Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 138


__ADS_3

Happy fasting ...


And happy reading ...


Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)


#salambucin!


—————


Still Haikal POV.


Aku ikut senang melihat Lisa yang sudah bisa terbebas dari alat penyangga leher itu. Tubuhnya sudah semakin kuat. Setiap hari ia mengikuti kelas berjalan yang kuberikan bahkan Alex juga dengan tulus menemaninya setiap hari.


"Kal, kalo aku sudah bisa jalan, aku boleh pulang 'kan?" tanya Lisa antusias.


Ya, Lisa sulit untuk menggerakkan tangan dan kakinya secara sempurna akibat kecelakaan yang ia alami sekitar sepuluh hari yang lalu. Jaringan organ tubuhnya seakan kaku, untung saja bukan mati rasa.


Dengan tekadnya yang kuat, Lisa mau mengikuti semua test dan pelatihan recovery yang aku sarankan padanya. Bahkan dia tidak pernah mengatakan kata lelah saat berlatih.


Keinginannya untuk kembali bisa berjalan pun semakin membuatku bangga melihatnya. Entah hubungan apa yang pernah terjalin antara Lisa dan Max. Yang jelas, yang saat ini aku lihat, dia bahagia bersama Alex. Dia selalu tersenyum untuk Alex.


"Hust, panggil dokter, ini di lingkungan kerja, kamu gimana sih?" tegur Alex pada Lisa yang seraya mengerucutkan bibirnya.


Aku tertawa melihat mereka. "It's oke, gak apa-apa, Lex."


"Mmm aku mau keluar sebentar, beli makan. Kamu gak apa-apa ya aku tinggal?" tanya Alex pada Lisa.


"Gak apa-apa kok. Lagian bentar lagi makanan aku juga dateng. Iya 'kan, Kal?" canda Lisa yang aku setujui.


"Ya udah aku pergi dulu. Nitip ya, Dok?" goda Alex.


"Titipin sama perawat jaga di depan." Aku membalasnya.


Begitu Alex menghilang dari balik pintu, aku kembali menolehkan arah pandanganku pada Lisa. Melihatnya yang masih saja mencoba menggerakkan lehernya.


Aku menarik sebuah kursi, kemudian duduk di kursi yang aku tempatkan tepat di samping brankar yang di tempati Lisa. Aku mengembuskan napasku.


"Lisa, aku mau tanya sesuatu." Aku kembali memulai pembicaraan serius padanya. Kulipatkan kedua tanganku di depan dada dan menatapnya. Lisa membalas menatapku.


"Kamu serius 'kan sama Alex?" tanyaku yang seketika membuat Lisa membeku tak bergerak.


Dapat kulihat dengan jelas untuk saat ini raut wajahnya yang berubah drastis. Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan saja. Memastikan bahwa semuanya harus kembali ke sedia kala.


Dan entah Lisa memikiki hubungan seperti apa dengan Max, dulu atau pun sekarang. Dan lagi, aku hanya ingin, mereka kembali menjalaninya kesehariannya masing-masing seperti biasa. Tanpa adanya perasaan yang kembali membelenggu mereka.


"I—iya, sure." Lisa hanya mengatakan kalimat itu. Namun dengan raut wajahnya yang menegang.


"Kebahagiaan akan datang, jika kamu mampu memberikan kebahagiaan itu sendiri untuk orang lain. Karena bahagia bukan dari orang lain, tapi diri kamu sendiri." Kalimat itu terlintas begitu saja di otakku kemudian aku lontarkan pada Lisa.


"Aku akan coba sama Alex," lirih Lisa dengan bola matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Good. That's the right choice," ucapku sambil berdiri, kemudian berbalik pergi. Berlalu dari hadapannya.


Dengan pelan aku menutup pintu kamarnya. Selama ia dirawat di rumah sakit ini, banyak juga perbincangannya dengan Alex yang tidak sengaja kudengar. Melihat ketulusan Alex dalam memperlakukannya, aku rasa itu akan membuat Lisa jauh lebih bahagia.


Dan jika benar Max meliliki masa lalu dengan Lisa, bukannya lebih baik jika mereka melupakan semua itu?


Yeah! Semoga saja kelancanganku ini tidak akan membuat suatu masalah untuk ke depannya.

