Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 75


__ADS_3

Lisa POV.


Selesai acara makan malam bersama keluarga Tika, aku memutuskan untuk langsung menuju pulang ke rumahku. Keluarga Tika begitu baik menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka, tanpa memandang apa yang telah aku lalukan pada Tika. Ya, mungkin Tika tidak menceritakan hal itu kepada keluarganya karena Tika bukan tipe orang yang gemar untuk bercerita sesuatu kepada sembarang orang, bahkan pada saudaranya sendiri.


Itulah salah satu sifat Tika yang aku kagumi darinya. Bukan hanya soal curahan hati yang pernah aku ceritakan, bahkan untuk permasalahan yang sedang ia hadapi sendiri saja, ia enggan untuk membaginya denganku, kecuali aku memaksanya untuk bercerita. Tika sanggup menyimpan beban hidupnya sendiri.


'Berbeda sekali denganku,' batinku.


Dari kejauhan aku melihat sebuah banyangan manusia yang sedang duduk menungguku di balkon rumahku. Dengan kecepatan mobil yang semakin melambat aku memasuki halaman samping rumah, lalu mematikan mesin mobil. Aku memperhatikan gerak-gerik orang itu dari dalam mobil sambil melepas safety beltku. Seorang lelaki, wajahnya masih belum bisa aku kenali sebab ia duduk di sudut kursi balkon yang minim dengan pencahayaan lampu.


Aku menuruni mobil dengan jantung yang berdetak begitu kencang, seperti genderang mau perang eh, maaf kebablasan! Itu lirik lagu!


Oke kembali ke situasi yang aku rasakan saat ini. Aku semakin penasaran dengan siapa sosok lelaki itu. Dengan mencoba santai dan tenang, aku berjalan perlahan mendekati, lelaki itu pun bersiap berdiri lalu bergerak mendekatiku juga, memperlihatkan wajahnya di sorotan lampu.


Aku tersentak!


Langkahku terhenti, detak jantungku semakin cepat berdegup. Aku menganga tak percaya dengan apa yang aku lihat. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum miring penuh makna, berdiri dengan kedua tangan yang sengaja ia selipkan di masing-masing sisi kantong celananya.


"Hallo! Lu pikir dengan ngeblockir nomer gua, trus gua gak bisa ketemu lu?" ucap lelaki itu tegas kemudian kembali menyeringai.


--------------------


Haikal POV.


Aku segela berlari ke ruanganku, mengganti pakaian lalu meraih sendal jepit yang berada di bawah meja kerja, serta mengambil jaketku yang tergantung pada gantungan baju. Kemudian kembali berlari ke ruang UGD. Dari pintu belakang, aku menitipkan sendal dan jaket itu pada seorang perawat lalu memintanya untuk mengantarkan pada seorang wanita yang menggunakan dress di ruang tunggu. Perawat itu menyanggupinya, lalu aku segera memasuki ruang tindakan di UGD.


Adam telah membantuku untuk melakukan penangan pertama. Selang oksigen telah dipasang, alat pacu detak jantung pun telah menyala. Beliau hanya pingsan. Adam segera melanjutkan tugasnya untuk mengecek secara menyeluruh kondisi beliau. Dan Adam sempat menyatakan jika beliau sudah dalam keadaan baik-baik saja sekarang.


"Beliau sepertinya memiliki penyakit Asma dan itu berbahaya, apalagi jika sudah sampai seperti ini kondisinya." Adam menceritakan hasil pemeriksaannya padaku setelah beberapa jam berlalu.

__ADS_1


Aku kembali menatap Adam, saat kami sedang memperhatikan kondisi bunda Clara di dalam ruang ICCU.


"Kondisinya memang baik-baik aja, tapi tubuh beliau masih lemah. Semoga aja beliau cepet sadar." Adam menambahi sambil menepuk bahuku lalu pergi meninggalkanku.


Sekali lagi aku menghela napas kemudian memutuskan untuk pergi ke ruang tunggu, menemui Clara dan ayahnya. Aku tidak yakin dengan kabar yang harus aku sampaikan ini, karena di satu sisi bundanya baik-baik saja tinggal menunggu beliau sadar. Namun di sisi lain, beliau memiliki penyakit Asma, penyakit yang entah sudah diketahui keluarganya atau belum.


Yang jelas sepengetahuanku, penyakit Asma tidak dapat diobati apalagi jika sudah terlalu parah hingga pingsan seperti ini. Asma memang bukanlah penyakit yang fatal, namun termasuk penyakit yang serius karena jika tidak ditangani dengan tepat maka tetap akan membuat penderita merasa kurang nyaman.


Perlahan aku membuka pintu dan kudapati pemandangan menyedihkan lainnya. Langkahku terhenti melihat semua itu. Sepasang ayah dan anak perempuannya saling merangkul, saling menguatkan satu sama lain. Ayahnya tampak berusaha tegar demi sang anak satu-satunya, Clara.


