
"Huh.. mereka ini, membuat kita terlihat terus oleh radar pesawat saja," ucap Hiyou dengan nada mengeluh sambil menyentuh keningnya.
"Hm? Maksudmu?"
"Kemampuan ku ini memang sudah di sempurnakan sehingga dapat mengelabui sistem navigasi pesawat dan radar, namun jika ada suara yang terdengar sekecil apapun. Maka sama saja kita dapat terdeteksi."
"Jadi kalau kita tidak bersuara setelah ketahuan tadi maka..."
"Ya, kita tidak terlihat lagi oleh radar, karena aku terus menggunakan kemampuan ku. Dan juga durasi jeda kamuflase ku sudah perlahan menghilang!"
"Aku harap Kwen dapat mengerti sepertimu!" sorot mata Hiyou mengarah tajam ke arah Kwen dari jauh.
Sebagai otak rencana dia sangat berpikir keras dalam setiap kondisi maupun situasi. Karena yang aku tahu dia ini seorang mahasiswa nomor satu di sekolahnya semasa di dunia, tapi sepertinya nasib baik tidak menyertainya. Itulah mengapa dia bisa berakhir di dunia ini.
Sayang sekali Hiyou harus berakhir dengan bunuh diri.
"Hmm, aku jadi penasaran sama masa lalunya."
Bum!
"Lagi-lagi misil diluncurkan!"
"Sepertinya posisi Kwen dan Nie sangat rawan sampai bisa diketahui lagi, itupun karena mereka dari tadi berisik."
Satu peluncuran bisa memunculkan dua misil sekaligus yang kini menuju ke arah Kwen dan Nie. Aku rasa melihat Hiyou dalam keadaan tenang-tenang saja membuatku tidak terlalu khawatir terhadap mereka.
Dor! dor!
"Ternyata Kwen membawa senjata api juga, pantas saja raut wajah Hiyou setenang itu. Tidak berubah sedikitpun."
Beberapa saat hingga serangan misil tidak diluncurkan, kamipun dapat bergerak aman menuju daratan.
Yang pasti akan ada pemberitahuan dari pusat pemantauan jika ada manusia berkemampuan yang berhasil memasuki wilayah ini, wilayah mereka.
Kini kami mencari tempat pendaratan yang pas tidak terlalu mencolok dan ramai, mungkin itu yang ada dipikiran Hiyou maupun Kwen.
Setelah menghindari pesawat penjaga kini kami masih terbang menaiki burung sambil melihat situasi di bawah.
Banyak hal yang aku temui saat di atas karena melihat beberapa hal yang mirip seperti di dunia alternatif.
Di tempat ini ada mobil yang dapat melayang di udara, aku melihatnya sekilas dan itu memang nyata. Bahwa perkembangan teknologi di wilayah ini sangatlah pesat.
Bahkan melebihi dunia tempat asalku.
Kota-kota dan bangunan di tempat ini terlihat sangat modern. Yang kemungkinan ide tersebut berasal dari dunia alternatif.
Apalagi transportasi di wilayah ini sangat banyak dan memadati jalan penghubung antar kota.
__ADS_1
Mirip persis seperti keadaan di duniaku.
Dari atas aku masih takjub melihat daratan hijau dengan pemandangan alam yang indah. Karena kami saat ini mulai memasuki wilayah hutan.
Menurut informasi dari tuan Mizu waktu itu, tempat penghapusan berada di wilayah manusia tidak berkemampuan, namun letaknya sangat jauh dan tersembunyi.
Walaupun begitu tuan Mizu masih ingat dengan jelas tempat penghapusan kemampuan itu berada. Dan menggambarkan letaknya pada sebuah kertas tebal yang sekarang ini kami jadikan peta.
Sebenarnya akan ada efek samping apabila aku menghapus kemampuan dalam diriku, hanya saja aku tidak ingin kemampuan ini suatu saat bisa disalah gunakan oleh orang lain.
Lebih parahnya lagi digunakan oleh orang-orang yang memiliki niat jahat
Aku rasa kini aku rindu dengan kucing peliharaan ku dan apartemenku, mungkin pus sekarang ini sedang kesepian.
"Emm si pus merindukan aku nggak ya..."
"Aku harap ada yang memberikannya makan dan kasih sayang yang sama sepertiku."
