
Setelah perjalanan yang melelahkan tadi aku memutuskan untuk mandi. Penerangan di kamar madit ini hanya sebatas menggunakan lilin jadi aku harus lebih berhati-hati.
Aku merasa lega karena Noel maupun Kino memperbolehkan Willy dan juga Yanwu menginap disini untuk sementara. Meskipun tadi Noel banyak melontarkan pertanyaan kepada mereka berdua, tapi akhirnya dia memperbolehkannya juga.
Di rumah ini tidak ada listrik, bahkan seluruh kota sepertinya gelap gulita terkecuali wilayah tempat itu yang disamarkan menjadi pusat organisasi.
Sebenarnya sekarang ini aku tidak bisa disebut sedang mandi karena aku hanya mengelap tubuhku saja dan membasuh kepala dengan air dari botol mineral. Bertujuan untuk membersihkan badan ataupun agar aku tidak sakit terkena air hujan.
"Mungkin besok aku akan mencari sungai terus mandi disana," gumam ku sambil melakukan aktivitasku.
Setelah mengulang waktu aku jadi lupa kepada tuan Mizu bahwa dia sekarang ini ada ditangan raja. Di waktu alternatif aku mala bertemu dengannya agak lama, dan hanya sebentar.
"Aduh... pusing banget mikirin rencana lagi untuk kedepannya, apalagi aku mengandalkan mereka."
"Kalau cuma mereka saja belum bisa kan, mengalahkan raja dan para pelindungnya. Umm... gimana ya."
"Anita, kamu sudah selesai belum? Sekarang giliran-ku," ucap Willy mengejutkanku.
"Bentar lagi aku selesai, kamu tunggu aja dulu."
"Oh, oke."
Krek...
"Lah? Kok pintunya terbuka!?"
"Willy... kenapa kamu masuk!!! Pergi sana!!!"
Brak!
"Kurang aja banget Willy, dia beraninya masuk kedalam, padahal aku sudah menyuruhnya untuk menunggu. Kecuali... dia salah mengartikan kalimat ku!"
"Maaf aku tidak sengaja Anita, kamu kan menyuruhku untuk menunggu bukan tidak boleh masuk kedalam," ucap Willy beralasan.
"Udah udah, lupakan saja. Orang sepertimu memang selalu saja begitu."
Lalu terdengar langkah kaki seseorang serentak menuju kemari.
"Ada apa? Tadi aku mendengar suara Anita teriak?" ucap Kino aku mencirikan suaranya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya membuatnya terkejut saja!" jawab Willy.
"Jangan-jangan kamu mau berbuat hal seperti itu dengan memanfaatkan kegelapan ini?" kata Kino, sepertinya dia marah dan asal menyimpulkan situasi.
"Aku nggak di apa-apain kok... dia cuma tidak sengaja aja masuk kedalam kamar mandi!" jelas ku agar ketidaksalahfaham ini tidak berujung malapetaka. Aku memiliki firasat mereka akan bertengkar menggunakan kemampuannya untuk satu sama lain karena hal sepele tadi.
__ADS_1
"Beneran dia nggak apa-apain kamu Anita?" tanya Kino menegaskan kembali perkataan ku tadi.
"Iya, dia nggak berniat buruk kok kepadaku. Tadi itu murni karena kecerobohannya!"
Setelah mandi kami semua berkumpul di meja makan yang sudah banyak sekali makanan disana. Kemungkinan semua masakan ini dibuat oleh perempuan berpakaian maid itu yang memiliki perjanjian dengan Noel.
"Oh, ya. Karung berisi produk makanan dan minuman yang aku dapatkan dari mall, kamu masih menyimpannya?" tanyaku disela-sela makan kepada Yanwu, dia juga menikmati hidangan lezat ini.
"Masih aku simpan di ruangan khusus cincin ini!"
Perkataan Yanwu barusan membuat yang lain menatapnya dengan pandangan mata yang sulit diartikan.
"Cincin ruangan khusus, apa itu?" tanya Noel belum sempat aku menjawab perkataan Yanwu.
"Cincin yang dapat menyimpan sesuatu seperti benda-benda kedalam suatu ruangan didalamnya!"
"Oh, kalau begitu seperti apa ruangan didalamnya? Apa bisa dimasuki oleh manusia?" Noel nampaknya menikmati pembicaraan ini, aku sendiri hanya menjadi pendengar sama yang lain.
