
Bergegas menuju ke arah sungai tanpa memberitahukan kepada Willy terlebih dahulu yang sepertinya masih tertidur begitupun dengan Geisha, aku mencoba berlari secepat mungkin.
Menemukan Nie dalam keadaan tak sadarkan diri pada sebuah batu besar di sungai, jelas membuatku bingung dan bertanya-tanya.
Barusan aku mendengar suara keras terdengar dari arah sungai yang mungkin saja menjadi alasan atau penyebab Nie tak sadarkan diri.
Saat aku amati sekitaran sembari mengecek kondisi Nie disini seperti tidak ada bekas serangan apapun.
Hanya suara air sungai dan burung-burung berkicau selebihnya tidak ada yang aneh.
Grep.
"Apa-apaan kamu...?" ucapku agak susah lantaran Nie tiba-tiba saja mencengkeram leherku dengan kuat.
"Maaf, sebenarnya aku sengaja menjebak dirimu. Tujuanku tak lain adalah melenyapkan dirimu!" ucapnya terus terang semakin membuatku penasaran.
"A-apa alasannya...? Aku tidak mengerti sama sekali, kurasa aku tidak berbuat salah padamu sebelumnya, atau... karena Willy?" tanyaku pada Nie sembari melawan susahnya berucap dalam keadaan ini.
Dia tetap bungkam dan terus memperkuat cengkeramannya seperti berniat untuk membunuhku.
Di tengah keadaan hidup dan mati ini aku berusaha untuk lepas darinya, namun sama sekali tak berpengaruh terhadap Nie.
"Aku mengaku, Willy adalah anak angkatku!"
Cengkraman tangan Nie terlepas pada leherku, dan saat dirinya lengah aku menggunakan jurus beladiri untuk menghadapinya.
Mengetahui kemampuan pengendaliannya tidak mempan membuatku semakin berani melakukan perlawanan padanya.
Kini Nie sudah aku amankan dan langsung mengikatnya dengan tali yang sengaja aku bawa.
Aku sudah memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi.
Lalu suara lumayan keras sebelumnya kemungkinan adalah batu besar yang dia jatuhkan oleh Nie kedalam sungai bertabrakan dengan batu lain.
Dia mengakui akan kecemburuannya kepada diriku yang menurutnya diriku terlalu disukai oleh Willy padahal baru bertemu dengannya.
Aku katakan padanya bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun pada Willy tujuanku berada disisinya hanya untuk mengajaknya bersama-sama pergi dari dunia ini.
Jika ada teman Willy yang lain aku pasti akan senang, karena lebih banyak orang perjalanan pada suatu tempat akan lebih mudah.
Seperti itulah yang aku katakan pada Nie dia lalu terdiam hingga berkata lagi akan rasa penasarannya kepada diriku,
__ADS_1
Yaitu pada saat Nie menggunakan kemampuan pengendaliannya yang sama sekali tidak mempan padaku.
Aku berkata seadanya, tidak mengetahui akan hal itu. Lalu aku melepaskan Nie sesuai perjanjian.
Dia ternyata terlalu egois kepada dirinya sendiri sampai-sampai tidak ingin Willy didekati oleh orang lain selain dirinya dan Geisha.
Perjanjian itu agar diriku menjauh darinya dan juga Willy dan dengan senang hati aku menerimanya.
Aku lihat dengan seksama Nie sepertinya percaya padaku dia kemudian memberikan sesuatu padaku, yaitu sebuah jimat.
"Karena kamu membuat diriku percaya aku akan memberimu jimat ini, sebuah jimat penolong dirimu saat dalam bahaya!" jelas Nie sembari menyodorkan jimat itu pada lenganku, dia menaruh dalam genggamanku.
"Huh? Tapi barusan kamu dalam keadaan berbahaya jimat itu malah tidak berfungsi?" tanyaku akan sesuatu yang mengganjal dalam hati, ku pastikan saja.
"Itu karena jimat ini berfungsi saat pemiliknya berada dalam keadaan hidup dan mati, yang sekarang ini kamu adalah pemilik baru. Ya sudah, aku pergi dulu. Takutnya Willy bangun lalu mencari mu dan..."
