Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 117


__ADS_3

Max POV.


Aku menerima telepon dari orang-orang suruhanku. Mereka mengatakan bahwa mereka baru saja menemukan jejak Lisa. Bukan, bukan jejak, melainkan mobil Lisa yang terparkir pada sebuah halaman parkir outdoor di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di daerah ini, HORE. Dan mereka juga mengatakan bahwa akan segera melakukan penyelidikkan.


Hati ini terasa sedikit tenang mendengar kabar itu, walaupun mereka belum ada mengabari tentang keberadaan Tika. Tapi tiba-tiba saja telingaku mendengar suara pintu mobil yang tertutup berkali-kali dari depan rumah. Membuatku segera mematikan sambungan telepon tanpa mengatakan apa-apa lagi pada orang suruhanku itu. Begitu aku membalikkan badan, dari kejauhan pintu depan rumah terbuka mamah muncul dari balik pintu diikuti dengan Tika.


"Loh, Max, ada apa ke sini? Kok gak bilang mamah dulu? Tau gitu kan tadi mamah beliin makan siang sekalian." Dengan santai mamah mengatakan kalimat itu dari kejauhan begitu melihatku berdiri mematung di posisiku sekarang.


"Loh, Sayang? Kamu juga pulang mau makan siang?" sahut Tika yang juga terkejut melihat Jefri yang duduk di sofa. Mungkin masih dengan linangan air matanya. Entahlah, sebab dari posisiku berdiri sekarang, aku tidak dapat melihat Jefri dengan jelas karena terlindung oleh tangga yang menuju lantai atas.


Seketika aku mengembuskan napasku, lega melihat kedua wanita ini terlihat baik-baik saja. Bahkan mereka berdua terlihat gembira dengan wajah yang berseri. Tapi ada sedikit rasa amarah di dadaku ini, pasalnya ponsel yang mereka miliki, masing-masing dalam keadaan tidak aktif. Membuat aku dan Jefri berpikiran yang tidak-tidak.


"Sayang? Kamu kenapa?" Tika sontak terkejut dengan apa yang dilihatnya lalu perlahan mendekati suaminya itu. Tapi Jefri malah dengan spontan berdiri lalu memeluk erat istrinya. Tidak ada satu kata pun yang keluar daru mulutnya, hanya sisa isak tangisnya. Aku dapat memahami dengan apa yang ia rasakan dan aku dapat memaklumi tingah lakunya itu.


"Kenapa hape kalian gak aktif?" Kalimat itu yang pertama kali muncul dari mulutku, saat Tika mengatup mulutnya, mungkin hendak mengatakan sesuatu.


Mamah juga terlihat bingung dengan semua yang ia lihat, apa lagi melihat Jefri yang begitu lemah saat ini. "Ada apa ini?" ucap Mamah sambil menepuk pundak Jefri.


Aku menghela napasku. Lalu mulai mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dengan perlahan aku menjelaskan semuanya dari awal hingga aku dan Jefri memiliki pemikiran yang sama dan juga ketakutan yang sama. Dan sialnya lagi, sampai saat ini orang-orang suruhanku belum memberikan kabar lagi tentang keberadaan Lisa. Sebab tadi, mereka hanya mengatakan jika mereka baru saja menemukan mobil pribadi miliknya.


Aku dapat melihat dengan jelas raut wajah Tika saat itu, ia shock! Dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Jefri masih memeluknya.


"Kenapa bisa begini? Jelasin ke mama, siapa Dana, trus apa hubungannya Lisa, Dana sama Tika? Hm?" Mamah berseru padaku.


Namun tiba-tiba saja aku baru mengingat semuanya, jika mamah tidak mengetahui tentang Dana. Lalu sekarang bagaimana caraku menjelaskannya pada mamah?


"Tunggu dulu! Lisa hilang?" Tika bertanya padaku untuk meyakinkan. Aku hanya bisa mengangguk dari kejauhan. Ya jarak kami berdiri lumayan jauh, mungkin sekitar 3 meter.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba saja Tika panik, membuat Jefri harus segera menenangkannya sebab jika tidak, maka Tika akan ... pingsan!


