Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 41


__ADS_3

"Ada apaan sih, Max?" ucapku tak sabaran.


Max menghembuskan asap rokok terakhir yang tadi dihirupnya. Kemudian mematikan putung rokoknya diasbak tengah meja. Aku menatap Max dengan tajam. Mungkin itu terlihat jelas dengan posisi alisku yang menaik sebelah.


Lagi-lagi Max menghembuskan nafasnya, berat. Perlahan ia membetulkan posisi duduknya.


"Gini, beberapa bulan lalu anak perusahaan aku dapat nominasi sebuah tender besar untuk pembukaan jalan pertambangan. Tender itu jumlahnya lumayan dan keuntungan pun sudah dihitung, cukup besar untuk sebuah anak perusahaan yang baru berjalan satu tahun. Kandidatnya ada enam perusahaan. Awalnya aku dan anak buahku sudah menyelidiki ke lima perusahaan saingan. Semua aman dan aku yakin pasti akan menang. Tapi ternyata ada satu perusahaan yang maju lewat jalur bawah. Perusahaan itu sudah menyetorkan sejumlah uang kepada pemilik tender. Singkatnya, tadi pagi di umumkan, kalau anak perusahaan aku yang menang yang mana artinya satu perusahaan yang melewati jalur bawah tadi kalah dan kehilangan uang yang sudah disetorkannya," jelas Max sambil menatapku.


"Trus apa hubungannya sama aku? Kan kamu menang, harusnya kita celebrate dong!" sahutku santai.


"Ya tadinya mau celebrate, tapi begitu tau jelas siapa dibalik anak perusahaan yang sudah setor itu.. kita gak jadi celebrate," Haikal menimpali.


"Loh kenapa?" tanyaku heran.


"Perusahaan yang kehilangan banyak uang itu, anak perusahaan Papanya Jefri," jawab Max tegas sambil menyenderkan kembali punggungnya pada sandafan kursi.


Aku tersentak.


Kaget, bercampur tak percaya dengan apa yang dikatakan Max. Mulut ku menganga, aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Tubuhku lemas, aku bersender pada senderan kursiku.


"Max baru tau siangnya, kalau anak perusahaan itu ternyata milik Om Atta yang baru dikembangkannya beberapa bulan lalu," ucap Haikal mencoba menambahkan penjelasan.


Aku menatap kedua kakakku secara bergantian, masih dengan mulutku yang sedikit menganga. Nafasku berhenti sejenak, kemudian ku pejamkan kedua mataku, perlahan ku hirup oksigen yang sedari tadi mengelilingi tubuhku.


Ku rasakan ada kedua tangan yang mencengkram erat bahuku. Ku buka mataku dan menoleh, ternyata tangan Haikal. Aku kembali menatap Max.


Seketika kedua sudut mataku memunculkan butiran air, yang dalam sekejap tumpah ruah membasahi kedua pipi ku. Aku tidak percaya, secara tidak langsung aku lah yang menyebabkan Papa dari suamiku stroke dan mengalami penderitaan seperti ini.


"Kenapa bisa sampe gini sih, Max?" lirihku sambil menahan isak tangisku.


Airmata ku terus saja mengalir, berjatuhan hingga membasahi baju kaos yang ku kenakan.


"Max juga baru tau tadi siang, Tik," tambah Haikal.


Aku masih memandangi Max, ia kembali mengambil sebatang rokoknya.


"Aku masih bisa mundur dari tender ini, tapi dengan konsekuensi, anak perusahaan aku wajib membayar denda 20% dari total anggaran proyek," ucap Max lagi.


"Papa Jefri tau masalah ini?" lirihku.


"Mungkin beliau hanya tau kalau anak perusahaan beliau kalah tender dan beliau kehilangan sejumlah dana itu."


"Detail anak perusahaan kamu?" cercaku.


"Sejak tadi siang begitu kabar ini turun, aku langsung coba tutup rapat latar belakang perusahaan. Dan untungnya dari awal perusahaan itu atas nama rekanku."


Max menjawab pertanyaanku dengan sangat tegas. Sambil sesekali dia menikmati sebatang rokoknya.


"Ada cara lain biar Papanya tetap untung dan tidak merasa kehilangan uangnya," lanjut Haikal duduk sambil menatap Max kilas.


