Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 97


__ADS_3

Jefri POV.


Penerbangan menuju Maldives membutuhkan waktu sekitar dua belas jam dan dengan dua kali tujuan transit, barulah setelah itu sampai di kota Maldives.


Ya, aku menyebutnya kota, sebab di sana semua serba maju dan modern. Tapi tujuanku ke sana untuk berlibur, menikmati hari berdua dengan istriku, sebelum anak kami lahir. Dan aku juga ingin membuang kejenuhan kami dalam bekerja selama ini. Dan yang lebih menguntungkannya lagi, aku berencana lalu Lisa dan Alex yang mewujudkan segalanya. Kami beruntung memiliki mereka.


Saat ini aku dan Tika masih berada dalam pesawat, menuju ke kota transit kami yang pertama, yaitu Kuala Lumpur.


"Kalo masih ngantuk, tidur lagi aja." Aku menyarankan Tika untuk kembali tidur, tapi dia menolaknya.


Dia malah menceritakan tentang kakaknya, Haikal, yang akan segera menikah. Sebab saat mereka berkumpul di luar tadi, aku sedang di dalam untuk check-in tiket. Hingga akhirnya mereka semua pulang, saat aku harus membawa Tika untuk di periksa ke ruangan dokter di bandara.


Tika memang mencintai kedua kakaknya, terlebih lagi pada Haikal sejak ia menikah denganku. Sebab Haikal lebih bisa memerhatikannya. Dan aku masih ingat, saat dahulu Haikal mewanti-wantiku dengan segala ancamannya. Aku terkekeh jika mengingat itu.


Ppp


"Oh iya, tadi Alex ngomong apa sama kamu?" tanya Tika sambil bergelanyutan manja di lenganku.


"Em, dia cuman ngasih saran."


"Apa?" Dia menatapku.


"Katanya pelan-pelan kalo mau ngelakuin itu, kesian ntar kesundul kepala anak," lirihku yang kemudian membuat kami seketika terkekeh geli. Ada-ada saja kelakar yang Alex berikan.


Namun saat melihat pelukkan Lisa pada Tika tadi, sesaat sebelum kami pergi, membuat aku tersadar akan satu hal. Bahwa tidak selamanya persahabatan itu berjalan mulus, begitu pula suatu hubungan rumah tangga. Tidak semuanya selalu baik dan mesra, ada kalanya dihantam badai, seperti pernikahan kami ini. Dana-lah yang menjadi badainya. Dan kami harus kuat.


Seperti hubungan persahabatan antara Tika dan Lisa. Mereka selalu belajar untuk menjalankan hubungan mereka agar tetap berjalan pada porosnya. Walau terkadang selalu berselisih, tapi mereka saling mencari jalan keluarnya.


Aku banyak belajar dari hubungan mereka. Dan hubungan persahabatan mereka benar-benar sudah terbukti bisa untuk membuang ego dan gengsi masing-masing. Oleh karena itu tali persahabatan di antara mereka tetap terjalin walau sudah berjalan lebih dari dua abad bersama.


Tak hanya itu yang aku lihat dari mereka berdua. Melainkan bagaimana sikap Tika yang selalu sabar dan menerima Lisa kembali walaupun Lisa sempat mengkhianatinya. Begitu juga dengan kegigihan Lisa untuk meminta permohonan maaf dari Tika. Tiada hentinya dan tiada kata menyerah.


Begitu pula yang aku inginkan dalam hubungan pernikahan kami. Tetap bersatu walau apapun yang menerpa. Semoga.


Aku semakin mendekap Tika dengan erat dan dia juga membalasnya dengan erat. Kami menikmati perjalanan ini berdua.


***


Setelah melewati perjalanan selama dua belas jam duduk di dalam pesawat, akhirnya kami tiba di Maldives, kota kecil dengan hamparan laut yang menakjubkan. Begitu pula dengan landasan pacu Ibrahim Nasir International yang berbatasan langsung dengan lautan.


Tidak berlama-lama lagi, kami langsung disambut oleh pegawai dari tempat dimana kami menginap. Lalu dibawa menuju penginapan mereka.


Aku memutuskan untuk memberi kabar pada mereka yang telah mengantarkan kami ke bandara tadi pagi, sedangkan Tika sedang asyik mengagumi pemandangan dari hamparan laut yang memanjakan matanya.


Berkali-kali dia mengucapkan kekagumannya akan apa yang dilihatnya. Hingga akhirnya kami sampai pada kamar kami. Tempat di mana kami akan memghabiskan waktu selama tiga hatu ke depan.