"Karena kamu sangat penasaran maka aku akan menjelaskannya. Cincin ini bisa dimasuki oleh manusia selain benda-benda, karena ruangan didalamnya lumayan luas. Dan memiliki waktu yang lambat dibandingkan waktu asli."
"Misalnya kamu yang berada didalam sana seharian maka disini...?" ucap Willy ikut nimbrung, diakhir katanya dia bertanya.
"Kalau menurut aku sih... cincin punya Yanwu itu berguna sekali dan sangat berharga, selain buat menyimpan barang bisa juga buat tempat bersembunyi ataupun bisa untuk melakukan aktivitas lainnya."
"Di waktu asli ini hanya beberapa menit saja."
"Cincin ini aku buat sendiri."
Kembali mereka semua menatap Yanwu dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan, bahkan membuatku tidak nyaman sekali saat menyantap makananku. Karena tempat dudukku di samping Yanwu.
Namun disela-sela obrolan ini ada yang kurang sepertinya. Aku tidak melihat wanita itu. Dia dari tadi tidak terlihat sama sekali bahkan saat aku memasuki rumah.
Sebelumnya hujan sudah reda saat aku ada didalam kamar mandi, tapi entah mengapa sekarang hujan datang lagi. Petir dan kilat pun seakan berpesta di atas sana.
"Sebaiknya kita habiskan makanannya terlebih dulu, baru lanjutkan pembicaraan lagi!" ujar Yanwu.
"Apa kamu tidak mendengarnya, suara petir. Mendingan lanjutkan obrolannya nanti lagi saja, percuma berbicara banyak kalau suara tidak terdengar jelas," kata Willy.
"Hm, bagus. Aku setuju," jawab Yanwu.
Selesai makan aku berniat untuk tidur agar badanku kembali fit setelah bangun, tapi sebelum itu aku memutuskan terjaga dahulu sebelum tidur agar makanan yang ku cerna tercerna dengan baik.
Rumah ini memiliki kamar yang banyak mampu menampung beberapa orang hanya sekedar untuk tinggal sementara.
Aku tidur di lantai 2, tempatnya lumayan nyaman karena sudah dibersihkan. Kayaknya wanita itu bekerja dengan keras sampai mau membersihkan rumah ini.
__ADS_1
"Yang membuatku heran alasan seperti apa hingga dia mau melakukan pekerjaan melelahkan ini, bersih-bersih?"
"Tunggu dulu, aku ingat saat dia bilang mau menjagaku. Pada saat itu aku menebak Noel pasti tahu kemampuan diriku yang berbahaya. Kalau emang gitu maka... Wanita itu mempunyai kemampuan hebat!"
Daya di ponselku kini tinggal sepuluh persen setelah digunakan pada saat menerangi jalan di rumah besar itu. Mungkin karena aku gemetaran saat memeganginya jadinya menekan tombol lain sehingga layar pun ikutan menyala.
"Eaa...Haa... rasanya nikmat sekali, punggungku tadi sakit sekali."
"Kamu belum tidur Anita?" suara Noel agak mengagetkanku.
"Belum ngantuk. Oh ya, tadi aku lagi merenggangkan punggung belakang lho, nggak lakuin yang aneh-aneh," ucapku supaya tidak terjadi kesalahpahaman yang mungkin saja Noel tahu aku tadi mengeluarkan suara menganggu.
"Iya iya, aku percaya sama kamu. Jadi aku kemari mau tanya satu hal!"
"Apa tentang penyerangan terhadap raja?" tanyaku menebak.
"Bukan itu, tapi pria yang kamu bawa kesini. Kalau tidak salah dia bernama Wu kan?"
"Namanya Yanwu, emang ada yang aneh dari dia?"
"Tentu saja, karena aku mengetahui kemampuan dia yang sesungguhnya."
"Apa itu!?"
"Stsss... jangan kencang-kencang, nanti dia mendengarnya!"
"Oke. Terus apa?" tanya tak sabaran dengan suara kecil.
"Dia itu adalah ras dewa."
"Ap..."
"Emmmm..."
Noel langsung saja menutup mulutku rapat-rapat, setelah aku hendak terkejut sampai akan mengeluarkan suara karena mendengar perkataannya barusan.
"Haa... untungnya aku tidak berteriak, makasih Noel."
"Sama-sama."
"Jadi apa benar dia ras dewa?"
"Benar sekali, bahkan aku mengenali siapa dia!"
Tap..tap..tap..
__ADS_1
Perkataan Noel terhenti ketika terdengar suara langkah kaki yang menuju kemari.