Last Life

Last Life
Keadaan Terpaksa


__ADS_3

"Aku beritahu, mungkin saja itu suara perkelahian para pelindungku melawan rekanmu, bahkan sebelumnya seseorang telah dihabisi dengan keji!" ujar Raja yang mana membuatku terdiam dengan tatapan kosong.


"Urus saja urusanmu sendiri Raja pengecut, aku akan membunuh..."


Jleb!


Sekali lagi aku melihat rekanku dalam keadaan menegangkan kali ini Marin yang mendekati Raja lalu tertusuk belati. Posisi itu aku yakin sekali Marin terkena tusukan.


Kemudian terdengar suara dari alat itu mengatakan agar diriku lari dari tempat ini sekarang bagaimanapun caranya, sesuatu buruk bisa saja terjadi.


Brain menekankan kata diakhir dengan suara meninggi setelahnya hilang secara tiba-tiba bersamaan suara keras mengakhiri penyampaiannya.


"Aku tegaskan lagi padamu Anita, aku tahu kamu pemimpin kedua orang ini sekarang. Dan apa yang sebelumnya aku katakan mengenai kerjasama harus segera kamu putuskan baik-baik, jika kamu menolaknya aku terpaksa akan membunuh dua orang ini!" ancam Raja dengan ekspresi serius menatapku dari seberang sana, sementara Marin terlihat menghentikan pendarahan dengan kain pada perutnya.


Aku tidak tahu keputusan apa yang akan aku ambil, namun keadaan ini memberiku sebuah ide untuk langkah selanjutnya.


"Ini aku Lisa, aku berhasil mengalahkan banyak prajurit bagian selatan. Hanya saja saja aku membutuhkan bantuan sekarang juga, ku harap salah satu dari kalian ada yang bersedia kemari. Di bagian tembok selatan aula utama!"


Sepertinya rekanku yang lain sedang sibuk dengan masalahnya sendiri Lisa bahkan meminta bala bantuan untuk membantunya, dan mungkin saja Ryu yang tak ada kabar pasti mengalaminya juga.


Aku harus menyelesaikan masalah ini dulu baru mengecek keadaan mereka bila perlu membantu jika mereka dalam masalah.


"Bagaimana Anita, keputusan apa yang akan kamu ambil. Waktu terus berjalan dan kesabaran seseorang memiliki batasan."


"Aku memilih menerima tawaranmu sebelumnya, asal kamu mau melepas mereka berdua. Bukannya


... kita bertiga adalah orang pilihanmu..."


"Pilihan yang bagus, dan yah, memang seperti itu keinginanku."


Pertama-tama aku harus mengamankan diri terlebih dahulu dengan berpura-pura menjadi pembelot di pihak timku, hal ini pula demi keselamatan mereka juga.


Aku langsung menggunakan kemampuan memasuki ingatan kepada Marin maupun Lu Yang mengenai tawaran yang aku bicarakan dengan Raja sebelumnya.


Dan langsung mendapatkan penolakan keras dari keduanya yang tak ingin menuruti perintah orang seperti Raja dengan mudah.


Bugh!

__ADS_1


Tidak disangka Lu Yang berhasil mendaratkan pukulan pada pipi Raja tanpa aku sadari dia sebelumnya akan mendekatinya.


Apa mungkin kehadiran Lu Yang tidak disadari oleh Raja dan kecepatannya yang hampir sama dengan Marin?


"Dengarkan aku, kita akan melawan orang ini. Dia tidak pantas menjadi Raja!" ucap Lu Yang meninggikan suaranya saat setelah memukul Raja hingga terhempas beberapa Senti.


Mendengarnya membuatku tertarik sehingga aku mengurungkan niat untuk menjadi bagian dari kerajaan, perkataan Lu Yang barusan terdengar serius dilihat dari raut wajahnya saat melihat ke arahku.


Dia mungkin mengetahui kejahatan Raja saat dia menyamar menjadi seorang perantara sebelumnya.


Raja kemudian bangkit sembari menyentuh pipinya terlihat tidak ada ekspresi kesakitan sama sekali.


"Jadi kamu memilih jalan yang berliku, kurasa aku harus membuatmu dalam keadaan hidup dan mati. Tapi, aku tidak sampai membunuhmu. Cukup dalam keadaan sekarat agar dirimu mengerti..."


Bugh!


