Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 20


__ADS_3

Dana POV.


Aku senang Tika akhirnya mau datang ke villa ku untuk mengecek finishing product nya. Padahal sebenarnya ini hanya akal akalan ku saja. Sudah lama aku tidak melihatnya. Saat aku ke kantornya beberapa pekan yang lalu pun, aku tidak sempat melihatnya. Aku merindukannya, batinku.


Aku sudah mempersiapkan sebuah villa untuk nya. Semoga saja dia menyukainya, sebab terakhir aku pernah mengirimkannya rangkaian bunga mawar yang besar dan sepertinya dia menerimanya karna info yang ku dapat dari kurirnya bahwa bunga itu tidak di kembalikan. Aku senang, dan itu membuatku semakin bersemangat untuk mengejarnya.


"Permisi Pak, Ibu Tika sudah saya antarkan ke villa yang Bapak sediakan." ucap driver pribadiku.


"Oh iya, makasih ya! Kamu boleh istirahat." sahutku santai.


Aku masih harus membereskan beberapa berkas laporan keuangan yang menumpuk diatas meja kerja ku. Beberapa kali ku lirik jam tanganku. Ternyata aku memang tidak sabaran untuk bertemu melihat pujaan hatiku. Kini ku putuskan untuk meninggalkan semua pekerjaan ku.


Aku berjalan, menyusuri lorong jalan, menikmati sinar matahari pagi yang masuk di sela-sela pepohonan rindang yang membuat angin menjadi sangat sejuk. Aku berbelok saat dipersimpangan jalan, mengambil langkah menuju villa dimana Tika berada.


Didepan pintu villa nya, aku merapikan rambutku. Mengecek kancing bajuku, bahkan aku sempat menggosokkan bagian depan sepatuku pada cela jeans ku di bagian betis. Wonderful!!


Ku tekan bel.


Teett..


Teett..


Ceklek..


Tika berdiri di balik pintu dengan raut wajahnya yang seperti biasanya. Ku berikan senyuman terbaikku padanya.


"Masuk.." ucapnya mempersilahkan ku masuk.


Aku mengikuti langkahnya kemana membawaku hingga sampai di ruang tengah yang dimana ruangan itu sekaligus ruang santai outdoor dan disampingnya ada kolam renang.


"Gimana? Suka sama mawar nya?" tanyaku saat melihat mawar itu masih ada dimana-mana sesuai dengan keinginanku.


Tika berbalik begitu mendengar kalimatku. Menatapku tanpa ekspresi apapun. Tiba-tiba seorang lelaki muncul dari balik kamar tidur, tanpa mengenakan atasan, bertelanjang dada, dia tersenyum lalu memeluk Tika dari belakang.


"Gua suka kok! Makasih ya sudah nyiapin ni villa. Tau aja kami pengantin baru." ucap lelaki itu kemudian dia mencium tengkuk leher Tika dengan nafsunya.


Tika membiarkan lelaki itu menikmati lehernya yang jenjang, salah satu tangan lelaki itu menyusup masuk ke balik kemeja yang Tika kenakan. Tika memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan yang dilakukan lelaki itu.


Ya aku ingat, lelaki itu adalah orang yang sama yang aku temui saat Tika di rumah sakit. Dan lelaki itu juga orang yang sama yang aku temui beberapa pekan yang lalu saat aku berkunjung ke kantornya.


Tapi tunggu dulu, apa-apaan ini?


Tika menyampingkan wajahnya dan mereka saling berciuman dihadapan mataku. Saling *******. Apa yang aku lihat ini? Mulutku seperti di lem, tidak mampu berkata-kata.


"Oh iya, aku tadi sempet ngecek beberapa item di sini, kayak nya yang disini masih product lama ya? Trus gimana aku bisa ngelakuin finishing kalo semua yang disini masih products lama?" ucap Tika membuyarkan pikiranku yang kacau.


"Emm. Itu kalo soal itu kita bakalan ngeliatin ke villa satunya, soalnya aku maunya setelah fixed baru semua villa diganti pakai products baru." jelasku kaku.


