
FLASHBACK ON.
Pagi ini aku memutuskan untuk mencoba tespack yang telah ku beli beberapa hari lalu.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya?" izinku saat Jefri masih tertidur di sofa.
Sejak semalam, Papa sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Keadaan Papa sudah semakin membaik dan banyak menunjukkan progress.
"Kan ada toilet disini," ucapnya dengan serak.
"Ada Mamah didalam, aku kebelet."
"Ya udah, aku antar."
"Ga usah, aku bisa sendiri. Kamu lanjut tidur aja," tolakku halus lalu segera meraih gagang pintu.
Aku segera menuju ke toilet terdekat yang berada di lorong ini. Aku benar-benar sudah kebelet. Ku genggam erat testpack yang sudah ku selipkan dalam saku celanaku tadi.
Setelah selesai buang air kecil dan melakukan ritual untuk testpack, aku masih duduk di dalam bilik toilet. Menunggu hasil garis yang muncul pada alat ini. Aku gelisah, kaki kanan ku tak hentinya bergerak sejak tadi. Seperti orang yang sedang menginjak tuas untuk mesin bordir kain!
Astaga!!
Aku benar-benar tidak sabaran!
Pikirku.
Perlahan garis merah pertama pada tespack mulai muncul. Kakiku berhenti bergerak. Ku pandangi dengan seksama, lama. Hingga akhirnya muncul kembali garis merah yang kedua.
Nafasku tertahan, lalu ku hembuskan kasar. Ku biarkan sejenak alat itu, kemudian ku tutup mataku kembali, berdoa, semoga saja yang aku lihat ini benar adanya.
Lalu ku buka kembali kedua mataku. Benar saja, tanda garis merah dua pada alat itu sungguh nyata adanya. Berkali-kali aku mencoba mengambil nafas, mengaturnya agar terdengar normal. Aku berdiri, ku masukkan alat itu kembali kedalam saku celanaku, kemudian ku mantapkan hati untuk kembali ke ruangan Papa.
FLASHBACK OFF.
Papa tersenyum padaku saat itu, ku kecup punggung tangannya, yang sedari tadi berada dalam genggamanku. Papa hanya membalas itu dengan senyumannya.
Seketika terlintas dalam otakku, bagaimana caranya aku akan mengatakan ini pada Jefri?
Mamahku dan Mama mertuaku??
Dua kalimat itu kembali bersarang dalam otakku.
Membiusku bahkan mampu menarik-narik kecil beberapa sambungan syarafku.
---------------------------------
Jefri POV.
Setelah selesai makan siang dengan Mama, aku memutuskan untuk membungkuskan makan untuk Tika. Kemudian kembali ke ruangan rawat inap Papa. Ku lihat Tika sedang membereskan perlengkapan Papa setelah makan, lalu menaruhnya diluar.
"Sini, kamu makan dulu," ucapku memanggilnya.
Ia berjalan kearahku yang duduk di sofa. Ku bukakan kotak styrofoam makanannya. Ia duduk disebelahku, menatapku kilas.
"Banyak banget sih belinya?" ucapnya sambil mencomot kerupuk udang yang ada.
Aku membelikannya nasi pecel. Lalu dengan tambahan beberapa sayur dan telur dadar. Ada juga ayam goreng lalapan.
"Udah, ayo makan, biar aku ambilin minum."
Aku berjalan menuju kulkas yang ada di pojok ruangan. Sedangkan Mama sedang asik mengobrol dengan Papa.
__ADS_1
"Ma, Pa, aku makan ya?" izin Tika.
"Iya sayang, kamu makan aja," sahut Mama yang menoleh kilas lalu kembali fokus menatap Papa.
Ku ambilkan Tika sebotol air mineral berukuran tanggung dari dalam kulkas, lalu kembali duduk disampingnya dan membukakan botol itu. Tika makan dengan lahap.
Ku senderkan kepalaku pada tangan kiriku yang berpangku pada pahaku. Memperhatikannya makan.
"Mau?" tawarnya yang tiba-tiba melirikku.
Aku menggelengkan kepalaku, "Kamu makan aja."
"Beneran gak mau coba?" paksanya.
"Aku udah makan, sayang! Kan tadi sama Mama makan itu juga."
"Beneeer?" tanyanya lagi.
"Iyaaa. Tadi makan itu kok."
"Trus ngapain kamu ngeliatin aku mulu?"
Aku kaget, bukannya dari tadi dia sibuk melahap makanannya? Dari mana dia tau kalo aku ngeliatin? Batinku.
"Kamu tuh, dari tadi duduk cuman liatin aku makan aja. Sampai serius banget gitu liatinnya," tambahnya lagi sambil melanjutkan melahap makanannya.
Aku terkekeh geli, "Kamu tuh laper apa doyan sih?"
Tika menoleh, "Maksudnya?"
"Tadi bilangnya kebanyakkan, tapi itu ayamnya udah mau abis!"
