Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 85


__ADS_3

Tika POV.


"Hai, masuk dong!" sapa Lisa begitu melihatku berdiri di ambang pintunya.


Napasku masih tersengal, jantungku berdegup dengan kencangnya, aku sampai melupakan kandunganku hanya untuk berlari ke sini, memastikan keberadaan lelaki tadi. Aku langkahkan kakiku perlahan kemudian mengintip di belakang pintu, kosong. Tidak ada siapa-siapa.


Aku berjalan kembali mendekati Lisa, menanyakan kemana perginya lelaki yang tadi bersamanya. Lisa hanya tersenyum tipis lalu menyuruhku untuk duduk di atas ranjangnya, di ujung kakinya.


"Tanyain Haikal dong, gua udah boleh pulang kapan??" Wajah Lisa memelas mengatakan itu.


Aku mulai mencurigai tingkahnya ini, lalu kembali menanyakan pertanyaan yang sama satu kali lagi. "Kemana cowok tadi? Siapa dia?"


Lisa terlihat menelan salivanya dengan susah payah. Ia terus saja menatapku dengan wajahnya yang memelas tadi. "Gua harap gak ada lagi yang lu tutup-tutupin dari gua. Lu tau betul jua gimana, gua cuman bisa ngasih kesempatan kedua. Gak ada yang namanya kesempatan-keaempatan lainnya. Dan berkali-kali gua bilang, lu udah gua anggap sebagai saudara. Gua gak akan ikut campur urusan privasi lu, tapi kalo udah menyangkut nama gua, artinya gua wajib terlibat."


Sekali lagi aku mencoba menegaskan prinsipku kepada Lisa. Dan ia tahu betul akan prinsipku itu. Sudah sepuluh tahun lebih kami berteman, bersama, saling bercerita dan pernah pula saling membenci, namun semua itu sirna, karena kami mencoba untuk saling menyayangi.


"Yang tadi memang Dana," lirihnya.


"Trus dia mau ngapain lagi? Belum cukup apa kemaren sampe bikin elu begini?" Emosiku semakin menjadi-jadi. Lelaki itu memang sudah sinting.


Lisa langsung dengan cepat memelukku kemudian menangis dan kembali merutuki kesalahannya. Suaranya semakin parau akibat tangisannya kali ini, aku hanya membiarkan. Aku memang emosi, namun Lisa lebih membutuhkan dekapan daripada hanya sekedar curahan egoisme.


***


Langit di luar jendela sudah terlihat semakin meredup, itu tandanya hari akan semakin gelap. Dan siang akan berganti menjadi malam. Sehari lagi telah aku lalui dengan berbagai macam kisah kehidupan dan segala polemiknya. Mungkin beberapa orang di luar sana sedang bersiap untuk pulang dan kembali pada kehangatan keluarganya, tapi tidak dengan Lisa.


Ia sedang berbaring nyenyak, tertidur setelah letih menangis selama beberapa jam tadi. Kupandangi wajahnya yang masih terlihat takut. Aku menghela napasku. Aku sangat menyayangkan semua yang sudah menimpanya. Kapan hidupnya akan bahagia?


Tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka, aku yang sedang duduk di sofa di belakang pintunya terkejut. Untung saja orang yang datang itu ternyata adalah Alex. Bukan lelaki sinting yang selama ini mengganggu hidupku dan hidup Lisa.


Seutas senyuman terpancar dari kedua sudut bibir Alex lalu ia melangkah pelan menyusulku yang sedang duduk di sofa. Di sebelah tangannya terdapat sebuah kantong kresek yang ia letakkan di atas meja di depanku, baru ia duduk berjarak di sampingku. Kami sama-sama memandangi Lisa yang masih terlelap.


"Lu udah lama di sini?" tanya Alex memecah keheningan.


"Habis pulang kerja gua langsung ke sini. Takut Lisa kesepian." Kubalas sebuah senyuman pada Alex saat menoleh melihatnya.


"Trus Jefri mana?"


"Dia balik ke kantor, habis nge-drop gua ke sini."


Alex mengangguk. "Lisa tidur udah lama?"


"Lumayan," jawabku singkat.


Di saat seperti ini rasanya aku merasa canggung berada dalam ruangan hanya berdua dengan Alex. Bukan, bukan berdua, maksudku bertiga dengan Lisa, tapi Lisa sedang tertidur. Astaga pikiran apa ini!!


