Last Life

Last Life
Ada Apa Dengan Mereka Berdua?


__ADS_3

Aku tidak memiliki kesimpulan yang jelas mengapa bisa terjadi seperti hal ini, pada akhirnya aku dibuat kebingungan melihat orang yang diserang tadi berubah menjadi boneka.


Dirinya yang jatuh dan hancur berserakan membuatku semakin haus akan rasa penasaran. Ku urungkan niat untuk menyelidikinya lebih lanjut.


Karena saat ini aku bertemu lagi dengan Willy pria pembawa sabit yang datang dan langsung menyerang orang berkemampuan Voodoo dengan gerakan secepat kilat sebelumnya. Pikirku dia mau membantuku.


"Apa kamu baik-baik saja gadis?" tanyanya kepadaku sambil menutupi kembali kepalanya dengan jubah yang ia kenakan.


"Aku baik-baik saja, terimakasih telah membantuku!" jawabku sambil menunjukkan senyum terbaikku.


Ketika aku melirik sekitaran tempat ini sama sekali aku tidak menemukan keberadaan orang berkemampuan Voodoo tadi.


Dia seakan lenyap menjadi boneka tanpa aku duga. Meskipun demikian aku tertolong berkat kedatangan Willy sehingga aku tidak harus menggunakan kemampuan milikku.


"Oh, syukurlah bila kamu baik-baik saja. Tapi kenapa orang ini bisa menjadi boneka keramik seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu, padahal sebelumnya aku sempat berbicara dengannya!"


"Ini aneh. Hmm apakah dia terbunuh?" tanya Willy sorot matanya memerhatikan Yanwu yang masih tergeletak di tanah.


Kemudian Willy membantuku mengangkat Yanwu dan menyenderkan nya di pohon. Saat ini Yanwu masih dalam keadaan pingsan.


"...Kamu kenapa datang dan langsung menyerang orang tadi, bukannya serangan mu itu sudah diketahui olehnya?" tanyaku agar menghilangkan diam yang membuat canggung ini.


"Itu... sebenarnya aku spontan langsung ingin menyerangnya. Sekalian saja aku membantumu, dilihat dari manapun kamu pasti sedang membutuhkan bantuan."


"Ya, sih. Cuma... aku masih penasaran sama orang yang tadi, dia bisa menggunakan teknik Voodoo sehingga mengalahkan temanku ini!"


"Voodoo?"


"Iya. Sebelumnya temanku hampir saja menyentuhnya, maksud aku saat dia menyerang orang itu. Lalu bersamaan dengan gerakan serangannya yang hampir mengenai, dia tiba-tiba saja ambruk."


"Hmm ternyata ada kemampuan seperti spiritual di dunia ini, aku rasa kita harus mencari orang itu, sebelum dia mengambil jiwa temanmu!" ujar Willy.


"Apa? Mana mungkin. Bukannya temanku masih bernafas?" tanyaku tidak nyakin pada ucapan Willy.


"Ya, dia memang masih bernafas tapi tidak dengan jiwanya!"


"Kamu tahu darimana jika teknik Voodoo dapat mengambil jiwa seseorang?" tanyaku lagi mencari jawaban yang logis.


Aku merasa belum mengetahui apa yang dikatakan Willy barusan mengenai jiwa Yanwu yang dapat diambil karena teknik Voodoo orang itu.


"Aku merasakan ada kemampuan jahat saat hendak menyerang orang tadi, lalu ada jiwa melayang saat dia pergi," jawab Willy menjelaskan pertanyaan ku sebelumnya.


"Mungkin kamu tidak mengetahuinya gadis kecil."


"Siapa yang kamu panggil gadis kecil, aku sudah dewasa!"


Mungkin karena aku belum mengetahui banyak tentang dunia ini, itulah sebabnya beberapa ada yang tidak kutahu.


"Heh, dipanggil sesuai apa yang terlihat oleh mata masih mengelak. Begini saja, aku akan membantumu. Sebagai gantinya kamu jadi...


"Jadi apa?" tanyaku saat Willy berhenti di tengah kalimatnya sambil berdekap menunggu kata yang kurang itu.

__ADS_1


"Aah, lupakan. Nanti aku pikirkan lagi saat sudah berhasil membantumu."


"Oke."


Aku tahu apa yang akan dikatakan Willy, dia mungkin saja ingin menjadikan aku sebagai kekasihnya.


Karena masalah ini, aku pun tidak jadi kembali pulang kerumah tempat kediaman Kino, melainkan pergi menuju tempat yang disebutkan oleh Willy.


Aku menduga orang yang menggunakan teknik Voodoo tadi berhubungan dengan orang aneh yang aku temui sebelumnya.


Tapi sekarang orang aneh itu ada ditangan Nie dan Geisha.


"Apa kamu tidak berniat untuk menggendong temanku, kamu mala membawanya dengan sabit yang melayang?" ada perasaan bersalah dan khawatir di dalam hatiku. Itulah sebabnya aku memperingati Willy.


"Jangan harap aku menggendongnya, dia bukan siapa-siapa bagiku," Willy menjawabnya dengan nada dingin.


"Terus kenapa kamu bantu aku, bukanya aku juga sama ya seperti dia tidak memiliki hubungan apa-apa denganmu?" tegas ku menekankan kata.


"Mungkin kamu pengecualian bagiku. Hey... kita kan punya perjanjian, ingat!"


"Begitu ya. Tapi aku mohon kamu membawanya dengan hati-hati jangan sampai temanku terluka hanya karena cara membawamu menggunakan sabitmu!" pintaku kepada Willy di balas dengan anggukan darinya.


