Last Life

Last Life
Beda Pandangan Pada Orang Yang Sama


__ADS_3

"Perempuan itu dapat terbang hingga kabur tanpa meninggalkan jejak, terakhir kulihat dia tersenyum manis kearah ku sebelum pergi. Alasan aku tidak mengejarnya lantaran api diawal lumayan besar, beda saat dirimu melihat kebakaran tadi lalu membantu!" terang Leonin dapat aku percayai lantaran ekspresinya tidak ku tangkap ada kebohongan.


Namun dari ekspresinya itu aku juga harus waspada, karena yang ku tahu ekspresi juga bisa menipu banyak orang dari berbagai kalangan sekaligus.


Berjalan menyusuri lebih dalam lagi di hutan ini pada akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Sudah menempuh perjalanan cukup jauh dan membuang waktu beberapa jam memang tidak melelahkan, hanya saja rasa bosan akan datang disaat-saat yang tepat.


Untungnya aku membawa tas ransel yang didalamnya berisi air mineral, makanan, dan keperluan penting lainnya.


Kemudian aku mengambil wadah sarapan makan siang ku, sementara Leonin aku kasih kue kering dan sedikit cemilan serta sebotol air minum.


Dia ku lihat tengah hanyut dalam pikirannya dan tidak ku ganggu karena perutku mulai berbunyi.


"Apa hanya ini saja yang kamu bawa?" tanyanya yang tidak ku jawab karena aku sedang mengunyah makanan, bahkan aku menghadap ke arah sebaliknya. Dia pasti tidak mengetahui aku sedang mengunyah.


"Hei... kenapa kamu menghadap ke arah sana, apa kamu tidak suka padaku?"


"Hah? Aku hanya sedang mengunyah tadi, kamu malah melenceng dari pertanyaan awalmu, pria aneh."


"Terserahlah, aku hanya ingin protes kenapa dirimu makan nasi dan lauk enak sedangkan diriku hanya roti dan cemilan. Air tidak dihitung!"


Aku yakin kalau tidak mempercepat makan siang dan waktu istirahat ini aku pasti akan ribut dengannya.


Karena tak ingin hal itu terjadi dan membuang-buang waktu terlalu lama, aku pun mempercepat makan siang ketimbang berlama-lama beristirahat.


"Eh...?"


"Enak sekali... bekal makananmu yam..."


Tiba-tiba saja Leonin mengambil wadah berisi makan siang ku dan langsung melahapnya seperti orang tengah kelaparan.


Tanpa peduli aku yang sebelumnya sedang asyik-asyiknya makan malah diambilnya.


Aku pun hanya bisa mengalah dan minum untuk melegakan tenggorokan serta amarahku yang terpendam.


"Huh... enak sekali, apa ada lagi?"


"Ngga ada."

__ADS_1


"Itu cuma satu, kalau kita sampai malam di pulau ini.. itu artinya kita akan makan roti kering dan cemilan saja!" sahutku agak kesal padanya.


"Ngomong-ngomong siapa yang membuat makan siang ini? Ya... walaupun bekas tapi jujur saja telur dan ayam terigu nya sangat enak!"


"Aku."


"Ka-kamu yang masak, hmm tipeku sekali, perempuan yang pintar masak."


Aku mengabaikan dirinya bergumam sembari membereskan barang yang ku keluarkan dari tas.


Grep.


"Kamu... menjauh sana, jangan sentuh aku!"


Saat hendak mengambil botol air minum yang isinya tinggal setengah Leonin tak kusadari memegang satu tanganku.


Tentu saja sekuat tenaga aku berusaha untuk lepas darinya mengingat dia adalah seorang playboy yang bisa saja akan berbuat hal buruk.


Sayangnya tenaga ku kalah olehnya, yang mana dengan terpaksa aku harus menggunakan kemampuan tongkat pemberian Sekai.


Botol air minum lalu ku jadikan senjata karena masih terdapat air dan ku bentuk jarum mengelilingi Leonin guna membuatnya melepaskan genggaman tangannya padaku.


Aku terkejut, entah mengapa aku akhir-akhir ini sering lengah terhadap sesuatu, semenjak diriku kembali mengulang waktu.