Aku segera meraih tasku kemudian meraih ponsel yang berada di dalamnya, mencoba memainkan beberapa media sosial mungkin bisa membuat otakku kembali seperti biasanya. Aku hanya merasa tidak nyaman, karena dulu Alex sempat menyatakan perasaannya padaku. Dulu ... dulu sekali saat kami baru saja lulus sekolah.


———————————————


Clara POV.

__ADS_1


Saat ini aku dan Haikal sudah berada di dalam mobil di perjalanan keluar dari kompleks perumahan itu, setelah tadi sempat berpamitan dengan mamahnya saat tugasku dalam mencuci piring selesai. Mamahnya Haikal sempat menitipkan satu pesan bagus untukku yaitu, "Kalo Haikal berbuat yang aneh-aneh lagi sama kamu, langsung telepon tante aja ya?"


Aku terkekeh begitu mendengar pesan yang keluar bebas dari mulut seorang ibu dan memberitahukan itu di depan sang anak. Membuat wajah Haikal memerah merona juga membuatnya menjadi salah tingkah.


Dari responnya tadi dapat aku lihat, sepertinya Haikal sesosok pria yang dekat dengan mamahnya. Dia seperti sangat menghormati mamahnya bahkan terkesan takut. Jika mengingat kembali raut wajahnya tadi, itu cukup membuat kedua sudut bibir di wajahku jadi tertarik, melengkung sempurna.


"Kenapa sih? Dari tadi mesam-mesum aja." Haikal sesekali melirikku lalu pandangannya kembali fokus ke setir mobilnya.


Aku gelagapan saat ia menegurku, melihatku tersenyum tanpa alasan. Tapi seperti ada yang aneh dengan kalimatnya barusan. "Enak aja, yang mesum tuh elu keules!!" tangkasku.


Haikal hanya cengengesan saat aku mulai memperoloknya. Sesaat suasana kembali menjadi hening. Sampai akhirnya Haikal kembali menanyakan beberapa pertanyaan.


"Gimana kabar bunda tadi?"


"Baik. Kenapa tadi yang periksa bunda bukan kamu, eh elu?" Mulai gelagapan.


Haikal terkekeh geli sekali lagi. Kemudian ia menjelaskan jika sebenernya yang menangani pengobatan bunda bukanlah Haikal lagi, sebab ia hanyalah seorang dokter umum yang hanya memiliki dua ilmu spesialis. Dan untuk penyakit bundanya, Haikal belum mempelajari tentang itu.


Mendengarkan cerita singkat itu, membuat aku harus menerima kenyataan hidup bagai menelan pil pahit. Sebab aku juga mengalami kondisi yang sama dengan bunda, kondisi yang mungkin belum separah bunda. Hanya saja aku belum berani menyatakan surat hasil lab itu pada ayah dan bunda saat terakhir aku keluar dari rumah sakit.


"Trus kok diem?" tegur Haikal lagi sembari membuyarkan pemikiranku tadi.


Aku menyanggahnya dengan cepat, kemudian kembali lagi dalam suasana terdiam. Pikiranku melayang, pandanganku jauh terlempar memerhatikan beberapa pengendara motor lain yang sedang berhenti bersama kami di batas lampu lalu lintas ini. Kemudian tiba-tiba ponselku berbunyi.


🎶


Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


We chilled on Sunday


I met this girl on Monday


Took her for a drink on Tuesday


We were making love by Wednesday


We chilled on Sunday


🎶


Aku segera mengambil ponselku di dalam tas yang sejak tadi berada di pangkuanku. Aku melihat nama siapa yang tertera di layar ponselku, ternyata ayah.


"Hallo, Yah? Iya ... udah mau balik lagi ke sana. Nanti aja, Yah. Aku bisa ke sana sendiri. Iya ... besok pagi aja ya? Hm ...." Segera kumatikan sambungan telepon itu lalu meletakkan kembali ponselku ke dalam tas.


"Ayah?"


Aku mengangguk menjawabnya sambil menatap Haikal yang sesekali melirikku. Lalu Haikal tiba-tiba membelokkan setir mobilnya, memasuki halaman parkir sebuah rumah makan. Dan mematikan mesin mobilnya. Mengajakku keluar dari mobil.

__ADS_1


Tadinya aku bingung mengapa Haikal mengajakku ke rumah makan. 'Apa perutnya belum cukup terisi dengan hidangan yang aku masak untuknya tadi?' batinku.


