Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 200


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Tika POV.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi lewat beberapa menit, saat aku dan Jefri keluar dari kamar mandi. Aku langsung memeriksa Naila dan juga Nathan yang ternyata masih asyik bermain lalu aku segera menyingkap selimut yang tadi menutupi pagar box mereka.


“Nanti sebelum ke rumah mamah kita mampir ke supermarket dulu ya? Camilan buat mereka udah habis.” Aku berujar pada Jefri yang sedang mengenakan kaosnya.


“Iya. Sekalian beliin mainan yang buat giginya itu loh, ada 'kan?”


“Enggak enggak. Itu jorok, nanti kalo udah digigit sama mereka trus dipukul-pukulin ke lantai. Gak mau!” tolakku dengan tegas.


Jefri beringsut dan berbalik mencari celananya. Sedangkan aku yang sudah mengenakan pakaian, kembali duduk di tepi ranjang lalu meraih ponselku dari dalam tas di atas nakas. Aku menemukan nama Max tertera pada layar di bagian telepon tak terjawab. Ternyata, dia yang menghubungiku tadi malam.


Segera aku menekan kembali namanya, untuk menghubunginya saat ini. Tapi tiba-tiba saja ponselnya tidak aktif. Aku mengernyitkan alisku kemudian berpindah mencari nama mamah di sana, untuk menghubunginya.


Setelah beberapa kali nada sambung telepon terhubung, mamah akhirnya menerima telepon dariku. “Hallo, Mah? Mamah di rumah aja, 'kan?”


Dari seberang sana mamah menjawab jika saat ini beliau sedang tidak ada di rumah. Melainkan sedang bersama dengan Haikal dan juga Clara di mall. Menemani Haikal mencari sepatu untuk pernikahannya.


“Oh gitu, masih lama Mamah di sana? Kalo masih mending kami samperin aja,” usulku lagi yang kemudian aku mendengar mamah memanggil Haikal.


Beberapa detik aku menunggu sambil memerhatikan Nathan yang berusaha berdiri dari duduknya. Sedangkan Naila masih merangkak. Lalu suara mamah kembali muncul mengatakan jika kemungkinan mereka akan lama di sana, sebab saat ini Haikal belum menemukan sepatu pilihannya.


“Ya udah, kalo gitu kami susulin ke sana aja. Kami juga ada yang mau dicari. Iya. Ya udah, bye ....” Aku memutuskan sambungan telepon itu, bertepatan saat Jefri ikut duduk di sampingku dan memanjakan dirinya lagi.


Benar-benar aneh bukan?


“Kamu kenapa sih? Dari tadi dusel-dusel mulu. Ntar kepingin lagi, mandi lagi. Akhirnya kecapean, gak jadi berangkat,” omelku padanya.

__ADS_1


“Lagi seneng nyiumin bau badan kamu. Manis!”


“Udah deh ah!” decakku lalu berdiri.


Segera aku menyiapkan beberapa barang kedua anakku yang harus dibawa dan meletakkannya di atas tempat tidur. Sedangkan Jefri membantuku untuk melipat selimut tadi. Begitu semua siap, barulah dia mengangkat Nathan dan jiga membawa tas anaknya lalu turun lebih dahulu ke lantai bawah. Sedangkan aku membawa Naila dalam gendonganku.


“Kemarin stroller gak kamu turunin 'kan ke rumah mama kamu?” tanyaku seraya menuruni tangga. Melangkah perlahan menuruni satu per satu anak tangga itu.


“Enggak, kayaknya masih di mobil, bentar aku cek.” Jefri segera keluar setelah mengambil kunci mobil dari gantungannya.


Sedangkan aku kembali mengecek kompor gas, menutup pintu kolam renang dan juga mematikan AC central yang ada di dekat televisi. Baru setelah itu aku keluar dan mengunci pintu rumah.


“Ada kok stroller-nya,” ucapnya sembari mengambil Naila dari tanganku lalu membawanya kembali menuju mobil.


