
Bagian 1: Padahal Aku Melihatnya Disini!
Hening dan sepi. Itulah yang terjadi di kelas X-A. Bukan karena ada berita duka cita atau ada masalah sehingga diceramah guru BK. Tidak. Itu salah, nyatanya semua wajah tampak lesu setelah melihat nilai ulangan masing-masing nilai mereka begitu anjlok bersamaan. Tak ada yang tahu kenapa nilai mereka begitu buruk di ulangan kali ini. Nyatanya mereka baru beberapa bulan setelah pekan perkenalan siswa. Di sana, dipojok kelas bangku
nomor satu dari belakang tampak tenang tak masalah dengan keheningan di kelas itu. Jujur, dia suka dengan keadaan seperti ini tidak bising dan tidak ada pula gosip para betina. Tangannya bergerak lihai mencoret-coret di buku tulis belakangnya yang masih baru, tercium aroma kertas yang khas. Namun kepalanya terangkat begitu tinta penanya habis sebelum dia menyelesaikan gambarannya yang tak dimengerti itu. Zoe meletakkan penanya dan memasukkan tangannya ke dalam tas, Ck! dia teringat kalau dirinya lupa membawa kotak pensil itu akibat dirinya terlalu buru-buru ke sekolah. Dia duduk sendiri dengan jarak satu meja cukup jauh darinya entah itu disengaja atau tidak. Manusia es itu adalah julukannya baru-baru ini, mungkin terdengar aneh. Oke, kita akan ulang adegannya.
Usai pekan perkenalan siswa, Zoe tampak pergi ke toilet usai acara pekan perkenalan itu selesai dan satu hal lagi, dia benci keramaian. Di toilet dia mencuci wajahnya yang lusuh seakan banyak masalah. Dia melihat ke cermin kaca didepannya, wajahnya yang lonjong dengan hidung mancung dan mata berwarna sedikit kemerah-merahan menambah kesan sisi mengerikannya. rambutnya yang cepak dia sisir dengan jari tangannya kebelakang dengan sedikit dibasahi. Saat keluar dari toliet tak sengaja seorang siswi lain menabrak
dirinya. " Aduh, siapa sih?" ucap ketus siswa itu. Ketika dia mendongakkan kepala melihat siapa yang dia tabrak matanya terkejut seakan hendak keluar dari tempatnya. Dia segera bangun ketika melihat ada gangster didepannya. Ternyata rumor itu beredar dengan cepat ya? Aku tidak menyangka kalau sebuah berita yang buruk bisa menyebar seringan angin seperti di dunia peri. Namun ini bukan dunia peri yang penuh dengan kemanissan dan kedamaian nyatanya dunia yang dipijaki Zoe ini adalah dunia yang tidak adil dan kejam. Prinsipnya siapa yang kuat dia lah yang berkuasa itu aturan aneh di sekolah Zoe sendiri. Di sekolah SMA Arya Duta punya peraturan khusus sendiri yang dibuat oleh siswa-siswa bergengsi sebut saja para ratu dan raja disekolah. Walau peraturan itu tidak tertulis namun nyatanya peraturan itu melekat kuat di setiap memori siswa sekolah.
Namun tidak ada satupun yang berani mendekat atau sekedar melirik Zoe saja. Walau julukannya Manusia Es bukan berarti hanya itu julukannya yang pertama. Dahulu saat dia SMP dia pernah terlibat dengan pertarungan antar ketua gang walau seorang perempuan terdengar hal yang tabu menjadi ketua gang pastinya akan sedikit aneh. Namun nyatanya sendiri Zoe ditakuti geng manapun setiap dia muncul menurut rumor yang beredar ketika Zoe bertarung sendiri banyak yang mengatakan kesan pembunuhnya muncul. Ya seperti mata merahnya tampak hidup ketika menyerang, Matanya yang aneh juga unik bisa membunuh siapa saja yang diliriknya dan lain-lain namun nyatanya itu salah! Zoe mengakui kalau yang memulai itu semua adalah lawannya sendiri namun dia tahu percuma menjelaskan itu semua pada orang-orang banyak.
