
Tempat yang aku tempati sekarang ini lebih banyak dihuni oleh para peserta seleksi yang gagal karena diskualifikasi akibat dirinya terluka parah.
Sebelumnya telah diumumkan jika jumlah peserta tahap pertama pada penilaian kedua ini hanya menyisakan tiga orang saja yang berhasil lolos ke penilaian selanjutnya.
Termasuk diriku yang berhasil melewati level terakhir dengan cara curang dan licik berkat bantuan kedua orang yang aku percayai.
"Ini aku Ryu, jika kalian semua mendengar suaraku maka ijinkan aku memberitahu sesuatu, saat ini perwakilan dari wilayah manusia tidak berkemampuan sedang menuju kemari!"
Saat ini Yin sedang bersama dengannya jadi mendengar suara angin kencang pada alat itu aku bisa memastikan keberadaan Ryu sekarang. Yaitu di atas dinding penghalang wilayah kerajaan.
"Aku penasaran tujuan perwakilan itu kemari untuk apa, dan semoga saja tidak memutuskan memulai peperangan antar ras."
Beranjak menuju tempat sepi bertujuan untuk berbicara dengan rekanku yang lain lewat alat ciptaan Brain, masalahnya aku harus mencari tempat aman terlebih dahulu.
Agar pembicaraan ku tidak diketahui dan didengar oleh seseorang.
Aku sempat bertanya pada seorang prajurit menanyakan dimana tempat sepi disekitar sini dibumbui dengan rayuan tipuan cinta. Aku namakan cinta palsu dadakan.
Yang akhirnya dapat menipu satu orang pria notabenenya masih seorang prajurit dalam kerajaan. Kini dia membawaku ke tempat paling sepi, katanya.
Meskipun beresiko setidaknya aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya, bahkan pada tempat sepi itu aku sekalian beraksi menggunakan peningkatan kemampuan milikku.
"Apa benar tempat ini sepi dan jarang dilalui oleh orang-orang serta aman?" tanyaku mamastikan kepada prajurit yang terkena buaian. Wajahnya terlihat memerah dengan senyuman manis, namun sebenarnya dia sama ubahnya dengan binatang buas siap menerkam mangsa.
"Aku sudah menjadi prajurit selama bertahun-tahun. Jadi, mengetahui tempat-tempat di wilayah kerajaan ini. Semuanya sudah pernah aku eksplor!"
Sebuah bangunan tua layaknya tempat terbengkalai berisi barang-barang rongsokan dia membawaku kemari.
Dan aku lihat dengan seksama sepertinya tempat ini sangat senyap setelah berada didalamnya, sama sekali tidak terdengar suara peserta seleksi maupun suara dari luar bangunan ini.
Alasannya sederhana, karena tempat ini berbeda dimensi saat seseorang masuk kedalamnya, hal itu menurut penuturan pria ini sebelumnya.
"Berbalik, aku yang akan membuka pakaian mu!" perintahku pada pria ini.
"Bukannya harusnya dalam posisi sekarang ini, aku jadi bisa terus melihat wajahmu?" tanyanya menolak halus perintahku barusan.
"Ya sudah, buka pelindung kepalamu dulu..." ucapku dengan ekspresi berpura-pura malu serta canggung.
__ADS_1
Setelah dia membukanya aku pun mendekatinya dan langsung menekan titik pada lehernya hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
"Untungnya aku belajar teknik totok ini dari seseorang hehe.."
Kemudian aku mencoba untuk berbicara dengan Ryu seorang.
"Ryu, aku ingin berbicara denganmu?"
Tidak terdengar jawaban dari sana sampai aku melihat-lihat sekitaran tempatku lagi sekarang ini agak gelap hanya cahaya matahari yang masuk pada celah atap berlubang.
"Ya, apa ada masalah? Maaf aku lama menjawab."
Akhirnya setelah beberapa saat menunggu Ryu pun menjawab perkataan ku sebelumnya
"Aku Anita, ada yang mau aku tanyakan padamu tentang perwakilan ras manusia tidak berkemampuan, apa mereka kemari dengan sebuah pesawat?"
"Sepertinya tidak, karena aku lihat dari atas dinding tinggi ini dari kejauhan Perwakilan itu terlihat menunggangi kuda beserta orang-orang lain yang mengawalnya."
