Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 7


__ADS_3

Tika POV.


Kami sarapan dalam keheningan pagi ini. Bukan karena Mamah tadi membuang isi secangkir kopi di tanganku, tapi lebih karena aku memang sedang malas untuk membahas apapun. Mamah juga tadi sempat memaksaku untuk sarapan nasi goreng yang dibuatnya lengkap dengan lauk telur ceplok setengah matang yang memang menjadi kesukaan ku.


Jefri juga sedang lahap nya menikmati sarapannya. Jadi kemungkinan untuk sarapan di pagi ini kami akan menyelesaikannya dalam keheningan. Oh tapi tidak, seperti nya pemirsaaahh!! Sepertinya Mamah ingin bicara sesuatu, karena Mamah mulai meletakkan sendok dan garpunya lalu membersihkan mulutnya dengan selembar tissu.


"Ehem! Kalian berdua baik-baik aja kan?" tanya Mamah memecah keheningan.


Aku melirik ke arah Jefri kilas, "Baik kok Ma!"


Jefri juga hanya melirik ku kilas tanpa bersuara hanya menganggukan kepalanya.


"Kalo ada masalah itu dibicarain, bukan didiemin. Baru juga lewat seminggu. Harum wanginya dekor kemaren juga belum ilang, masa udah berantem." tambah Mamah lagi.


"Baik-baik aja kok Mah. Kita berangkat jam berapa sih?" tanyaku karena aku sudah selesai sarapan.


"Ya habis ini langsung aja berangkat." jawab Mamah.


"Ya udah, aku ke kamar bentar ambil tas." aku berdiri dan melangkah menuju kamarku.


Tak lama berselang saat aku memasuki kamar, Jefri menyusulku. Aku duduk di kursi meja riasku. Memoleskan pelembab pada wajahku. Jefri mulai berjalan mendekatiku dan berdiri di belakang ku. Kini dirinya terpantul jelas di cerminku, menatap ku tajam.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Ada yang lagi kamu sembunyiin dari aku?"


"Enggak ada. Memang kenapa?" tanyaku lagi sambil menatapnya lewat pantulan cermin.


"Kamu lagi datang bulan ya?" tanyanya lagi.


"Enggak. Kenapa sih?" kemudian aku berbalik menghadapnya, menatapnya secara langsung.


Jefri menarik kursi kaki di dekatnya lalu duduk behadapan denganku, "Bener kata Mamah, semuanya harus kita bicarain baik-baik. Kamu dari tadi malem itu aneh. Aku cuman bahas..."


"Udah ya, sementara jangan bahas itu dulu."


Jefri menarik tubuhku dalam dekapan nya. Aku pun tanpa ragu memeluknya. Dikecupnya puncak kepalaku.


"Kan aku udah pernah bilang, kalo aku nyakitin hati kamu, kamu mestinya ngomong biar kita bisa tetep jalan berdua. Inget kan?" ucap Jefri.


"Hm." ku anggukkan kepalaku pelan.


"Udah yuk, kita berangkat." dilepasnya pelukannya, lalu dikecupnya bibirku kilas.


Dia menggenggam jemariku sambil membawaku berjalan menemui Mamah lantai dibawah.


"Udah siap Mah?" tanya nya pada Mamah yang sedang asik melihat layar ponsel.


"Udah udah, kalian?"


Aku menganggukkan kepala ku. Mamah tersenyum melirik genggaman tangan kami.


Belum sampai mobil ini melaju keluar perumahan, Mamah kembali berucap, "Kita check-up nya di tempat Haikal aja, Mamah udah janjian tadi sama dia. Katanya biar temen nya disana yang handle."


Aku hanya menganggukan kepala. Jefri juga.


Disepanjang perjalanan Mamah asik mengobrol dengan teman nya via telepon. Sedangkan aku dan Jefri hanya asik mendengarkan alunan music pelan.


------------------------------


Baru sampai di parkiran rumah sakit, Mamah sudah kembali menelpon Haikal. Sambil menuju pintu depan rumah sakit, ternyata Haikal sudah menunggu disana.


"Hai Mah." sapa Haikal lalu mencium pipi Mamah.