"Oh gitu! Oh iya kenalin, ini suami aku, namanya Jefri. Kamu pasti udah kenal dong, kan udah pernah ketemu waktu dirumah sakit. Benerkan?" tanya Tika yang masih berada dalam rangkulan lelaki itu.


Aku hanya tersenyum tipis.


Paling ini akal-akalan Tika aja, biar aku berhenti mendekatinya.


"Oke kalo gitu sejam lagi kita ketemu di lobby ya, kita langsung kerja aja." ucapku yang kemudian langsung pergi meninggalkan Tika dan lelaki sewaannya itu.


"Tenang.. Tenang.. Cooling down.. Mereka cuman akting.. Nanti aku liatin lagi, mereka udah pake cincin apa belum.." gumam ku saat sudah keluar dari pintu depan villa itu.


Risih.


Itu yang aku rasakan saat sedang bekerja bersama Tika. Bagaimana tidak? Lelaki itu masih saja menempel pada Tika. Saat kami mengecek ruangan, dia ikut. Saat kami membahas products, dia ada. Bahkan saat kami memasuki kamar mandi pun, dia menggenggam erat jemari Tika. Dan Tika terlihat nyaman dengan itu. Dan satu lagi, memang ada cincin yang melingkari jari manis mereka berdua. Sandiwara mereka memang total!!


"Oke semuanya udah bagus kok. Udah sesuai juga sama design yang kamu pengen kan? Udah cocok juga, aku cek juga udah ga ada revisi kan waktu sama Metta? Trus kapan mau mulai produksi nya?" tanya Tika santai dengan sebelah tangannya yang di genggam lelaki itu.


"Besok juga boleh, yang penting kamu suka." sengajaku.


"Sorry, apa tadi?"


"Kapan pun kamu mau." aku mengulangi.


"Sorry sorry, kamu bisa sopan dikit? Disini ada suami aku. Jadi tolong, hargai aku sebagai istrinya." Tika mulai mengomel.


"Tunggu, mestinya kamu yang hargai aku, ga usah acting sampai segininya biar aku ngejauhin kamu." ucapku sopan.


"Apa? Acting? Dana, aku udah sabar ya, aku sudah nikah sama Jefri, kami udah suami istri. Jadi tolong banget, tolooong, berenti gangguin hidup aku. Aku terima kok semua yang terjadi dulu. Aku juga gak bakalan nyalahin kamu dengan semua kejadian dulu. Jadi tolong, kamu jangan ngerasa perlu dan harus bertanggung jawab sama aku!" ucapnya lantang dan tegas.


Kemudian mereka pergi meninggalkan ku disini sendiri. Dia kekeuh mengatakan sudah menikah dengan lelaki itu. Tapi aku tetap tidak mempercayainya.

__ADS_1


---------------------------


Tika POV.


Aku dan Jefri berjalan menyusuri lorong villa.


"Kamu yakin setelah ngomong begitu dia bakalan berenti ngejar kamu?" tanya Jefri padaku setelah kami meninggalkan Dana di villa itu sendirian.


Tatapanku lurus ke depan, sambil berjalan pelan ku jawab, "Aku gak tau dia ngejar aku atau cuman akunya yang kepedean ngerasa di kejar-kejar. Aku juga gak tau, omongan aku barusan bakalan ngaruh apa enggak ke dia. Yang jelas aku mau ini jadi yang terakhir kalinya aku berurusan sama dia. Aku gak mau dia muncul lagi didepan mata aku." lirihku pelan.


Jefri tercekat, dia berhenti melangkahkan kakinya di sampingku.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Kamu ngomongnya udah kayak pembunuh berdarah dingin." lirinya sambil melirik kanan kiri.


Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Kemudian dia pun ikut tertawa. Kami berjalan berangkulan kembali menuju villa kami.


"Kamu ga laper?" tanya nya sambil melirik jam tangannya.


"Belum sih. Kamu laper?"


"Mayaaann, aku pesen room service aja deh ntar." idenya.


Kami kembali berjalan memasuki villa dimana kami tinggal.


"Temenin aku renang yuk?" pintaku.


"Sekarang?"


"Ntar tengah malam!" jawabku sambil mengerucutkan bibirku.


"Dih ngambek, emang kamu bawa baju renang?"