Ada kejanggalan dari perkataanya itu seperti dari mana dia tahu yang menunggangi kuda adalah Perwakilan ras manusia tidak berkemampuan.
"Ryu, aku mau berbicara dengan Yin, bisa kan?!"
Berhubung dengan rahasia yang hanya diketahui oleh kami berdua dan nyatanya jawaban Yin berbeda hingga aku simpulkan jika suara Ryu maupun Yin telah di tiru oleh seseorang.
Aku sebelumnya sudah merekam pembicaraan tadi dan ku kirimkan pada semua rekanku yang masih memiliki alat komunikasi.
"Kecuali Ryu dan Yin, apa yang terjadi dengan mereka berdua. Ini buruk karena orang lain menyabotase alat itu, dan berpura-pura sebagai rekanku. Tidak salah lagi, pasti Siniken!"
Tak lama Brain membenarkan kecurigaan tersebut bahwa Ryu telah kehilangan alat komunikasi itu, entah karena jatuh atau sesuatu telah terjadi padanya.
Dan Brain berkata di penghujung akhir ucapannya agar tetap waspada terhadap orang yang mencurigakan saat berpapasan.
Untuk masalah tadi Brain sendiri yang akan mengurusnya beserta rekan pilihannya menuju tempat Ryu berada.
Katanya terlacak saat terakhir kali dia kehilangan komunikasi.
Setelah itu aku menggunakan peningkatan kemampuan guna memasuki alam bawah sadar prajurit ini. Mencari ingatannya tentang raja.
__ADS_1
Namun anehnya ingatannya tentang raja tidak ada sama sekali seperti halnya ada orang yang menghilangkan ingatannya tentang raja.
Bahkan setelah aku masuki ingatan seluruh prajurit didalam ingatan prajurit ini semuanya sama sekali tidak memiliki ingatan apa-apa pada rajanya.
"Tsk, tidak mungkin sejak lahir mereka tak pernah melihat raja sama sekali!"
Terpikirkan olehku bahwasanya ada seseorang dengan kemampuan menghapus ingatan.
Dan jika benar begitu artinya raja sudah mengatasinya sejak awal agar hal yang seperti aku lakukan ini tidak merenggut nyawanya. Dia benar-benar jeli.
"Yang aku khawatirkan cuma satu, apa raja mengetahui rencana kami. Argh! Aku bingung. Belum pernah aku pusing seperti ini hanya demi memikirkan secara keras tindakan yang dilakukan oleh orang lain!"
Setelah itu aku meninggalkan prajurit ini disini sembari meninggalkan ingatan kelamnya aku ingatkan terus menerus saat dia bangun nanti. Tertanam sudah di ingatannya beberapa jam saat dia bangun.
Kembali menonton seleksi penilaian kedua pada tahap selanjutnya dimana Marin sedang melawan monster di level kedua, aku seperti biasa ditemani oleh orang itu.
"Boleh aku kenalan?" tanyanya beberapa saat ketika aku fokus melihat pertarungan Marin.
Kini diriku sedang tidak mood sehingga menatapnya jengah, bahkan menjawabnya mungkin saja agak berbeda.
"Boleh, siapa namamu?" jawabku.
"Hei, kamu berpura-pura senyum sembari menjawab. Sepertinya kamu sedang bad mood, aku tahu itu!"
"Baguslah kalau dia peka."
"Tapi tidak apa-apa, berkenalan dengan gadis sepertimu mungkin adalah kesempatan langka. Jadi
perkenalkan namaku Alex!"
"Astaga... anggap saja aku tidak berkata apa-apa barusan."
Dia menceritakan tentang dirinya kepadaku dengan santainya mengenai pekerjaannya, ketika dirinya masih hidup. Yaitu sebagai pengisi suara dan menirukan gaya para orang-orang terkenal seperti artis papan atas bahkan seorang aktor.
Sampai-sampai Marin telah usai melewati level kedua dan kini memasuki level terakhir.
"Makhluk itu..." ucapku terhenti ketika melihat makhluk yang akan dilawan Marin selanjutnya.
__ADS_1
Semacam cadre tubuh dipenuhi otot dengan badan kekar raksasa. Tatapannya dari sini terlihat seperti hewan buas hendak membunuh mangsanya sekali terkam.