkan kebutuhanku yang lainnya,” jelasku.
“Ayah cuman gak mau kamu dinilai yang enggak-enggak sebelum pernikahan. Apalagi dengan kondisi kita yang masih sedang berduka.”
Aku mendekati ayah, bersimpuh di depannya dengan memegangi kedua lututnya. “Yah, itulah mengapa awalnya aku ragu ingin meneruskan acara ini. Aku juga memikirkan hal ini sampai ke arah sana. Tapi setelah aku menimbang segala keputusan yang ada, tanggal itu memang sudah tepat.” Ayah membelai kepalaku.
“Lagi pula, dulu bunda juga sudah menyetujui tanggal itu saat dia masih ada dan aku mencintainya,” tambahku lagi.
“Ya sudah, yang penting kamu jaga diri. Kamu tahu mana yang benar dan mana yang enggak.”
Aku kembali menganggukan kepala dan tersenyum menatap kedua bola mata ayah. Sebelumnya saat sarapan, aku dan ayah sudah membahas tentang tempat tinggal. Ya, aku menanyakan kepada ayah tentang hal itu, dan ujar ayah, aku bebas untuk memilih. Ingin tinggal di rumah ayah dengan membawa Haikal kemari pun, ayah tidak akan keberatan.
Tetapi, ayah lebih menyarankan agar aku mengikuti keputusan Haikal. Yang mana dia juga sudah memiliki rumahnya sendiri. “Aku dan Haikal sudah membicarakan hal ini, Yah. Yang jelas, Ayah mengizinkan jika kami tinggal di sini.” Aku beragumen saat sarapan bersama berdua dengan ayah.
“Tapi alangkah baiknya jika sebagai wanita dan selayaknya kodrat kamu itu, kamu mengikuti langkah suami kamu nanti. Jangan memaksanya untuk mengikuti keputusan kamu.” Ayah berpesan.
Benar apa kata ayah itu, aku sama sekali tidak menyalahkan. Hanya saja, mungkin aku perlu membiasakan diri nantinya. Dan mungkin, perlahan aku juga akan tinggal dengannya di rumahnya itu.
Tidak berapa lama berselang, sebuah mobil yang aku kenali sebagai mobil Haikal datang melesat lalu parkir di depan rumah. Mamahnya dan juga dirinya sendiri terlihat turun dari mobil dan melangkah menghampiri aku dan ayah yang sudah berdiri dari posisi kami sebelumnya.
“Selamat pagi ...,” sapa mamahnya kepada aku dan juga ayah.
“Pagi, Ma.” Aku menyahuti sambil menyalami tangan mamahnya. Ayah juga menjabat tangan beliau.
__ADS_1
“Kenapa bapak juga tidak ikut saja sekalian? Siapa tahu punya selera tambahan dari anak-anak,” usul beliau.
Aku menatap ayah, menantikan jawaban darinya. Sebab, jujur saja, aku juga sudah berulang kali mencoba mengajak ayah untuk ikut, tetapi ayah selalu saja menolaknya.
“Oh, sepertinya saya tidak usah ikut. Saya di rumah saja. Lagi pula saya sudah mempercayakan semua keputusan di tangan mereka berdua. Mereka masti memilih yang terbaik di antara yang baik.”
Dan sepertinya aku sudah mengetahui alasan ayah tentang yang satu ini dan aku bisa mengerti keputusan ayah itu. Mungkin ayah ingin aku memilih semuanya sendiri dengan, agar acara itu menjadi sesuai dengan impianku dan juga keinginan Haikal.
“Ya sudah, kalau gitu, kami pergi dulu. Ayah kalau ada perlu apa-apa, hubungi aku ya?” pamitku sambil mengecup punggung tangannya.
“Kami permisi kalau gitu, Yah.” Haikal juga melakukan hal yang sama, dia mengecup punggung tangan ayah.
“Mari, Pak, permisi,” ucap mamah Haikal.
Kemudian kami pergi berlalu menuju mobil Haikal. Meninggalkan ayah di rumah sendirian hari ini. Aku sempat meminta mamahnya untuk duduk di depan di samping anaknya, tetapi mamah menolak lalu memaksaku untuk duduk di sana. Sedangkan beliau lebih memilih duduk di kursi penumpang di belakang. Aku menuruti ...
Di sepanjang perjalanan, banyak hal yang mamahnya tanyakan padaku. Mulai dari hal-hal terkecil hingga membahas tentang pekerjaanku dan baru kali ini aku merasa beliau begitu perhatian.
Bahkan beliau juga menanyakan rencana apa yang nantinya akan kami berdua lakukan setelah menikah nanti. Aku sampai gugup harus menjawab apa. “Mamah nanyanya ada-ada aja deh. Udah kayak detektif di kepolisian aja.” Haikal ikut menyahuti.
“Ya, mamah cuman kepingin tahu aja, rencana kalian ke depan apa?”
Tiba-tiba mamahnya menjewer telinga Haikal, aku sempat terkejut dan terkekeh melihatnya. Sedangkan Haikal mengaduh kesakitan.