"Enggak, kan bisa pake sport bra."


"No no no, pake kaos aku aja." ucapnya memasuki kamar tidur.


Dia duduk lalu mengangkat gagang telepon. Memesan makanan yang dia mau dari buku menu yang tergeletak di samping telepon. Aku terdiam.


"Pake ini, tapi ga usah pake bra." ucapnya sambil tersenyum nakal.


Aku mengerti maksudnya ini, "Astaga, otak mesum!" lirihku sambil meraih kaos yang diberikannya lalu langsung mengganti pakaian ku di depan nya.


Dia sempat merebahkan tubuhnya diatas ranjang, melepaskan kaosnya, lalu menontoni ku yang sedang mengganti pakaian. Tatapannya begitu tajam hingga kurasa hampir tidak berkedip. Jadi aku hanya menggunakan kaos tipis hitamnya dan G-string.


Dan FYI, villa ini sudah bersih dari kelopak bunga mawar yang bertaburan dimana-mana. Roomboy nya perlu di kasih tips nih nanti, batinku.


Ide nakal ku kembali muncul. Ku naiki tubuhnya di atas ranjang. Ku sentuh pipinya dengan bibirku, kemudian telinganya hingga tengkuk lehernya. Dia masih tetap pada posisinya, dengan kedua tangan yang tertindih kepalanya, menopang agar kepalanya lebih tinggi dari tubuhnya.


"Tanpa kamu goda pun aku sudah nafsu liat kamu ganti baju." lirihnya.


Gerakkan bibirku terhenti begitu mendengar penuturannya itu. Ku tatap matanya, "Trus kamu nyuruh aku renang pake kaos kamu buat apa?"


"Buat explore gaya baru. Kita belum pernah nyoba di kolam kan?" sahutnya lalu mengedipkan sebelah matanya.


Aku tersenyum, "Hei itu gaya aku!" seruku pelan.


Dengan terkekeh geli ia mengangkat tubuhku seperti anak koala. Ku kalungkan lenganku pada pundaknya, sedangkan kedua kaki ku membelit pinggangnya. Wajahnya terus saja menatapku, membuatku gemas ingin melahapnya.


Baru dua langkah, aku sudah tidak sanggup menahan untuk tidak mencium bibirnya yang tebal itu.


"Hmm. Imana acyu jyalan alo ini aranya?" ucapnya disela ciuman kami.


Aku mengerti ucapan nya, oke aku mengalah, ku lepaskan ciumanku. Dia kembali melangkah membawaku hingga di pinggiran kolam kemudian perlahan menuruni tangga lantai kolam sampai akhirnya setengah tubuh kami terendam.


"Kamu sayang gak sama aku?" tanyaku random.


"Jangan ditanya lagi." sahutnya.


"Kalo ada orang yang usaha buat misahin kita gimana?" randomku lagi.


"Aku mau nya kamu percaya sama aku. Jujur sama aku. Apapun itu, mau senang ataupun menyakitkan. Karna buat aku cuman dua itu kuncinya. Kalo sudah jujur trus percaya, mau ribuan bahkan triliyunan cara orang buat misahin, kita pasti tetep kuat sama-sama." jelasnya.


"Sesimple itu?" tanyaku lagi.


"Iya, sesimple itu kalo kamu percaya." sahutnya santai sambil membelai rambutku yang tergerai lalu mengelus lembut pipi kiriku.

__ADS_1


Dia membawaku menuruni lantai tangga kolam lalu ke tengah kolam dengan posisi masih menggendongku. Ternyata kolam ini tidak terlalu dalam, hanya sebatas pundaknya saja. Tapi jika aku berdiri sendiri dengan kakiku, seluruh tubuhku akan terendam di kolam ini. 😂


"Kata nya mau renang, udah renang sana." usirnya sambil melepaskan rangkulan lemgannya di pinggangku.


Ku kecup bibirnya kilas, lalu aku melepaskan tubuhku darinya, berbalik kemudian langsung berenang menyusuri kolam mini itu.


