Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 188


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


Max menyulut rokoknya yang diambil dari saku celananya, lalu melemparkan bungkus kotaknya ke atas meja. Sambil memandangiku yang juga sedang menatapnya dengan segelas jus mangga di tanganku.


“Kamu gak sayang apa, sama kami semua? Kami masih membutuhkan kamu, rumah sakit terlebih membutuhkan kamu.” Max dengan tegas membuka suaranya lagi.


Aku mengembuskan napasku dengan kasar, lalu menyadarkan punggungku pada kursi yang aku duduki. Menyulut kembali rokok yang aku raih setelah sebelumnya meletakkan gelas jus. "Aku butuh waktu, Max."


Kali ini terlihat dia yang menghela napasnya. “Mau sampai kapan?” Max kali ini terlihat sangat putus asa mengatakan itu. Dan kali ini ia terlihat seperti seorang kakak pada umumnya.


Tidak semua orang bisa kuat dan tegar jika menghadapi suatu masalah. Apa lagi ini adalah masalah serius yang mana pada akhirnya, semua bergantung padaku.


“Saat itu terjadi, bukan kamu yang tanganin, Kal. Lagipula kalo begini terus gimana mau nikah. Kamu kepingin dibatalin aja itu semua undangan, katering sama vendor-vendor lainnya?”


Tidak terasa sudut mataku sudah mulai mengeluarkan setetes air, yang sepersekian detik kemudian berubah menjadi aliran air mata yang sudah lama aku tahan. Aku menundukkan kepalaku, menangisi keadaan dan menyesali apa yang sudah aku perbuat. Rasanya aku tidak sanggup untuk keluar dari rumah ini, aku tidak sanggup untuk bertemu dengan orang-orang di luar sana. Terlebih lagi untuk bertemu dengan Clara.


Seketika Max mengambil sebilah rokok yang terselip pada jariku, yang masih menyala lalu membuangnya. Ia mendekapku sebagai seorang kakak yang sama sekali tidak menghakimi adiknya. Aku menangis dalam dekapan itu. Menumpahkan rasa penyesalanku yang terdalam.


“It's ok, Kal. Semua itu bukan kamu yang salah. Keadaan yang memaksa semuanya terjadi.” lirihnya.


“Aku takut gagal, Max. Aku takut, aku gak bisa jadi suami yang baik buat dia. Aku takut aku gak bisa jaga dia.”


“Semua pasti merasa takut, aku juga. Tapi semuanya bergantung sama cara kamu menghadapi masalah. Bukan lari dari masalah itu. Kehidupan keluarga aku dan juga Tika memang bukan sebuah kehidupan pernikahan yang sempurna. Selalu ada masalah, karena itu menandakan kami berbeda, tapi selalu kami hadapi, 'kan?” nasihatnya pelan.

__ADS_1


“Dan kamu bisa ambil contoh yang baiknya aja, jangan ambil contoh buruk dari setiap masalah kami. Bukannya selama ini kalau kami ada masalah selalu larinya ke kamu? Minta pendapat kamu? Dan saran kamu itu selalu berhasil sampai sejauh ini. Iya, 'kan?” tambahnya lagi yang langsung membuatku berpikir.


Entah mengapa perkataan Max itu membuatku merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Perlahan aku bisa menghentikan tangisku dan mengontrol emosiku. Ya, mungkin aku hanya perlu berdamai dengan diriku sendiri, bukan mengunci diri seperti ini.


**


Setelah beberapa hari berselang, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumahku. Tujuan pertamaku keluar rumah bukan ke tempatku bekerja. Melainkan ke rumah Clara. Selama berhari-hari aku mengurung diri, tidak ada aku dapatkan pesan ataupun kabar darinya. Aku sungguh merindukannya.


Dengan kecepatan sedang aku mengendarai mobilku menuju rumah Clara, dengan membawa sebuket bunga mawar merah yang sebelumnya aku beli. Rencananya aku ingin mengajaknya untuk pergi ke makam bundanya.


Tok tok tok!!


Aku mengetuk pintu depan rumah Clara. Setahuku dia masih dalam masa cuti yang diberikan oleh kantornya, jadi dia pasti sedang berada di rumah sekarang. Cukup lama aku berdiri di sini hingga akhirnya pintu terbuka dan ayah Clara muncul dari balik pintu.