"Waaaahhh!!" pekik Tika begitu berada di dalam kamarnya.


Angin berhembus kencang, membuat pakaian yang di kenakannya tertiup angin sepoi-sepoi semakin membuat dirinya terlihat cantik sempurna di mataku. Tika sibuk mengagumi pemandangan di sana, sedangkan aku sibuk mengagumi dirinya yang tak habis-habisnya memesonaku.


Aku berjalan mendekatinya lalu merengkuh tubuhnya dari belakang. Menyibak rambutnyabyang tergerai ke satu arah agar aku dapat mencium tengkuk lehernya. Dia ikut memegang kedua tanganku yang melingkar di perutnya.


"Di sini kamu mau pake bikini jenis dan model apa pun, terserah kamu. Atau mau gak pake sehelai kain pun juga, aku gak akan protes," bisikku di telinganya yang selalu kuakhiri dengan ******* pada daun telinganya.


Tika terkekeh geli kemudian aku mengangkat tubuhnya, membawanya ke ranjang untuk beristirahat sejenak. Aku kembali merebahkannya ke atas ranjang. Kami beradu pandangan dengan tanganku yang membelai halus kulit lengannya. Sebelumnya perlahan aku telah mengecup salah satu pipinya.


——————————————————

__ADS_1


Haikal POV.


Pagi ini setelah selesai mengantarkan mamah menemui Tika di bandara, sebelum kepergiannya untuk liburan. Aku membawa mamah ke rumah sakit, sebab mamah ingin bertemu dengan calon menantunya.


Ya benar, aku sudah mengatakannya pada mamah, bahwa aku telah melamar Clara dan dia menerimanya. Mamah terlihat bahagia dan bersemangat mendengar kabar ini. Hanya saja aku belum sempat mengabarkan pada Max.


Aku pikir, biarkan mamah dulu yang bertemu dengan Clara, setelah itu bertemu dengan kedua orangtuanya Clara barulah terakhir melakukan makan malam bersama untuk meminang Clara secara resmi.


Ya sebelumnya aku dan Clara sudah membicarakan masalah ini. Bahkan Clara tadinya meminta agar acaranya dilakukan dengan sederhana saja, akan tetapi aku tidak ingin membuat keluarganya kecewa. Lagipula tanganku masih ada. Rumah pun aku sudah memilikinya sendiri. Jadi tidak apa.


Aku dan Clara baru membicarakan hal ini tadi malam. Sesaat setelah ia memakan obatnya.


"Gak papa kok, sederhana juga gak papa. Yang penting sama kamu," lirihnya tadi malam. Aku bahagia mendengar ucapannya itu.


Clara tidak banyak menuntut sesuatu padaku, bahkan untuk acara oenetapan tanggal pun awalnya dia tidak memintanya, katanya 'hanya buang-buang duit'. Tapi tidak bagiku.


Semua hal yang menuju ke tanggalnya nanti, itu sangat penting dan berarti bagiku. Ya, aku ingin membuat semuanya mendekati sempurna, karena semua ini memang khusus untuk wanita sempurna milikku.


Sebelum sampai di rumah sakit, mamah mengajakku untuk mampir ke toko buah untuk membelikan Clara beberapa buah-buahan yang cocok agar membuat Clara semakin segar. Dan membelikan beberapa kue untuknya. Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, baru saja aku dan mamah menginjakkan kaki di lobby menuju lift, tiba-tiba jantungku berdegup tak beraturan. Gugup jika mamah harus bertemu dengan Clara pagi ini, padahal sebelumnya mereka juga sudah bertemu beberapa kali.


Tapi kali berbeda. Sebab aku sudah melamarnya!


Aku juga sudah mengirimkan pesan singkat sevelumnya pada Clara, memberitahukan jika mamah ingin menemuinya. Dia menyetujuinya. Bahkan dengan percaya diri, dia membalas pesan singkatku dengan satu kata, 'No problem.'


Aku hanya berkali-kali mengembuskan napas. Mencoba mengatur ritme detak jantungku. Sedangkan mamah sesekali menatapku lalu cekikikan sendiri.


Sebelumnya padahal mamah hanya bertanya, Clara bagaimana pribadinya. Tapi tak banyak yang bisa aku jelaskan, sebab aku pun baru mengenalnya. Hanya saja, entah mengaoa hatiku yakin untuk menjadikannya sebagai pendamping masa depanku. Karena dengannya, aku bisa meredam emosiku. Dengannya aku merasa sempurna.


