Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 27


__ADS_3

Clara POV.


Aku terbangun pagi ini seperti biasanya. Padahal hari ini hari sabtu, hari libur kerja ku. Aku menggeliat lalu langsung masuk kamar mandi untuk melakukan ritual pagiku.


"Pagi Ayah, pagi Bunda." sapaku mengecup pipi mereka bergantian saat di dapur.


"Waduh anak Bunda kok udah rapi pagi-pagi? Ada janji ya?"


"Iya Bun." jawabku sambil duduk dan mengambil selembar roti gandum lalu mengolesinya dengan selai nenas.


"Kamu kemana kemaren?" tanya Ayah tegas.


"Ke rumah sakit lah Yah, jenguk tante Rosie." jawabku santai lalu menangkup roti gandumku dan memakannya.


"Sampai jam berapa di rumah sakit?" tanya Ayah lagi.


"Em.. Jam 12an nyampe rumah."


"Kata Om Raihan kamu cuman dateng bentar, trus main kejar-kejaran sama Raka trus gak balik-balik lagi. Yang balik cuman Raka. Sisanya kamu kemana?" Ayah makin tegas padaku.


Aku menatap Bunda lalu menaruh roti ku di piring.


"Em.. Aku..."


"Jawab Ayah! Kamu bukan seorang gadis lagi Clara. Umur mu sudah 29 dan kamu masih saja berbohong pada Ayah?" nada bicara Ayah naik 2 oktaf, membentak.


"Aku ga bohong Yah. Aku memang di rumah sakit sampai jam 11. Dan aku...." aku mencoba menjelaskan namun Mama memotong penjelasanku.


"Sudah sudah! Terlalu pagi untuk memulai pertengkaran." lerai Bunda menengahi, "Bunda ga memihak siapa pun, tapi Bunda mau dengar penjelasan kamu Clara?"


Aku agak emosi dituduh berbohong oleh Ayah, sudut mata ku mulai berkaca-kaca, "Aku menabrak lemari berkas milik rumah sakit saat Raka mengejarku, semua berkas file rumah sakit jatuh berantakkan, akhirnya aku harus menyusun kembali berkas itu seperti semula. Dan itu pun belum selesai tadi malam." jelasku mulai terisak.


Bunda mendekatiku lalu memeluk ku, erat.


"Maafkan Ayah, Nak! Dia terlalu mengkhawatirkan kondisi kamu dan kamu baru sembuh dari sakit." Bunda membelai rambutku.


Ku usap sudut mataku perlahan, lalu tiba-tiba Ayah memeluk kami berdua dan mengecup kepalaku.


"Maaf Ayah terlalu over protective. Ayah takut kamu sakit lagi." aku Ayah meminta maaf padaku.


"Aku yang minta maaf Yah, sudah meninggikan nada suara ku tadi." jawabku lalu mengalihkan pelukanku pada Ayah.


Setelah semua drama di rumah tadi, aku segera pergi menuju rumah sakit. Sesampainya disana, aku berjalan santai menuju lift, bukan untuk menjenguk tante Rosie, adik Bunda. Tapi untuk membereskan kejadian tadi malam.


Aku memang bukan orang yang bisa begitu saja lari dari tanggung jawab. Dan aku juga selalu memegang teguh apa kalimat dan janji yang sudah aku lafalkan.


Aku mengintip sebuah ruangan yang mengurungku beberapa jam tadi malam untuk menyusun ratusan kertas. Ruangan itu kosong, tidak ada siapa-siapa disana.


Lalu ku putuskan untuk bertanya pada perawat yang kebetulan melewati lorong itu.


"Maaf suster, yang punya ruangan ini kemana ya?"


"Oh Dokter Haikal? Biasanya dia menghabiskan seluruh waktunya diruang UGD." jawab perawat itu ramah.


Sebelum perawat itu melangkahkan kembali kakinya, aku menahan lengannya sekali lagi, "Dia seorang Dokter?"


"Iya, Kepala Dokter di rumah sakit ini. Maaf saya masih ada tugas, permisi." pamitnya segera pergi.


Aku melongo didepan pintu ruangannya. Lalu ku putuskan untuk masuk.


Ceklek..


"Wah gak di kunci.." gumamku.


Aku langsung masuk ke ruangannya. Di dalam sana ku lihat kertas-kertas pekerjaan ku masih berada pada posisi terakhir saat aku meninggalkannya tadi malam. Tidak ada yang berubah tempat. Yang di lantai ya masih di lantai tersusun. Yang di meja, di sofa semua masih dalam posisinya.


"Ternyata dia ga mempersulit tanggung jawabku." ucapku pada diri sendiri.


Ku letakkan tas ku diatas meja kerjanya, lalu aku melanjutkan menyortir dan menyusun file itu, memasukkan nya ke dalam wadahnya masing-masing sesuai dengan tanggal yang tertulis di wadah itu.