“Ayah,” sapaku begitu melihat beliau.


“Naik apa dia ke sana, Yah?” Tiba-tiba aku merasa khawatir dengannya.


“Naik taksi.”


“Kalau gitu, aku susulin ke sana aja, Yah, permisi.” Begitu ayahnya mengangguk, aku bergegas kembali masuk ke dalam mobil lalu menginjak pedal gas mobil dan segera melaju ke sana, menuju makam bundanya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di makam bundanya. Dari dalam mobil, aku sudah bisa melihat Clara yang duduk di samping makam. Dengan membawa sebuket bunga tadi aku keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekatinya.


Kemudian aku langsung meletakan bunga itu di atas tanah makam bundanya yang masih basah. Clara terkejut dengan kehadiranku di sana. Awalnya dia menoleh menatapku tetapi selanjutnya , dia hanya menatapi batu nisan bundanya itu. Tidak memedulikanku lagi.


“Aku tahu kamu masih marah. Dan aku juga sadar aku kelewat batas. Sekali lagi, semua itu karena aku peduli,” lirihku, “asal kamu tahu, butuh berhari-hari bagi aku untuk meyakinkan diri sendiri tentang masa depan hubungan kita.”

__ADS_1


Spontan kepalanya bergerak menatapku, mata kami saling memandang lalu aku menunduk, menyama ratakan tinggi, agar ucapanku kali ini bisa ia mengerti. Dan mungkin aku harus egois untuk melindungi perasaanku sendiri. Bukan karena aku plin-plan dengan keputusan yang pernah aku ambil sebelumnya. Tapi karena aku tidak ingin sebuah masalah berlarut lebih lama dan aku butuh otakku untuk pekerjaanku. Untuk sebuah senyuman dari keluarga yang lainnya.


“Aku meminta kamu menjadi istri aku, itu bukan berati aku membiarkan kondisi kamu dengan apa adanya asma itu. Kalau bisa diobati mengapa tidak dilakukan? Aku ingin menua sama kamu, melihat keturunan kita tertawa bersama anaknya. Aku ingin berjuang bersama kamu. Bukan untuk sementara tapi selamanya,” tambahku lagi.


Aku sama sekali tidak menyentuh tangannya, walaupun sebenarnya hati ini ingin sekali melakukannya. Aku ingin mendekapnya, memintanya untuk berbagi rasa sedihnya itu padaku. Tapi aku mencoba menahannya, aku tidak ingin bersikap lancang dan memanfaatkan keadaan hanya untuk perasaanku sendiri.


“Jika kamu ingin tanggal pernikahan kita di-reschedule, aku akan melakukannya. Tapi jika kamu ingin membatalkannya ... maaf, aku gak bisa. Hati itu hanya boleh untuk aku. Hati kamu milik aku.” Aku meneteskan kembali air mataku saat mengatakan itu.


Clara tertunduk lemas, dia tidak lagi menatapku, bahkan dia mengalihkan pandangannya menatap kembali nisan bundanya. Dengan kasar aku mengusap ai mataku, kembali mencoba tegar.


Jika kalian menganggapku egois—ya, memang benar aku egois untuk perasaanku dan diriku. Sebab aku tidak ingin bermain-main dalam hal ini, karena bagiku cinta itu sakral. Cinta itu bukan hanya berbicara tentang rasa kepada pasangan. Bukan perihal menyatukan dua hati dan dua kepala tetapi cinta dapat menyatukan segala rasa dan segala kondisi.


Aku kembali berdiri tanpa mengatakan apa pun lagi, lalu berbalik dan melangkah pergi. Rasanya memang sakit, meninggalkan orang yang aku cintai untuk tetap di sana sendirian. Akan tetapi, semua ini harus aku lakukan karena aku sadar, Clara adalah anak tunggal, yang sedikit banyaknya pasti pernah dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Hingga aku harus sedikit tegas untuk beberapa hal kecil.


Kemudian aku masuk ke dalam mobil dan menyandarkan tubuhku. Menghela napas dan memejamkan mata, aku meremat rambut di kepalaku. Entah benar atau tidak yang aku ucapkan pada Clara tadi.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Tinggalkan komentar yang buanyaaaakk ya, haha.


Terima kasih 💋

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2