
Usai menjelaskan perihal apa yang aku alami barusan kini gantian Gerry bercerita tentang dirinya kepadaku. Gerry bilang ingin menyampaikan sesuatu berhubungan dengan patung-patung ini.
"Mereka sebenarnya adalah korban pembunuh sadis dari abad pertengahan sampai sekarang ini, kemungkinannya begitu. Desas desus mengatakan jika pelaku utamanya adalah seorang wanita gila yang memiliki kemampuan luar biasa, yaitu semacam pengguna ilusi berbahaya hingga merubah korbannya menjadi kehendak dirinya."
"Tapi kan yang ada disini cuma patung, tidak ada wujud lain?" ucapku pura-pura polos.
Misalnya saja si pengguna ilusi itu benar-benar bisa merubah korbannya maka wujud yang Yanwu kumpulan ini adalah wujud yang mudah untuk ia tangkap.
Bahkan bisa disimpan ribuan tahun asal tidak rusak, menurut deduksi ku Yanwu mengumpulkan patung ini bukan karena mereka semuanya berbuat jahat di masa lalu, walaupun ada kemungkinan seperti itu.
Lebih spesifiknya dia tidak sengaja menemukan satu demi satu patung lalu menyimpannya kedalam cincin ruang.
Mulanya Yanwu pasti memperbaiki patung tersebut terlebih dahulu saat ditemukan oleh dirinya yang dalam kondisi hancur, perkataan ku bisa diperkuat dari setiap patung yang ada disini.
Salah satunya memiliki bekas pernah hancur yang telah disatukan. Bahkan ada patung yang paling menonjol dilihat dari retakan pada wajah dan kedua tangan.
"Di sel penjara juga ada salah satu dari mereka yang di ubah dirinya menjadi monster akibat melawan perempuan pengguna ilusi itu."
"Apa dia yang memiliki kemampuan berubah menjadi monster?" tanyaku penasaran sekalian memastikan.
"Bukan, dia seingat ku menempati sel nomor sepuluh."
"Ada yang mau aku tanyakan, kalau kamu tahu tentang orang itu pasti kamu saat pertama kali berada disini tidak menjadi patung? Lalu... bagaimana bisa kamu menjadi patung kembali?" tanyaku terlalu penasaran karena menemukan hal janggal pada perkataan Gerry barusan.
"Seingat ku orang itu memiliki kemampuan peniru, laki-laki berpakaian zaman kekaisaran yang telah memasukkan diriku kedalam dunia ini seperti yang kamu katakan Anita. Dia terakhir kali mengubah diriku kembali menjadi patung, lantaran waktu itu aku sangat sulit untuk diajak bekerjasama."
Aku pun kembali ke atas setelah menunggu Gerry mengubur jasad orang tadi yang menyerang ku, menguburnya di ruang bawah tanah itu.
Yang masih membuatku bertanya pada kejadian sebelumnya yaitu saat orang itu menyerang ku yang terlindungi dari pelindung berlian.
Bukannya suara serangan itu sangat gaduh dan keras, tapi mengapa tidak terdengar dari atas. Aku menyimpulkannya dari reaksi yang mungkin saja terjadi, dan yang aku dapat ternyata tidak ada seorangpun yang datang kebawah ruangan rahasia itu sekedar untuk mengecek suara gaduh.
Mandi di malam hari dengan air hangat memang membantu menghilangkan rasa penat seketika apalagi aku terlalu lelah saat beraktivitas di ruang bawah tanah.
Untuk Gerry dia mandi di kamar mandi khusus laki-laki bertempat di bawah, sedangkan diriku berada di kamar mandi lantai atas.
__ADS_1
Setelah selesai mandi aku pun langsung tidur agar diriku tidak kekurangan banyak waktu istirahat.
Pagi ini aku langsung bangun pagi dan bergegas pergi meninggalkan rumah ini untuk berolahraga.
"Huf..."
Rumah tempat tinggal yang aku tempati itu ternyata berada lumayan jauh dari kawasan padat penduduk yaitu kota Y disebut sebagai kota teknologi termutakhir.
Informasi ini aku ketahui dari basa-basi pembahasan rencana semalam.
