Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 137


__ADS_3

Happy fasting ...


—————


Clara POV.


Aku sengaja tidak menggunakan lift untuk langsung turun ke parkiran motor, yang letaknya di basemen gedung rumah sakit ini. Entah kenapa aku ingin berputar sebentar melewati lorong-lorongnya.


Beberapa kali aku juga sempat tertekeh, saat melangkahkan kakiku melewati sebuah kamar yang dulunya pernah dihuni oleh tanteku. Jika mengingat kembali semua hal itu, maka secara otomatis kenangan pertama kali aku bertemu dengan Haikal pun akan ikut terlintas.


Benar kata orang tentang definisi diagram lingkaran benci dan cinta.


Yang mana jika dalam diagram lingkaran, kita tempatkan benci dan cinta pada sisi lengkungnya secara berdampingan. Jika diperhatikan baik-baik, kita dapat mengambil kesimpulan yang sederhana. Bahwa, hal terdekat dari cinta adalah benci. Dan hal terjauh pun adalah benci. Dua hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan.


Karena diagram lingkaran itu lah yang akhirnya membuat aku dan Haikal bersatu. Sebuah rasa benci yang pada akhirnya menjadi rasa cinta. Terlalu klise, tapi semua itu benar adanya.


BRUK!!


Seseorang menabrak bahuku, aku langsung berpaling untuk melihat wajah yang menabrakku.


"Maaf ... maaf, saya gak se—" Orang itu menganga, kalimatnya terputus saat mata kami saling menatap.


Aku terkejut melihat sesosok lelaki yang menabrakku itu. Seorang lelaki yang aku kenal sebelumnya. Lelaki yang ...


"Alex?"


"Clara?"


"Hei, sorry aku gak sengaja tadi. Aku asyik ngeliatin hape-ku," ucapnya seraya menunjukkan ponsel yang sedang ada dalam genggamannya.


"No problem. Aku juga tadi lagi lihat ke arah sana." Aku memberi alasan. Masa iya aku bilang aku lagi berkhayal? Haha lucu.


"Kamu ngapain di sini? Ada yang sakit?" tanyanya padaku.


"Enggak aku—"


🎶


You say you're sorry


But it's too late now


So save it, get gone, shut up


'Cause if you think I care about you now


Well, boy, I don't give a ****


🎶


"Oh, sorry aku mesti angkat telepon ini," sopannya padaku.


Aku melambaikan tanganku, "Gak apa-apa, aku juga buru-buru. Soalnya mau kerja lagi."


"Oh oke, bye."


"Bye." aku bergegas mengambil langkah seribu untuk beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Alex.


Ya, aku mengenal Alex. Dia merupakan salah satu client asuransi di kantorku juga. Dia sering ke kantorku untuk membayarkan polis asuransi untuk keluarganya.


'Ah, bodoh! Semestinya aku mengucapkan semoga cepat sembuh untuk orang yang dia sambangi di rumah sakit ini. Sebab keramah-tamahan pada client itu penting bagi kantorku. Bodoh , bodoh!,' pikirku.


Aku terus saja melangkahkan kakiku tanpa kembali menoleh ke belakang, menuju lobby depan rmah sakit dan akhirnya keluar dari sana dan menuju tempat parkir basemen yang ada di bawah gedung.


Lalu aku segera mengenakan kembali kedua sarung tangan motorku memasang penutup sebagian wajahku lalu mengenakan kembali jaketku serta memasukkan tas kerjaku ke dalam jok motor.


Aku kembali meluncur menuju kantorku untuk mengakhiri jam istirahat siangku hari ini.


—————


Tika POV.

__ADS_1


Entah hari ini sudah hari ke berapa aku bangun dari tidurku, di kamar tidurku sendiri pasca melahirkan. Lalu menemukan Jefri yang juga masih tertidur pulas di sampingku. Aku membangunkannya, mengelus pipinya hingga ia membuka matanya.


"Bangun," lirihku pelan.


Mata kami saling memandang, ia mengerjabkan matanya berkali-kali kemudian berbalik menyamping, membawaku masuk ke dalam dekapannya. Dekapan hangat yang memang aku rindukan di setiap kesempatan. Dekapannya yang selalu membuat jiwa dan ragaku tenang.