“Rencana pernikahan itu gak cuman buat bikin keturunan aja. Kamu itu ... kerjaan aja jadi dokter. Gitu tuh kebanyakan bergaul di ruangan darurat aja. Jadi otak juga ikutan darurat,” celetuk mamah yang sontak membuat aku tertawa terbahak-bahak. Tidak menyangka jika beliau akan selucu itu menegur Haikal.
Tadinya aku pikir, beliau adalah seorang ibu yang dingin dan selalu serius. Kali ini aku benar-benar speechless melihatnya yang memiliki selera humor yang cukup tinggi. Haikal sampai melotot menegurku yang menertawakannya.
**
Aku, Haikal dan juga mamah, kini sedang asyik mencicipi beberapa hidangan yang telah disediakan oleh sebuah katering. Vendor ini kami dapatkan dari Tika, sebab vendor ini pula yang dahulu menyediakan makanan saat pernikahannya dan juga beberapa acara penting yang mereka adakan.
Haikal dan aku memang sepakat akan menggunakan vendor ini untuk urusan makanan di acara kami nanti. Sebab, selain hidangan yang terasa pas di lidah kami, vendor ini juga bersedia menyediakan kue pernikahannya dan dengan batas waktu yang sudah terlalu sempit ini.
Setelah selesai mencicipi dan juga memilih beberapa menunya bersama, yang mana aku meminta saran dari mamah dan memutuskannya berdua. Haikal langsung melakukan pembayaran.
“Setelah ini mau ke mana lagi?” tanya mamahnya padaku.
__ADS_1
“Rencananya Haikal mau beli sepatu, Mah. Sekalian ganti sepatu kerja katanya.” Aku menyahuti.
Selesai urusan kami dengan vendor katering, dari sana kami langsung kembali ke mobil dan berpindah menuju sebuah pusat perbelanjaan 'elite'. Ya, karena menurutku semua yang ada dalam sana termasuk bermerek dan juga brand terkenal yang memiliki harga fantastis.
Tapi bagiku, tidaklah heran jika seorang dr. Haikal Grissham memilih tempat ini dan mampu membeli beberapa barang bermerek. Sebab di awal pertemuan kami saja, dia juga sudah melakukan hal yang serupa. Hingga hal ini tidak membuatku merasa bingung lagi dengan caranya berbelanja untuk memenuhi gaya hidupnya.
Dan bagiku, semua itu adalah hal yang wajar karena dia membelinya dengan uangnya sendiri. Hasil kerja kerasnya sendiri, bukan menggunakan uang dari orang tuanya apalagi menggunakan keuangan kantornya. Karena aku pernah mendengar pada suatu kantor, yang mana kebutuhan pribadi pemilik saham sepenuhnya dilimpahkan pada pengeluaran kantor. Lucu ya?
Tapi memang ada beberapa kantor atau bahkan beberapa perusahaan yang seperti itu. Yang mana, nota pembelian barang apa pun masuk ke dalam catatan pengeluaran kantornya.
“Kamu gak beli apa-apa?” tegur mamah Haikal saat melihatku yang hanya duduk saja setelah memasuki sebuah toko. Sedangkan Haikal langsung berjalan mengelilingi barang dalam toko itu, mencari yang cocok dengan seleranya.
“Aku sudah belanja kemarin, Mah, sama Tika yang temenin.” Aku berujar kemudian berdiri, berjalan menghampiri mamah yang sedang asyik melihat sebuah tas.
“Yang ini gimana menurut kamu?” Beliau menanyakan pendapatku. Aku hanya mengangguk, sebab aku tidak begitu yakin dengan seleraku sendiri, apalagi jika dibandingkan dengan label harganya. Rasanya tidak pantas jika aku memilih barang sepertu ini.
Aku memang bukanlah wanita yang paham betul dengan dunia mode dan fashion, apalagi barang-barang bermerek seperti ini. Untuk kemarin saja, aku meminta bantuan Tika dalam memilih barang belanjaan. Itu pun dengan kualitas yang menengah.
Lalu tiba-tiba saja rasa minder-ku muncul, aku merasa berbeda jauh dengan Haikal. Rasanya jarak di antara kami begitu jauh. Dengan perbedaan derajat sosial yang juga tidak seimbang. Gaya hidupnya yang seperti ini sangat berbeda denganku. Jangankan denganku, dia dan adiknya saja berbeda jauh.
Tika terlihat sangat sederhana kemarin saat bersamaku. Bahkan dia tidak malu-malu memilihkan beberapa barang berkualitas menengah yang juga jadi pilihanku.
Jika sudah seperti ini, wajar saja jika Haikal pernah mengatakan sebelumnya untuk tidak mengambil pusing tentang aku yang tidak bisa memasak.
Lantas, dengan cara apa aku bisa membuatnya bertahan denganku? Memasak untuk isi perutku sendiri saja tidak bisa. Apa Haikal akan bertahan denganku yang tidak bisa apa-apa ini?
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Jangan lupa kasih vote juga yaa 😘
Babay.
__ADS_1
#salambucin
@bossytika 💋