Lagi-lagi aku merasa senang bisa melihatnya seperti ini. Sesaat kemudian aku berdiri, beranjak mendekati Papa dan Mama.
Kondisi Papa sudah terlihat semakin membaik. Bahkan Papa sudah bisa makan makanan yang bertekstur. Dokter Farhat juga sempat memberi tahuku, tentang gumpalan darah yang ada dikepala Papa. Hasilnya benar saja, itu adalah penyebabnya, sampai Papa jadi bisa ambruk stoke begini.
Kini tinggal menunggu hasil test check-up yang tadi pagi sempat di lakukan. Jika hasilnya stabil, maka Papa bisa pulang dan melakukan rawat jalan. Semoga saja..
"Ma, aku sama Tika pulang bentar ya?" izinku.
"Trus nanti kalo dokternya kesini gimana? Mama gak paham loh?"
"Tenang aja, Jerry udah jalan kesini kok."
"Pa-pa ka-ngen Jordy," lirih Papa.
Aku menatap Papa, "Iya, Pa, Jordy juga ke sini."
"Kita ngapain pulang?" sela Tika.
"Baju bersih aku habis, kamu kan cuman bawa beberapa aja waktu itu," jelasku.
"Ooh ...."
"Ya udah, yuk!" ajakku.
"Pulang bentar ya, Ma? Pa?" pamit Tika sambil mencium punggung tangan Mama dan Papa.
Aku pun melakukan hal yang sama, kemudian ku kecup kedua pipi orang tuaku. Tika mengambil tas pakaian kami, kemudian kami pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu udah telepon Brandy?" tanya Tika tiba-tiba saat di perjalanan.
__ADS_1
Aku menoleh padanya kilas, "Buat apa?"
"Ya buat izin gak ngantor hari ini?"
"Oh, udah kok. Aku nelpon bos langsung kemaren. Kamu sendiri?"
"Udah juga, tapi masih pake alasan sama Metta."
Aku mengangguk tanda mengerti.
Sebenarnya aku mengajaknya pulang ke rumah, bukan hanya karena baju bersihku sudah habis. Tapi karena ada yang ingin aku bicarakan padanya. Dan itu hanya kami berdua yang harus membahasnya. Aku juga tidak terlalu senang, jika harus membicarakan sesuatu yang ku anggap privasi bukan dirumah sendiri. Bukan di kamar kami.
Sudah sejak dua hari yang lalu aku ingin membicarakan ini, tapi entah mengapa aku seperti ragu untuk menanyakannya.
Setelah sampai di dalam garasi mobil. Tika turun, lalu mengambil tas pakaian kami di kursi belakang, lalu membawanya masuk ke rumah melewati pintu sambung yang ada digarasi. Sedangkan aku langsung keluar mobil dan menutup rolling down garasi. Kemudian menyusulnya masuk ke dalam rumah melalui pintu yang sama.
"Sayang! Kita bisa bicara sebentar?" ucapku saat Tika hendak menaiki tangga menuju ke kamar tidur kami.
Dia menghentikan langkah kakinya, tangannya sudah berhasil meraih selasar tangga. Freeze. Sejenak Tika terdiam beku layaknya patung. Lalu menolehkan kepalanya hingga mata kami saling menatap tajam.
"Bicara apa?"
Ku hirup oksigen yang sekwliaran disekitaranku, lalu hembuskan nafasku melalui mulut, "Kita duduk dulu ya?"
"Ngomongin apa sih? Kok malah bikin aku takut gini?" jawab Tika.
Pandangan matanya padaku seketika berubah. Tidak lagi selembut dan sehangat biasanya. Ada sedikit guratan terlihat jelas di keningnya, seakan ada kecurigaan mendalam dari tatapannya itu.
Ku putuskan untuk langsung mendekatinya, meraih tangannya, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Ia menurutiku. Saat duduk, kami saling bertatap wajah. Ku belai lembut pipi mulusnya.
"Boleh aku nanya sesuatu?"
"Apaan sih, yang?" nada suara Tika mulai berubah.
"Tapi kamu janji jangan marah kalo aku nanya ya?" aku memastikan lagi.
"Iya, apa dulu?"
"Janji dulu?" pintaku sambil merengek.
Tika menghembuskan nafasnya kasar, keningnya masihnya memunculkan garis-garis samar. Sekali lagi, kedua bahu Tika agak terangkat tipis, lalu ia kembali menghembuskan nafasnya untuk yang kedua kali.
Tika menganga, "Kamu bikin aku takut. Sebenarnya ada apa sih?"
--------------------------------
Hai kalian para pembaca, apa kabar?
Bagaimana weekend kalian?
Menyenangkan atau membosankan weekendnya?
Terkadang seperti itulah kehidupan.
Kadang suka kadang duka.
Kadang rasa sejak dari rasa.
🤣
Jangan lupa koin nya yaa 😘
__ADS_1