
Sekarang ini aku sedang mencari keberadaan si pus yang hilang entah kemana beberapa saat yang lalu. Kini aku mencarinya bersama seorang pria yang bertampang serius dan berwajah tampan.
Berkat aku melihat kejadian tadi pengetahuan ku akan dunia ini semakin bertambah, dan kurasa aku memang perlu mempelajarinya sedikit demi sedikit.
"Oh, ya. Aku belum memberitahu mu ciri-ciri si pus! Jadi dia berbulu orange dan putih, itu saja."
"Ha.. kurasa benar kucing itu," seraya dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Katanya pria ini pernah melihat si pus sebelumnya.
"Dan juga aku mau berkenalan denganmu, nama aku Anita!"
"Namaku Noel, senang berkenalan denganmu."
"Iya, aku juga."
Sudah sangat lama kami mencarinya, namun si pus belum kunjung ditemukan hingga detik ini.
Aku memiliki firasat jika si pus ikut masuk kedalam dunia manipulasi tadi sehingga membuatnya terjebak disana.
"Ayo kita jalan!" ujar ku pada Noel agar bergegas memulai perjalanan sebelum hari mulai panas.
"Oke. Tapi kamu beneran mau ninggalin kucing itu?"
"Sebenarnya sih nggak, mala aku kasian kalau dia masuk kedalam dunia itu lalu terperangkap didalamnya."
"Huuu, ya sudah. Lagipula itu memang takdirnya."
"Kamu kan punya kemampuan, bisakah bawa kucing kecil itu kembali aku mohon..."
__ADS_1
"Bisa sih, tapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Nanti aku akan membawanya kembali!"
"Ahh makasih..."
Perjalanan kami pun di mulai setelah aku kembali mengemas beberapa barang bawaan, sedangkan pria itu tidak membawa apa-apa sama sekali.
Hingga kami memasuki daerah rawa-rawa yang berlumpur, disana aku berhenti karena menolak melewati jalur darat.
Bukan karena lumpur yang kotor tapi aku takut jika sewaktu-waktu ada lumpur hisap disana.
Jadi Noel terpaksa mengikuti kemauan ku. Dan untungnya ada jalur lain yang memutar melewati rawa yang luas itu, hanya saja akan memakan waktu yang cukup lama menurutnya.
Dan ketika aku bertanya tentang kemampuan apa yang dimiliki Noel dia hanya menjawab singkat.
"Nanti aku akan ceritakan setelah sampai!"
Yang padahal aku sudah menyaksikan sendiri kemampuannya pada saat itu selama dia bertarung dengan pria berkemampuan manipulasi.
Di tengah perjalanan kami dihadang oleh seseorang berjubah dengan satu tangannya yang memegang sabit.
"Ternyata banyak sekali orang-orang yang tersesat!" ucap Noel sembari memandang pria itu.
"Cih," dan pria itu hanya membalasnya dengan berdecak.
"Apa mau mu sampai menghadang kami?" tanya Noel sambil mengernyitkan dahinya.
"Heh.. terus terang saja. Aku sedang kesepian karena kekasihku sudah tiada!"
"Itu tidak ada hubungannya dengan kami."
__ADS_1
"Tidak ada, kamu buta ya. Atau kamu berpura-pura tidak melihat. Di sampingmu jelas ada wanita cantik, jadi kalau boleh..."
"Tidak akan, sebaiknya kamu menyingkir dari jalan kami!"
"Tsk, dasar pria yang tidak mau berkompromi!" sembari pria itu berlari dengan langkah cepat kearah kami.
"Mmm."
"Mundur lah! Aku yang akan menghadapinya."
Clang!!
Akhirnya aku melihat dengan jelas kemampuan Noel.
Kemampuannya adalah energi putih yang keluar dari tangannya lalu setelah pria pembawa sabit itu datang Noel mengubah energi tadi menjadi pedang.
Sehingga menahan serangan sabit itu dan menghalaunya.
"Tsk, kemampuan mu boleh juga. Tapi rasakan serangan sabit ku ini!"
Drash!!
Setelah sabit itu menyerang tanah, tanah bekas hantaman ujung sabit itu terbelah.
Retakan itu pun membuat tanah disekitar ku terdorong ke atas seperti terlempar hingga aku kewalahan dibuatnya.
Aku berusaha untuk mencari pijakan di setiap tanah yang ada di udara, sementara disaat Noel berada di udara...
Shutt!
__ADS_1
"Selamat tinggal, Baby."