
Semuanya sudah berkumpul di ruang tengah ditambah beberapa orang yang bebas dari dalam cincin ruang milik Yanwu.
Ruangan luas ini cukup diperuntukkan untuk membahas hal-hal penting menurutku, bisa saja sebagai penghormatan kepada tamu-tamu terhormat yang datang ke kediaman ini.
Dilihat didalam ruangannya saja yang bertemakan barang-barang berkelas bernilai seni dan tempat duduk mewah pada jamannya.
"Baiklah, semuanya sudah berkumpul. Besok kita akan menyerang kerajaan di waktu petang. Dan inti dari pembicaraan ini membahas tentang penyerangan dan strategi kita saat melawan para pelindung raja maupun raja itu sendiri," jelas Hiyou ketika semuanya sudah berkumpul di ruang ini.
"Pelindung kerajaan dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama disebut sebagai pelindung utama dan bertugas melindungi raja maupun mensupport dari belakang, sementara kelompok ke dua para prajurit yang berjaga di perbatasan kerajaan!"
Kemudian Hiyou menjelaskan secara rinci para pelindung raja yang salah satunya ada disini. Ikut bergabung dalam penyerangan esok hari.
"Kita akan dibagi menjadi beberapa tim!"
Kalau tidak salah sekarang ini ada 15 orang yang aku kenal ditambah si kecil Yin.
Aku harap mereka semua dapat bekerjasama dengan baik meskipun salah satu dari mereka ada yang tidak saling mengenal.
"Kita dibagi sesuai dengan tugas masing-masing dan kemampuan yang diperlukan pada penyusupan, penyerangan, serta bertindak sebagai support."
Hiyou kemudian melanjutkan perkataannya tentang strategi yang akan disetujui oleh semua orang yang ada disini. Dia beranjak bangun dari tempat duduknya menuju ke sebuah papan tulis putih.
"Sekarang ini menurut informasi yang didapatkan sore tadi, kerajaan telah merekrut orang-orang berkemampuan unggul dan sangat berbahaya. Dan orang ini adalah ancaman bagi kita, maka dari itu..."
"Tim satu bertugas menyusup masuk kedalam kerajaan Anita, Brain, Nie, Kino bertugas menyusup kedalam kerajaan guna menghilangkan ancaman berbahaya tersebut!" ucap Hiyou menekankan kata di akhir.
"Aku keberatan. Bukannya orang yang kamu maksud berbahaya, lalu mengapa menugaskan penyusupan kepada mereka ini?" ucap Willy merasa keberatan dan berdiri dari tempatnya. Seraya kedua tangannya mengebrak meja.
"Tenang saja, ada Brian yang akan menjaga yang lainnya. Lagipula kemampuan Anita, Nie, dan Kino memang diperlukan dalam rencana penyusupan ini."
Hiyou menjawabnya dengan tenang tanpa ekspresi sama sekali.
"Tck."
Willy hanya berdecak kesal setelah mendengar jawab tersebut.
Dan aku baru mengetahui nama pria beraura dingin itu setelah sekian lama menyebutnya menggunakan julukan berhubungan dengan dirinya.
"Berhubung di dalam wilayah kerajaan banyak sekali desa-desa jadi akan berdampak buruk jika penyerangan dilakukan secara terang-terangan. Jadi penyerangan akan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, berfokus pada prajurit kerajaan terlebih dahulu."
"Tim dua Yanwu, Sihan, Klie, Willy, Lisa. Yang akan melakukan penyerangan secara sembunyi-sembunyi!"
__ADS_1
"Apa yang akan aku lakukan?" tanya Lisa.
"Mudah saja, gunakan kemampuanmu untuk mempengaruhi prajurit. Seperti mensupport yang lainnya. Lebih rinci ada pada kertas strategi setiap tim yang belum aku bagikan," sahut Hiyou.
"Lalu Geisha, Billy, Silueit, Kwen. Atau tim 3 bertugas mencari ancaman lain yang tidak disangka-sangka, lalu menginformasikannya kepada satu orang yang kemudian akan disampaikan kepada seluruh anggota dengan kemampuan pikirannya."
Kemampuan pikiran yang Hiyou maksud mungkin dimiliki oleh dua orang ini, Billy maupun Siluiet. Karena aku sudah mengetahui kemampuan Geisha dan Kwen.
Serta mereka berdua, Billy dan Silueit sama-sama memiliki otot yang begitu besar dan kekar.
"Aku sama siapa!?" Pokoknya aku maunya sama dia kalau nggak sama dia!" ucap Yin yang tidak kebagian tim. Dia memiliki untuk bersama denganku, sebaliknya jika tidak dia ingin dengan Willy.