"Sayang ...." Suaraku menggema di depan dadanya yang bidang saat memanggilnya dan dia hanya menjawab dengan dehamannya.


Sekali lagi aku memanggilnya, sebab aku ingin mendengar suaranya yang agak serak dan berat itu. "Sayang ...."


Jefri sedikit melonggarkan pelukan padaku lalu mencoba melihatku dan aku pun mendongakkan kepalaku. Kembali menatap wajahnya.


"Kapan anak kita boleh pulang?" rengekku padanya.


"Bukannya kata Haikal beberapa hari lagi? Mereka harus menjalani tes lanjutan sekali lagi," jelasnya dengan suara seraknya, akhirnya.


Aku terkekeh mendengarnya, kemudian kembali memeluknya. Entah mengapa beberapa hari ini aku selalu merasa ingin dimanja terus olehnya. Aku selalu ingin dipeluk.


"Sini, aku peluk lagi. Puas-puasin dulu pelukannya. Nanti aku lagi di kantor malah nyuruh pulang cuman buat minta peluk aja," sewotnya seraya kembali memelukku erat.


"Eh jangan salah, menurut penelitian pelukan itu bikin tubuh tambah sehat. Trus bisa bikin stress ilang juga." Aku berkelit.


Jefri mengalah dan hanya terkekeh geli. "Iya iya, terserah kamu aja." Kemudian mengecup keningku.


Namun tiba-tiba saja tangannya bergerak, merayap di belakang punggungku. Aku masih diam saja sambil merasakan elusannya, tetapi semakin lama caranya mengelus punggungku semakin ke arah bawah. Membuat pikiranku menjadi menjurus ke arah yang ... kurang benar.


"Jangan diterusin, ntar kepingin," ucapku dalam dekapannya.


Jefri hanya terkekeh. Tapi seperti layaknya anak kecil, semakin ditegur malah semakin dilanjutkan. Ia terus saja menjalankan tangannya di punggungku, yang tetap menjadi salah satu titik sensitif di tubuhku. Walaupun setelah melahirkan.


Aku melepaskan dekapanku padanya. Lalu mendongakkan kepalaku menatapnya yang ternyata sedang memejamkan matanya. "Usil deh!" lirihku tegas.


"Trus klo kepingin gimana?"


"Ya tahan lah, 'kan selama empat puluh hari gak bisa begitu-begituan," ucapku sambil berusaha duduk.


Tiba-tiba saja Jefri menyematkan wajahnya pada ceruk leherku dari belakang. "Trus kalo gak bisa nahan?" Kemudian ia mengecup leherku lalu memelukku dari belakang. Aku bergidik dibuatnya.


Aku langsung memegangi tangannya yang memelukku di bagian leher dan perut. Aku melenguh karena Jefri mengeluarkan lidahnya untuk menyentuh telingaku.


"Sa-sayang ... a-aku mas-sih nge-ras-ha sha-kit loh!" ucapku tertatih. Kemudian dengan sekejap dia menghentikan kegiatannya.


"Sakit di bagian mana?" Suaranya berubah menjadi tegas, aku menoleh padanya.


"Perut, 'kan habis operasi," jawabku dengan mimik wajah yang sengaja aku buat-buat, penuh dengan kepura-puraanku. Lalu diakhiri dengan sebuah senyuman terpaksa.


Jefri mengembuskan napas panjang setelah sebelumnya bahunya terlihat menaik akibat menghirup oksigen. Sekali lagi aku menampilkan sebuah senyum penyesalan. "Gak apa-apa ya? Ditahan dulu aja. Empat puluh hari itu sebentar kalo kamu nya gak selalu mikir ke sana."


Aku berdiri, lalu berbalik menatapnya lalu menundukkan sebagian tubuhku dan mengecup bibirnya yang tebal. Tidak lagi aku menyelipkan lidahku pada sela bibirnya, takut. Takut jika ia mengira aku sedang menggodanya lagi.


"Udah mandi sana, biar aku siapin baju kamu buat ngantor. Udah jam enam tuh." Sekilas aku menunjuk jam dinding untuk kembali mengingatkannya.


"Iya, iya." Dengan lemas Jefri akhirnya bangkit dari duduknya di atas ranjang dan segera menuju ke kamar mandi setelah mengecup pipiku.


