
Sampai saat ini aku masih ragu pada harapan terbesarku, mengenai cara keluar dari sini. Apakah aku dapat keluar dari dunia ini meski tempat disini membuatku merasa nyaman?
Yanwu bilang tidak ada jalan keluar, kecuali mengetahui masa lalu seseorang sebelum berada di dunia ini. Itu pun bakal berakibat fatal apalagi mengetahuinya.
"Aku rindu sekali sama si pus di dunia tempat asalku, dia sudah makan belum ya... Aku jadi penasaran."
"Kelihatannya kamu merindukan seseorang?"
"Ya. Aku rindu sama hewan peliharaan di apartemen yang telah aku tinggalkan di dunia alternatif!"
Hal seperti ini tidak akan menjadi masalah bukan, kalau aku menceritakannya kepada Yanwu, lagipula aku butuh teman curhat sekarang.
"Jadi seperti apa dia, apakah dia lucu, lalu siapa namanya?"
"Dia lucu terus pandai bergerak, maksudku sangat lincah. Dia juga gemesin bikin aku selalu didekatnya. Umm namanya si pus."
"Hahaha keliatannya pus bikin ngagenin ya!"
"Iya sih. Cuma aku kasihan padanya karena telah meninggalkannya sendirian disana."
Aku merasa sedih ketika mengingat waktu kebersamaan dengan si pus, meski ada rasa membahagiakan pada saat mengingatnya tapi ada pula perasaan sedih dalam diriku.
Si pus memang hewan peliharaan ku satu-satunya, dia yang selalu menemaniku kapanpun saat aku ada dirumah, apartemen serasa hangat dan nyaman kalau ada dia.
Hal itu membuatku jadi sulit melupakannya, bahkan ketika aku bertemu dengan kucing lagi di dunia ini, aku jadi teringat kepadanya lagi. Malahan kucing yang sebenarnya adalah Noel yang menyamar aku namai dia si pus juga.
"Maaf kalau aku membuatmu sedih."
"Mmmm."
Jujur, Yanwu lah yang membuatku ingat kepada si pus.
"Aku juga pernah punya hewan peliharaan. Aku namakan dia Jifan!" ucap Willy yang ikutan nimbrung obrolan aku dan Yanwu.
"Heh, Jifan? Nama yang bagus Willy."
"Terimakasih Anita. Biar aku ceritakan sedikit tentangnya!"
"Boleh-boleh, aku mau denger."
"Orang sepertimu pernah punya hewan peliharaan juga?"
"Apa kamu pikir aku tidak punya, dengarkanlah dulu ceritaku!" tandas Willy menimpali perkataan Yanwu.
Aku antusias sekali ketika Willy mengatakan akan menceritakan tentang hewan peliharaannya. Aku penasaran bagaimana orang sepertinya dulu merawat hewan peliharaannya. Dia itu sadistik.
__ADS_1
"Dia sangat cantik, putih bersih, dan selalu menarik perhatianku. Hanya saja sifatnya terlalu galak kepadaku dan dia orangnya..."
"Hey! Bukannya yang kamu maksud adalah wanita mu?"
"Ah, apa maksudnya?"
"Hadeh... untungnya Anita masih polos, dia jadi tidak mengetahui peliharaan apa yang kamu maksudkan tadi."
Pada akhirnya cerita tentang hewan peliharaan Willy tidak dilanjutkan gara-gara pertengkaran keduanya. Yanwu memaksa agar Willy tidak melanjutkan menceritakannya, sedangkan Willy tetap kekeh.
Yang mau tidak mau aku harus menjadi penengah lagi diantara mereka agar mereka berhenti bertengkar dan kemudian berbaikan.
Lama sudah kami berjalan di tengah guyuran hujan hingga tak terasa langit sore sudah terlihat meski langit masih nampak mendung.
"Btw di tempat ini ada hewan buas gak sih? Selain singa?" tanyaku.
"Kamu pernah menemui singa?" sahut Willy.
"Aku pernah waktu itu!"
"Heh aku tidak percaya."
"Aku serius..."
"Mungkin kalian belum mengetahui cerita di zaman dulu, mengapa hewan-hewan buas di tempat ini berkurang dan jumlahnya sedikit!" ujar Yanwu membuat aku melepaskan tatapan tajam pada Willy dan berbalik menatap kearahnya.
Dengan perkataannya barusan, Willy rupanya sudah tahu tentang cerita itu. Sama sepertiku yang sudah tahu dari sebelumnya.
