
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Air mataku berderai, membanjiri pipi ini begitu melihat nama Dave dan juga Dana terukir pada masing-masing batu nisan itu. Kedua kakak-beradik yang dulunya sering aku ganggu dan aku jahili itu kini telah tiada.
Bertahun-tahun aku mencoba mencari informasi tentang mereka berdua dan juga tentang keluarganya. Hingga hal yang terakhir kali aku dengar jika mereka pindah ke luar negeri setelah kedua orang tua mereka meninggal. Lalu kali ini, betapa terkejutnya aku yang hanya bisa bertemu dengan batu nisan mereka berdua. Padahal belum sempat aku meminta maaf pada mereka atas kenakalanku dahulu.
“Aku boleh tanya sesuatu?” Haikal sedikit melepaskan dekapannya padaku lalu menarik daguku untuk menatap wajahnya. “Apa sepenting itu mereka buat kamu?”
Tatapan matanya membuatku takut, spontan aku berbalik dan memeluknya, lalu berkata, “Aku belum sempat menyampaikan permohonan maafku pada mereka berdua. Karena aku selalu saja menjahilinya. Membuat masa kecilnya tidak seindah masa kecil anak-anak lainnya.”
“Hanya itu? Aku mau kamu jujur sama aku, apa pun itu. Bahkan jika itu termasuk masa lalu kamu. Semuanya. Aku tidak akan mengubah keputusan aku untuk menikahi kamu.”
Perlahan aku mengusap air mata ini dan melepaskan dekapanku padanya. Menatap intens kedua bola matanya yang begitu jernih dan bersinar. Sambil mengumpulkan keberanianku untuk mengatakan sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun aku pendam sendiri.
“Di saat aku masih kecil ... aku tidak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu hanya kasih sayang, seperti yang sering ayah dan bunda berikan padaku. Lalu aku mengenal mereka berdua di umurku lima tahun,” jelasku pada Haikal sambil sesekali menoleh pada kedua makam itu secara bergantian.
Haikal hanya mengangguk lalu kembali mendengarkan ceritaku tentang saudara Winston ini. Aku kembali menjelaskan padanya jika di waktu itu aku tidak tahu sebutan apa yang pantas untuk perasaanku. Yang jelas, aku merasa selalu ingin melindungi Dana dari Dave.
Mengapa?
Karena Dana seperti anak yang pendiam tetapi dari kedua matanya terlihat seolah dia tertekan. Seperti ada sebuah rahasia besar yang dia sembunyikan seorang diri.
Bukankah anak-anak seumuran kami seharusnya bermain di taman? Bersenda-gurau bersama teman lainnya. Bersepeda mengelilingi kompleks perumahan dengan riang gembira. Tetapi tidak dengan Dana, dia selalu murung. Dan aku menyimpulkan sendiri, jika dia pasti mendapat tekanan dari kakaknya, Dave. Karena Dave terlihat berkuasa saat masih anak-anak.
Maka sejak saat itu, aku selalu mengganggu Dave jika dia bermain di taman, agar Dave mengalihkan perhatiannya padaku. Dan sejak saat itu pula, untuk pertama kalinya aku melihat sebuah senyuman di sudut wajah Dana. Yang membuat aku kecanduan untuk menjahili Dave, agar Dana merasa senang.
“Lalu?”
Aku menoleh menatap Haikal. “Sampai akhirnya ayah dan bunda membawaku pindah ke rumah yang sekarang. Bukan hanya kami sekeluarga yang pindah dan meninggalkan kompleks perumahan itu. Tetapi juga keluarga teman-temanku yang lainnya. Hanya keluarga mereka yang bertahan di sana.”
__ADS_1
“Kamu pernah menanyakan alasan ayah dan bunda membawa kamu pindah waktu itu?” tanya Haikal lagi.
Aku menggelengkan kepala. “Aku gak mau tahu alasan itu. Yang jelas menurut aku, pasti persoalan orang dewasa. Jadi sampai sekarang aku gak pernah nanya sama ayah.”
“Kenapa? Kamu gak penasaran?”
“Aku rasa pasti ada hubungannya dengan prilaku mereka yang menyimpang. Yang membuat kalian sekeluarga harus melakukan semua ini pada mereka berdua. Jadi lebih baik, cukup sampai di sini aku tahu tentang mereka.” Aku kembali menoleh menatap kedua makam yang berdempetan itu.
Sambil kembali meneteskan air mata dan berteriak dalam hati meminta maaf pada mereka berdua. Sambil menghela napas, aku meletakkan satu per satu buket bunga yang Haikal belikan untuk mereka.
Lagi-lagi Haikal memelukku dari belakang lalu menyematkan wajahnya di atas pundakku. “Maafin mereka berdua karena sudah bikin masalah di keluarga kamu. Mungkin mereka hilang arah, tapi aku yakin ... pada dasarnya, mereka berdua adalah lelaki yang baik. Maafin mereka ya?” bisikku dan menoleh menatap wajah Haikal dengan jarak yang sedekat itu.