Aku merapikan tempat tidur begitu dia menghilang dari balik pintu kamar mandi. Kemudian pergi ke ruang pakaian unyuk menyiapkan kemeja, celana dan keperluan lain untuknya. Setelah itu barulah aku pergi di lantai bawah untuk menyiapkan sarapan bersama bi Mince.


"Udah, Non. Duduk aja, biar bibi yang kerjain." Bi Mince menegurku yang mulai membantunya memasak.


Namun aku tetap saja melakukannya dan mengatakan pada bi Mince jika badanku mulai pegal jika aku hanya berdiam diri saja di atas tempat tidur. Sambil menyiapkan sarapan itu ke atas meja, tiba-tiba saja bel dari pintu depan rumah berbunyi.


Tingtong tingtong!


Aku meminta bi Mince untuk membukakan pintu itu, sedangkan aku mengambil alih tugasnya di dapur yang hampir selesai, untuk menyiapkan minuman.


Tak berapa lama kemudian, bi Mince kembali menghampiriku dengan membawa sekotak kardus berwarna coklat. Ukurannya sedang tidak besar dan tidak telalu kecil. Kira-kira sebesar ukuran bola sepak.


"Apa itu, Bi?" tanyaku sambil menuangkan air putih ke sebuah gelas.


Bi Mince meletakkan kotak kerdus itu di atas meja makan, di sisi sebelah meja yang kosong. "Kurang tahu, Non, tadi kurir yang antar. Katanya buat enon." Bi Mince menjelaskan asal usul kotak kerdus itu.


Aku mengernyitkan keningku. Lalu segera menyelesaikan tuangan air putih ke dalam gelas. Lalu berjalan meraih kotak itu. "Gak ada nama pengirimnya, Bi?" Kemudian aku menoleh menatap bi Mince.

__ADS_1


Bi Mince hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya. Tanda tidak tahu-menahu. Ya, jelas saja bi Mince tidak tahu, kan kurir yang mengantarnya. Andaikan tadi aku sendiri yang menerimanya, mungkin aku akan menanyakannya pada kurir itu.


Tapi entah mengapa aku yang tadinya ingin sekali membuka kotak itu, langsung mengurungkan niatku begitu mendengar suara Jefri yang turun dari kamar sambil memanggilku.


"Sayaang ...," serunya yang membuatku seraya menoleh dan melihatnya sedang menuruni anak tangga.


Aku langsung meminta pada bi Mince untuk meletakkan kotak kerdus ini di dapur. Bi Mince meraihnya dari tanganku kemudian pergi ke dapur untuk meletakkannya di sana.


Begitu aku berbalik, Jefri sudah ada di belakangku membuatku terkejut kemudan kami tertawa bersama. Ia memintaku untuk mengancingkan lengan kemejanya. Padahal biasanya ia bisa melakukan itu sendiri, tanpa meminta bantuanku.


***


Setelah Jefri pergi ke kantor, aku memutuskan untuk melanjutkan membaca sebuah novel dan duduk di teras samping, yang menghadap ke arah kolam renang. Sebuah novel Sherlock Holmes dari penulis luar biasa Sir Arthur Conan Doyle.


Hampir semua karyanya selalu menghadirkan sebuah teka-teki yang misterius. Di mana karyanya yang dari seri Holmes yang menyebut dirinya sebagai seorang "detektif konsultan" ini dikenal akan ketajaman penalaran logis, kemampuan menyamar, dan keterampilannya dalam menggunakan ilmu forensik untuk memecahkan berbagai kasus.


Aku menyukai novel ini karena Lisa. Ya, dulu dia lah yang mengenalkanku pada seni membaca ini. Apa lagi membaca sebuah novel, yang isinya hanya kata-kata yang menyambung menjadi sebuah kalimat. Gara-gara Lisa, aku jadi lebih sering menghabiskan uang untuk membeli sebuah novel.


Tingtong tingtong!


Suara bel pintu rumah kembali berbunyi. Kulihat bi Mince bergegas berjalan ke arah pintu depan untuk membukakan pintu itu. Sedangkan aku kembali melanjutkan aktifitas membacaku.