"Oh, kamu tahu. Coba ceritakan!" balas Yanwu.
"Memangnya aku bodoh ya, mau mengikuti perkataan orang sepertimu!!"
"Haish... kalian jangan berantem terus, aku cape tau... Kalau kalian nggak bisa dibilangin mending kita pisah disini saja," ucap ku sembari menggunakan perkataan mengancam.
Yang pada akhirnya mereka memohon agar aku tidak pergi.
Aku lalu menceritakan kepada Willy jika sebelumnya aku bertemu dengan dua orang wanita bernama Nie dan Geisha. Ku terangkan dengan detail dua orang wanita tersebut kepadanya, tujuannya agar di waktu ini Willy dapat bertemu dengan dua orang yang dia kenal.
Karena di waktu alternatif, sebelum aku mengulang waktu Willy hanya sebentar saja bertemu dan bersama dengan mereka berdua, itulah mengapa dalam kesempatan ini aku berinisiatif untuk mengubah alur masa depan.
"Apa kamu mengenal mereka sebelumnya Anita, ceritamu terdengar seperti kamu akrab dengan dua orang itu?" tanya Willy kepadaku.
"Umm nggak sih. Aku cuma asal ketemu saja sama mereka. Pada awalnya pun aku bertemunya dengan Geisha dulu."
"Begitu ya.."
__ADS_1
"Bukannya kamu yang menyebut wanita itu menggunakan kata "dua orang itu" berarti kamu mengenal mereka?" tanya Yanwu merujuk pada perkataan Willy sebelumnya.
"Hmm, iya juga ya," kataku setuju dengan ucapan Yanwu.
"Huh... benar sekali, kamu memang teliti pria jaman dulu," jawab Willy.
"Terserah kamu saja."
"Jadi ceritanya aku sedang tidur bersama peliharaan, maaf, maksudnya teman wanitaku. Waktu itu aku dan dia sedang tidur nyenyak sampai terbangun karena serangan monster!"
"Setelah aku bangun dan melihatnya, rupanya monster itu sedang mengincar dua orang wanita. Saat itu aku tidak peduli karena bukan urusanku, tapi karena teman wanitaku memohon setelah ia terbangun dan melihatnya aku pun terpaksa membantu mereka."
"Akhirnya mereka selamat dan kami saling berteman, itu saja."
"Sedikit sekali," kata Yanwu.
"Kesana nya berbau itu, kamu pasti mengerti bukan?" sahut Willy berbisik kepada Yanwu dan aku memperhatikannya.
Akhirnya perjalanan melelahkan ini berakhir sudah, kami telah sampai di tempat kediaman Kino. Saat ini didepan pintu rupanya ada Noel yang menatap kearah ku, seolah-olah dia menungguku sejak lama.
"Oh ya, aku lupa. Kino sama Noel pasti mencariku kemana-mana, aku nyakin."
Sebelumnya aku memang pamit kepada Kino ingin mengecek keadaan sekitaran tempat ini, apakah berbeda dengan keadaan sebelum aku mengulang waktu atau tidak.
Berawal secara sengaja bertemu Geisha aku lalu mencari makanan di mall, mala jadi lupa pada mereka.
"Rumah yang sangat bagus. Lumayan sekali untuk di tempati, aku harap kondisi di dalamnya tidak mengecewakan!" gumam Willy.
Noel lalu mendekati ku dan berucap kepadaku tentang mereka berdua, dua orang yang aku bawa kemari.
"Mereka berdua adalah teman-temanku, satunya mau ikut membantuku satunya lagi mau tinggal sementara!" tandas ku kepada Noel dengan suara kecil.
"Hmm tapi, orang itu pernah aku lihat?"
"Ah iya.. dia orang yang waktu itu kamu kalahkan, kamu ingat?"
"Iya aku ingat, waktu itu dia memaksa untuk membawamu kan. Tapi dia sekarang bersama denganmu, apa tidak terjadi apa-apa saat kamu bersamanya?"
"Tidak sama sekali. Hanya masalah kecil yang kami hadapi sama-sama!"
"Apa masalah itu sangat besar?"
"Kok kamu tau... jangan-jangan...??"
"Aku cuma menebak, apa salahnya?"
__ADS_1
"Iya iya aku percaya."
Noel mungkin menatap mereka seperti itu karena satu orang yang dia kenal dan satu orang lagi yang terlihat mencurigakan dengan pakaiannya.