Belum usai Raja bicara dia menerima pukulan untuk yang kedua kalinya dari Lu Yang seakan keberadaan lawan yang mendekatinya tidak bisa dia deteksi.


"Banyak bicara!" ucap Lu Yang.


Kletak!


Kletak!


Aku sebelumnya bergerak guna mendapati pijakan kuat yang belum hancur dan masuk pada lubang retakan yang kelihatannya sangat dalam.


Dam!!


Tak disangka tanah yang aku pijak yang dalam radius tertentu terangkat ke atas hingga membuatku hampir hilang kehilangan keseimbangan.


Sementara di bawah Lu Yang tetap mengincar Raja, meskipun bekas retakan tanah berterbangan dan menyulitkan dirinya. Nyatanya dia masih bergerak dengan mudah.


Retakan tanah yang ada disekitaran ku dalam keadaan melayang lalu bergerak seperti halnya dikendalikan oleh kemampuan psikis.


Aku berusaha untuk menghindar sembari berpindah tempat pada retakan satu dan lainnya secara bergantian. Ada perasaan dejavu, yang kemudian mengingatkan diriku saat Willy mengamuk.


Dalam keadaan ini aku masih bisa melihat rekanku Marin pun terlihat membantu Lu Yang mengalahkan Raja.

__ADS_1


Sementara di pihak Raja prajurit yang sebelumnya menunggu perintah kini langsung bergerak membantu tanpa disuruh. Ikut menyulitkan keadaan yang aku alami sekarang.


Setengah jam menurut perkiraan ku, sekarang ini diriku dalam keadaan menyulitkan lantaran kedua rekanku dibuat tewas dalam keadaan tragis.


Lu Yang terlihat babak belur dengan kaki dan tangan patah, sedangkan Marin dia yang paling tragis dan aku tidak bisa membayangkannya lagi.


Tiga portal muncul didekat Raja keluarlah seseorang yang sedang membawa rekanku yang telah dilumpuhkan dalam keadaan berbeda-beda.


Brak!


Brak!


Brak!


Yin, Ryu, dan rekan pilihan Lisa seingat ku. Lalu bagaimana dengan mereka yang tersisa.


"Kamu ingat Anita, sebelumnya aku pernah bilang ada yang mati mengenaskan oleh para pelindungku, dan setelah aku ketahui mereka berjumlah 6 orang!" ujar Raja.


Enam orang telah tewas berarti yang tersisa Diriku, Ryu, Yin, Lisa, dan rekan Lisa yang sekarang ini belum diketahui keadaan dirinya. Dia terlihat membeku didalam bongkahan es besar, Ryu dalam keadaan terikat, Yin dalam sangkar emas berukuran besar yang sepertinya dalam keadaan pingsan.


Sebenarnya aku ingin marah dan membabi buta tapi melihat kenangan bersama mereka membuatku merasa tidak enak bertindak gegabah, takut langkahku akan membawa kematian pada mereka.


Tak lama suara gaduh dari kedatangan para prajurit mengepung diriku membentuk bundaran harusnya dalam situasi ini aku memilih menyerah.


Hal buruk yang tidak terprediksi ini benar-benar mengacaukan rencana akhir yang malah merenggut nyawa rekanku.


"Aku tidak akan mempermasalahkan hal sebelumnya, aku ijinkan dirimu untuk merenung terlebih dahulu. Yang artinya kamu harus menjadi pelindungku!" tandas Raja kepadaku.


"Atau... bila perlu kamu bisa menjadi ratu asal..."


"Tidak. Aku menolak hal itu, dan memilih menjadi pelindungmu saja. Dengan syarat Yang Mulia harus melepaskan mereka beserta Lisa!" ucapku meminta keadilan diantara kedua pilihan.


"Oh, baiklah."


Pada akhirnya aku kembali mengalami kekalahan dalam pertempuran maupun peperangan yang mengharuskan diriku memulainya lagi dari awal.


Raja kemudian membebaskan sandera dihadapan ku setelahnya aku dibawa pergi olehnya memasuki sebuah portal.

__ADS_1


Tempat yang indah dari ruang singgasana entah kenapa Raja membawaku kemari dan setelah aku telisik ternyata aku berada didalam sebuah kamar yang luas.


"Apa yang akan Yang Mulia lakukan dengan membawaku kesini?" tanyaku berpura-pura terlihat gelisah.


__ADS_2