
"Siapa...!"
"Aku Pangeran, cepat buka pintunya! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!"
"Maaf, aku sedang mandi, jadi tidak bisa!"
Oh, ya sudah. Tidak apa-apa!"
"Tumben sekali dia nurut, bukannya dia itu tipe pemaksa ya..."
"Siapa yang kamu panggil pemaksa, huh?"
"Eh, kamu sudah masuk kedalam, bagaimana bisa!?"
"Huh... Kamu ini. Benar-benar dua orang yang berbeda ya, memangnya kamu bisa memerankan berapa banyak karakter dengan aktingmu, itu?"
"....."
"Kenapa? Kamu malu karena aku membongkarnya ya...?"
"Bukan!"
"Hmm?"
Setelah aku selesai mandi rupanya pangeran sudah ada di dalam kamar ini, dia sedang duduk dan kelihatannya sedang menungguku.
Masih dengan mengenakan handuk aku langsung saja bertanya kepadanya.
"Apa mau mu?"
"Aku menginginkan sesuatu darimu, kamu pasti tahu apa yang aku inginkan!"
"Ngga usah basa-basi, kamu Siniken, kan?"
__ADS_1
"......"
"Dari tatapan mu saja aku sudah tahu!"
"Lalu aku mau bertanya, kenapa kamu bisa lepas dari kendali, Nie?"
"Baik baik, aku mengaku. Aku ini Siniken. Sebenarnya aku lolos karena pengaruhnya sudah hilang, begitulah!"
"Senyumannya itu..."
Dia adalah Siniken yang meniru sebagai pangeran, kelihatannya ada maksud dari senyumanya.
"Lalu, apa mau mu?"
"Hehe aku cuma mau membantumu, itu karena aku... tertarik kepadamu, jadi tidak ada salahnnya kan?"
"Kurasa Siniken sedang mencari-cari informasi tentangku, dia sengaja mendorongku agar terpancing pada jebakannya."
"Aku akan membicarakannya nanti, jadi kamu keluar dulu karena aku mau ganti baju!"
"Baik Baik, aku akan keluar!"
Hingga akhirnya aku selesai memakai baju dan setelah ku buka, Siniken rupanya sedang berjongkok di samping pintu.
Ia pun menoleh ke arahku dengan tatapan yang mudah aku artikan, baru setelah aku menyuruhnya masuk ia pun menurutinya begitu saja.
Kami duduk di ruangan tamu yang ada di dalam kamar ini. Tentu saja aku masih belum percaya kenapa Siniken memilih untuk membelot kepada raja.
"Jadi, bisa kamu jelaskan kenapa kamu menghianati raja?"
"Aku suka nada bicaramu. Mungkin karena aku tahu pihak siapa yang akan menang!"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Sebenarnya sebentar lagi akan ada penyerangan besar-besaran terhadap kaum manusia tidak berkemampuan, meskipun tidak menggunakan mu sebagai pancingan atau senjata sebagai kartu as!"
"Kalau tidak salah... satu hari lagi kan?"
"Ya, tepat setelah itu perang akan di mulai."
"Lalu apa hubungannya kamu dengan..."
"Sebentar. Itu karena..."
Grep!
"Ergh."
"Siapa yang menyuruhmu kemari, huh? Sudah bosan hidup ya?"
"Pangeran, dia cuma meminta pertolongan ku!"
"Pertolongan? Apa yang dia minta bantu darimu?"
"Dia kesakitan karena melawan orang berkemampuan tadi! Ya, kurasa dia adalah lawan yang sulit. Makanya hampir saja dia kalah!"
"Kamu kira aku akan mudah dibodohi!! Hanya dengan kata-katamu itu, Putri!"
Sekarang ini mulutku di bungkam oleh pangeran dengan salah satu tangannya. Sementara tangannya yang satunya sedang mencekik Siniken.
"Aku ini sangat benci dengan penghianat, apalagi orang seperti Siniken yang kelihatannya sangat setia, lalu dengan mudahnya menghianati raja. Ku rasa orang sepertimu akan mendapatkan hukuman yang sepantasnya!"
"Ya, ampun ini gawat. Kalau sampai hal itu terjadi maka bisa panjang urusanku nanti!"
"Jawab Siniken! Apa alasanmu menghianati raja?" tandas pangeran kepada Siniken namun dia tetap tidak berbicara.
"Kemungkinannya Siniken sedang mencari celah."
__ADS_1