
Jangan lupa like, vote dan komen judul ini ya, sebagai apresiasi pembaca terhadap penulis dan juga biar penulis bisa lebih semangat untuk menyuguhkan cerita yang berkesan :)
Terima kasih dan selamat membaca ...
—————
Max POV.
Dengan kecepatan tinggi aku mengendarai mobilku menuju ke alamat baru tempat di mana Igo dan juga yang lainnya berada. Hatiku rasanya tak karuan jika teror itu aku temukan di rumah, apalagi jika wanitaku yang menerimanya.
Geram rasanya hati ini saat melihat ekspresi wajah Shilla yang ketakutan tadi. Mungkin istriku tidak selemah adikku—Tika, untuk melihat hal-hal mengerikan tadi. Tapi bagaimanapun juga dia adalah wanita, tidak sepantasnya ia melihat hal itu.
Aku masih ingat betul dengan apa yang ada di dalam kotak itu. Seekor kucing dengan organ tubuhnya yang berceceran, berlumuran darah segar. Nyaris sama dengan yang pernah dikirimkan ke kantorku beberapa kali dengan menggunakan sebuah boneka sebagai korbannya.
Buuuk!!
Aku memukul setir kemudi mobilku saat kembali mengingat semua kejadian tadi. Apa ini balasannya karena aku sudah membunuh saudaranya? Tapi bagaimana dia bisa tahu, jika saudaranya sudah tiada?
Perlahan aku memijat pelipis mataku hingga akhirnya aku membelokkan setir kemudiku memasuki sebuah gedung baru di kawasan perumahan elite. Lalu memarkirkan mobilku tepat di dekat pintu lift.
Ting!!
Pintu lift terbuka dari dalam, betapa terkejutnya aku saat melihat semua orang yang ada di ruangan ini semacam tertidur. Dengan setengah badan mereka yang terdampar di atas meja kerja masing-masing. Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari lift, menoleh ke kanan dan ke kiri memerhatikan mereka semua yang benar-benar seperti tertidur pulas.
Aku mendekati seseorang yang sering dimintai tolong oleh Igo untuk membantunya dalam pencarian CCTV, aku lupa namanya. Dia terlihat pulas di atas keyboard komputernya dengan salah satu tangan yang jatuh menjuntai. Kusentuh pundaknya dengan ujung jariku lalu kugoyangkan tubuhnya. Benar-benar tampak seperti sudah mati.
Tunggu. Tunggu dulu. Mati?
Tiba-tiba aku langsung merasa panik, kemudian napasku menjadi terputus. Aku menoleh melihat ke sekelilingku. Mereka semua seperti sudah tidak bernyawa. Kemudian aku memeriksa salah satu di antara mereka. Tidak ada tanda-tanda telah di tusuk ataupun bekas tembakan. Tidak ada tanda kekerasan di sini.
Otakku seolah dipaksa untuk berpikir keras. Kemudian aku semakin melangkahkan kakiku untuk membuka satu per satu ruangan yang ada. Mencari sosok Igo yang dapat aku andalkan selama ini.
Braak!
Sebuah pintu di sisi kananku terbuka. Aku melihat Igo yang terseok-seok di balik pintu. Segera aku menghampirinya. Memapah tubuhnya lalu menarik sebuah kursi dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Ka—kamu kenapa? I—ini ... kok bisa gini??" Aku bingung dengan apa yang harus aku katakan. Otakku terasa kacau. Aku tidak mampu mencerna apa yang telah terjadi di tempat ini.
Aku segera mengambilkan air minum untuknya, sedangkan dirinya masih mencoba untuk mencari napasnya yang tersengal. Seolah pernapasan tertututp dan terganggu. Aku kembali menghampirinya dan menyuruhnya untuk segera minum.
Mataku kembali melihat sekeliling, beberapa orang yang ada ini perlahan bergerak. Mereka terbangun dari tidurnya. Menggeliat, meregangkan otot tubuhnya. Sebagian lagi masih terlihat malas-malasan untuk bangkit.
