
Malamnya aku mendapati sebuah informasi yang mengatakan bahwa titik pertemuan yang sudah disepakati bersama dalam sebuah pembahasan rencana waktu itu akan di tiadakan.
Brain mengatakan alasan ditiadakannya pertemuan tersebut akibat penjagaan kerajaan yang semakin di perketat malam ini.
Sementara Lisa dan rekannya dalam kondisi terdesak hampir saja diburu oleh orang-orang kerajaan. Beberapa jam setelah keberadaan Siniken diketahui menghilang tanpa kabar.
Padahal aku sudah bersiap-siap akan keluar dan menyelinap seperti seorang assassin, namun nyatanya tidak berjalan dengan semestinya. Untuk pertemuan itu aslinya membahas hal penting tentang rencana terakhir.
"Tidak jadi ya, sayang sekali. Baiklah aku pergi tidur dulu!" ucap Marin melenggang pergi dia sebelumnya mengajakku untuk pergi keluar bersama-sama, tapi karena sekarang pertemuan itu ditiadakan dirinya langsung pergi begitu saja.
Aku pun kembali ke kamar dengan sangat hati-hati. Menggenakan pakaian khusus.
Sendirian di kamar besar ini sangat membosankan aku seperti halnya berada di dalam sangkar entah mengapa, aku harap perasaan yang aku alami saat ini tidak mendatangkan hal buruk.
Ku akui diriku merindukan Yin dari suara dan keceriaannya yang terpancarkan dari senyuman manisnya. Meskipun aku seringkali merasa kesal saat dia selalu berada menemui ku, namun sekarang ini berbeda malahan aku merasa rindu jika lama tidak melihatnya.
Aku pun memutuskan untuk memejamkan mata saat suasana tenang dan hening menghanyutkan diriku.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan berulang kali membuatku terbangun dengan terpaksa dari tidurku dan melenyapkan mimpi yang sedang berlangsung.
Sembari melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 04:00 aku bergegas untuk bangkit dan menuju pintu.
"Maaf jika saya menganggu waktu anda, hari ini raja akan menobatkan para peserta seleksi yang lolos agar secara resmi menjadi prajurit elit. Jadi saya menyarankan kepada setiap peserta untuk menyiapkan diri sepagi mungkin!"
Seorang laki-laki dengan penampilan bertelanjang dada dan berambut merah panjang menginformasikan kepadaku untuk menyiapkan diri dalam rangka penobatan prajurit.
Terlalu pagi menurutku untuk menyiapkan diri sepagi ini hanya untuk penobatan peserta seleksi.
"Kira-kira butuh waktu berapa lama saat penobatan prajurit berlangsung, lalu puncaknya?" tanyaku saat laki-laki ini masih berdiri di hadapanku.
"Hanya sebentar, lalu puncaknya terjadi setelah raja memilih salah satu diantara peserta sebagai ketua prajurit elit kedelapan."
Karena sudah sampai pada tahap ini aku pun harus berhati-hati dan memainkan aktingku sampai akhir. Peran yang kubawa pada gadis bernama Jisan harus benar-benar sempurna.
"Baiklah, aku mengerti tuan... terimakasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
Aku pun bergegas mandi dan setelah itu sarapan
pagi bersama dengan yang lain di kediaman ini.
Namun kedelapan peserta tidak semuanya hadir di meja makan hanya ada lima orang saja termasuk diriku.
Pagi ini aku bersama dengan para peserta seleksi prajurit yang lolos sampai pada tahap akhir, pergi menghadap raja. Diperintahkan untuk datang menuju ke sebuah singgasana, karena raja sedang menunggu disana.
Dan yah, aku kembali melihat wajah raja setelah lama tidak melihatnya. Dia kini agak berbeda dengan dirinya di waktu utama, tidak memiliki tubuh seorang binaragawan.
Tapi di waktu ini tubuhnya penuh otot dan kekar serta terlihat lebih muda seakan penuaan adalah mitos baginya, karena yang ku tahu raja berumur 40 tahun.
Semuanya lalu menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan saat menghadap kepada Sang Raja dan aku mau tak mau harus mengikutinya.