Berbolak balik kesana kemari, sampai nafasku tersengal. Renang memang salah satu olahraga yang mampu membuat seluruh organ tubuhku bergerak dan karena itu aku menyukainya. Selain itu, olahraga renang juga tidak banyak mengeluarkan keringat alias keringatnya sudah jadi satu sama air kolam.


Aku berhenti di atas lantai tangga kolam, mencoba mengatur nafasku kembali. Ku lihat Jefri hanya diam ditempatnya tidak berenang, hanya memandangi ku seperti saat ini.


"Kenapa?" seruku.


Dia hanya menggelengkan kepalanya. Lalu perlahan berenang mendekatiku. Mengunci tubuhku dengan kedua tangannya.


"Kamu terlalu sempurna di mata aku." lirihnya lalu mengecup pipiku.


"Maksudnya?" aku tersipu sambil menggigiti bibir bawahku.


"Ga papa. Ga usah bawel." sahutnya lalu mencium bibirku tanpa ampun tapi aku menikmatinya.


Setiap sentuhan nya aku selalu menikmatinya, apapun itu.


Kemudian ia menciumi tengkuk leherku. Ku rebahkan tubuhku di atas sudut lantai tangga. Sakit, tapi ku tahan akibat aku terlalu nikmati sentuhan bibirnya. Kini jemari nya menyelinap masuk kedalam kaosku, memelukku.


Teett..


Teett..


Jefri terkejut, ia menatapku. Lalu menarik menurunkan kaosku seperti semula.


"Masuuk!" serunya.


"Siapa?" tanyaku heran.


"Maaf permisi, room service. Maaf mau dihidangkan diatas kolam?" tanya roomboy itu.


"Enggak usah, taruh di meja sana aja. Bill nya nanti saya bayar ke receptionist bisa kan?" seru Jefri lagi.


"Maaf room service untuk villa ini semua nya sudah free Pak, itu juga sudah termasuk fasilitas spa dan masase." jelas roomboy itu sambil menaruh hidangan pesanan Jefri diatas meja.


Jefri menatapku, "Kok bisa bli?" tanyaku sambil menatap roomboy itu dari balik tubuh Jefri yang menindihku.


"Iya bu, itu pesan dari Pak Dana. Mari bu, pak, saya permisi dulu." pamitnya.


"Bli, nama nya siapa?" seruku lagi.


"Saya bu?"


"Iya, kamu siapa namanya?"


"Saya Amerta bu,"


"Tadi yang bersihin kamar ini dari mawar kamu juga?" tanyaku lagi.


"Iya bu, saya sama satu lagi teman saya, tadi waktu kemari ibu dan bapak tidak ada. Maaf ada apa ya bu?" tanya terlihat takut.


"Oh ga papa, makasih ya sudah bersihin. Nanti sekitar jam 3an kamu bisa balik lagi kesini?" tanyaku lagi.


"Bisa bu."


"Ya udah saya tunggu nanti jam 3 ya? Sekali lagi makasih."


"Baik bu, saya permisi, mari." pamitnya kemudian keluar dari pintu villa ini.


Jefri menatapku, "Ngapain nyuruh dia balik lagi?"


"Mau ngasih tip, kalo aku berdiri sekarang trus ambil uang di kamar, kamu pasti marah. Ngebiarin aku ngeliatin badan aku yang setengah toples ke roomboy itu. Bener kan?" sombongku bisa menebak pikirannya.


Dia sumringah, "Baik juga ya mantan kamu ngasih kamu akomodasi full gratis semuanya."


"Terserah deh kamu mau bilang dia baik kek, dermawan kek, apa kek, bodo amat. Aku ga perduli. Yang penting kamu ada disini nemenin aku." ucapku sambil ku mainkan kedua alisku.


"Kamu ini. Jahat banget sih. Sama aja manfaatin orang kalo kayak gitu." sewotnya yang lalu duduk disebelahku.


"Aku gak manfaatin. Dia sendiri yang ngasih begini. Kamu juga liat sendiri kan dia tadi gimana? Udah aku jelasin juga masih aja kayaknya ngeyel. Ya bukan salah aku lah." jelasku.


Lalu ku naiki pangkuannya. Kami melanjutkan adegan yang sengaja dihentikan tadi.

__ADS_1


__ADS_2