Bahkan ingatan diwaktu sebelumnya sedikit demi sedikit mulai aku lupakan tanpa disengaja.


Meskipun Leonin barusan berkata hanya memegang saja dan aku sampai segitunya, dia kini masih saja memegang satu tanganku.


"Kalian berdua sedang apa!?"


"Reina!?"


Kami bertemu dengan mereka lagi setelah beberapa jam berpencar.


"Apa kalian selama ini sudah jadian?" tanya Reina yang sepertinya salah paham.


Leonin kemudian melepaskan genggaman tangannya lalu memasang ekspresi tak bersalah. Dia sepertinya ingin aku yang menjelajahi.


"Tidak, tidak aku sama dia tadi hanya kesalahan saja, kakak percaya kan padaku?" melihat tatapan mata mereka yang membuat canggung membuatku berpikir keras agar keluar dari situasi ini. Lalu terlintas sebuah ide yang terlintas dalam pikiranku.

__ADS_1


Menarik Reina agar berada di pihaku seperti halnya alibi terkuat.


"Iya... kakak percaya sama kamu, pria ini pasti memiliki niatan buruk humph!"


"Cih, asal menuduh tidak membuatmu layak menjadi seorang kakak!" sahut Leonin disertai cibiran kepada Reina.


"Apa kamu bilang!?"


"Kak, aku mau cepat pulang dari sini..."


Untuk sekarang ini aku harus mencegah amarah Reina dengan cara diriku berlagak polos.


Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan perjalanan sambil berbincang mengenai misi, yang kata Reina bisa segera diselesaikan, karena dirinya saat berpencar dan bersama kekasihnya berhasil berjumpa dengan ras manusia dewa di pulau ini.


Sekarang ini kami menuju ke kediaman ras manusia dewa itu. Hanya saja aku dibuat mengerutkan dahi sejak Reina mengatakan bahwa ras manusia dewa itu sangat baik dan ramah.


Memiliki kesan baik saat pertama kali bertemu, begitulah kesimpulannya. Tapi yang membuat bertanya-tanya itu adalah kesan mereka yang berbeda sekali dengan diriku maupun Leonin saat bertemu dengan ras manusia dewa itu.


Kesannya dia jahat karena tidak mempedulikan akibat dari membakar hutan dan tidak diketahui maksudnya, dan tentu saja dia tidak ramah berbeda sekali dengan yang Reina bilang, perempuan misterius terlihat dari pakaian yang dikenakannya.


Sampai di ke kediaman ras manusia dewa yang kami cari ternyata tempat tinggalnya tidak menggambarkan sifatnya yang telah aku temui.


Malah persis seperti gambaran Reina tadi. Karena kediaman ras manusia dewa ini nampak asri lantaran halamannya terdapat bunga-bunga indah berbagai jenis serta pohon-pohon langka sama seperti bunga.


Meskipun rumahnya terbuat dari kayu dan nampak sederhana tapi jika modelnya seperti ini aku pasti betah.


Apalagi aku ini orang yang menyukai ketentraman seperti di tempat ini.


"Wa... ada tamu lagi, senang rasanya rumah ku akan ramai... Mari masuk duku!" ucap seorang perempuan bergaun putih menangapi kami dengan sambutan berkesan, dari senyumannya itu terpampang jelas perempuan ini orang yang baik, murah senyum, ramah, dan banyak lagi tidak bisa ku sebutkan semuanya.


Intinya mencirikan orang yang teramat baik dengan anak dari sifat-sifatnya itu.


Namun di satu sisi aku dibuat tertegun untuk sesaat.


"Halo... salam kenal, namaku Aletha panggil aja aku Thea, senang berkenalan denganmu..." ucap perempuan ras manusia dewa ini dia membuyarkan diriku yang sedang dalam kondisi tertegun barusan. Lalu tak ku sangka mengajakku berkenalan secepat ini, diakhiri olehnya dengan senyum terbaiknya, aku tahu itu.


Jujur sekarang ini aku terkejut mengetahui wajah perempuan dihadapan ku mirip dengan perempuan yang membakar hutan ini.


Yang sempat aku ketahui sekilas saat hendak terbang mengejar burung-burung api. Dan Leonin mungkin menyadarinya juga.

__ADS_1


__ADS_2