
Bagian 3 : Dia Itu Mafia
Mafia? itu sebuah kata terhormat untuk seorang pembunuh atau seorang penjahat yang teroganisir. Mafia adalah jenis sindikat kejahatan terorganisir yang kegiatan utamanya adalah perlindungan pemerasan, menengahi perselisihan antara penjahat, dan menengahi dan menegakkan perjanjian dan transaksi ilegal. Istilah "mafia" berasal dari mafia Sisilia. Mungkin ini berlaku untuk para pria namun jangan salah seorang wanita juga bisa duduk diposisi itu. Kalau anggota mafia disebut mafioso yang artinya pria terhormat maka untuk wanita disebut Lady. Tentu kamu tahu apa arti Lady bukan? Lady berasal dari bahasa Inggris yang artinya wanita terhormat itu istilah kerennya namun di beberapa negara seperti Jerman dan Belanda menyebutnya dengan Dame ingat yang artinya sama wanita terhormat. Dalam sebuah organisasi mafia tentunya mempunyai pemimpin yang hebat bukan? Tak hanya itu para anggota siap mati demi pemimpinnya itulah prinsip seorang mafia sejati.
Namun jika kamu dituduh menjadi mafia maka kamu akan memilih membuktikannya atau
malah menjalaninya untuk menjadi mafia nyata?
Seperti Zoe, seperti yang diceritakan sebelumnya. Zoe tidak diterima di sekolah menengah atas manapun karena reputasi yang buruk walau nilainya diatas rata-rata dan setara dengan sempurna dirinya tetap di tolak berbagai SMA. Reputasinya yang menjadi mantan gangster membuat beberapa sekolah tak berani menerimanya. Hingga muncullah rumor kalau Zoe itu seorang mafia berbahaya, rumor tersebut menyebar dengan mudahnya seringan angin lewat. kabar tersebut membuat beberapa gangster di daerahnya langsung ciut. Namun tidak ada yang membuktikan kalau Zoe seorang mafia berbahaya nyatanya sendiri juga tidak ada yang berani mau
membuktikannya mereka lebih memilih percaya pada rumor dibanding membuktikannya secara langsung. Setiap berjalan mata gadis itu menunduk ke bawah untuk menghindari tatap kontak langsung dengan orang-orang karena mereka menakutinya.
Sesampai di kantin, Zoe duduk di pojokkan menikmati es dalgonanya sendiri tanpa di ganggu. Usai menyelesaikan makanannya Zoe pergi ke toilet. Di mencuci tangannya sambil melihat dirinya di cermin hadapannya. " Kapan ibu jemput aku untuk pergi bersama?" batinnya. Tanpa sadar saat keluar toilet seseorang menabrak dirinya lagi, apakah setiap keluar toilet dia harus ditabrak? Apakah dia transparan sehingga mudah saja menabrak? matanya melirik ke arah orang yang menabraknya. Wajahnya begitu familiar di mata Zoe namun dia pergi meninggalkan orang itu setelah menatapnya.
" Lain kali hati-hati dong, Lila!" ucap Jina temannya di belakangnya.
" Ya, mana aku tahu? Toh, dia tinggi?" ucap Lila ketus dinasehati temannya.
__ADS_1
" Tumben, si mafia gak mengulah?" bisik Kina teman sekelasnya.
" Emang kenapa kalian sebut dia mafia?" tanya Lila polos.
" Ishhhh, kamu ini! Ketinggalan Zaman! Hello, kita nih udah zaman modren bukan zaman purba lagi yang nunggu bertahun-tahun agar dapat berita terbaru!" Sindir Jina menyikut temannya. Lila menggertak kesal, melihat dirinya memang tak tahu apa-apa. Akhirnya ketiganya duduk di taman sambil bercerita dengan serius.
" Namanya itu Zoe Inhaber Athanasia, rumornya sih dia itu mantan gangster sekalian mafia berbahaya loh!" Ucap Jina heboh.
Kata mafia begitu mengundang rasa penasaran Lila tentang gadis yang bernama Zoe yang dia baru tahu namanya. Menurutnya sendiri, Zoe itu terbilang misterius dan cool setiap harinya. Diam-diam Lila mempunyai tekad untuk dekat dengan Zoe dan menjalin persahabatan dengan Zoe sendiri.
