
Warning, adult content!!!
Harap bijak dalam membaca.
Terimakasih.
———————————————
Tika POV.
Jefri datang menemuiku saat aku dan Haikal sudah selesai bercerita tentang Lisa dan Dana. Untungnya wajahku sudah tidak semerah sebelumnya, sebab aku sempat menangis saat menceritakan semua itu.
"Yuk pulang?" ajak Jefri saat melewati pintu lalu mengulurkan tangannya padaku.
"Iya pulang sana, kalian besok kerja 'kan? Ntar aku liatin jadwal check-up kandungannya kapan." Haikal beranjak dari duduknya lalu melepaskan jas putihnya dan menggantungnya di samping lemari.
Aku berdiri sambil meraih uluran tangan Jefri, lalu kami berpamitan dan segera keluar dari ruang kerja Haikal. Membiarkan Haikal kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sedangkan kami langsung pulang menuju rumah.
Selama di perjalanan, aku sempat menanyakan pada Jefri mengapa Alex bisa tahu keberadaan Lisa yang sedang di rumah sakit, ternyata Jefri-lah pelakunya. Benar saja tebakkanku, Jefri menghubungi Alex lalu memberitahukan kondisi Lisa yang sedang di rumah sakit hingga akhirnya Alex memutuskan untuk mendatanginya. Bukan tanpa alasan, mungkin hati Alex masih menginginkan Lisa untuk menjadi pasangan hidupnya.
"Trus kamu ceritain juga tentang kehidupan Lisa selama di Bali?" cercaku.
Jefri langsung mengeryitkan dahinya lalu menatapku kilas, kemudian menyangkal ujaranku itu. Jefri merasa tidak berhak untuk menceritakan apa yang telah di alami oleh Lisa selama di Bali, walaupun dia merasa agak kesal karena Lisa menerima tawaran Dana untuk bertukar informasi itu.
Bahkan sebelum Alex muncul di hadapan Lisa tadi, Alex sempat memaksa Jefri lagi untuk menceritakan apa yang sudah terjadi, hingga Lisa sampai harus dirawat di rumah sakit. Namun lagi-lagi Jefri berkata tidak tahu apapun.
Mendengar penuturan dari Jefri itu membuat pikiranku menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Karena aku dan Jefri sudah mengambil keputusan, bahwa kami tidak ingin menjadi penengah ataupun menjadi perantara mediasi untuk mereka. Biarkan Lisa dan Alex menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dan untuk urusan Dana, biarkan aku dan Jefri yang akan menyelesaikannya.
***
"Kamu tadi udah bilang 'kan sama Lisa kalo kita langsung pulang?" tanya Jefri saat kami sudah sampai di rumah.
__ADS_1
Aku yang baru saja merebahkan tubuhku di ranjang jadi segera duduk dan meraih tasku, merogoh mencari ponselku. Kukirimkan pesan singkat melalui Whatsapp pada Lisa, mengatakan jika aku dan Jefri langsung segera pulang tanpa pamit tadi, karena lupa.
Kembali aku merebahkan tubuhku, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Sedangkan Jefri melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, mungkin hendak membersihkan tubuhnya sekalian menyegarkan pikiran.
Aku terlelap hingga akhirnya aku merasa ada sebuah sentuhan tangan yang menyelip ke dalam baju yang ku kenakan, menyentuh perutku dan membuatku perlahan membuka mata. Kudapati sosok Jefri yang duduk di pinggiran ranjang, menatapiku penuh dengan senyuman di wajahnya. Tanpa menggunakan sehelai benangpun yang menutupi tubuh bagian atasnya.
Mataku mengedip berkali-kali, mencoba membenarkan penglihatanku di bawah cahaya remang-remang lampu kamar. Aku melenguh sambil meregangkan bagian organ-organ tubuhku, menggeliat manja saat sentuhan jari-jemari Jefri kembali menjalar ke bagian tubuhku yang lainnya.
"Kamu kenapa?" Aku bingung dengan tingkahnya yang aneh.
"Emh?" Jefri mendeham kemudian ikut merebahkan tubuhnya di sampingku, membuatku seolah menjadi gulingnya.
Jefri membelit tubuhku, melingkarkan tangannya pada perutku sambil mengusapnya. Ia juga mengapit bagian kakiku dengan kakinya lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leherku. Napasnya yang memburu begitu sangat terasa saat berhembus, membuatku bulu kudukku bergidik.
"Kamu kenapa sih?!" tanyaku sekali lagi dengan tegas. Dia tetap memilih untuk diam, namun semakin mengeratkan dekapannya padaku. Aku semakin bingung dengan tingkahnya.
Aku mencoba meregangkan dekapannya, membuat sedikit jarak di antara kami hingga aku dapat berbalik menghadapnya lalu menatapnya dengan serius. Sedangkan dia, memperlihatkan wajah imutnya sambil menyeringai.
"Aku mandi dulu." Aku mencoba mencari alasan.
"Don't!!" Jefri semakin mengeratkan kakinya. Membuat aku semakin sulit untuk melepaskan setiap sentuhannya.
Dia semakin bermanja dan semakin menarik tubuhku agar berdempet dengannya. Mataku yang masih terasa mengantuk malah semakin membuatku malas untuk meladeni hasrat Jefri malam ini. Namun sepertinya keinginan itu sudah terlalu lama ia pendam hingga malam inilah yang menjadi puncaknya.