"Kenapa bisa sakit? Hah?" tanya Haikal saat mengecup pipiku.


"Cuman telat makan." jawabku singkat saat Haikal menjabat tangan Jefri.


"Yuk langsung ke ruangan temen aku." ajak Haikal dan kami mengikuti langkahnya.


"Ranti, nih adek gua yang tadi gua ceritain." ucap Haikal pada dokter muda wanita.


"Oh iya, mari sini kita periksa sebentar. Sorry yang lainnya bisa nunggu diluar." sahut sopan dokter wanita itu.


"Gua juga?" tanya Haikal bingung.


"Ya iya dong, kan privasi pasien."


"Tapi kan gua kakaknya."


"Ibu nya aja gua minta buat nunggu di luar." wanita itu tersenyum manis pada Haikal.


Akhirnya Haikal mengalah dan segera bergabung dengan Mamah dan Jefri.

__ADS_1


"Rebahan dulu ya, saya siapkan sebentar." ucapnya lagi padaku saat menunjukkan sebuah dipan khas rumah sakit.


Aku dengan santai langsung naik ke dipan itu dan mengambil posisi nyaman untuk berbaring.


"Sorry, boleh saya angkat bajunya sedikit ya?" izinnya sopan.


Aku menganggukkan kepala ku. Kemudian dokter wanita ini mulai menggunakan alatnya untuk memeriksa ku, entah apa nama alat itu.


Dia mulai menekan-nekan bagian perut bawahku perlahan, "Sakit?"


Aku menggeleng, lalu di tekannya lagi bagian sebelahnya, "Aww!" jeritku.


Dia menarik kembali tangannya, "Sebelumnya pernah sakit kayak gini?"


"Enggak pernah sih, paling mules biasa. Ga nyampe kaya kemaren pingsan trus kayak ditusuk-tusuk jarum gitu." jelasku.


Dia menganggukan kepalanya pelan, "Trus kalau lagi haid, sakit begini gak?"


"Enggak sih. Baru ini pertama kali."


Dia mulai kembali menggunakan alat nya untuk memeriksa bagian dalam perutku. Sepertinya alat itu sama seperti alat yang di gunakan untuk melihat cabang bayi, tapi entahlah, aku tidak mengerti dan aku hanya ikut arahannya saja.


"Dok, saya boleh tanya?" ucapku pelan.


Dia yang tadinya sedang asik melihat sebuah layar yang memperlihatkan bagian dalam perutku jadi menoleh dan berhenti menggeser-geserkan alatnya diatas perutku, "Panggil Ranti saja, ada apa?"


"Oh oke. Em, organ vital aku sehat gak? Trus rahim aku gimana?"


Dia tersenyum mendengar pertanyaanku, "Kenapa jadi tiba-tiba nanya ke bagian itu?"


"Soalnya tadi ngebahas haid segala sih, jadi ya sekalian aja nanya, kan bisa diliat pake mesin ini kan?"


"Jadi gini, kalo yang dari aku lihat dan dari cerita kamu juga, kayaknya terjadi peradangan di perut kamu. Trus akhirnya menyebabkan infeksi juga di saluran pencernaan. Ga ada hubungannya sama organ vital dan rahim sih." jelasnya ramah.


Dia berdiri, mengambil tissu dan melap bagian perutku yang sebelumnya diolesi gel olehnya.


"Udah, boleh duduk." ucapnya.


"Tapi aku boleh cek soal itu kan? Aku mau tau aja.."


"Boleh, tadi sih udah sekalian aku cek, semuanya baik-baik aja, rahim kamu juga subur. Memang kalian mau sekalian program?"


"Enggak sih, aku mastiin aja."


"Kalo mau program, biar suami juga di cek, jadi memang harus apa-apa berdua. Kalian udah kepingin banget punya anak?"


"Intinya sih pola makan di jaga, trus jangan makan yang pedes berlebihan, sama satu lagi. Karena kamu punya riwayat pernah operasi di kepala, jadi jangan terlalu banyak pikiran. Itu ngaruh loh sama pola makan. Akhirnya kan pencernaan yang kena." jelasnya lagi sambil menulis sesuatu di meja nya.