Serta yang paling ku rindukan adalah teman-temanku dan kondisi kamarku yang terkadang acak-acakan. Pokoknya aku merindukannya.
"Kamu sedang melamun?" ucap Hiyou yang seketika membuyarkan lamunanku.
"...iya aku sedang memikirkan kenangan indahku saat di dunia."
"Sepertinya ada seseorang ataupun hal lain yang kamu rindukan, mungkin saja."
Aku sempat terkejut saat Hiyou berkata begitu, dia seakan bisa membaca pikiranku dengan mudahnya. Untungnya aku tidak memiliki banyak informasi tentangnya, kalau saja ada dan dia memiliki kemampuan membaca pikiran aku bakal repot.
"Biasa aja. Aku hanya menebaknya," ucapnya sembari memalingkan muka.
"Dingin banget..."
"Sebenarnya aku baru pertama kali melihat tempat ini, ternyata disini benar-benar mirip seperti dunia kita ya?" ucapku memulai pembicaraan.
"Hmm iya, benar juga."
"Kamu bukan pertama kalinya kan melihat tempat ini?" tanyaku lagi.
"Sepertinya kamu yang bisa membaca pikiran saat ini!"
"Hehehe," entah kenapa aku jadi menahan senyum saat Hiyou mengatakan itu.
Di dekat gunung yang masih tertutupi oleh pepohonan lebat kami mendarat pada sebuah batu besar.
Secara bergantian kami mendarat dan turun kebawah, menginjakkan kaki di tanah.
"Huf... cape nya..." aku kelelahan saat sudah menyentuh tanah, lalu aku bersandar di sebuah pohon untuk menikmati waktu istirahat sebentar.
__ADS_1
"Padahal cuma begini saja!"
"Eh, kamu bicara apa?"
Hiyou memutuskan agar kami beristirahat sejenak, sedangkan kendaraan kami burung itu berlalu pergi setelah kembali ke wujud semula.
Di detik-detik kepergian kedua burung itu Kwen bahkan sempat memberinya makan.
"Kenapa dia lebih memilih membawa pakan burung dibandingkan makanan untuknya sendiri, aku jadi bingung?"
Kini aku masih bersandar di bawah pohon rindang dan hampir memejamkan mata, tapi...
"Sepertinya kita ini pion yang memulai peperangan!"
"Apa maksudmu, berkata seperti itu?" kata Kwen membalas.
Hanya aku dan Nie yang merasa terkejut dalam hati, karena kami sama-sama hanya mendengarkannya saja.
"Akibat kita ketahuan tadi akan berdampak sekali pada rencana penyerangan ras manusia ini!"
"Kemungkinan perang akan terjadi dalam waktu dekat, bahkan bisa saja besok atau malamnya."
"Jadi karena kita ketahuan tadi para penjaga akan menyimpulkan bahwa itu serangan diam-diam dari ras musuh?"
"Tepat seperti itu. Dan apa dampak paling merugikan kita pada saat ini?"
"Penjagaan ketat di setiap wilayah oleh para penjaga dan mereka akan berpatroli sampai malam hingga menemukan kita?"
"Setengahnya seperti itu, tapi yang paling merugikan adalah mereka akan mengaktifkan senjata terkuat!"
"Jangan jangan... itu...?"
"Ya. Penghilang kemampuan!"
"Tsk, kalau begitu kita akan lama sampai disana!"
"Itulah mengapa aku bilang sangat merugikan kita!"
"Ah, sial."
Beberapa menit berlalu, aku pun bangun setelah Hiyou membangunkan ku dan Nie. Saat melihat jam ternyata sudah menjelang sore hari.
"Ayo. Kita harus bergegas jalan!" perintah Hiyou saat aku masih mengucek mata dan akan beranjak.
"Kita naik burung itu lagi kan?" sepertinya Nie bersemangat sekali untuk memulai perjalanan.
"Enggak, kita akan berjalan kaki!"
__ADS_1
"Hah!? Cape dong!" keluh Now dengan ekspresinya yang mulai berubah, lalu aku menghampirinya untuk sekedar menyemangati.
"Tenang aja, Kak. Mungkin mereka memiliki alternatif lain dalam perjalanan ini! Mana mungkin kan kita harus jalan, lagipula tempatnya masih jauh," sambil aku perlihatkan peta dan lokasi saat ini dengan coretan merah.