__ADS_1


Aku kembali melangkahkan kakiku, pergi menuju ruangan kerjaku. Mencoba untuk kembali menjernihkan pikiranku, sebelum nanti sore aku kembali memasuki ruangan UGD untuk berjaga.


—————


Max POV.


Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Ya, ini sudah sering terjadi, semenjak aku mengarahkan ujung pistol ke jantung lelaki itu. Kemudian menyematkan timah panas itu di dadanya. Aku merenggut kehidupannya.


Sekali lagi aku yakinkan diri ini. Dia pantas mati!


Aku mengerjabkan mataku lalu menoleh pada Shilla yang masih tertidur lelap di sampingku. Memejamkan matanya sambil terbuai dengan indahnya mimpi yang ia rasakan.


Menetapkan hati itu tidak mudah, apa lagi untuk menjaganya. Semua butuh perang batin dan berbagai macam pergolakkan jiwa. Dan untukku, sudah cukup rasanya aku mengalaminya. Aku tidak ingin merusak apa yang sudah ada saat ini.


Kupandangi wajah istriku dengan teliti. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurku. Pergi ke lantai bawah dengan membawa serta laptopku. Meneliti kembali tentang data perusahaan yang menyebabkan perselisihan tender antara anak perusahaanku dengan perusahaan Jefri, adik iparku.


Ya, padahal sudah berkali-kali aku teliti tentang semua hal itu dan aku tidak menyangka bahwa masih saja ada yang tidak terawasi olehku.


Mengingat tentang semua itu, membuat aku semakin yakin, kalau lelaki psikopat itu tidak akan lama melakukan persembunyiannya. Dia pasti akan muncul dan aku hanya perlu memancingnya. Namun aku juga tidak pernah lagi merasakan ketenangan sejak hari itu. Ada rasa getir, takut kalau-kalau lelaki psikopat itu semakin bertindak lebih.


Kini kusandarkan tubuhku pada sandaran sofa, mencoba untuk menenangkan perasaanku sejenak. Kacau, itu yang aku rasakan. Aku melirik jam dinding yang menempel di atas televisi, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi.


Aku kembali menatap layar kaca laptopku, mengerjakan beberapa laporan keuangan, yang harus aku cek sebelum aku menyetujuinya untuk melakukan pencairan gaji karyawan di perusahaanku.


Tak terasa aku mengerjakan pekerjaan itu hingga sinar mentari pagi menyelinap, malu-malu masuk ke dalam rumah melalui celah tirai di jendela. Sinar hangat itu menyapa ujung kakiku, memaksaku untuk segera berdiri dan menggeser tirai tersebut, agar hangatnya mentari dapat menyapu rasa dingin di tubuhku.


Aku kembali duduk bersandar di tempat semula. Mengangkat kedua kakikubdan meletakkannya bertumpang di atas meja. Lalu meletakkan kembali laptop itu di atas pangkuanku melanjutkan pekerjaan tadi yang sempat tertunda.


***


Seseorang menepuk-nepuk pundakku. Aku sontak membuka mata, mengerjab berkali-kali. Ternyata tanpa sadar aku kembali tertidur tadi pagi di sofa ini. Aku menolah melihat siapa orang yang sudah membuatku bangun dari lelapku..


Aku meregangkan otot-otot tubuhku lalu segera menutup layar laptop itu dan meletakkannya di atas meja, beserta dengan beberapa file dan ponselku di sana. Kemudian aku berdiri beranjak naik ke lantai atas, kembali ke kamarku.


Shilla keluar dari kamar kami, di saat aku baru saja menginjak anak tangga yang terakhir. Kemudian dia menghampiriku, menanyakan aku dari mana saja, sebab saat ia bangun dari tidirnya, ia tidak melihat keberadaanku di sampingnya.


"Aku kebangun tadi malem, trus gak bisa tidur lagi. Jadi ngerjain tugas kantor di bawah, eh malah ketiduran di sana." Aku mengecup kening istriku. Lalu mencecap bibirnya sekilas. Sebelum meninggalkannya untuk pergi menuju kamar mandi dan bersiap ke kantor. Sedangkan ia langsung masuk ke dalam kamar anak kami dam megecek mereka.


Selesai bersiap dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Shilla di atas tempat tidur, aku kembali turun ke lantai bawah. Menuju ke meja makan, untuk sarapan bersama mereka.