Latarnya yang buruk menjadikan Zoe banyak ditolak SMA lain namun karena ayahnya seorang pengusaha terkenal maka sekolah Arya Duta sendiri menerima Zoe walau mereka memilih uang dibanding Zoe. Suasana tidak sehening tadi, beberapa siswa ataupun siswi sudah mulai berbincang dengan teman sebangkunya atau samping, depan dan belakang mereka. Tak terkecuali Zoe, dirinya yang pendiam memilih duduk diam sambil mencoret-coret garis-garis di buku bagian belakangnya.
Sebuah penghapus karet melayang kearah Zoe tanpa sengaja. Bukannya mengenai jidatnya tangannya dengan refleks terangkat jari-jarinya menangkap penghapus karet yang tidak sengaja melayang kearahnya. Seorang siswi berdiri yang duduk tak jauh darinya mendekat ke mejanya.
" Maaf ya, tadi temenku gak sengaja ngelempar kearah kamu!" ucapnya menyodorkan tangan meminta maaf. Zoe mendongakkan kepala menatap wajah senyum manis gadis didepannya itu, Zoe menarik tatapannya
__ADS_1
dan meletakkan penghapus karet mungil itu ke tangannya. Sontak gadis itu terkejut kalau tangannya sudah diletakkan penghapus bukannya berjabat tangan.
" Berhubung aku berterima kasih kepadamu, perkenalkan namaku Laila Razka Azlani teman-temanku memanggilku dengan panggilan Lila. Nama kamu?" ucap Lila dengan pedenya kearah Zoe. Zoe bisa mendengar dengan baik bagaiman teman-teman satu kelasnya yang menggunjing terutam para betina.
Apaan ih tuh anak, sok cool!
Jijik gue ngelihatnya, orang kenalan dia pura pura gak denger pula tuh!
Dasar manusia aneh!
Dalam hati kecil Zoe dia sebenarnya merasakan ada sayatan kecil melukai hati kecilnya itu namun dia menutupinya dengan wajah dinginnya. Kursi yang diduduki Zoe berdecit bersamaan di beranjak dari tempat duduknya. " Maaf, namun aku tidak mau diganggu!" ucap Zoe dingin berlalu tanpa sempat menjabat tangan Lila yang mematung. Dia pergi meminta izin kepada ketua kelas ke toilet tanpa sempat ketua kelas mengatakan ya kepadanya.
" Ada apa dengannya? Kenapa dia menolak berkenalan denganku?" batin Lila menatap punggung Zoe pergi dari kelasnya. Bolos kelas sudah menjadi kebiasaan murni Zoe sendiri. Setiap sekolah punya kamera CCTV khusus untuk memantau sekolah namun dengan mudahnya dia menyelinap tanpa harus ketahuan CCTV kalaupun ketahuan paling dia akan dimarahi sama anggota OSIS. Langkah kakinya terhenti saat tiba di belakang sekolah kakinya berjalan pelan masuk kedalam semak-semak dihadapannya kalau dilihat dari depan mungkin terlihat menyeramkan namun ketika kau menerobos semak itu disana ada sebuah tempat datar beralaskan rumput hijau pendek dengan atap pohon yang rindang tak ada satupun yang tahu jika ada tempat santai disana, kecuali Zoe sendiri. Dia mengeluarkan buku novelet kecil dari saku roknya. Terdengar derap langkah disaat Zoe membalikkan halaman buku noveletnya.
" Kemana dia pergi? Jelas-jelas aku melihatnya kemari?" gumam gadis itu saat tiba di belakang sekolah. Zoe tidak peduli dan malas untuk mengecek siapa itu, matanya dengan malas kembali membaca buku novelet yang terakhir kali dia baca sebelumnya.
Lamban laun gadis itu mencoba mengelilingi belakang sekolah itu dengan berani namun dia tidak menemukan apapun dalam benaknya tidak mungkin Zoe menembus semak belukar tinggi itu bukan? Lalu dia kembali kekelas sambil bertekad untuk berkenalan dengan gadis yang dianggapnya misterius itu. Dirinya kembali bertepatan dengan Lila yang keluar dari kelas. Zoe duduk di kursinya niatnya adalah menulis sedikit di buku kecilnya itu. Namun dia melihat sebuah pesan masuk di ponselnya. Matanya yang malas membaca segera men-delete pesan itu. Jam berikutnya fisika, Zoe hanya diam memperhatikan buku sambil mendengarkan penjelasan gurunya yang terkenal killer itu.