"Yin, kamu akan bersama dengan keluargamu. Mereka ikut dalam rencana ini!"
"Ayahmu, dan Ibumu akan ikut. Serta paman paling kamu benci."
Hiyou mengatakannya dengan jujur menurutku, merujuk pada Kay paman Yin. Sebelumnya Yin mengatakan kepadaku bahwa dirinya sangat membenci pamannya.
Dengan ini akankah Yanwu melepaskan mereka berdua, Quen dan Kay yang sekarang ini masih didalam cincin ruang miliknya?
Mereka berdua juga masih dalam ilusi mimpi, sampai-sampai aku tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan mereka nantinya dalam rencana ini.
"Masalah pribadi tidak akan aku bocorkan, jadi kamu tenang saja Yin. Karena ayahmu yang akan menjelaskannya sendiri, dia ada disini sekarang!"
"Jadi itu maksudnya Kwen memberi kode kepada Hiyou, dikarenakan kedatangan Ryu sebelumnya."
Dua jam kami berdiskusi dan saling berpendapat setelah pembagian tim. Meskipun begitu ada dari mereka yang berpindah dalam tim karena merasa keberatan, salah satunya adalah Yin.
Dia memaksa agar berada di timku kepada Hiyou dengan bujuk rayunya seperti tatapan memelas dan kata-kata manis yang diucapkan oleh anak kecil seusianya yang terbilang terlalu dini untuk memahaminya.
Namun Hiyou tetap teguh pada pendiriannya, dan diwaktu Yin hendak menggunakan kemampuannya. Hiyou terpaksa menyetujuinya.
Malah yang membuatku mengerti kan dahi lantaran senyum tipis Hiyou seolah-olah akting darinya.
Selain Yin ada Willy yang memprotes untuk berpindah tim, lalu terakhir Siluiet yang ingin bergabung di tim penyerangan.
Dugaan ku mengatakan jika dia ini adalah bawahan Klie. Yang pernah aku masuki ingatan kelamnya saat dia masih.
Tapi pada akhirnya Yanwu mengatakan hal yang cocok pada situasi saat itu untuk membuat yang lain tetap pada kelompoknya.
Hingga tidak ada lagi yang memutuskan untuk pindah.
__ADS_1
Serta Yanwu memberikan sebuah janji kepada siapapun berupa kejutan luar biasa kepada mereka yang masih hidup nantinya. Cukup mengejutkan, namun yang dikatakan olehnya terlihat asli bukan bualan semata.
Aku mengetahui melalui pengetahuan membaca raut wajah seseorang.
Seingat ku, Yanwu berkata bahwa tepukan nya kepada seseorang dapat memberikan kejutan luar biasa tersebut sesuai janji.
Jam 12:25 aku akhirnya balik lagi ke kamar untuk merebahkan diri. Dan masih mencari keberadaan pedang yang sebelumnya aku temukan lalu menghilang beberapa detik setelahnya.
Beberapa menit mencarinya dikamar ini sampai aku mengobrak-abrik baju di lemari, nyatanya aku belum menemukannya.
Tidak ada kah titik terang dalam pencarian menyulitkan ini. Aku sangat kesal seperti aku kalah dalam taruhan.
Kurasa pedang itu memiliki kekuatan magis hingga bisa menghilang dalam sekejap ketika Geisha datang.
Yah. Bukannya aku menuduhnya, tetapi dia bisa dijadikan tersangka pertama menurutku.
Geisha yang saat itu langsung masuk kedalam kamarku dan langsung naik ke atas ranjang. Bukannya dia terlihat mencurigakan.
Misal Geisha pelakunya mana mungkin dia bisa menghilangkan pedang berat tersebut, kecuali dirinya menyembunyikan pedang tersebut dengan kemampuannya.
"Bisa saja seperti itu, tapi apa alasannya mengambil pedang yang bukan miliknya?"
"Aku sendiri bahkan tidak tahu si empunya pedang itu siapa?"
Daripada memikirkan hal tersebut yang mana membuatku harus berpikir dengan keras, lebih baik aku mengistirahatkan otak.
Mungkin saja jika aku berjodoh dengan pedang itu, aku pasti akan bertemu dengannya lagi.
Ceklek!
"Kak..."
"Astaga... si kecil ini, kenapa dia kemari?"
"Aku mau tidur disini kak, boleh ya, ya, aku tidak akan nakal kok..."
"Hmm boleh, tapi kamu sudah ijinkan, sama ayahmu?"
"Udah. Kakak tenang aja."
Yin masuk ke kamarku begitu saja, ketika pintu tidak aku kunci sebelumnya.
__ADS_1