Berjam-jam ku lakukan itu, lebih tepatnya sejak jam 9 aku masuk ke ruangan ini dan sekarang sudah menunjukkan jam 1 siang di jam tanganku. Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku, baru 3 wadah selesai ku rapikan, masih ada 8 wadah lagi.


Ceklek...


"What the....?" jerit seseorang saat membuka pintu.


Aku menoleh ternyata yang mengumpat itu adalah dokter Haikal. Aku tertawa cekikikan.


"Ngapain lu disini? Sejak kapan? Dan semua ini? Gimana gua mau masuk?" sewotnya.


"Ya jalan aja di sela-sela kertas itu, kan bisa?" saranku.


Ia berjinjit diantara kertas yang berserakkan di lantai. Mengarah mendekati ku.


"Trus gua duduk dimana kalo lu duduk di kursi gua?" tanyanya ketus.


"Cooling down doctor! Ga usah marah-marah, kan lu bisa duduk disana, ga pernah duduk di kursi lain ya?" tanyaku santai.

__ADS_1


Dapat ku lihat ia menghembuskan nafasnya melalui mulutnya yang sengaja di gembungkannya. Berkali-kali hingga akhirnya ia duduk di kursi biasa, karena kursi kerajaannya sedang aku duduki. Aku menyeringai pelan sambil melanjutkan kerjaku.


"Sejak kapan lu disini?" ucapnya memecah suasana hening ruangannya.


"Jam 9." sahutku berdiri lalu memunguti satu persatu kertas sesuai tanggal dan nomer urutnya yang ada di lantai.


Tokk..


Tokk..


"Iya masuk?" serunya.


"Wow, ada apa ini?" seru seorang wanita yang berpakaian mirip dengan Haikal.


Ku lihat Haikal memutarkan kursi nya, "Hei Ran, ada apa?"


"Enggak, cuman mau ngasihin ini, Edam bagi-bagi ini dibawah." sahut wanita itu lagi.


"Masih ada lagi gak?" tanya Haikal lagi.


"Ada sih banyak. Kenapa?"


"Minta satu lagi."


"Oh ambil punyaku ini aja. Ntar aku bisa ambil lagi ke bawah." tawar wanita itu.


"Hei. Tolong ambilkan itu. Lu lebih deket jaraknya, ntar kalo gua yang kesana, kertas-kertas lu bakalan keinjek." titahnya padaku.


Aku dengan mudahnya mengikuti perintahnya, mengambil dua kotak putih yang diberikan oleh wanita diambang pintu.


"Makasih." ucapku lalu tersenyum pada wanita itu.


Dia hanya membalas senyumku.


"Thanks ya Ran, oh iya, gua break sampe sore ya?" ucap Haikal lagi pada wanita itu.


"Oke!" sahut wanita itu santai lalu menutup kembali pintu ruangan ini.


Aku meletakkan 2 kotak putih itu di atas meja kerjanya. Lalu kembali lagi ingin melanjutkan pekerjaanku agar segera selesai. Namun tiba-tiba dia menarik lenganku. Aku menoleh.


"Makan dulu. Duduk." tegasnya.


Aku melongo untuk sepersekian detik kemudian di sadarkan oleh jentikkan jarinya.


"I-iya." aku duduk di kursi kerajaannya.


Lalu ia meraih gagang telepon diatas mejanya, menelpon seseorang.


"Bikinin teh panas ya, dua gelas. Pakai gelas yang biasa. Iya di ruangan." ucapnya lalu meletakkan kembali gagang telepon itu pada tempatnya.


Aku mulai memakan nasi kotak itu, ia pun juga begitu. Tak berapa lama suara pintu diketuk, ia berdiri bejalan perlahan melewati kertas di lantai. Membuka pintu dan mengambil dua gelas pesanan nya tadi, mungkin. Lalu kembali ke tempat duduknya.


Ia menyodorkan segelasnya untukku. Aku menengok isi gelas itu, ya benar, teh panas, batinku.


"Habis makan minum ini." tegasnya lagi.


Aku tidak berani bersuara, hanya mengangguk. Lalu melanjutkan makanku lagi sampai habis.


"Lapar apa doyan?" celetuknya saat aku menyeruput pelan teh panasnya.


Aku tersedak, "Uhuukk!"


Dia menggelengkan kepalanya melihatku tersedak.


------------------------


Tika POV.


Pagi ini aku bangun agak kesiangan. Masih dengan pakaian jalanku yang lengkap tadi malam. Aku menoleh ke samping, Jefri sudah tidak ada disampingku. Aku segera duduk lalu membersihkan tubuhku ke kamar mandi.


"Pagi sayang!" seruku saat melihat Jefri duduk membaca koran di ruang tengah.