Aku langkahkan kembali kakiku dengan berat menghampiri mereka, kemudian tersenyum sopan kepada sang Ayah. Clara menoleh, melihatku kemudian sontak ia berdiri dan langsung memelukku. Meraung-raung menanyakan bagaimana kondisi bundanya.


"Gimana bunda?! Bunda kenapa?! Apa yang terjadi?!" serunya disela tangis, sambil menggoyangkan tubuhku dalam pelukkannya.


Lidahku kelu, tidak sanggup untuk berkata apapun, begitu melihat reaksi Clara yang seperti ini. Aku hanya bertukar pandang dengan ayahnya, yang kini tidak mampu menahan bendungan airmatanya lagi. Berkali-kali aku melihat beliau yang mencoba menghapus airmatamya dengan kasar, namun usaha itu terasa percuma baginya. Hingga akhirnya aku membalas dekapan Clara, mencoba menenangkannya dan menyarankan ayahnya untuk segera masuk ke ruangan, dimana istrinya berada.


***


Aku biarkan ia larut dalam kesedihannya, dengan kedua tangannya yang saling menggenggam di atas pangkuannya. Arah pandangannya pun hanya tertuju pada kedua tangannya itu. Sesekali Clara kembali meneteskan airmatanya, namun secepat kilat pula ia menghapusnya kasar.


Hatiku terenyuh melihat kondisinya. Untung saja ia mau mengenakan sendal serta jaket yang tadi sempat kutitipkan pada perawat agar diberikan padanya. Setidaknya ia mau menggunakannya untuk menghangatkan tubuhnya.


Perlahan aku mendekatinya, lalu kurengkuh kepalanya dengan kedua tangan dan membawanya bersandar dalam dekapanku. Tanpa penolakkan, Clara mengikuti kemauanku. Tidak ada lagi kudengar isak tangisnya.


-----------------------


Clara POV.


Hatiku serasa di sambar oleh petir mendengar bunda memiliki penyakit Asma. Pasalnya penyakit itu ada pada tubuhku. Sebulan yang lalu saat aku jatuh sakit, aku didiagnosa penyakit itu oleh dokter dan ujarnya penyakit itu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dihindari.

__ADS_1


"Bunda sudah sadar?" tanyaku saat dalam rangkulan Haikal.


Haikal membelai kepalaku dengan lembut, tidak seperti Haikal yang biasanya. Tapi aku menikmati kelembutan yang ia berikan.


"Belum, tapi pasti sadar. Hayuk kita ke dalam, kali aja bunda kamu udah sadar." Tangannya menyentuh daguku dan membawa arah kepalaku untuk menatapnya, ia tersenyum. Lalu kami beranjak menuju ke ruangan bunda.


Di dalam ruangan, ayah yang duduk di samping bunda dengan setia menggenggam telapak tangan bunda dan menciumnya. Ayah begitu mencintai dan memuja bunda. Aku menghampiri ayah lalu merangkulnya dari belakang.


"Gak papa, bunda pasti sembuh." Ayah menguatkanku dan mengusap lenganku. Kuselipkan wajahku di samping telinganya lalu mengangguk.


***


Aku terbangun dari tidurku yang terbaring di atas sofa dalam ruangan ICCU, jauh dari ruangan kaca di mana bunda terbaring. Tubuhku tertutup dengan sebuah selimut halus yang entah sejak kapan ada. Aku juga melihat ayah yang terlelap di samping bunda, masih dengan tangan yang saling menggenggam. Tubuh ayahpun tertutupi dengan sehelai selimut yang sama denganku jenisnya. 'Mungkin ini selimut dari rumah sakit,' batinku.


Aku segera beranjak dan menghampiri ayah, sambil memandangi bunda yang belum juga tersadarkan. Membenarkan selimut ayah yang terjatuh sebagian.


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahuku, aku menoleh. Haikal mengulas senyumnya padaku lalu berkata, "Pagi."


Aku membalas sapaan Haikal. "Selimut ini—"


"Iya, aku yang selimutin. Punya rumah sakit sih." Haikal memotong pertanyaanku.


Kemudian ia menunjukan sebuah kresek yang sejak tadi dipegangnya. Lalu membawaku kembali duduk di sofa. Mengeluarkan isi kresek itu yang ternyata santapan sarapan kami. Kenapa kami? Karena ia juga ikut makan bersamaku.


------------------


Haiii haaii 🤭


Hayuks jangan lupa vote poin kalian untuk judul karyaku ini yaa guys 😁 biar masuk rangking 20 besar 💃

__ADS_1


Terimakasih, babay!!!


#salambucin💋


__ADS_2