"Tadi malam, tiba-tiba aku ngantuk banget. Waktu itu aku lagi menelpon Robert." Tunjuk Igo pada Robert yang baru saja mengangkat kepalanya. Dia lelaki yang tadi kusentuh. "Ternyata dia juga merasakan hal yang sama, matanya matanya terasa berat."
Aku memandangi yang lainnya yang kini perlahan terbangun dari tidurnya. Bukan, bukan tidur sepertinya, lebih tepatnya mereka semua dibuat pingsan. Tetapi setahuku, jika tidak memiliki barcode lift untuk gedung ini, maka tidak ada seorang pun yang bisa menerobos masuk ke dalam sini.
"Emang tadi malam terima tamu? Sore atau sebelumnya?" cercaku menyelidiki.
Igo terlihat berpikir sejenak lalu berkata, "Siang, siang hari cuma Reza yang berkunjung ke sini. Gak ada orang lain yang bisa masuk ke sini." Keadaan Igo terlihat semakin membaik saat ini. Dia sudah bisa kembali bernapas dengan normal.
Aku segera merogoh saku celana piyamaku dan mengambil ponselku untuk menghubungi Reza. Lumayan lama aku berbicara dengannya hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera ke sini. Aku menunggunya.
***
__ADS_1
Zzzzttt!
Suara pintu lift terbuka yang menghadirkan sosok Reza di sana, melangkah keluar dari ruangan mesin yang bergerak secara vertikal. Dia membawa beberapa kantong belanjaan di tangannya kemudian meletakkan itu pada sebuah meja besar. Yang biasanya di gunakan untuk meja rapat. Kemudian dia menoleh padaku dan juga Igo, lalu melangkah mendekatiku.
"Kalian gak apa-apa?" Reza sedikit panik.
Kemudian aku menjelaskan pada Reza apa yang terjadi tadi pagi di rumahku dan juga keadaan di tempat ini saat pertama kali aku memasuki ruangan ini. Semua terlihat aneh dan terasa ganjil.
"Kok bisa semuanya ketiduran?? Robert, Johan, coba kalian cek sekitaran gedung ini, CCTV dan semuanya, cek sampai ke rumah Max. Kenapa kalian bisa lalai seperti ini?!" hardik Reza tak segan-segan pada rekannya.
"Bukannya siang hari aku ke sini? Lalu sebelum aku pergi ke rumah Max tadi malam, kita saling menghubungi dan aku meminta kalian untuk mengawasi rumah Max 24 jam full. Kenapa bisa lalai seperti ini?" tambah Reza semakin emosi.
Sebelumnya, Reza selalu tenang menghadapi situasi apa pun yang terjadi padaku dan keluarga. Bahkan saat dulu semua kejadian kejam terjadi pada Lisa, dia juga masih bisa tenang, masih bisa mengontrol emosinya. Berbeda dengan saat ini.
"Reyhan! Hubungi para penjaga lapangan, kenapa mereka tidak ada satu pun yang melapor sampai saat ini? Bukannya kalian menerima laporan tepat jam sepuluh? Jangan-jangan mereka di lapangan juga terlengah ...." Reza terus saja berteriak, membentak para pekerjanya hingga akhirnya aku menarik tangannya.
Reza menatapku, lalu aku menariknya, membawanya masuk ke dalam ruang kerja Igo dan menutup pintunya. Setahuku ruangan Igo yang lama selalu di lindungi dengan alat peredam suara. Semoga saja ruangan yang baru ini juga masih tertata seperti yang lama.
"Gak perlu teriakin mereka, Za. Mereka juga korban." Aku tidak tahan melihat Reza yang seakan kalap seperti tadi. "Kendalikan diri kamu!"
Reza mengembuskan napasnya lalu menempelkan kedua telapak tangannya di atas meja. Wajahnya menunduk. Kedua bahunya terlihat naik dan turun secara berirama, sepertinya dia berada di luar kendalinya sendiri.
"Aku emosi. Aku kesal bahkan aku geram dengan semua ini. Aku yang lelah, Za, karena aku yang mengalami. Tapi aku tetap berusaha tenang dengan mereka tanpa melupakan posisi Igo. Biar Igo saja yang keras pada mereka. Bukankah itu ucapan kamu dulu, saat kamu mengenalkan aku pada mereka?" Aku menjatuhkan pantatku dengan kasar pada sebuah kursi tunggal. Lalu mendengus dengan kesal.