"Pagi juga, sini!" titahnya yang langsung meletakkan korannya saat aku mencium pipinya.


"Mama Papa mana? Kok sepi?" tanyaku yang langsung beringsut manja di dadanya.


"Ngeliatin rumah kita, katanya ntar sore udah kelar semuanya." sahutnya sambil mendekapku erat, gemas mungkin!


"Kok gak kamu yang ke sana?"


"Masa aku ninggalin kamu di rumah? Jadi mending Mama Papa yang kesana." lalu mengecup keningku.


"Kan bisa bangunin aku?" rengekku.


"No! Kamu pasti kecapean. Kamu mau sarapan?"


"Kamu mau bikinin aku sarapan?"

__ADS_1


"Ya enggak sih, tadi cuman sarapan nasi goreng, Mama yang bikin, kalo mau, ya aku angetin buat kamu trus aku ceplokin telur setengah mateng. Gimana?"


Aku berbinar mendengar telur setengah matang lalu menganggukan kepalaku cepat.


Dengan piawai Jefri menghangatkan nasi goreng itu di sebuah wajan lalu wajan satunya lagi sedang membuat telur setengah matang yang ia janjikan.


Aku terus memeluknya saat ia bergerak kesana kemari di dapur. Aku tidak ingin lepas dari tubuhnya dihari-hari libur seperti weekend ini. Entahlah, aku menjadi manja sekali padanya.


"Nih, ayo makan." ucapnya saat semua selesai dilakukannya.


Dia menemani ku makan, memandangiku dari samping sambil tersenyum-senyum.


"Kamu kenapa?" tanyaku setelah menyuapkan sesendok nasi ke mulutku.


"Kamu yang kenapa? Beberapa hari ini jadi manja, meluk terus, nempel terus, merengek terus." celotehnya.


Aku menoleh padanya, memperlihatkan barisan rapi gigiku. Lalu kembali makan dengan santai tanpa menjawab pertanyaannya.


Selesai makan, aku mencuci piringku sendiri. Lalu mengambil lagi segelas air putih dan meneguknya sampai habis dalam sekali angkatan perlahan.


Jefri tertawa melihat tingkahku yang satu ini.


-----------------------------


Haikal POV.


Diam-diam aku memperhatikan wanita yang sedang berada di satu ruangan ini bersamaku. Dia dengan sabar dan teliti melakukan tanggung jawabnya. Bahkan setelah selesai makan, dengan sigap ia langsung melanjutkan kembali tugasnya.


"Nama lu siapa?" tanyaku dengan arah pandangan yang tetap sengaja tidak menoleh padanya.


"Clara," jawabnya singkat.


Suasana kembali hening. Sudah satu jam setelah makan, suasana seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Batinku lagi.


"Lu gak kepingin tau nama gua?" tawarku tetap pada posisi yang sama, tidak menoleh padanya.


"Udah tau kok," singkatnya.


Aku heran dan spontan menoleh padanya yang ada di belakangku, dia masih berkutat menyusun file ditangannya.


"Tau dari mana? Kan belum kenalan dari kemarin."


Clara berhenti bergerak, lalu melirikkan matanya menatapku.


"Nama lu Haikal, dokter nomer satu di rumah sakit ini. Bener kan?" ucapnya pelan.


Aku tertawa terbahak-bahak, "Kata siapa dokter nomer satu? Gua dokter biasa kok."


"Kata suster disini."


"Mereka berlebihan. Gua cuman dokter jaga di UGD."


"Masa dokter jaga punya ruangan sendiri?"


"Semua dokter disini punya ruangan pribadinya sendiri kok buat istirahat," aku membela diri.


"Trus ngapain lu kemaren istirahat di gudang sana?" tanyanya heran.


"Disana ada ranjang empuk. Disini enggak ada."


"Kan bisa di sofa?"


"Lu pernah tidur di sofa?" tanyaku spontan.


"Pernah."


"Nyaman?"


"Lumayan."


"Berkualitas gak tidurnya?"


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Situasi."


"Nah itu, di ruangan ini situasinya gak mendukung kalo mau istirahat tidur. Selalu ada aja yang ngetuk pintu kalo ngeliat gua ada di dalam. Jadi lebih aman tidur disana, pake alarm. Beres," jelasku


Tiba-tiba Clara melangkahkan kakinya memutar knop penutup gorden satu per satu. Lalu meletakkan hanger door *do not disturb* di knop pintu luar lalu mengunci pintunya dari dalam.


"Lu bisa tidur sekarang. Gua gak bakalan berisik. Dua jam lagi lu gua bangunin. Gimana? Mau coba tidur di sofa?" tawarnya.


Aku melongo melihat semua tingkah dan perkataannya yang santai keluar dari mulutnya. Aku menatapnya tanpa berkedip.


"Jadi gimana? Mau tidur gak?" tanyanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2