Setelahnya, Raja bangkit dari singgasana berniat untuk menuju kemari mungkin menurutku dia akan mengatakan selamat kepada para peserta seleksi yang berhasil lolos sampai tahap akhir.
Aku melirik kebelakang dimana Lu Yang sedang mengawasi atau mungkin saja menonton jalannya penobatan.
"Apa!?"
Aku mengira sebelumnya adalah suara ocehan dari salah satu peserta, namun aku sadar perkataan raja mengintruksikan kepada para peserta untuk mengincar penghianat.
Yang mungkin saja yang dimaksudnya adalah aku, Marin, dan Lu Yang.
Aku pun langsung menyiapkan pelindung berlian pada sekitaran diriku untuk menghalau serangan keenam peserta seleksi.
Sementara Marin melesat kebelakang lalu menghilang dalam sekejap.
Dan jika sudah begini maka tidak ada lagi cara untuk kabur selain melawan mereka, meskipun akan dianggap musuh oleh ras manusia tidak berkemampuan.
Lebih baik melawan daripada akhirnya akan dimusnahkan.
Diriku masih penasaran bagaimana raja mengetahui ada penyusup, padahal diriku maupun Marin dan Lu Yang menggunakan metode penyamaran ini, kecuali seseorang yang telah mengadu dan menemukan celah pada penyamaran ini bisa itu kecurigaan dan informasi yang diberikan oleh seseorang.
Tak salah lagi orang itu pasti Siniken, mungkin saja sebelum dirinya di tangkap dia sempat memberitahukan informasi adanya penyusup.
__ADS_1
Crakk!
Aku pun keluar dari dalam berlian berbentuk pelindung setengah lalu bergabung dengan Lu Yang dan Marin.
"Hebat juga untuk seorang gadis sepertimu lolos dari serangan fatal tadi!" ucap seorang pria yang tidak aku kenali dengan raut menyeringai. Wajahnya dipenuhi oleh tato.
Lu Yang mendorong tubuh pelan kebelakang sementara dirinya melakukan perenggangan pada telapak tangannya.
"Aku tahu hal ini pasti terjadi, itulah mengapa aku sudah mempersiapkan jauh hari!" ucap Lu Yang perkataannya tidak aku mengerti, bahkan keenam peserta dan raja pun terlihat kebingungan.
Sekarang ini diriku berada didalam istana lebih tepatnya di ruangan Raja yang terdapat singgasana, pintu masuk pun tertutup hanya raja dan beberapa orang selain para peserta yang hadir.
Keenam peserta dengan ekspresinya sendiri-sendiri namun terdapat senyum licik menuju ke arahku dan dua rekanku.
"Kalian berdua larilah, aku yang akan menghadapi mereka hehe... sudah lama aku tidak merasa bersemangat seperti ini."
"Lagian... menghadapi enam orang ini sangat mudah buatku!"
Hendak mengucapkan ketidaksetujuan diriku atas keputusan egois Lu Yang aku malah dibawa pergi oleh Marin. Seketika pandanganku mulai berganti, dan Lu Yang tidak bisa ku lihat lagi.
Dari jendela Marin keluar dari ruangan tersebut tanpa melewati pintu yang sepertinya sudah terkunci dari luar.
"Kenapa kamu membawa ku, padahal Lu Yang..."
"Percuma saja kita membantunya, terlebih lagi raja lumayan kuat!"
"Apa, apa kamu bilang, kapan kamu menyerang raja sampai mengatakan dia lawan yang kuat?" tanyaku tidak setuju pada keputusan sepihak Marin.
"Sebelumnya, saat aku mundur kebelakang dan dirimu hendak diserang oleh keenam orang itu, diriku sempat menyerang raja menggunakan kecepatan cahaya. Namun dia bisa menghindarinya!"
Kurasa raja telah banyak menyerap kemampuan seseorang yang telah dibunuhnya, dan dia akan menjadi lawan yang sulit saat melawannya. Ku harap Lu Yang baik-baik saja disana.
Tap..
Marin mendarat dengan baik dan menurunkan diriku dari gendongan kedua tangannya hanya saja kami terkepung dari segala arah oleh banyaknya prajurit kerajaan.
Aku pun sempat melaporkan situasi melalui sebuah rekaman audio pada alat itu kepada rekanku yang lain.
__ADS_1