"Mamah kamu sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri, semenjak aku bekerja pada papah kamu di perusahaan itu. Bahkan aku berjanji dengan Kakakku—Rizal, untuk menjaga kalian bertiga. Dan kalau memang benar semua ini ulah baj*ngan itu. Aku bersumpah akan membunuhnya!" tegas Reza yang masih menundukkan kepalanya.
Di saat aku mengangkat wajahku, berusaha untuk menatapnya, aku menemukan sebuah ketulusan yang ia berikan pada keluargaku. Aku merasa tidak berguna saat ini. Sebab yang orang lain tahu di luaran sana, sangatlah berbeda dengan apa yang aku rasakan saat ini. Mungkin ini yang dirasakan oleh Jefri beberapa waktu lalu. Dia merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan aku.
"Kita harus pancing bajing*an itu sampai keluar!" bentak Reza lalu duduk dan menatapku.
Aku balas menatap kedua bola matanya lalu berucap, "Maksud kamu dipancing gimana?"
"Tika harus mau jadi umpannya. Bukankah ini sudah terlalu lama? Berbulan-bulan berlalu setelah kematian Dave dan dia masih bebas di luaran sana. Aku rasa sudah cukup, Max." Suara Reza terdengar pasrah dan melemah.
Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Merebahkan kepalaku lalu memejamkan mata sejenak menghadap ke langit-langit. Menarik napas dengan rakus lalu mengembuskannyanke sembarang arah. Kuulangi hinga berkali-kali.
Benar apa kata Reza. Aku memang lelah menjalani teror ini. Lelaki sialan itu memang pengecut, bisanya hanya memainkan terornya pada kami.
"Dia ingin memainkan mental kalian saat ini. Ini cara murahan. Kalau kalian biarkan terus-terusan, kelamaan kalian akan jadi seperti dia." Reza menambahi.
Kemudian Reza menjelaskan padaku rencana yang dia miliki. Detail dan terperinci. Namun aku tiba-tiba merasa ragu dengan usulan yang Reza berikan ini. Memang terlalu berisiko, tetapi juga terdengar lebih akurat dan matang dari rencana yang masih bersarang dalam otakku.
"Apa gak ada usulan lainnya, Za? Tika sekarang milik Jefri. Gak mungkin Jefri ngizinin cara ini."
"Maka dari itu, kita harus ketemu mereka. Kita harus bahas masalah ini secepatnya. Dia gak akan segan untuk melakukan hal-hal lainnya yang lebih ekstrim daripada ini."
Terlalu sulit aku menelan salivaku saat ini. Dengan otakku yang sudah terlalu lemah berpikir akibat kejadian tadi pagi. Tenagaku pun rasanya sudah terkuras lebih dulu sebelum semua rencana dilakukan.
Aku mencoba untuk menghubungi Haikal terlebih dahulu lalu meminta izinnya untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat pertemuan kami. Dia menyetujuinya. Lalu aku langsung menghubungi Jefri dan membuat janji untuk bertemu dengannya dan juga dengan Tika.
Namun, betapa terkejutnya aku ketika menghubungi Jefri dan dia mengatakan bahwa siang ini, Tika akan bertemu dengan lelaki sialan itu. Sebab lelaki itu menghubungi Tika terlebih dahulu.
"Dia mau ngapain?" Aku mulai panik, kemudian melontarkan beberapa pertanyaan lain yang belum sempat dijawab olehnya.
__ADS_1
Jefri mengatakan bahwa secara tiba-tiba lelaki itu mengirimkan gambar sebuah kotak yang berada di atas meja makan di rumah mamah. Dan itu membuat Tika kesal dan akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan lelaki itu. Agar lelaki itu menghentikan aksinya.
"Kamu ikut temenin dia, kan?" cerewetku lagi.
Kemudian Jefri juga mengatakan akan menemani Tika untuk bertemu dengan lelaki itu, bahkan Jefri sudah menyiapkan para penjaga untuk melindungi mereka. Kali ini, aku merasa salut pada persiapannya. Dia sudah bisa menjaga adikku dan keluarganya.
