
Selamat membaca ...
——————————
Haikal POV.
Bruuk!!
“Astaga!!”
Suara gaduh dan juga seruan melengking dari seorang manusia, membuatku terbangun dari tidur tenangku. Tidak ada mimpi, hanya saja aku merasa tidur ini sungguh berkualitas. Aku mengerjabkan mataku berkali-kali, berusaha untuk menyesuaikan cahaya lampu di ruangan ini.
“Haikal! Calon mertua kamu di ruang operasi, sedangkan kamu enak-enakan tidur di sini?” Ranti terlihat melipat kedua tangannya, bersedekap dan juga menatap tajam ke arahku.
Dengan malas aku bangkit dari tidurku dan duduk bersandar, lalu sedikit menguap. Aku embuskan napasku bersamaan. “Di rumah sakit ini cuman kamu sama Adam yang sama sekali gak ada sopan-sopannya sama atasan. Masuk enggak ketuk pintu, tahu-tahu ngomel.”
“Gimana mau denger kalo kamunya aja tidur nyenyak?” protesnya pelan, “kamu enggak tahu Clara ada di sini apa? Ibunya lagi dioperasi.”
Aku meliriknya sekilas. “Tahu, kok! Tadi udah ketemu Brian. Dia yang handle.” Kemudian aku mengusap wajahku.
“Kenapa enggak nemuin Clara? Temenin dia atau kasih support sama dia. Kamu kek gak ngerti perasaan keluarga pasien aja,” tambah Ranti lagi.
Lagi-lagi aku mengusap wajahku dengan kasar lalu berkata, “Kenapa hari ini semua orang pada cerewet sih? Suka bener nasihatin orang lain.”
Tiba-tiba saja aku merasa emosi. Hingga akhirnya kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku sungguh tidak sadar sudah mengatakan kalimat itu dan akhirnya membuat Ranti melangkah keluar dari ruanganku tanpa pamit. Pergi begitu saja.
Entah mengapa, semenjak Max mengatakan beberapa hal tentang kehidupan pernikahan tadi, otakku menjadi sedikit tergeser. Tadinya hati ini sudah sangat bersungguh-sungguh lalu tiba-tiba kembali meragu. Aku memejamkan mata dan menarik napas dengan kuat lalu mengembuskannya perlaham melalui mulutku.
Berdiri menuju meja kerjaku dan meraih gelas minumku, untuk menghilangkan dahaga. Meneguk beberapa mililiter isi gelas itu. Aku membasuh wajahku dan menepuk-nepuk kedua sisi pipiku. Kemudian menatap diriku pada pantulan cermin.
__ADS_1
“Bodoh!! Bukannya elu cinta sama dia? Bukannya elu udah susah payah ngedapetinnya? Ayolah Haikal, elu sudah janji sama diri sendiri lu sendiri kalo bakalan jagain dia. Kenapa lu malah lari sekarang?” Aku memarahi diriku sendiri di dalam sana.
Aku mantapkan hatiku lagi, meyakinkan sekali lagi, kalau memang inilah yang akan menjadi masa depanku bersama dengan Clara. Kemudian aku melangkah keluar dari ruanganku menuju ke ruang tunggu operasi, yang mana di sana sudah ada Clara.
Kedua kaki ini melangkah dengan begitu cepat dan terburu-buru. Hingga aku acuh tak acuk dengan beberapa perawat yang berusaha menyapa. Sampai akhirnya aku berdiri di ambang pintu ruang tunggu itu, menatap Clara yang terkejut melihatku lalu ia segera menghampiri dan memelukku.
Dengan erat Clara melakukan itu, mengabaikan ayahnya yang terkejut teebangun dari tidurnya karena sikapnya ini. Beliau tersenyum padaku lalu berdiri. “Ayah ke toilet dulu, kalian tunggulah di sini.”
Setelah ayahnya pergi meninggalkanku berdua dengan Clara di sini. Aku mengajaknya untuk duduk lalu meraih dagunya dan mengangkatnya agar aku dapat memandangi wajah manisnya sekali lagi. Untuk memastikan hati ini.
Namun, apa yang aku lihat sungguh menyakitkan hati ini. “Kenapa menangis?” tanyaku khawatir. Ya, aku memang mengkhawatirkannya sejak beberapa jam yang lalu.
“Aku pikir, kamu gak bakalan ke sini. Aku pikir kamu bakalan—”
Aku menutup mulutnya, mengacungkan salah satu jemariku pada bibirnya untuk menghentikan dia berbicara. “Ssttt!” Kemudian aku mendekap tubuhnya.