Jefri mulai menyelipkan kembali jemarinya, menyentuh setiap jengkal bagian sensitive di tubuhku lalu perlahan ia mengecup bibirku. Menikmatinya saat sengaja kurapatkan celah bibirku. Tiba-tiba tangannya menyentuh pipiku kemudian menjalar ke ceruk leher belakangku, mencoba menahan kepalaku agar tidak menghindar dari aksinya itu.
Tidak berapa lama akhirnya pertahananku roboh, aku tergoda. Memang sudah lumayan lama kami tidak saling bermanja dan saling memuaskan. Akupun merindukan setiap sentuhan jemarinya, belaian lidahnya yang menyapu kenikmatan jiwa ragaku. Ia bagaikan candu bagiku.
Perlahan Jefri mulai melucuti pakaianku, menikmati setiap detik kebersamaan ini lalu memulai permainannya setelah aku kembali melenguh nikmat. Jefri selalu tahu bagaimana caranya membuatku terlena dan menikmati permainannya. Hanya dengan sentuhan lidahnya pada permukaan kulitku, itu sudah cukup membuat bulu kudukku kembali berdiri. Apalagi jika lidahnya sampai bermain di telingaku. Sungguh membuat aku terbuai menikmatinya. Memejamkan mata, merasakan semua itu.
Saat tangannya mulai mencengkram halus pahaku, saat itu pula ia membuatku berbalik arah menjadi bertelentang dan mulai menindihku. Namun tiba-tiba aku teringat suatu hal, yaitu tentang kehamilanku.
__ADS_1
"Sayang, apa boleh lagi hamil?" Aku membelalakkan kedua mataku lalu ia juga mengangkat kepalanya saat kalimat itu selesai ku ucapkan, hanya untuk melihat wajahku.
Mata kami kembali saling menatap hingga ia mengatakan bahwa menurut hasil pencariannya di internet tadi sore, ia menemukan banyak fakta menarik yang membenarkan melakukan hubungan suami-istri saat sang istri sedang hamil itu baik. Bagus untuk meningkatkan mood, mengolah perasaan menjadi semakin bahagia dan juga memperlancar serta meningkatkan siklus peredaran darah.
"Nanti anak kita kenapa-kenapa loh," cegahku saat Jefri sudah bersiap mengambil posisinya.
"Gak ada yang menyatakan semua ini bisa membuat keadaan bayi menjadi tidak sehat atau bahkan mengancam keselamatannya," jelas Jefri lirih sambil menggenggam kedua lututku.
Aku menggigiti bibir bawahku, cemas namun terlanjur bergairah akibat kenakalannya ini.
"Aku janji melakukannya pelan-pelan." Jefri meyakinkanku sambil mengelus lembut bagian pahaku. Aku mengangguk tanda mengizinkannya untuk kembali dalam melakukan permainannya.
Setiap suara yang keluar dari mulut kami seakan menggema dan menjadi bukti bahwa kami saling menikmati setiap gerakkan, setiap sentuhan. Sampai akhirnya kami mencapai puncaknya hingga membuat Jefri merobohkan tubuhnya di sampingku. Napas kami masih saling menggebu, aroma wangi yang khas dari tubuhnya membuatku semakin bergairah. Namun sayangnya, rasa lelah dan kantukku lebih menguasai dari segala rasa, hingga membuatku lebih memilih untuk segera beristirahat kembali dan memejamkan mataku di dalam pelukan hangatnya.
Jefri-pun begitu, ia lebih memilih untuk mendekapku setelah semua pergulatan kenikmatan itu, tanpa membersihkannya, lalu membawaku untuk segera terlelap. Menikmati sisa malam yang kami lalui dengan penuh cinta.
***
Keesokan paginya ...
Kami berdua segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Setelah aku selesai mandi, aku bergegas untuk berdandan dan menyiapkan segala keperluan Jefri, termasuk pakaian kerja dan sarapannya. Seperti hari-hari biasanya. Sementara ia mandi dan pakaian kantornya selesai disiapkan, aku laangsung beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Karena rencananya hari ini aku akan ada jadwal meeting di luar kantor sebelum jam makan siang, maka sarapan pagi ini aku hanya bisa menyiapkan setangkup roti gandum dengan isian cincangan daging kornet, beberapa lembar sayur, irisan buah tomat dan sedikit olesan mayonaise serta serutan keju secukupnya. Lalu tidak lupa dengan secangkir kopi hitam panas.
Begitu aku selesai menyiapkan sarapannya, aku segera membuka kulkas dan menyimpan kembali beberapa sisa bahan yang telah aku gunakan.
'Kini saatnya untuk menu sarapanku," batinku.
Aku meraih dua buah apel yang tergeletak dalam keranjang buah, di atas meja kitchen lalu mengupas kulitnya. Di saat itu pula Jefri turun dari tangga kamar, berjalan mengarah padaku sambil memasang kancing lengan kemejanya.
"Hari ini, hari terakhir kamu kerja 'kan?" Ini adalah pertanyaan pertamaku pagi ini, sebelum kami melewatinya.
Jefri duduk lalu meraih secangkir kopi hangatnya setelah berhasil mengancingkan kedua lengan kemejanya. Lalu mengedipkan sebelah matanya untuk menggodaku lagi. Hingga sarapan kami telah habis, kami langsung segera menuju kantor masing-masing. Dan seperti biasanya, pagi ini pun Jefri masih mengantarkanku terlebih dahulu menuju kantorku barulah ia pergi ke kantornya.
__ADS_1
Bersambung ...