Kini Nathan dan juga Naila telah duduk aman dalam car seat mereka. Dan sekali lagi aku memastikan jika safety belt mereka terpasang dengan sempurna. Setelah itu barulah aku mengambil duduk di kursi depan.


Ya, aku dan Jefri memang sedari dini sudah mengajari kedua anak kami seperti itu. Karena aku dan Jefri tidak ingin jika mereka menjadi anak yang manja hanya karena duduk yang harus selalu aku temani di sana. Dan untungnya, mereka berdua hampir tidak pernah cerewet jika berada di dalam mobil.


“Astaga! Jangan-jangan di bagasi.” Jefri terpekik menyadari lalu menepuk keningnya sendiri. Aku menggelengkan kepala.


**


Sesampainya di mall dan dengan stroller yang sudah di isi oleh Nathan dan Naila, kami berjalan menuju supermarket yang ada pada mall itu. Lalu membeli beberapa perlengkapan anak kami yang telah habis di rumah. Setelah selesai, barulah aku kembali mengeluarkan ponselku dan menelpon Haikal.


“Di mana??”


Haikal mengatakan jika dia sedang di salah satu toko ternama Heremès untuk mencari sabuknya. Aku mengiyakan dan menyuruhnya untuk menunggu di sana. Toko itu terletak di lantai tiga bagunan ini, jadi memburuhkan waktu untuk kami berempat agar cepat sampai ke sana. Dan lagi, Jefri tidak mau menggunakan lift. Dia paling anti dengan aroma-aroma aneh dan cenderung tidak sedap yang keluar dari berbagai macam tubuh manusia penngguna jasa lift.


Karena itulah, akhirnya kami mengenakan eskalator, yang mana jika hendak melanjutkan naik ke lantai atasnya, kami harus rela melangkah seperempat lingkaran agar menemukan eskalator lainnya.


Setelah memasuki toko Heremès itu, mamah dan Clara langsung menghampiri stroller yang didorong oleh Jefri untuk mengecupi Naila dan juga Nathan. Lalu Haikal hanya menoleh, kemudian kembali mematutkan diri ke dalam cermin di depannya untuk melihat penampilannya saat ini. Aku mendekatinya.

__ADS_1


“Kamu beli sabuk aja di sini ya?” tanyaku sembari menyanderkan bahuku pada cermin di depannya.


“Memang kenapa?” Haikal membalas pertanyaanku dengan cuek dan terus melihat dirinya ke pantulan cermin.


“Kamu tahu 'kan kalo Clara orangnya minderan?”


Sontak Haikal menatapku setelah aku selesai mengatakan ucapanku. “Clara gak pernah ke salon sama sekali, walaupun dia seorang pekerja kantoran. Sama seperti aku dulu.”


“Trus??” Haikal menatap tajam ke arahku.


“Aku yang baru jalan sama dia seharian kemarin aja, udah tahu sedikit banyaknya tentang sifat dan karakternya. Masa kamu gak paham?”


“Langsung aja, aku gak suka yang pake kode nyuruh aku buat mikir lagi gini. Udah terlalu banyak yang aku pikirin.”


Kemudian aku menjelaskan secara singkat yang terjadi kemarin saat Clara bersamaku. Dia merupakan wanita yang begitu sederhana. Sekalipun untuk urusan fashion saja dia belum terlalu mengerti. Aku juga mengatakan pada Haikal, jika kemarin kami hanya membeli beberapa barang KW dengan kualitas bagus.


Dari kejauhan, Haikal menatap Clara yang sedang asyik memerhatikan mamah mengendong Nathan dan sambil bercanda gurau bersama Jefri. Namun, perlahan Haikal juga dapat mengerti tentang apa yang aku katakan itu. Begitu pula dengan beberapa hal yang masih mengganggu pemikiranku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode ini ya.


Jangan lupa juga buat vote 😂


Sekian dulu, #salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2