Last Life

Last Life
Dunia Seperti Yang Kau Inginkan


__ADS_3

"Um, aku tidak menyembunyikan apa apa. Kamu jangan asal bicara!" elakku.


"Ya sudah, tidak apa jika kamu menyomot martabak goreng di piring tadi. Martabak ini memang untuk cemilan."


"Humph, aku mengakuinya. Memangnya sebelum kamu tiriskan sudah dihitung dulu jumlah martabak gulung nya?" tanyaku sembari memasang wajah cemberut, memancing agar Ryu mau mengatakan alasan dia bisa mengetahui aku mengambil martabak gulung di piring tadi.


"Tentu saja, aku ini orangnya teliti dan menghitung terlebih dahulu jumlah martabak gulung sebelum di tiriskan, untuk menghindari kejadian serupa."


"Sepertinya dia menyadarinya dari awal."


Karena sudah diketahui aku pun tidak sungkan lagi untuk memakan martabak gulung yang aku sembunyikan di dekat wadah bumbu.


Renyah dan gurih cemilan yang dibuat oleh Ryu ini, dan salah satu jajanan yang sering aku temui di pusat kota, lebih tepatnya tempat khusus yang menjajakan gorengan semacam ini.


Namun itu dulu, saat aku masih berada dunia asalku. Aku ingat, bahkan cemilan ini masuk dalam salah satu jajanan favorit sahabatku.


"Jangan melamun! Kalau kamu mau bantu, sekarang tolong aku mengiris daun bawang itu!" perintah Ryu dikala aku sedang melamun sekaligus membuyarkan lamunan.


"Oke, aku bantu."


Aku pun membantu Ryu mengiris daun bawang yang tidak aku ketahui Ryu mendapatkannya dari mana. Bahkan terigu dan juga bumbu yang ada di dapur ini, terlihat seperti dapur modern saja.


Padahal rumah dengan arsitektur klasik abad pertengahan ini sudah kental sekali dan berasa diriku seperti ada pada masanya, namun seketika berubah jika aku amati sekali lagi.


"Btw kamu dapet bahan makanan, minyak, terigu, dan semuanya dari mana Ryu. Kamu mengerti kan apa maksudku?"


"Hmm, kamu pasti menyadari ketidakcocokan dekorasi dan arsitektur rumah dengan apa yang ada didalamnya. Kamu juga penasaran pada peralatan dapur dan semua yang berhubungan dengan apa yang kamu katakan tadi, menurutmu sangat aneh bukan?"


"Begitulah, apa yang kamu katakan barusan tujuh puluh persen nya benar dan beberapa persen lagi kurang "terjawab" bagiku."


"Ya... jadi kita ini berada di dunia perbatasan antara modern dan zaman dulu. Yanwu menjelaskan kepadaku jika dunia yang diciptakannya ini sesuai dengan keinginan dirinya."


Yang aku tangkap dari penjelasan Ryu barusan adalah dunia ini berbatasan dengan masa lampau dan masa sekarang, entah tahun berapa masa sekarang ini aku tidak tahu. Pastinya maksud dari perbatasan itu merujuk pada satu dunia dengan dua time line di dalamnya.


"Aku mengerti, lalu apa di dunia ini ada manusia berkemampuan?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Jawabannya ada, namun berasal dari dunia misterius itu, yang di masukkan oleh Ryu kedalam cincin ruang ini. Mereka sedang di tahan dalam penjara yang penuh akan kekuatan mistik, siapa saja tidak bisa membuka maupun kabur kecuali kehendak dari Ryu, katanya."


"Terus manusia modern dan manusia dari masa lalu berada jadi satu di dunia ini, gitu?" tanyaku lagi memastikan.


"Benar sekali, huh. Bagaimana kamu mengetahuinya?"


"Pakai ini," ucapku seraya menunjuk pinggir dahi dengan jari.


"Pikiran maksudmu? Ya... ada benarnya juga sih. Mari kita lanjutkan aktivitas ini dulu nanti bicarakan lagi setelah selesai."


"Siap."


Setengah jam lamanya kami menyiapkan sarapan pagi dengan porsi untuk sepuluh orang sekaligus. Ryu bilang dia mau menunjukkan diriku ke penjara berkekuatan mistik itu. Yang menahan orang orang berkemampuan.


Tapi pertama pertama aku harus sarapan dulu katanya, maka kini aku sarapan pagi bersama dengan keluarga kecil Ryu.