Setelah itu, akhirnya aku meminta alamat termpat pertemuan mereka. Lalu aku segera memutuskan sambungan telepon dan mengatakan semuanya itu pada Reza. Yang kemudian dikatakan sesuai dengan rencana Reza.
Reza bersiap dan aku memilih untuk pulang terlebih dahulu. Membersihkan tubuhku, sebelum pergi untuk memantau pertemuan Tika itu.
—————
Tika POV.
Geram. Perasaan itu yang sekarang muncul dalam hatiku. Bagaimana bisa dia masuk ke dalam rumah mamah? Pasti ada yang tidak beres dengan Hans dan juga Roni. Selama ini mereka selalu menjaga rumah itu dengan sangat baik. Lalu apa isi kotak itu?
Ceklek ...
Pintu kamar terbuka, aku yang sedang duduk di tepi tempat tidur dengan refleks, menoleh lalu mendapati sosok Jefri berdiri di ambang pintu lalu berjalan mendekatiku dengan perlahan. Senyuman manis di wajahnya tak lupa ia pancarkan padaku. Dia merengkuh kepalaku, menempelkannya pada perutnya.
"Tadi Max telepon. Katanya di rumah sudah aman terkendali." Jefri mengelus pipiku dengan jempolnya.
"Apa isi kotak itu?" Aku mendongakkan wajahku menatapnya.
"Biasa, yang berbau darah dan binatang."
Aku langsung memeluk pinggang Jefri dan mengeratkannya. "Mereka pasti ketakutan di sana," lirihku hampir memulai untuk menangis.
"Aku sudah bilang sama mama dan papa di bawah, kalo kita nitipin Nathan sama Naila ke mereka." Jefri menarik tanganku lalu duduk di sampingku. "Kita keluar sekarang. Kamu butuh udara segar sebelum ketemu dia."
Aku menatap kedua bola matanya yang begitu menyejukkan untukku, lalu memeluknya. Seakan meminta kekuatan padanya, agar aku bisa kuat menghadapi semua masalah ini bersama dengannya.
Setelah berpamitan pada kedua anakku dan juga kedua mertuaku, Jefri langsung membawaku masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah. Di dalam perjalanan, seketika rasa cemas dan gugup datang membelenggu. Menciutkan rasa nyaliku yang sejak sebelumnya sudah aku bangun.
Bagimana tidak takut jika bertemu dengan seorang psikopat? Penyakit gangguan mental dan jiwa yang paling terparah menurutku. Pasalnya saat beberapa bulan yang lalu aku melihatnya bermain dengan tubuh Lisa, itu cukup membuatku sedikit trauma jika melihatnya.
Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, ada rasa aneh yang saat ini membuat jantungku berdegup dengan kencang. Desiran darah yang terpompa dalam tubuhku semakin kuat bergerak membuat air keringat muncul pada keningku. Aku mengusapnya dengan kasar begitu Jefri menyentuh lenganku yang membuatku terpekik kaget.
"Aku temani kamu ketemu dia ya?" pinta Jefri sambil sesekali menoleh padaku lalu kembali memerhatikan jalanan di depannya.
"Jangan. Kamu denger sendiri 'kan tadi? Dia mau ketemu empat mata sama aku."
"Tapi kondisi kamu gini loh." Jefri terdengar mengkhawatirkanku saat ini.
Aku tersenyum padanya lalu berkata, "Biarkan aku cari tahu, dia ngelakuin ini atas dasar apa?"
"Kalau dia mau balas dendam, gimana?"
Aku menatap Jefri. "Kita gak tahu, dia sudah dapet info saudaranya meninggal atau belum." Jefri menambahkan.
Pikiranku seketika kacau begitu kembali mengingat tentang saudara Dana yang sudah meninggal di tangan Max. Rasa takut kembali menyergapku, menembus dinding pertahanan keberanianku selama ini. Namun semua rasa itu seakan terkalahkan dengan rasa penasaranku. Penasaran akan motif di balik semua sikapnya ini. Jika memang terobsesi kepadaku, lantas mengapa harus menyakiti orang lain??
Bersambung ...
__ADS_1