"Lelah sekali, tapi akhirnya aku sampai di kota ini. Demi melepas kerinduan pada hirup pikuk kota dipenuhi oleh polutan, suara kendaraan lalu lalang, dan hal menarik yang tidak bisa aku jumpai di dunia misterius itu."
"Boleh aku duduk disini nona?"
Saat aku bergumam sambil membetulkan tali sepatu suara laki-laki terdengar meminta ijin kepadaku hanya sekedar untuk duduk di sebuah bangku panjang yang sekarang ini diriku sedang beristirahat.
"Em, silahkan."
Pria ini terlihat lebih muda dariku mungkin saja dia anak sekolahan hanya saja dia memiliki tubuh yang proporsional saat aku meliriknya dari samping.
"Enggak, nggak ada apa-apa. Ya udah aku pergi dulu..." ucapku sembari beranjak untuk melanjutkan lari pagi.
Grep!
"Mau kemana, bukannya kamu baru beristirahat?" tanya laki-laki ini sambil menahan tanganku saat aku hendak pergi. Dia terlalu kepo menurutku.
"Aku mau lanjut joging, barusan aku duduk sebentar cuma mau membetulkan tali sepatu!" jawabku sembari melepas genggaman tangan laki-laki muda ini.
"Kalau gitu sekalian saja, kita joging bersama. Kebetulan aku sendirian tidak ada yang menemani sekarang."
Mungkin saja dia sendirian joging karena pacarnya sedang tidak ingin berolahraga. Atau seseorang yang biasa menemaninya tidak ikut.
Aku pun mengiyakan laki-laki ini dan dia pun langsung saja membalas ku dengan senyum terbaiknya, aku rasa.
Kota ini sangat bersih, sejuk, dan nyaman menurutku. Dari mulai jalanan bahkan perumahan elit yang aku lalui pun masih terjaga kebersihannya. bahkan rumah bertuliskan di kontrakan saja memiliki lingkungan yang bersih enak dipandang.
__ADS_1
Dan sangat sejuk saat aku melewati jalan yang diperuntukan bagi pejalan kaki karena terdapat pepohonan hijau di sepanjang jalan.
Jalur sepeda pun tersedia serta jalanan di kota ini tidak terlalu padat dengan kendaraan beroda dua maupun empat.
"Kereta gantung itu..." ucapku kagum saat melihat kereta gantung yang di bangun pada tempat yang berbeda dibandingkan kota di dunia asalku.
"Kamu baru melihat kereta gantung itu ya, apa kamu baru beberapa hari berkunjung ke kota ini?"
"Iya, aku baru saja menginjakkan kaki ke kota ini!"
"Hah??"
Berakhirlah lari pagi ini ketika aku merasa terlalu jauh joging hingga sampai sejauh ini maka aku pun memutuskan untuk kembali.
"Aku mau cepetan mandi, kamu lanjutkan saja lari pagi mu. Aku mau pulang."
"Tunggu sebentar, kalau boleh aku minta nomor Wii chat mu, kurasa kita bisa joging pagi di hari besok?"
Daripada aku berjanji dan membohongi dirinya lebih baik aku katakan saja dengan jujur padanya.
"Maaf, hari ini mungkin terakhir aku berada di... maksud aku di kota ini! Jadi maaf aku tidak bisa memberi nomor... apa tadi, bahkan aku tidak punya nomor itu sama sekali."
Aku pun melenggang pergi meninggalkannya dengan raut mukanya yang terlihat masam setelah aku menyelesaikan ucapanku barusan.
Dia mungkin saja ingin berteman denganku makanya langsung saja meminta nomorku setelah aku berkata mau pulang.
Sampai di halaman rumah aku melihat Yin yang sedang bermain kembang api, memang agak membuatku terperangah tapi dia benar-benar sedang bermain dengan itu.
"Kakak... lihat aku main senjata api..."
"Huh, anak ini. Bukannya sudah aku beritahu dia sebelumnya," ucap Ryu sambil menepuk jidat saat aku lihat.
"Hehe bukan senjata api, tapi kembang api."
Sementara saat aku melihat ke arah jam tiga Brain sedang berkumpul dengan rekan pilihannya yang kemungkinan sedang berlatih menjelang dimulainya rencana terakhir.
__ADS_1