"Apa?" jawabku cepat.


Max menjawabnya dengan santai, "Akuisisi."


"Karna secara gak langsung anak perusahaan itu sudah bisa dinyatakan damage, rugi besar." tambahnya lagi.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali, tak percaya dengan apa yang aku dengar kali ini. Ku usap airmataku, aku mencoba berhenti menangis. Tatapanku teralihkan pada sebuah kotak rokok milik Haikal yang tergeletak diatas meja. Rokok ku dulu memang sama dengan merk rokok Haikal.


Tiba-tiba Haikal menyodorkan kotak rokok itu padaku, "It's ok. Max tau kalo kamu ngerokok."


Ku tatap Haikal dengan tatapan tak percaya, kemudian Max menimpali, "Kalau dengan rokok kamu bisa berpikir jernih, it's ok. Aku gak ngelarang, lagian kamu sudah punya penghasilan sendiri. Dan sekarang kamu sepenuhnya milik suami kamu."


Ku raih cepat sekotak rokok berwarna biru itu, lalu ku ambil sebatang rokok didalamnya, ku sulut dengan korek yang ada.


Setelah sekian lama aku tidak merokok, kini dapat ku rasakan kembali nikmatnya. Kepalaku seakan terbang. Ku hirup kemudian ku buka sedikit mulutku agar hidungku dapat menghisap asapnya, lalu ku hembuskan kasar. Ku pejamkan mataku, lalu ku ulangi kegiatan itu sekali lagi. Aku merasa rileks.


"Aku gak tau kalau ini bakalan begini jadinya. Mungkin kalau dari awal aku tau, aku gak akan daftarin perusahaan ku buat tender itu," ucap Max yang membuatku membuka mata dan menatapnya.


"Trus aku mesti gimana? Aku takut kalau ...."


"Aku ngasih tau ini bukan nyuruh kamu buat bohong sama Jefri. Aku cuman gak mau kamu tau dari orang lain," Max menyela ucapanku.


"Kalau menurut aku, kamu bisa selametin keduanya. Tapi harus kamu yang bicara. Dengan kondisi yang begini, Mertua kamu pasti minta Jefri buat gantiin posisinya. Begitu Jefri yang gantiin, kamu bisa ngomong ke Jefri buat akuisisi. Tapi jadiin ini rahasia internal buat kita berempat. Biar kedua perusahaan gak tau latar belakang masing-masing. Gimana? Max?" saran Haikal.


Aku kembali menatap Max. Dia terlihat sedang berpikir.


"Ya, untuk sementara gitu dulu rencananya," jawab Max.


"Tapi aku tau, Jefri gak bakalan mau buat resign trus memimpin perusahaan Papanya," sahutku sekarang yang sudah merasa agak sedikit tenang.


"Ya udah, liat dulu aja ke depannya gimana, yang jelas aku bakalan kelarin masalah ini sampai tuntas." Max memberikan ku kepastian.


Mendengar semua itu aku seperti menghirup aroma-aroma jalan keluar.


Setelah ku habiskan rokokku. Ku raih sebuah botol minuman dingin yang tadi sempat di suguhkan Haikal, saat pertama kali aku datang.


Aku hanya mengangguk pelan.


"Ya udah bareng aku kalo gitu, kita beriringan aja jalannya," tawar Haikal, "aku juga mau mau ngeliat kondisi mertua kamu."


Kami berdiri dan segera menuju ke mobil masing-masing dan pergi meninggalkan rumah Haikal.


---------------------------------------


Jefri POV.


Sudah sejam lebih setelah Tika menelpon memberiku kabarnya. Mama juga masih di dalam ruangan ICCU bersama Papa. Jerry terlihat mengantuk dan tertidur di kursi sampingku. Berjarak satu kursi dari tempat ku duduk.


Tak lama Mama keluar, menghampiriku, "Papa mah ngomong sama kamu,"


Aku langsung berdiri dan mengikuti langkah kaki Mama yang membawaku kembali masuk ke ruangan Papa. Papa membuka matanya.


"Pa-pa ma-u ka-mu pe-gang pe-ru-sah-an," ucap Papa yang terbata karena selang makan yang masuk melalui mulutnya.