"Oke, aku segera pergi bye..."
"Bye..."
Dengan ini aku langsung bergerak menjauh dari tempat ini sejauh-jauh mungkin.
Tidak menyangka bahwa aku harus mencari orang lain lagi sebagai partner, karena mendapati kesempatan terbebas dari Willy secepat ini.
Pagi ini terasa menyejukkan, membuatku bisa bernafas dengan lega setelah beberapa menit yang lalu terbebaskan.
Perasaan puas ini membuatku senang ditambah aku ini adalah seorang introver yang suka akan kesendirian.
Embun terlihat pada setiap tumbuhan saat aku amati sembari berlari menuju gunung langit yang akan menjadi tujuanku selanjutnya.
Melewati berbagai rumah-rumah maupun gedung dan bangunan aku sempat Istirahat lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Kini aku berinisiatif untuk mencari tempat tinggal sementara jika saja sampai menjelang malam diriku masih belum sampai pada gunung itu.
Untungnya tas ransel sempat aku bawa selagi bergegas mengecek Nie di sungai sebelumnya, dengan ini aku memiliki lumayan bekal yang cukup.
Meskipun setengahnya aku tinggalkan di kamar tempat tidurku.
Aku penasaran bagaimana reaksi Willy saat terbangun menemukan dirinya berada di kamar tempat tidurku, lalu diriku tidak ada di sana.
Hingga siang hari aku terus melangkah sesekali berlari untuk mengurangi waktu tempuh pada tempat tujuan.
__ADS_1
Kota ini benar-benar sepi tidak ada lagi orang yang kutemui di tengah perjalanan akibat masa lalu kota ini.
Aku kemudian beristirahat sejenak untuk mengisi laparku terlebih dahulu.
Didepan sana aku melihat tumpukan mobil bertingkat-tingkat yang mana membuatku berpikiran ada orang yang melakukannya.
Tak mungkin alam bisa melakukan hal seperti itu terkecuali sebuah Anomali aneh pernah terjadi di tempat ini.
Aku beristirahat pada sebuah rumah namun didepannya duduk pada kursi yang sudah aku bersihkan.
Sembari memandangi kolam renang berisi ikan-ikan.
Tak ku sangka aku bertemu dengan kucing saat diriku sedang asyik mengunyah roti, kucing itu mendekati ke arahku dan memutari kakiku, dia sepertinya lapar.
Aku menyiapkan wadah khusus pada bekas plastik roti lalu ku beri dia makan berupa sosis sisa kemarin.
Kucing ini melahap setiap bagian sosis dengan cepat membuatku merasa iba merasa dirinya kelaparan beberapa hari ini.
Dilihat dari badannya yang agak kurusan.
Usai menghabiskan sosis yang ku beri aku perhatikan kucing ini sepertinya halnya ingin memberitahukan sesuatu padaku.
Memiliki firasat kuat akan hal itu aku pun mengikuti kucing ini dia mengarahkan diriku pada sebuah bangunan yang mungkin saja adalah rumah hijau.
Memasuki agak lumayan susah karena aku harus melewati celah sempit hingga akhirnya aku dapat memasukinya.
"Berhasil, sekarang mau kemana lagi pus?"
Meow..
Sebuah lorong seakan tak berujung diisi oleh tanaman kini aku berjalan menuju suatu ruangan, mungkin saja.
Kondisi tempat ini benar-benar terawat dengan baik seperti halnya ada orang yang menjaga tempat ini, aku menyimpulkan ada seseorang disini.
Penasaran, aku pun terus mengikuti langkah kucing ini mengingatkanku pada wujud Noel yang pernah menyamar menjadi kucing.
Aku harap ada orang baik yang mau membantuku tanpa pamrih, itulah keinginan untuk saat ini.
Bulp.. bulp.. bulp..
__ADS_1
Di ruangan tempat kucing ini berbelok aku mendapati seorang pria dalam sebuah kolam renang didalam ruangan.