Aku yang sedari tadi sudah duduk didepan meja nya hanya mengangguk-anggukan kepala saja, tanda mengerti dengan yang di ucapkan nya.


"Ini resep obat buat menhilangkan nyeri nya, di makan 2 kapsul jika rasa nyerinya datang luar biasa apalagi kalo sampai ga bisa berdiri. Tapi kalo enggak, di makan 1 kapsul saja sehari. Intensitas nya sampai seminggu ke depan ya? Kalau bisa setelah sarapan pagi."


"Kalau sarapannya buah ga papa?"


"It's oke, asal jangan buah pisang, pepaya, semangka dan durian." kekehnya geli, "Lalu yang ini, resep obat buat kesehatan organ intim kamu. Kamu wajib minum ini seminggu 1 kali. Untuk menjaga aja, karena di umur kamu ini rentan sama yang namanya hamil diluar kandungan." jelasnya lagi.


Aku kembali mengangguk.


"Oke sudah. Hasilnya ini mau kamu sendiri yang bilang ke mereka, atau mau aku yang jelasin?" tanya Ranti lagi.


"Em, kamu aja deh yang jelasin, tapi pertanyaan aku ga usah diceritain ya?"


"Kalau mereka tanya? Apa lagi suami kamu, kalau dia tanya hal serupa yang kamu tanyakan tadi, aku harus gimana?"


Aku berpikir sejenak sambil menatap tajam ke arah kedua bola matanya Ranti.


"Em, ya udah deh jelasin aja, tapi jangan kasih tau tentang resep obat organ intim tadi ya? Yang itu mereka ga perlu tau."


Dia tersenyum, "Oke, untung kamu minta nya cuman itu, kalo yang aneh-aneh, mending ga usah aku yang jelasin." kami tertawa bersama.


Ranti berdiri dan membuka pintu nya kembali mempersilahkan Haikal, Mamah dan Jefri untuk masuk ke ruangannya.


Dia menjelaskan dengan begitu rapi tentang apa yang terjadi pada perutku. Semua pertanyaan Haikal dijawabnya dengan keahliannya. Pertanyaan Mamah dan Jefri pun mampu di tangani nya.


Dan benar saja, pertanyaan Jefri hampir serupa dengan pertanyaan yang tadi aku ajukan. Dari melihat cara nya bertanya, tersirat jika dia ingin sekali memiliki anak. Dia khawatir sakit perut yang ku alami itu berpengaruh pada rahimku. Mamah pun sama, terlihat jelas memang kalau Mamah ingin sekali menimang cucu dari ku.


Aku menghembuskan nafas kasar.


Pulang dari sini pasti bakalan ngebahas debay lagi nih, batinku.


Setelah selesai konsultasi nya dengan Ranti. Kami berpamitan untuk segera pulang, namun saat Haikal mengantarkan kami kembali ke lobby rumah sakit, tiba-tiba seorang wanita menghampiri. Tersenyum menatap Jefri dan memandang ku dengan sinis. Aku mengenal wanita itu.


"Selamat ya buat pernikahan kalian. Ga nyangka cewe munafik kaya dia yang kamu pilih buat jadi istri." ucap wanita itu.

__ADS_1


Aku menahan nafasku menatap nya, saat dia mengeluarkan kalimat itu.


"Hei jadi perempuan jangan sembarangan ngomong ya, anak saya...." Mamah maju namun sempat ku tahan.


"Mah, udah." ku tarik tangan Mamah.


"Maaf ini rumah sakit, tolong dijaga sedikit prilaku Anda." ucap Haikal sopan.


"Kaak!" tegurku pada Haikal.


Aku tau Haikal adalah lelaki yang pasti akan melindungiku, namun aku tidak ingin sampai Mamah mengetahui siapa wanita ini. Cukup Haikal saja yang tau semuanya.


Wanita itu hanya mengacuhkan kami semua, dan menanggapi Haikal dengan sinis.


"Pantas anak saya tidak mendapatkan kemajuan pesat disini, ternyata keluarganya. Kalau tau begini...."


"Maaf, bukan saya Dokter yang menangani kasus anak Anda. Dan saya juga tidak punya wewenang untuk..."


"Udah udah. Ga baik diliat orang banyak." selaku.