Kuraih knop pintu kamarnya, tampak kedua orangtua Clara juga sedang di sana, bundanya sedang menyuapi Clara. Kemudian aku mengajak mamah untuk masuk dan memperkenalkan mamah pada kedua orangtua Clara.


Tak banyak yang bisa aku dan Clara lakukan saat itu, hanha saling melempar senyum dan lirikan mata. Sebab kedua orangtuanya langsung membahas soal tanggal dan kapan pertemuan resmi yang akan kami adakan. Mamahku pun begitu, beliau langsung 'to the poin' saja tanpa berbasa-basi lagi dengan kewajiban berbagai macam tradisi yang harus di lakukan, mengingat umur kami yang sudah cukup matang.


"Gimana, kalian setuju 'kan?" tanya mamah padaku, kemudian menatap Clara. Kami saling berpandangan dan menangguk serempak, membuah ayah dan bunda Clara menjadi tertawa.


***


Aku mencoba menelepon Clara di saat perjalanan menuju pulang. Ya, aku baru saja mengantarkan mamah untuk pulang ke rumahnya. Tidak banyak yang aku tanyakan pada Clara, aku hanya bertanya dia hendak makan apa untuk makan siang hari ini. Sebab aku tahu, makan siang dari rumah sakit yang dia dapat hari ini pasti akan kurang.


Sebab tadi pagi, setelah selesai berbincang dengan mamah dan kedua orangtuanya, dia harus melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan atas saran dari Ranti.


"Oh, oke jadi cuman mau ikan bakar aja, gak ada yang lain lagi gitu?" tawarku padanya memastikan.


Dia hanya menjawab dengan dehamannya, kemudian kami akhiri sambungan telepon kami. Dan aku segera melajukan mobilku menuju rumah makan yang di maksudkan Clara untuk membeli ikan bakar kesukaannya.


Di sepanjang perjalanan, aku lebih sering senyum-senyum sendiri atau bahkan hingga tertawa, jika mengingat kilas balik awal pertemuan aku dan Clara. Terlalu konyol. Tapi entah mengapa itu membuatku senang, sekaligua bersyukur.


Andaikan aku tidak di pertemukan dengan wanita seperti Clara, mungkin aku tidak akan merasakan, bagaimana rasanya mencintai wanita sekali lagi, setelah kepergian Jasmine. Ya, Jasmine terlalu berkesan dalam hatiku tapi juga terlalu sulit untuk aku lupakan. Walauoun semestinya aku lupakan, agar tidak menyakiti hati Clara ke depannya.


Atau mungkin aku harus menceritakan tentang Jasmine padanya?


Walauoun Jasmine sudah meninggal. Rasanya tidak adil jika aku harus menyembunyikan masa laluku.


Sesampainya kembali ke rumah sakit, aku langsung menuju ke kamar Clara untuk memberikan lauk makan siangnya ini. Setelah itu aku kembali ke ruang UGD untuk bekerja. Sesekali Clara mengirimkan pesan singkatnya yang mengatakan bahwa dia merindukanku. Aku tertawa geli membacanya.


"Cieeee yang udah ngelamar ceweknya," ejek Adam saat mengisi buku laporan di center table.

__ADS_1


Aku tidak menyahut, hanya mesam-mesem menanggapi kalimat yang di lontarkan Adam itu. Tak berapa lama Ranti menghampiri.


"Serius udah di lamar, Dam? Trus sahnya tanggal berapa, Dam?" Ranti menanyai Adam dengan menggebu, padahal bisa saja dia menanyaiku langsung. Kan aku ada di depannya? Padahal kan aku sedang dalam mode 'silakan bertanya' semuanya?


Hah! Tapi sayang mereka lebih senang meledek dari pada mencari tahu dan bertanya kepadaku langsung. Gak seru katanya.


Aku kembali tertawa geli. "Gak tau juga tuh tepatnya tanggal berapa, yang jelas udah resmi, udah di kasih cincin, Ran!" Adam bersemangat.


"Wiih!! Selamat ya dokter ganteng ... nah gitu dong, kalo cinta di uangkapin, dimilikin." Ranti kembali mengejekku. Aku hanya tersenyum simpul, masih memainkan ponselku, membalas pesan dari Clara.