Dan benar saja, seketika tubuhnya melemah. Untung saja Jefri dengan sigap memegang tubuhnya lalu kini mengangkatnya, merebahkannya ke sofa. Jika sedikit saja Jefri tidak gesit mungkin Tika akan terjatuh ambruk ke lantai. Yang mana akan membahayakan dirinya dan juga kandungannya.


Mamah semakin panik, aku segera menelpon Haikal untuk meminta bantuan sebab tidak mungkin jika aku membawa Tika ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Lagi pula aku masih harus mengurusi Lisa.


Akhirnya, Haikal pun juga ternyata sepemikiran denganku. Dia mengusulkan jika dokter kandungan saja yang ke sini bersama dengannya. Aku juga sembari menceritakan secara garis besarnya saja pada Haikal tentang apa yang telah terjadi.


***


Tika kini sudah berada di dalam kamarnya. Setelah sebelumnya sempat diperiksa oleh dokter kandungan yang tidak lain dokter itu juga merupakan salah satu teman Haikal di rumah sakit. Beliau juga yang pernah mengecek kandungan Tika dan menyatakan jika ia akan memiliki anak kembar.


Dengan sekuat tenaga tadinya Jefri mengangkat tubuh istrinya yang kini sudah lumayan berat dengan tambahan dua kehidupan yang ada dalam perutnya. Membuat Jefri sekarang merasa ngos-ngosan. Padahal sebelumnya aku menawarkan padanya untun bersama-sama berdua mengangkat Tika, akan tetapi Jefri menolak. Karena menurutnya akan lebih susah jika dilakukan dengan dua orang.


Kami semua berkumpul di kamar Tika. Menunggunya sadar sambil menunggu kabar dari orang-orang suruhanku untuk mencari Lisa. Mamah kini duduk di pinggiran ranjang, ditemani oleh Jefri yang sambil menjaga Tika. Mereka saling mengobrol dan sayup-sayup aku mendengar mamah menanyakan pada Jefri tentang Dana. Dan aku yakin, Jefri bisa mengatasi pertanyaan mamah itu. Dia tahu mana yang harus dikatakan dan mana yang tidak.


Sedangkan aku bersama Haikal dan temannya yang sekaligus merupakan dokter kandungan itu, namanya Samuel. Kami berdiri di depan pintu balkon yang sengaja aku bukakan, agar udara segar juga masuk ke kamar ini. Tidak hanya udara sejuk dari AC. Samuel menjelaskan padaku dan juga Haikal tentang kondisi Tika yang seharusnya tidak boleh tertekan saat ini. Sebab tubuhnya harus bekerja ekstra untuk kedua bayi yang kini sudah mulai tumbuh besar di dalam perutnya.


Kami semua mulai mencemaskan Tika terlebih lagi mamah dan Jefri. Sebab sudah setengah jam berlalu, tapi belum ada tanda-tanda bahwa ia akan sadar dari pingsannya. Sampai akhirnya bi Mince muncul di ambang pintu, berjalan membawakan kami semua minuman, teh hangat. Memang aku yang meminta untuk membuat itu sebelumnya. Kemudian satu per satu bi Mince menyodorkan nampan yang dibawanya dan kami semua menyambutnya.


"Bibi, duduk di sini aja. Takutnya nanti kami butuh apa-apa." Aku meminta bi Mince untuk duduk di salah satu sofa yang ada di kamar ini. Menunggu sampau Tika kembali sadar, sebab bi Mince juga sudah kami anggap sebagai salah satu anggota keluarga.


Tiba-tiba saja ponselku berdering.


🎶


My location unknown tryna find a way back home to you again

__ADS_1


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎶


Aku merogoh benda tipis persegi panjang itu dari saku celanaku, lalu melihat salah satu nama orang suruhanku itu tertera pada layar kaca. Dengan bergegas aku keluar dari kamar dan menutup pintu balkon. Ya aku menerima panggilan telepon itu di balkon kamar Tika.