" Menurut rumornya sendiri, gadis itu terkenal tertutup, pendiam dan dingin kepada siapapun. Apapun yang berkaitan dengannya begitu buram dan suram. Ada yang pernah melihat dia bertarung dengan ganas hingga babak belur, apa sih yang gak cocok sama cewek gengster gitu?"
Lila mencerna baik-baik perkataan kedua temannya itu, satu sisi ada benarnya dia harus memilah teman jika ingin berteman namun firasat Lila tentang Zoe itu benar dan salah terhadap pernyataan teman-temannya.
" Menurutku dia itu sebenarnya gadis yang baik!" ucap Lila menatap kedua temannya.
" Apanya sih yang baik!" bentak keduanya serentak.
__ADS_1
" Kalau menurut kalian argumen tentang dia benar maka buktikanlah kepadaku kalau dia seorang mafia dan mantan gangster! Kalian mendapatkan berita ini karena mendengar dari orang-orang kan? Bukan melihat
dengan mata kepala kalian sendiri kan? Lagian dia bukan mafia, kalaupun dia adalah mafia pasti sudah di buron polisi!" balas Lila tersenyum sinis. Dia selalu punya kata-kata skak untuk membuat kedua temannya berpikir dua
kali atas perkataan mereka. Batinnya berkata dia tidak menerima kalau Zoe dikatakan seperti itu, entah kenapa dia terasa membela orang yang belum dia kenal dengan baik itu. Kedua temannya menelan saliva bersamaan, pasalnya apa yang dikatakan Lila itu benar, mereka hanya mendengar rumor lalu seketika percaya. Mereka juga berpikir tidak mungkin siswi SMA seperti Zoe menjadi ketua mafia bukannya itu posisi untuk pria dewasa? pikiran mereka buntu dengan pertanyaan Lila yang menekan mereka untuk berpikir. Selagi kedua temannya berpikir keras dia bangkit menuju ruang UKS melihat Zoe disana. Ketika matanya melirik ruang UKS yang sepi dia sedikit kecewa karena Zoe tidak ada disana. Berbeda ketika matanya bertemu dengan cowok tampan yang berjalan kearahnya
dengan tersenyum, dia cowok idola para cewek di sekolah ini, Calvin. Sejujurnya dia malas bertemu dengan pemilik hatinya itu, iya Lila adalah pacarnya. Namun dia tidak mungkin lari dari Calvin karena dirinya sendiri sudah melihat Lila berdiri mematung berpura-pura baru keluar dari UKS.
" Hey, honey!" sapa Calvin.
" Iya, ada apa?" tanya Lila berpura-pura.
" Nanti malam gue sama nyokap bakal dinner bareng, nanti malam gue jemput lo ya? jam delapan gue jemput lo di rumah lo!" Ucap Calvin tersenyum.
" Dinner? Oke deh!" jawab Lila tersenyum berlalu meninggalkan Calvin sendiri. Bagi Calvin sendiri mengerti mengapa pacarnya itu meninggalkannya.
^_^
__ADS_1
Sepulang sekolah Lila menunggu di gerbang menunggu supirnya datang menjemputnya. Disaat yang bersamaan Zoe keluar dari kelas dengan menyumbatkan telinga dengan earphone yang berwarna putih itu. Kakinya melangkah turun dari tangga dan menuju gerbang sekolah. Lila mendengar tapak kaki yang berjalan mengalahkan suara musik yang sedang di putarnya. Dengan cuek dia keluar dari gebang dengan wajah dingin dan datarnya itu. Lila yang melihat punggung gadis itu memprediksi kalau tinggi gadis itu 184cm terlihat tinggi setara dengan laki-laki umumnya. Dia mengaku pendek dengan postur tinggi 154 cm. Hatinya juga mengatakan kalau dirinya juga mau tinggi seperti gadis itu. Perlahan-lahan dia mengambil foto gadis itu dari belakang ada kata takjub ketika dia melihat foto belakang gadis itu. Wajar saja kalau dia ditakuti siswa lain karena postur dan fisiknya yang benar-benar mirip laki-laki.
" Kuharap suatu hari nanti kita berteman, Zoe!" ucap Lila tersenyum memperhatikan gadis itu perlahan menghilang dari pandangannya.