"Aku sama mamah nanti mau ke supermarket trus mungkin ke baby shop ya, Mah? Mamah mau beli sesuatu buat anak Tika. Gak apa-apa 'kan?" izin Shilla padaku.


"Iya, gak apa-apa." Aku menjawab di sela makanku. "Trus kemaren kalian jadi jengukin Tika? Gimana keadaan dia?"


"Udah lumayan baik ya, Mah?" Shilla menyahuti dengan meminta mamah ikut menjawab.


"Iya, dia udah mendingan. Cuman sekarang kangen anaknya aja. Wajar, kan terpisah," Mamah menimpali.


"Memang itu si kembar gak boleh pulang ya? Rawat jalan gitu?" tanya Shilla.


Kemudian aku menjelaskan pada Shilla dan juga mamah tentang kondisi anak Tika yang kembar itu. Mereka berdua sangat rentan akan bakteri dan virus. Oleh karena itu, Haikal hanya ingin memastikan sistem kekebalan tubuh dari kedua bayi itu. Agar tidak ada rasa menyesal dikemudian hari.


Lagi pula, jika dipaksakan untuk membawa pulang si kembar malah akan membahayakan keselamatan dari bayi itu sendiri. Begitu kabar terakhir yang aku dapatkan dari Haikal.


Setelah selesai sarapan, aku segera berpamitan untuk pergi ke kantor. Mengecup pipi mamah, istriku dan juga kedua anakku.


Di sepanjang perjalanan menuju kantor, aku mencoba menghubungi Jefri. Aku ingin bertemu dengannya untuk membahas beberapa model rancangan untuk penyelesaian proyek yang kami kerjakan bersama. Dan Jefri menyetujuinya, aku memintanya untuk datang ke gedung yang menjadi tempat persembunyian Igo. Agar Igo juga dapat menjelaskan beberapa perihal tentang kejanggalan yang ia temukan.


***

__ADS_1


Banyak hal yang aku bahas bersama Jefri dan Igo. Bahkan Igo juga membantu dalam proses realisasi dan penyelesaian proyek kerja dengan Jefri, agar semuanya terlihag aman dan tidak mencurigakan pihak pemilik tender. Dan rencana itu lu bagus untuk aku dan juga Jefri.


Di saat kami sudah hampir selesai untuk membahas strategi yang harus kami lakukan, betapa terkejutnya aku begitu melihat Reza melintas di luar ruangan.


"Itu Reza?!" tanyaku pada Igo dan dia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.


Aku segera berdiri, beranjak dari kursiku dan berjalan keluar untuk menemuinya. Sudah begitu lama aku tidak bertemu dengannya. Kami memang selalu berhubungan, tetapi hanya melaui pesan singkat dan juga video call. Sebab Reza kini sudah tinggal dan menetap di London sejak beberapa tahun yang lalu. Dia memegang cabang perusahaanku yang ada di London.


"Reza?!" seruku tepat di belakangnya berdiri. Dia membalikkan tubuhnya, sama terkejutnya dengan aku, lalu langsung memelukku. Menepuk-nepuk pundakku. Dan kami larut dalam suasana yang tidak dapat aku jelaskan bagaimana.


Kemudian Reza membawaku ke ruangannya, lebih tepatnya lagi ke kamarnya tinggal dengan istrinya untuk sementara waktu.


"Aku dan Icha sudah hampir seminggu di sini. Kami sengaja tidur di sini, agar lebih aman. Kami juga setiap hari menjenguk Lisa, aku minta maaf atas kekacauan yang di sebabkan olehnya. Mungkin aku yang salah mendidiknya ...," ucap Reza pelan seiring dengan cengkraman tangan Icha di pundaknya.


"Gak ada yang salah, Za. Lagi pula semua sudah terjadi."


"Aku dan Icha sudah mutusin, sementara waktu kami akan di sini dulu sampai Dana bisa aku tangkap. Kali ini biar jadi urusanku."


"Tinggal lah di rumahku. Lagi pula aku, Shilla juga anak-anak akan tinggal di rumah papah sementara waktu. Aku ingin mereka dan juga Tika tinggal serumah dulu. Sampai keadaan benar-benar kondusif," pintaku.


Reza terlihat berpikir lalu menatap Icha, istrinya. "Mungkin kalau Lisa sudah boleh pulang ke rumahnya sendiri, aku dan Icha akan menumpang di sana."