“Mereka memang baik ....” Suara seorang wanita di belakang kami membuat aku dan Haikal tersentak kaget lalu menoleh dan Haikal melepaskan rangkulan itu.
Kami mendapati sosok Tika dan juga Lisa yang berdiri bergandengan dengan membawa buket bunga di tangan mereka masing-masing.
“Pasti aku yang bikin mereka berdua jadi hilang arah dan keterlaluan seperti itu. Aku penyebab semua kekacauan yang terjadi. Mungkin jika aku berpikir jernih, mereka berdua pasti masih—”
Aku mengangguk pelan seraya berdiri, dibantu dengan uluran tangan Haikal.
Benar apa kata Tika, berdamai dengan diri sendiri. Itu yang harus aku lakukan untuk menerima kepergian Dave dan juga Dana. Tidak boleh ada rasa bersalah dalam benak ini hanya karena kata 'maaf' yang belum sempat terucap langsung.
Saat ini, malah suara isak tangis Lisa yang terdengar dalam pelukan Tika. “Sudah, Lis, sampai kapan kamu akan terus begini? Aku yakin, mereka berdua juga pasti sedih melihat kamu yang terus menangisi mereka. Dan saat ini kamu harus menjaga perasaan Alex. Dia mencintai kamu dengan tulus.” Tika mencoba menenangkan Lisa.
“Gak akan ada lelaki yang rela jika wanitanya menangis, apalagi jika menangisi lelaki lain yang bukan dirinya. Kamu harus menjaga hati Alex,” tambah Tika lagi.
Saat mendengar itu, seketika aku kembali teringat dengan pertanyaan Haikal beberapa menit yang lalu. Saat aku menangisi Dave dan juga Dana, dia menanyakan seberapa penting mereka berdua bagiku. Apa itu ungkapan tersirat dari rasa sakitnya padaku yang menangisi lelaki lain?
Aku memandangi wajah Haikal yang sedang menatap Lisa dan juga Tika, lalu seketika aku mendekap tubuhnya, meyandarkan kepalaku tepat di dadanya. Haikal membalas rangkulanku dan memberikan sebuah kecupan di puncak kepalaku.
Lisa dan Tika mendekati makam Winston bersaudara itu. Lalu Tika meletakkan buket bunganya di atas makam Dana, bertumpuk dengan buket bunga kami. Dan Lisa meletakkan buket bunganya di atas makam Dave yang juga bertumpuk dengan buket bunga dari kami.
Dan tiba-tiba Lisa berkata, “Maaf aku menyia-nyiakan kamu. Tidak mempercayai pengakuan kamu. Bahkan aku tidak berani untuk menemui kamu saat itu. Aku malah menganggap kamu sudah meninggalkan aku dan memilih bermain dengan lelaki lain. Andai aku tahu kalau kamu menjalani hidup seberat itu, mungkin—” Lisa tidak melanjutkan lagi ucapannya sendiri dan dia kembali menangis.
__ADS_1
Sedikit banyaknya, aku sudah tahu kisah mereka. Karena terkadang Haikal menceritakannya padaku. Hanya saja, Haikal selalu tidak mau mengatakan nama Dave dan juga Dana. Hingga akhirnya aku baru mengetahui semua itu hari ini.
Lagi-lagi aku teringat dengan perkataan Tika tadi, jika kita tidak bisa selalu merasa bersalah. Dan bagiku kita juga tidak bisa untuk saling menyalahkan. Tidak ada gunanya semua itu. Lebih baik saat ini mencoba untuk memperbaiki diri dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Bukan untuk orang lain, tetapi lakukan untuk diri sendiri. Karena dengan belajar mencintai diri sendiri maka secara otomatis akan membawa kedamaian dengan diri sendiri. Dan secara otomatis hal itu akan berdampak positif bagi diri sendiri.
Seperti kata pepatah, 'apa yang kau tanam, maka itulah yang akan kau petik'.
Jadi bagiku, di mana pun kaki ini berada, sebarlah kebaikan sebanyak-banyaknya, tetapi jangan pernah memikirkan untuk memetik hasilnya terlebih dahulu, sebab hasilnya akan datang sendiri, di waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat.
Bersambung ...
——————————
Hallo lohaa 🤭
Semoga ini bab rilis sebelum jam 12 malam ini yaa 🤣 biar kalian masih sempat baca di hari ini. (apaan sih, authornya gaje!)
Hayoo udah siap-siap buat dapet undangan pernikahannya Haikal & Clara belum?
Besok mau aku bagiin undangannya 😝
Komen di bawah buat kalian yang namanya mau di masukin ke dalam list undangannya. Tulis nama dan juga kota asal kalian.
Oke?? Jangan sampai lupa! Karena undangannya juga akan aku sebarkan di feed IG 🥳
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
Babay ...
@bossytika 💋
__ADS_1