Saat ini dalam posisi seakan tidur Yanwu berada di atas sabit Willy. Dengan memiringkan sabit yang dapat terbang tersebut Willy bisa menaruh Yanwu diatasnya.


"Huu, hari ini aku banyak membuang waktu. Padahal tujuan utamaku masih panjang dan sekarang mala terlibat masalah gara-gara Yanwu. Aku tarik kembali kata-kataku kalau dia bisa diandalkan."


"Apa kamu lelah, kita sudah berjalan lama untuk menuju tempat yang kita tuju?" tanya Willy memperhatikan diriku, dia sebelum melirikku sekilas.


"Nggak, sama sekali. Mari lanjut."


"Tapi aku kan nggak..."


"........."


"Eh, ya aku berhenti..."


Sorot mata itu aku pernah melihatnya saat Willy dalam keadaan kesal dan marah. Demi menghindari hal buruk yang bisa saja terjadi aku lebih memilih untuk mengalah padanya.


Di dekat tempat kami meneduh, lebih tepatnya di dibawah pohon apel yang tumbuh subur. Tepat di depannya tak jauh dariku ada stasiun kereta api.


"Aku mau kesana sebentar!" ucapku seraya akan beranjak menuju ke sana.


Greb!


"Heh?" Willy lalu memegang tanganku seperti hendak mencegahku pergi.


"Tetap disini, jangan kemana-mana!" perintahnya.


"Aku mau lihat stasiun itu sebentar saja."


"Pokoknya kalau aku melarang ya tidak boleh, disana mungkin saja ada bahaya yang mengintai!" tegasnya sambil menekankan kata bahaya yang mengintai.


"Aku bisa jaga diri, lagian buat apa aku menuruti perkataan mu. Di perjanjian kita kan nggak ada soal itu."

__ADS_1


Aku mengingatkannya kembali tentang perjanjian sebelumnya. Sama sekali tidak ada aturan tertulis yang mengatakan bahwa orang yang terlibat boleh memerintah sesukanya hingga harus menuruti perintahnya. Jadi karena ada kekosongan itu artinya aku bisa bebas untuk berkehendak hanya saja Willy kekeh pada perintahnya yang melarang ku untuk pergi.


"Sepertinya kamu tidak mau menurut," tandas Willy dengan ekspresi wajah tidak boleh menolak perintah maupun kehendak darinya.


"Ada apa ini, aku seperti burung yang ada didalam sangkar yang didekatnya ada seorang pemburu. Jika aku lengah atau tidak menurut aku mungkin sudah berpindah alam."


Aura Willy sukses menekan ku hingga aku tidak berani untuk membahas kemauanku lagi.


Aku pun mengurungkan niat untuk pergi kesana yang hanya sekedar melihat-lihat saja, dan daripada membuat Willy marah, aku mendingan mengalah.


Aku pun kembali duduk bersamanya sambil menikmati apel.


"Ayo kita lanjutkan!"


"Iya," jawabku singkat sambil beranjak. Setelah cukup Rama beristirahat.


Terlalu fokus pada perjalanan membuatku tidak menyadari bahwa awan mendung yang awalnya masih putih ke abu-abuan kini sudah berubah menjadi gelap.


Tap!


Mendengar suara gaduh dari belakang aku langsung saja menoleh untuk memastikan. Rupanya suara tersebut berasal saat Yanwu yang sengaja turun dari sabit melayang. Dia sekarang ini sudah terbangun dari pingsannya.


"Kamu bagaimana bisa lepas dari kendali orang itu?" tanyaku agak gugup.


"Aku berusaha melawan balik dia melalui kekuatan astral milikku!" jawab Yanwu.


"Hah?"


"Hmm?" Willy berdehem dan mengeryitkan matanya saat melihat Yanwu.


"Siapa dia Anita?" tanya Yanwu.


"Dia orang yang telah membantuku sebelumnya dari kesepakatan merugikan yang akan orang jahat pengguna teknik Voodoo itu sepakat kan denganku!"


"Ya ampun kamu terlalu cepat dalam berbicara," kata Yanwu.


"Intinya dia sudah membantuku dan menyelamatkan mu sebelumnya."


"Begitu ya, aku mengerti. Lalu mau kemana kita sekarang?" terlihat Yanwu yang sudah memahami keadaan sebenarnya.


"Harusnya kini aku dan..." jawabku yang berpura-pura tidak mengetahui nama Willy.


"Willy, panggil saja aku Willy!" yang akhirnya membuat Willy langsung mengatakan namanya.


"Iya, aku sama Willy sebenarnya mau menyelamatkan kamu harusnya, dengan cara menuju tempat atau markas orang tadi."


Willy lalu membantuku menjelaskannya kepada Yanwu dan kamipun sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan perjalanan yang telah ditentukan berhubung sebentar lagi akan sampai.


Meski cuaca terlihat sangat mendung namun disertai niat baik untuk mengalahkan orang jahat menurut Yanwu apapun kondisinya harus dilakukan.


Memang naif kedengarannya, dilihat dari kondisi dan situasi tidak memungkinkan yang sebentar lagi akan turun hujan deras.


Kini kami berhenti apa sebuah rumah tua yang keliatannya gelap dari tempatnya berdiri serta nampak menakutkan dari kejauhan.

__ADS_1


"Tempatnya menakutkan sekali..." gumam ku.


"Jangan kemana-mana tetap di dekatku!" pinta Willy kepadaku yang kemudian di balas dengan tatapan tajam dari Yanwu karena mendengar perkataan barusan.


__ADS_2