__ADS_1
Sepulang sekolah Zoe segera pulang kerumah mengingat dirinya tak suka jika dirinya bertemu dengan malam sedangkan dirinya masih di luar rumah. Butuh waktu lama sampai di rumahnyi komplek itu. Matanya sedikit lega begitu melihat lampu rumahnya belum hidup tandanya belum ada orang sama sekali di rumah itu. Dia akan pergi melalang buana ketika dirinya mendapati rumah bergaya klasik itu sudah hidup lampunya dengan terang. Dengan perlahan dia memutar engsel pintu dan mendorongnya perlahan. Matanya melirik untuk memastikan tidak orang sama sekali. Setelah yakin dia menutup pintu itu kemudian bergegas naik ke kamarnya. Hanya kamarnya lah tempat satu-satunya untuk berteduh walau dia tahu dirinya menumpang.
Usai mengunci pintu kamarnya dia pergi mandi setelah dia merasakan kulitnya lengket. Dibiarkannya air showernya mengucur hangat mengjalari saraf tubuhnya. Matanya menatap ke arah kaca yang memantulkan dirinya dia melihat dadanya yang tidak membesar melainkan terlihat bidang ditambah fisiknya yang menyerupai laki-laki, sebenarnya dia cuek dan tidak peduli dengan tubuhnya yang tidak umum menyerupai laki-laki dia tahu kalau dia tidak harus menyesal karena dia tahu sejak lahir dirinya mempunyai hormon testosteron yang berlebihan pada dirinya walau dia tahu itu tidak umum bagi dirinya sebagai remaja perempuan.
Dirinya duduk bersandar di meja belajarnya membaca buku novel tebal dengan seru. Tanpa sadar matanya menatap jam beker di sampingnya sudah pukul tujuh malam dia yakin kalau ayah dan kakaknya sudah
pulang sejak tadi. Dirinya tinggal mendengar keluh kesah yang dibuat-buat yang akan tiba sebentar lagi.
Tok! Tok! Tok!
Dugannya benar kalau kakaknya pasti sudah membawa beberapa tumpukan buku di tangannya. Dengan langkah malas kakinya melangkah menuju pintu membuka kunci pintu kamarnya. Tampak seorang gadis remaja lebih pendek dari pada Zoe memegang beberapa tumpukan buku tebal di tangannya. Tanpa sopan dia masuk dengan tenang dan meletakkan tumpukan buku itu di meja belajarnya. " Zoe, bantuin kakak ngerjakan tugas bahasa inggris dan korea ya?" ucapnya tersenyum berlalu keluar dari kamarnya. Sepertinya yang belajar bukan kamu kak melainkan aku! Bisa dengan mudah dirimu masuk dan meminta bantuan adikmu ini! Dia membuka tugas itu perlahan-lahan kemudian mengerjakannya, inilah tugasnya setiap malam menjadi babu dan pelayan keluarganya setiap hari.
^_^
Pukul 01:00 Zoe selesai menyelesaikan tugas kakaknya itu. Dia kemudian dengan rapi menyusun buku-buku tebal itu kemudian merapikannya. Pelan-pelan dia membuka engsel pintu kakak perempuannya dam meletakkan tumpukan buku yang sudah di rapikan Zoe di meja belajar kakaknya. Matanya menatap sebuah foto keluarga yang harmonis namun tiba-tiba matanya geram kesal begitu bagian dirinya dipotong sehingga hanya ada kakaknya saja yang ada di foto itu. Merasa kesal dia kembali secepat mungkin kekamarnya dia keluar menuju balkon rumahnya. Dia ingin menangis namun tidak bisa, dia tidak bisa menangis. Kenapa? dia sudah tidak bisa menangis lagi ketika masalah-masalah datang menghampirinya kali ini. Hanya satu yang dikatakan pada dirinya pada malam yang dingin itu. Dia menyadair kesalnya itu karena...
" Aku hanya lelah"
__ADS_1