"Wohh, anak mamah di sini toh!" seru mamah yang sontak membuatku mengangkat wajahku, mengalihkan pandanganku dari lembaran kertas ke arah mamah yang berjalan mendekatiku.


"Mamah, sama siapa ke sini?" tanyaku di sela mengecup pipi kanan dan kirinya secara bergantian.


"Ontyyy! Ontyyy!" teriak seorang anak kecil yang aku tahu siapa pemilik suara itu. Dia adalah Icel, anak pertama Max dengan Shilla yang saat ini sudah berumur tiga tahun.


"Di samping sayang ...," seruku yang kemudian Icel muncul di balik pintu dan berlari menghampiriku.


Aku menangkapnya lalu mendudukkannya di atas pangkuanku. Kemudian Icel memelukku.


"Icel kangen katanya sama onty," ucap Shilla yang kini juga berjalan menghampiri dan duduk di sampingku.


"Oh ya? Bener kangen sama onty?" tanyaku yang kemudian asyik menggoda Icel. Meninggalkan buku novelku tertutup di atas meja.


Sejak siang hingga sore hari Shilla, mamah dan Icel menemaniku di rumah ini. Bahkan Shilla juga menemani Icel yang ingin berenang di kolam kecil yang kami miliki.


"Trus kapan si kembar bisa pulang?" tanya mamah memelas.


"Mungkin beberapa hari lagi, Mah." Aku menjawab seadanya lalu tersenyum melihat Icel dan mamanya yang sedang bermain di dalam kolam renang. Ya, Icel sangat menyukai air.


Senyuman yang aku perlihatkan adalah sebuah senyuman terpaksa. Bagaimana tidak? Sudah seminggu lebih aku tidak bertemu dengan kedua buah hatiku. Jefri juga masih melarangku untuk pergi ke rmh sakit, katanya, aku belum sembuh betul. Jadi lah setiap hari Haikal yang mengirimkan foto ataupun video si kembar padaku.


—————


Haikal POV.


Hari ini aku kembali memeriksa kondisi Lisa. Ya, aku memang mengambil alih tugas Adam untuk yang satu ini. Sebab saat ini Adam sedang melakukan operasi penting.


"Lalu bagaimana perkembangan pasien di kamar 612?" tanyaku pada salah satu perawat jaga di lantai enam ini.


"Hari ini jadwal pelepasan cervical collar-nya, Dok."


Aku membuka dokumen milik Lisa. Di sana terlihat jika dia mengalami peningkatan yang cukup bagus. Anggota tubuhnya sudah bisa ia gerakan, hanya saja seperti tangannya belum bisa mengangkat sebuah benda dengan beban yang berat.


"Temani saya untuk memeriksanya dan melepaskan alat itu," perintahku pada perawat tersebut. Kami kemudian melangkah menuju ke ruang rawat inap di mana Lisa berada.


Perlahan aku mengetuk dahulu pintu itu, kemudian barulah aku menekan kenop pintunya dan mendorong pintu itu. Masuk ke ruangan itu di saat Alex sedang membantu Lisa untuk menegakkan bagian atas dari ranjang brankar tersebut.


"Hallo, apa kabar?" sapaku pada mereka.


Alex hanya tersenyum kemudian Lisa yang menjawab pertanyaanku, "Semakin nyaman." Lalu ia juga ikut tersenyum.


Setelah itu aku mengatakan pada Lisa saat ini aku akan melepaskan alat cervical collar yang terpasang pada lehernya itu. Ya, kalau orang awam akan menyebut alat itu sebagai alat penyangga leher. Lisa terlihat sangat bersemangat saat mendengar aku mengatakan itu. Sebab sudah lama ia menantikannya, bahkan ia pernah mengatakan jika lehernya malah terasa semakin kaku saat mengenakan alat itu.


Salah seorang perawat membantuku untuk melepaskan beberapa pengait alat penyangga itu, kemudian perlahan membuka dan melepaskan alat tersebut. Lisa langsung menggerakkan kepala serta lehernya dengan perlahan.


"Gimana? Mungkin masih akan terasa sakit. Tapi semoga saja tulang-tulang penyangganya sudah kembali kuat."


Lisa tersenyum kemudian pelan-pelan ia mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2