Kini aku harus lebih yakin bahwa aku tidak boleh meragukannya hanya karena kemungkinan-kemungkinan aneh yang ada dalam otakku. Lagi pula aku sudag berjanji pada diriku dan di depan banyak orang jika aku akan menemaninya.
Suara dehaman seseorang di belakang membuatku untuk menoleh. Ternyata itu adalah Dokter Brian. Bertepatan dengan itu ayah Clara juga telah kembali dari kamar kecil.
Dokter Brian mulai menjelaskan kondisi dari bundanya di dalam ruang operasi saat ini. Beliau mengidap subglottic stenosis. Sebuah kondisi yang disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan, tepatnya yang berada di antara pita suara (atau biasa disebut subglottis) dan trakea. Tak hanya membatasi pernapasan, kondisi ini juga membuat laring atau percabangan tenggorokannya terluka.
Kondisi ini sangat sesuai dengan pernyataan ayahnya Clara, yang mana mengatakan jika istrinya tidak lagi mendapatkan serangan asma yang mendadak. Melainkan gejala itu selalu timbul secara terus menerus dan kemungkinan, jatuhnya beliau hari ini disebabkan karena tidak mampu lagi menahan kondisi tersebut.
“Kami sudah mengupayakan prosedur endoskopi tetapi masih belum dapat membuka saluran pernapasan beliau. Namun, Tuhan berkehendak lain, beliau tidak mampu lagi untuk menunggu lebih lama hingga akhirnya beliau kehilangan detak jantungnya. Maaf, jika saya harus mengabarkan ini. Beliau meninggal tepat pada pukul 23.43 WIB.”
Seketika tubuh Clara merosot jatuh ke lantai. Beberapa detik setelahnya menangis tersedu. Begitu pula dengan ayah Clara yang langsung menjatuhkan tubuhnya pada kursi di dekatnya. Memejamkan mata dan menundukan kepalanya.
“Aku turut berduka dan aku permisi dulu, Kal, maaf.” Dokter Brian mencengkeram pundakku sebagai tanda empatinya atas semua kejadian ini. Aku mengangguk dan tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
Kemudian aku berlutut, memeluk Clara dengan erat. Isak tangisnya semakin tidak bisa aku redam. Dia terpukul dan aku tidak menyangka bahwa aku akan berada dalam posisi seperti ini.
Posisi di mana aku merasa bahwa akulah sebagai keluarga pasien di sini. Memang secara tidak langsung aku telah menjadi bagian dari keluarga ini. Merasakan kehilangan, kesedihan bahkan penyesalan. Sungguh, aku menyesal. Mengapa tidak dari awal aku menemaninya dan membantu Brian di dalam sana. Walaupun bukan bidangku, semestinya aku bisa ikut untuk memberikan support, setidaknya.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Tepat di malam ini aku merasakan kembali semua rasa yang berkecamuk itu. 12 tahun yang lalu aku kehilangan papahku dan hari ini perasaan itu kembali muncul. Aku tidak kuasa menahan air mataku yang sudah siap jatuh dari sudut mata.
Apalagi melihat kondisi Clara saat ini, mendadak dia mengaum histeris. Sampai ayahnya harus beralih menariknya dari dekapanku. Mereka berdua larut dalam kesedihan yang mendalam.
Ayahnya berusaha tegar menerima kenyataan pahit ini. Beliau juga sempat menepuk pundakku pelan dan memberikan senyuman tipisnya yang dipaksa mengembang. Aku sungguh tidak kuasa saat ini melihat apa yang terjadi.
Inilah sebabnya, dahulu aku bertekat menjadi seorang dokter. Berniat dan berjuang sekuat tenaga agar tidak ada satu keluarga pun yang meneteskan air matanya akibat dari rasa kehilangan. Akan tetapi, tidak semua pasien dapat kami selamatkan. Seperti yang aku rasakan dahulu.
Dan nyatanya, menjadi seorang dokter juga memiliki risiko lain. Di mana kami harus mengabarkan secara langsung pada pihak keluarga tentang kondisi pasien. Dan kami tidak bisa menghindari reaksi yang semacam ini. Entah itu kesedihan ataupun sebuah amarah dari keluarga yang ditinggalkan.
Bahkan bisa pula terjadi tuduhan bahwa kamilah yang menghilangkan nyawa sang pasien. Dokterlah yang bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa pasiennya.
Dan malam ini, entah mengapa aku menjadi merasa sangat bersalah akan semua ini. Dan mungkin, aku memang patut untuk disalahkan atas hilangnya nyawa beliau.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.
Terima kasih 💋
__ADS_1
@bossytika