
Sekilas aku terdengar seperti seseorang yang hendak menyampaikan perasaan cintanya kepada pujaan hatinya. Bedanya, aku lewat perantara dalam hati karena Rhino masih saja ada didalam diriku.
Meski semua itu hanya tipuan yang aku buat layaknya drama romansa romantis. Terus terang saja, aku melakukanya dengan baik dan hati-hati. Takut hal tak diinginkan bisa saja terjadi.
Ya, tapi itu kulakukan agar aku bisa terbebas dari Rhino si punya kemampuan parasit. Benar-benar merepotkan sekaligus mengganggu jika dia terus-menerus berada dalam diriku.
Kini aku berada di tempat lain setelah terlempar dan masuk kedalam lubang yang diciptakan tuan Mizu, sebelum raja hendak menghentikannya.
Walaupun begitu, aku tetap sedih melihat tuan Mizu yang tertinggal di sana. Mengingat perkataan raja saat itu yang menekankan kata "konsekuensi penghianat"
Aku harap tuan Mizu akan baik-baik saja.
Tidak sendirian lagi, kini aku di temani kucing kecil yang waktu itu menemaniku di supermarket. Namanya si pus kucing kecil berwarna oranye yang lucu dan menggemaskan.
Untungnya aku berada di tempat tersembunyi yang sekelilingnya tertutup rapat oleh tanaman dan dedaunan merambat, seakan-akan aku sedang berkemah didalamnya.
Bukan berarti sekarang ini aku aman karena sudah di terlepas dari genggaman raja. Malahan kemungkinan ada banyak orang yang dengan kemampuan spesial nya yang akan mereka digunakan untuk mencari ku.
Bahkan kata tuan Mizu mereka rela mati-matian mendapatkan kemampuan absolut hanya untuk mengubah dunia ini.
Rasanya aneh ketika kekuatan biasa-biasa saja sepertiku dikatakan kekuatan absolut. Bukanya di beberapa manga yang bercerita tentang pahlawan berkekuatan sepertiku terlihat sepele dan dipandang sebelah mata.
Kembali lagi pada hukum di dunia ini, prinsipnya seseorang bisa hidup lebih lama dari usia maksimum manusia. Asalkan dia sampai tua tidak mengingat memori yang berkaitan dengan bunuh diri yang dilakukan olehnya.
Begitu pun di sisi lain, mereka mencari ku guna melakukan persembahan kepada dewa yang diduga menciptakan dunia ini.
__ADS_1
Kemungkinan ancamannya begitu banyak sampai aku tidak bisa menghitungnya.
Lalu ku putuskan untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan demi kelangsungan hidupku beberapa hari kedepan.
Yang kubawa hanyalah buku catatan tuan Mizu dan ponsel yang sebelumnya kutemukan.
"Disini keliatannya bukan pusat kota mala lebih jauh dari tempat sebelumnya."
Mengekplorasi tempat-tempat disini aku mencoba mencari tempat lain dan meninggalkan tempat sebelumnya.
Alasannya, karena air disana sangatlah kotor dan perumahan yang terbengkalai banyak sekali di tumbuhi tanaman liar serta berduri, bahkan didalam pun dimasuki.
"Hemm, padahal tempat tadi sudah nyaman untuk aku gunakan sebagai persembunyian!"
"Iya, aku juga mencari makanan buatmu!"
Seperti biasa, hatiku selalu rapuh pada sesuatu yang terasa menyedihkan. Baik itu kisah sedih seseorang, nasib yang dialaminya, pengorbanan yang gagal, dan hewan-hewan yang diperlakukan tidak adil di duniaku.
Pernah sekali sewaktu aku kecil, saat itu aku masih diasuh oleh Bibi dari ibuku. Sepulang bekerja aku melihat segerombolan anak-anak di usiaku yang menyakiti seekor kucing.
Di gang kecil ini aku melalui jalan pintas seperti biasa namun kali ini aku tak sengaja bertemu dengan teman masa kecilku.
Sayangnya keempatnya aku ketahui adalah anak yang nakal suka berbuat onar, meskipun begitu aku tetap berteman dengannya karena suatu kondisi.
"Kalian ..apa yang kalian lakukan kepada kucing itu?"
__ADS_1
"Eh, Anita. Kebetulan sekali kami sedang bersenang-senang. Apa kamu mau ikut?"
"Jawab aku dulu! Kenapa kalian menyakiti kucing itu?"
"Kucing ini membunuh kucing kesayangan ibuku! Jadi aku menuntut keadilan saat ini. Demi membalas kucing ibuku yang mati."
"Tapi tidak seharusnya kalian menyakitinya, itu malah seperti kalian sedang menyiksa hewan yang malang."
"Apa ada yang berpendapat dengan Anita?"
"....."
Saat itu ketiga temannya diam karena Leo memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mereka, yaitu anak orang kaya.
Hendak aku menyelamatkan kucing itu, dengan sigap aku langsung saja dicegat oleh yang lain.
Saat itu aku menyaksikan sendiri kucing yang tewas dipukuli.
Pertemanan kamipun berakhir setelah kejadian itu, sebelumnya aku menampar dengan keras pipi leo hingga ia pingsan dan masuk ruang ICU.
Kejadian ini terjadi karena salah mereka, lebih tepatnya Leon sendiri yang membunuh kucing dengan sadis.
Nyatanya tetap saja aku yang bersalah, Bibi akhirnya terkena imbas dan harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal pada pengobatan di rumah sakit.
Saat itu karena emosiku meluap terciptalah keinginan bagiku untuk menjadi seseorang yang pandai dalam urusan hukum.
__ADS_1