"Iya, gimana?" sahutku sambil menempelkan ponselku itu pada telingaku. Lalu aku membalikkan badanku menatapi Tika yang masih terbaring di atas ranjangnya. Sedangkan mamah memberikanku tatapan matanya yang tajam, membuatku merasa terintimidasi dengan itu.


Kemudian aku kembali membalikkan badanku menghadap ke arah luar. Kebetulan arah pemandangan balkon kamar Tika ini menuju ke jalanan samping. Sebab rumah mamah terletak di pojokan jalan. Hingga membuatku bisa dengan leluasa berbicara tanpa takut ada tetangga yang mendengar.


Orang suruhanku itu mengatakan, jika mereka sudah mengetahui di mana posisi Lisa sekarang. Yang mana ada kemungkinan lelaki be*jat itu juga ada bersama Lisa saat ini. Aku merasa geram mendengarnya. Lalu aku mengatakan pada mereka untuk segera mengirimkan di mana lokasi itu, pasalnya saat ini mereka berada di sana, sedang mengintai pergerakkan di sana.


Dan tanpa basa-basi lagi, aku segera memutuskan sambungan telepon lalu menunggu beberapa detik hingga sebuah lokasi mereka kirimkan padaku melalui pesan singkat Whatsapp. Aku mengecek terlebih dahulu lokasi itu dan aku dapat menyimpulkan bahwa tempat itu adalah sebuah rumah kecil pada suatu perumahan sederhana, yang lingkungan sekitarnya terbilang masih jarang ada penghuninya. Bahkan bisa dibilang jika perumahan itu seperti hanya sebuah wadah untuk investasi tanah dan lahan. Oleh karena itu, bisa dibilang di sana daerah yang sepi. Jauh dari kata keramaian.


Lalu aku kembali menekan layar ponselku untuk menghubungi Reza. Dia adalah satu-satunya saudara laki-laki dari ayahnya Lisa. Saat ini dia berada di London bersama keluarganya untuk mengurusi anak perusahaanku. Beberapa detik aku menunggu sampai akhirnya nada sambung telepon terhenti dan berganti dengan suara beliau yang menerima panggilan teleponku.


Tanpa berpikir panjang lagi, aku memberitahukannya jika keponakkannya saat ini kemungkinan dalam keadaan yang sangat membahayakan. Hanya saja aku juga memintanya untuk tidak khawatir akan hal ini, sebab aku memiliki rencana lain untuk menyelamatkan Lisa, yaitu dengan cara kotor.


Sebab aku pikir, rasanya tidak mungkin jika lelaki be*jat yang sangat terobsesi pada adikku itu akan berhenti mengganggu hidup kami, jika ia dibiarkan untuk hidup!


"Za, bisa sekalian bantu aku? Iya, aku mau ini berakhir. Baik, aku akan kirimkan location-nya. Makasih," ucapku yang kemudian memutuskan sambungan telepon itu lalu meneruskan mengirim peta lokasi itu padanya.


Reza sudah sangat mengerti akan putaran dunia hitam seperti ini. Bahkan dulu, Reza juga yang sempat mengajariku cara memegang pistol dan cara menembakkannya. Sebulan sekali ia selalu membawaku ke tempat pelatihan menembak. Oleh sebab itu, aku memiliki sebuah pistol yang sudah bertahun-tahun lebih tidak aku sentuh lagi. Semenjak aku mengenal Shila.

__ADS_1


Dan sekedar untuk catatan, aku belum pernah membunuh seseorang. Namun untuk menyaksikan kematian orang lain, sering. Apa lagi kematian para orang yang berusaha untuk memcelakai Shila dan kedua anakku. Sebab banyak sekali musuh yang berpura-pura baik padaku. Hingga akhirnya membuatku tidak memercayai sipapun lagi di dunia ini, selain keluargaku sendiri.


Bersambung ...


__ADS_2