"Sayang, kamu urus aja dulu dia ya, aku sama Mamah biar pulang pakai mobil Haikal." ucapku menangkupkan pipi Jefri dalam kedua tanganku.


Jefri terlihat geram, aku menyadari kedua tangannya yang mengepal kuat. Alisnya yang terjungkit naik dan dahinya yang berkerut. Menahan emosinya karena ada kami.


Aku menatapnya, perlahan raut wajahnya berubah, dia mengambil nafas panjang lalu perlahan menghembuskannya.


Ku kecup bibirnya didepan wanita itu. Lalu dengan kedua tanganku yang terlilit di leher Jefri, aku menoleh melihat wajah wanita itu, dia emosi, ku berikan senyum terbaikku untuknya.


Lalu dengan sigap aku melepaskan rangkulanku, berpindah merangkul lengan Mamah.


"Jangan lama-lama ya ngobrol sama suami orang, kesannya gak baik.." ku lontarkan kalimat itu sambil menciutkan gerakan hidungku.


Namun sebelum aku dan Mamah melangkah pergi menjauh dari wanita itu, tiba-tiba Jefri menarik tanganku yang satunya lagi.


"Aku ga akan lama, kamu sama Mamah tunggu di mobil. Kita pulang bareng." titah Jefri memberikan kunci mobilnya lalu mengecup kening ku kilas.


Aku, Mamah dan Haikal segera pergi meninggalkan mereka berdua disana.


Begitu sampai didekat mobil. Mamah dengan refleks melepaskan rangkulan tanganku.


"Siapa perempuan tadi?" tanya Mamah menatapku.


"Mantannya Jefri Mah," sahut Haikal cepat.


Aku mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk Mamah.


"Trus katanya anak tadi, anak siapa?" tanya Mamah lagi.


"Anaknya." singkatku.


"Sama Jefri?" selidik Mamah lagi.


"Ya enggaklah Mah, lagian aku males bahas ini. Nanti aja kapan-kapan aku ceritain." jawabku agak stress.


Mamah masih memandangi ku dengan tajam saat sudah duduk didalam mobil.


"Kasih Mamah garis besarnya aja, biar ga kepikiran." sahut Haikal tiba-tiba.


Aku melotot melirik Haikal.


"Oke oke, jadi dulu Jefri pacaran sama Janda beranak satu ini, lama, bertahun-tahun. Tapi gak pernah juga Jefri ngenalin ke Mama sama Papa nya, ga tau alasannya apa. Yang jelas anak itu memang bukan anak Jefri, udah ada kok hasil tes DNAnya. Gitu.." jelasku.


"Pokoknya Mamah ga usah mikir yang aneh-aneh deh. Tika sama Jefri baik-baik aja. Aku sama Max yang jamin, Jefri pasti bahagiain Tika." tegas Haikal.


"Mamah ga mikirin kalian berdua, tapi Mamah takut aja kalu perempuan itu nekat. Tapi kamu gak ngerebut Jefri dari dia kan?"


Aku menoleh pada Haikal.


"Eng-gak kok Mah." jawabku cepat.


"Bener?"


"Iya Mah.."


"Udah-udah masuk sana. Aku mau balik ke UGD lagi. Udah Mah ya, inget jangan terlalu pusing mikirin mereka berdua. Mamah mending fokus mikirin aku, siapa tau ada anak temen Mamah yang jomblo gitu?" cerocos Haikal sambil mencium pipi Mamah.


Mamah hanya tertawa dan menepuk bahu Haikal pelan.


"Udah ya, kamu jagain Mamah, jangan malah bikin Mamah mikirin kalian berdua mulu! Ntar Mamah ga punya waktu buat mikirin aku!" sambil memelukku.


"Daahh.." aku melambaikan tanganku saat dia pergi meninggalkan aku dan Mamah.


Lalu aku masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil dan menghidupkan AC nya. Menunggu Jefri kembali.

__ADS_1


Tak lama, Jefri datang lalu segera masuk ke mobil dan mengajak kami pulang. Aku tidak berani bertanya apa pun selama perjalanan begitu juga Mamah.


Kami sibuk dengan dunia kami sendiri.


__ADS_2