Aku sudah tidak bisa lagi untuk memaksa Reza, jika Reza sudah merencanakan semua itu. Meskipun aku sangat ingin membantunya. Reza juga menceritakan padaku tentang kondisi Lisa. Ya, aku memang sudah lama tidak mendengar bagaimana kondisi Lisa. Entahlah, hanya saja, setiap kali Haikal ingin membicarakan tentang dia, aku selalu menolaknya.


"Tapi mungkin hari ini aku dan Icha tidak bisa menjenguknya. Kami ingin istirahat dulu sehari sampai dua hari," ucapnya seraya terkekeh pelan.


Selesai mengobrol dengan Reza dan juga istrinya, aku memutuskan untuk segera pulang, kembali ke kantor. Begitu pula dengan Jefri yang tadi sempat aku tinggalkan berdua bersama Igo.


Namun, saat dalam perjalanan, tiba-tiba aku terpikirkan untuk menemui Lisa. Bukan untuk urusan hati melainkan untuk meluruskan segalanya. Bagaimanapun juga, aku merasa bersalah padanya. Dia mengalami kecelakaan pun, ada kemungkinannya karena perkataanku sebelumnya padanya. Dan ada satu hal penting lagi yang ingin aku katakan, agar semuanya bisa kembali jelas. Dan kami bisa menjalani hidup kami.


Aku belokkan setir mobilku memasuki area parkir outdoor rumah sakit. Kemudian aku bergegas berjalan menuju lobby, bertanya sekali lagi ruangan Lisa.


"Permisi, pasien atas nama Lalisa Florencia ada di kamar berapa?" tanyaku pada perawat jaga di meja resepsionis.


"Sebentar ... sudah dipindahkan ke kamar nomer 612, Pak, di lantai enam," jawab perawat itu dengan ramah.


"Terima kasih." Aku bergegas berjalan menuju pintu lift dan menekannya, menunggu pintu lift terbuka, kemudian masuk dan menuju ke lantai enam.


Setelah sampai di depan pintu kamarnya, aku melihat Lisa yang sedang berbaring sendirian di dalam sana. Dan tanpa mengetuk pintu kamarnya, aku langsung menekan kenop pintu dan mendorongnya. Melangkahkan kaki untuk bertemu dengannya.


Dia terkejut melihatku muncul. "Max?!" pekiknya yang kemudian berusaha untuk duduk.


Aku sengaja tidak membantunya untuk duduk, sebab aku tidak ingin membuatnya salah mengartikan kebaikanku. Dan aku juga tidak ingin membuat hatiku kembali terbuka.


"Aku seneng kamu jengukin aku. Haikal ya yang cerita?" Dia tampak senang. Tapi tidak denganku.


Dari caranya menanggapi kehadiranku, sepertinya aku tidak salah terka. Aku menatapnya dengan airmata yang sengaja aku tahan.


"Kalau Tika yang jenguk kamu, apa kamu akan sesenang ini?" Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.


"Kenapa jadi bahas ini?"


"Maaf, kalau aku ataupun Tika gak pernah jengukin kamu selama di sini. Aku sengaja minta Tika buat gak mikirin hal lain dulu. Mungkin Haikal sudah cerita ke kamu. Tika selamat, anak-anaknya juga. Walaupun sebelumnya, aku pingin banget bunuh kamu karena kedua bayi itu gak bernapas," ucapku to the poin, yang berdiri lumayan jauh darinya.


Lisa kembali menundukkan wajahnya. "Aku tahu, gak sepantasnya aku iri dengan Tika. Derajat aku sama dia berbeda jauh. Jadi mustahil kalau semua orang bisa sayang sama aku. Apapun yang akan aku lakukan pasti salah di mata kalian yang menyayangi dia ...,"


"Kamu salah. Kami semua justru menyayangi kamu. Seharusnya kamu sadar itu. Kalau kami gak sayang kamu, lalu buat apa kami datang ke sana? Rela dipukuli, berkelahi bahkan Tika yang datang sendiri pertama kali, tanpa kami. Dia lakukan itu dengan tulus karena sayang sama kamu. Tapi sepertinya rasa iri kamu, dengki di hati kamu itu gak berkurang sedikit pun buat dia." Aku masih menahan amarahku dan mencoba untuk memperjelas semuanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2