Hingga akhirnya aku tahu, ternyata dia hanya membungkus dua porsi soto daging, lengkap dengan nasi putih yang dibungkus terpisah. Namun yang lebih membuatku terkejut lagi ketika dia mengatakan bahwa yang ia pesan tadi adalah makanan yang diinginkan oleh kedua orangtuaku, terutama bunda.


Aku semakin terpesona akan perhatiannya itu. Aku pikir ia hanya akan memerhatikan aku saja, tapi nyatanya sampai kedua orangtuakupun juga masuk ke dalam daftar perhatiannya. Kalau sudah begini, aku semakin yakin, siapapun wanita yang diperlakukannya seperti ini, mereka pasti akan merasa 'klepek-klepek' dibuatnya.


'Tapi ... tunggu dulu.


Masa iya cuman aku saja yang diperhatikannya seperti ini? Apa jangan-jangan setiap wanita yang mendekatinya juga diperlakukan seperti ini?' batinku semakin berspekulasi lebih.


***


Sesampainya di rumah sakit, Haikal berjalan di sampingku, berbarengan memasuki lobby, berada dalam lift hingga berjalan menyusuri lorong menuju ke ruangan bunda. Dengan sebuah kantong kresek di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya kini menyelip ke dalam kantong celana kainnya yang berwarna hitam.


Sejak tadi memasuki gedung rumah sakit, aku memperhatikannya. Walaupun ia berjalan di sampingku, terkadang langkah kami tidak sama dan tidak seirama. Jadi aku bisa melakukan dua hal sekaligus. Pertama memerhatikannya yang besikap cool, bahkan terkesan cuek. Lalu yang kedua aku bisa melihat ada beberapa pasang mata yang melirik, menoleh dan bahkan menatapiku yang sedang berjalan bersamanya.


Aku mulai risih dengan pandangan itu.


Tangan Haikal meraih knop pintu dan mendorongnya, ia mempersilakanku masuk terlebih dahulu baru ia mengikutiku di belakang. Aku dapati kedua wajah orangtuaku yang begitu sumringah, memandangiku masuk, apalagi dengan adanya Haikal di belakangku. Dan entah mengapa Haikal mencolek lenganku, lalu memberikan kantong kresek yang berisi soto daging tadi ke tanganku.


Aku langsung mengerti maksudnya. 'Mungkin dia malu jika harus memberikannya langsung pada ayah atau bunda,' batinku.


"Nih, Yah! Soto daging, tadi Haikal katanya keinget ayah sama bunda, jadi dibungkusin." Aku memberikan kantong kresek itu pada ayah lalu bunda langsung mengucapkan terima kasihnya pada Haikal.


"Iya, sama-sama, Om, Tante. Kan katanya tadi siang kepingin makan itu. Mamah saya juga suka itu, dulu sering makan di sana. Mungkin nanti lain kali kalau tante sudah sehat, kita bisa makan langsung di sana," tukas Haikal dengan lantang.


Spontan aku menoleh ke arahnya mendengar perkataan itu, sedikit takjub dengan kalimat yang ia utarakan. Dengan lantang tanpa ragu. Aku melongo melihatnya, mulutku terbuka membentuk huruf 'O' bulat sempurna, selama beberapa detik sebelum akhirnya aku kembali pada kesadaran duniawi ini.


"Kamu ngajakin kedua orangtua aku nge-date?" Aku memerhatikannya, kedua bola mata yang tadinya membalas menatapku, kini menjadi mengalihkan arah pandangannya terlihat sambil berpikir.


Lalu dengan agak sedikit kurang percaya diri, Haikal mengatakan, "Yaa ... 'kan sama anaknya udah pernah nge-date. Boleh dong sekali-sekali ngajak orangtuanya?"


Haikal tersenyum menatap kedua orangtuaku secara bergantian, seolah menunggu jawaban dari mereka atas pertanyaannya tadi.


Ayah dan bunda yang sejak tadi memerhatikan kami berdua, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


———————————————


Jangan lupa ritual setelah membaca.


Like, komen, dan favorite-in 😘


Untuk vote poin sementara kalian simpan saja, kumpulkan hingga ribuan 😌


Mulai vote-nya nanti aja di awal bulan yaa 😍


Babay ...


With Love, TikaLiesmana


#salambuciiiinn💋

__ADS_1


__ADS_2