"Emm... enak banget masakannya. Jadi keinget sama masakan ibu," ucap Yin mengomentari rasa masakan yang kini berada didepannya di meja makan. Perkataannya barusan mengubah ekspresi ayahnya menjadi masam.


"Yin, kamu mau cobain gak, masakan buatan kakak!" ucapku mengatasi suasana yang akan berubah menjadi canggung gara gara perkataan Yin barusan.


"Ini dia, namanya Tsuki Doki."


"Hm?"


Yin terlihat kebingungan mendengar nama masakan buatanku yang memang aku namai begitu agar dia bereaksi terhadapnya. Serta incaran utamaku adalah Ryu.


"Pff... Nama masakan apa ini, aneh sekali. Padahal di dunia asalku makanan ini bernama sup, dan kamu pasti mengetahuinya bukan?"


Umpan sudah termakan oleh si korban dan benar saja berefek seperti yang aku harapkan. Akhirnya wajah Ryu yang masam tadi berubah menjadi gembira lagi.


"Ayah jangan menertawai masakan buatan kakak cantik, hargailah ayah, hargailah!"


"Hm, ayah minta maaf."


Setelah mengatakan hal barusan kepada ayahnya Yin aku lihat dia sedang kebingungan, yang menurutku bukan karena nama masakan buatanku.

__ADS_1


"Dunia tempat asal ayah, kira kira dunia seperti apa tempat ayah berasal?" ucap Yin bertanya.


Wajar jika dia merasa ada yang janggal dengan perkataan ayahnya tadi, karena Yin lahir di dunia ini. Bukan dunia tempat asalku, tapi dunia tempat orang-orang yang memiliki kemampuan khusus layaknya superhero yang ada di dunia misterius ini.


Ryu menjelaskan perihal dunia asal tersebut dengan berbisik kepada Yin entah apa yang dikatakannya aku tidak tahu. Aku harap Ryu tidak mengatakan kebenarannya.


Seusai sarapan pagi bersama aku pun langsung mandi dan melakukan ritual seperti biasa. Setelahnya pergi menuju penjara berkekuatan mistik bersama Ryu.


"Tempat ini luas sekali, kayaknya sih bisa menampung banyak orang," gumamku saat memasuki penjara ini yang terlihat luas didalamnya.


Ada yang menarik perhatian diriku yaitu pria berpenampilan menarik beserta pakaiannya yang eksentrik, yang ada didalam sel. Tak habis pikir, aku bertanya tanya dalam hati apa yang membuatnya bisa di tahan di sini. Kejahatan apa yang dia perbuat.


"Kamu memperhatikan dia terus, apa kamu tertarik dengannya, Anita?"


"Tidak, aku cuma penasaran bagaimana dia bisa di tahan disini?"


"Semua tahanan memiliki masalahnya sendiri sendiri dengan Yanwu, aku rasa yang bisa menjawabnya adalah Yanwu dan pria itu, jika kamu menanyakannya."


"Saran yang bagus, akan aku tanyakan padanya nanti."


"Btw tempat ini pasti menyerap kemampuan semua tahanan yang disini bukan?" tanyaku penasaran sembari mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan yang di terpenuhi oleh sel tahanan.


Saat ini aku dan Ryu sedang menuju sel Lisa maupun Sihan.


"Aku bisa saja pingsan dikarenakan dirimu bisa menyimpulkan hal seperti itu tanpa aku beritahu. Aku jadi penasaran apa pekerjaan dirimu di dunia asalmu, Anita. Apa mungkin kamu seorang detektif?"


"Mungkin saja."


Aku sendiri tidak yakin dengan pekerjaanku di dunia alternatif yang bisa saja ingatan tersebut adalah ingatan palsu. Tapi aku tidak yakin seratus persen hanya sepuluh persen saja.


Akhirnya aku sampai di sel Lisa maupun Sihan, sel mereka ternyata bersebelahan dibatasi oleh tembok. Luas setiap sel ternyata lumayan luas sekali bagi tahanan didalam dunia cincin ruang ini.


"Akhirnya kalian datang, aku sangat bosan terpenjara di sini. Dan ingin membalaskan dendam pada orang orang kerajaan," ucap Sihan yang kebetulan melihat kehadiran kami ketika berada di depan selnya. Dan belum apa apa dia sudah tersulut emosi.


Hanya saja aku lihat Lina begitu murung dia berada di kasur tahanan sambil menyentuh kedua lutut dan kepalanya tertutupi oleh rambut panjangnya.

__ADS_1


"Apa Lina baik baik saja?"


__ADS_2