Nafas Papa tersengal saat mengatakan itu. Aku yang duduk disampingnya sambil menggenggam tangan kanannya merasa pilu. Aku tidak sanggup jika sudah melihat kondisi Papa yang seperti ini.


"Pa, Dul pikirin dulu ya?" lirihku.


Papa hanya mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian ku lihat sebulir air yang muncul di satu sudut matanya. Aku tahu ini memang keinginan Papa sejak dulu, tapi jujur saja, aku menolak bukan hanya karena aku tidak ingin dikatakan suksea karena melanjutkan usaha Papa. Tapi aku ingin berdiri dikakiku sendiri tanda embel-embel atau pun gelar darinya.


Mama hanya diam saat menyaksikanku bersama Papa saling beradu pandang. Ku kecup punggung tangan kanan Papa dengan begitu lembut.

__ADS_1


Aku belum sanggup untuk ini semua! Batinku.


Setelah menemani Papa dan sedikit mengobrol tentang hal lain dari perusahaan, Papa akhirnya kembali tertidur. Mama kemudian mengajakku untuk keluar kembali dari ruangan ini. Membiarkan Papa untuk kembali beristiharat.


Begitu diluar ruangan ternyata Tika sudah kembali, tak hanya dia, kedua kakaknya pun ada.


"Hai, gimana kondisi Papa?" tanya Max sambil menyapaku dengan berjabat tangan, diikuti dengan Haikal.


"Udah lumayan membaik, semoga aja bisa cepet keluar dari sini," sahutku.


Kemudian aku mendekati Tika yang sedang duduk dengan Jerry. Duduk disebelahnya.


"Kamu udah makan?" tanyaku.


Dia menggelengkan kepalanya, "Belum."


"Loh kenapa? Kan tadi aku bilang, kamu makan dulu aja."


"Ga mau makan sendiri," ucapnya agak manja.


Aku tersenyum mendengar jawabannya, "Ya udah, kita cari makan deket sini."


Aku pamit dengan mereka semua untuk mengajak Tika makan, karna dia semenjak siang belum ada makan apapun.


Kami berjalan melalui selasar rumah sakit hingga akhirnya keluar dari gedung rumah sakit itu. Bergenggaman tangan berdua tanpa berkata-kata, sejak awal. Menikmati waktu, seakan esok adalah waktu terakhir. Hingga kami sampai pada salah satu depot. Ya depot itu letaknya di sekitar rumah sakit jadi kami hanya berjalan kaki.


Aku dan Tika mulai memesan, lalu makan saat pesanan kami datang. Tanpa berkata apa-apa. Aku hanya memandangi Tika sesekali, sedari tadi duduk dikursi meja makan depot ini, hingga akhirnya kami selesai makan.


"Kenyang?" tanyaku sambil menyulut sebatang rokokku.


Tika hanya mengangguk pelan.


Ku rasakan seperti ada sesuatu yang disembunyikannya. Gerak-geriknya terlalu tak lazim menurutku saat ini. Tapi aku tetap mencoba untuk santai. Mengacuhkan segalanya.


--------------------------


Makasih sebelumnya untuk kalian yang kemarin sudah memberikan koin dan poinnya untuk Jefri&Tika 😘


Makasih juga buat kalian yang setia menunggu sampai sistem karya ku kembali lancar 😜


Hari ini masih dengan permintaan yang sama sampai akhir tahun nanti, tapii jumlahnya aku naikkan ya?


Sepertinya jumlah kemarin terlalu mudah untuk kalian semua πŸ˜’


Oke, sekarang kita naikkan jumlahnya, jika poin dan koin mencapai 100k setiap harinya, maka aku akan update per bab setiap harinya.


Tapi jika poin dan koin mencapai lebih dari 250k setiap harinya, maka aku akan melakukan double bab update di keesokkan harinya.


Oke? Deal?


Kalian juga bisa mencek total perolehan kok πŸ‘Œ


Jika kalian tidak mau mengikuti permintaanku ini juga tak apa, tapi mungkin aku benar-benar tak bersemangat lagi untuk menulis cerita ini πŸ˜’


Mungkin aku akan lebih memilih untuk hiatus, karna kalian tak mau menyemangati ku lagi dalam menulis, padahal kalian sangat berarti bagiku πŸ˜”

__ADS_1


__ADS_2