Kini seluruh pegawai rumah sakit sudah tahu jika aku telah melamar Clara. Bahkan ada beberapa perawat yang saat sedang mengantarkan makanan atau mengantarkan obat untuk Clara, mengucapkan ucapan selamat karena telah berhasil memenangkan hatiku. Aku dibuat heran oleh semua itu.


Bahkan saat tadi siang aku tinggal mengantarkan mamah pulang ke rumah, ada salah satu perawat yang dengan antusiasnya sengaja datang ke kamarnya dan mengucapkan selamat padanya. Dan saat dia menceritakan itu, aku tertawa bangga.


"Aish, tenyata kamu idola di tempat kerja sendiri. Untung fans kamu semuanya masih terkendali. Kalo enggak gimana nasib aku di sini yang gak bisa gerak. Jangan-jangan aku diracunin. Diihh!!" Dia mengangkat bahunya, bergidik ngeri.


Aku tertawa terbahak-bahak. "Mana ada yang mau ngeracunin, mana berani juga ngeracunin calon ibu bos mereka. Mau minta pecat tanpa pesangon apa." Aku kembali tertawa, menertawai pemikirannya yang sangat kreatif itu.


Bahkan saat bunda Clara telah dinyatakan boleh meninggalkan ruang rawat inap, masih ada saja beberapa perawat yang membantu membawakan barang-barang beliau untuk di letakkan di kamar Clara.


Aku sendiri tidak menyangka bahwa aku ternyata se-famous itu di tempat kerjaku sendiru. Pasalnya aku selalu cuek dengan hampir seluruh karyawan di sini. Hanya dengan Adam dan Ranti saja yang bisa membuatku bebas untuk berbicara atauoun bertukar pikiran. Entah itu tentang permasalahan pasien atau pun tentang permasalahan pribadi.


Begitu juga dengan para dokter lainnya, aku hanya menganggap mereka semua rekan bisnis. Jadi aku selalu menjaga sikap dan prilakuku pada mereka. Tidak pernah aku mencoba untuk bercanda pada mereka walaupun selalu ada kesempatan.


Aku hanya menjaga image-ku sebagai pengelola rumah sakit besar bertaraf International ini. Karena setiap enam bulan sekali aku harus melakukan laporan kepada pemilik saham rumah sakit ini. Oleh sebab itu, wajar jika aku selalu bersikap cuek kepada pada penghuni di sini.


"Mungkin karena itu juga, yang bikin sikap kamu selalu dingin. Bahkan sama aku dulu, inget gak? Waktu pertama kali kita ketemu?" Clara mencoba mengingatkanku tentang kecerobohannya saat pertama bertemu denganku.


Bagaimana aku bisa lupa dengan semua kejadian itu?


Semua yang terjadi dan yang aku lewati dengannya terlalu indah untuk aku lupakan.


Bahkan aku tidak sabar lagi untuk melewati esok hari bersama dengannya.


"Mana mungkin aku bisa lupa kekonyolan kamu itu?" ucapku tersenyum sambil mengelus keningnya.


Kami saling menatap dalam diam. Terbelenggu oleh rasa bahagia yang tak dapat kami jelaskan dengan kata-kata. Dan tidak ada suatu perumpamaan pun yang mampu melukiskan betapa bahagianya hati kami akan jalan yang Tuhan berikan.


Bahkan sampai saat ini, hatiku tidak bisa berhenti bersyukur akan keajaiban ini. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan menikah dan akan membina suatu rumah tangga. Membina hubungan dengan komitmen tulus sekali seumur hidup. Melangkahkan kakiku untuk menjadi seorang suami dan seorang ayah, nantinya, yang mampu membawa keluarga kecilku ke jalan yang lurus, jalan yang benar.


Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah hal mudah. Tapi tidak bagiku.


Dan mungkin bagi sebagian orang, menikah adalah wi win solution untuk masa depan. Tapi tidak untukku.


Mereka yang berpikiran seperti itu adalah orang-orang yang selalu melihat masalah dengan ruang lingkup yang kecil.


Namun, coba sekali lagi kita telaah, menikah bukan jalan keluar dari kehidupan untuk masa depan, tapi menikah adalah awal untuk kita melangkah menuju impian.


Bersambung ...


———————————————


Jangan lupa, di komeeeeeeennnn, kasih saran dan kritik, kalo mau kasih ide cerita juga boleh 🤭


Jangan lupa follow IG aku juga @bossytika


Salam sehat, salam bahagia, salam otak ... aarrggghhh salam bucin!!

__ADS_1


Babay 😘


__ADS_2