
Seperti ada sihir selain kekuatan mistik didalam sel para tahanan, aku cermati dengan seksama dari tadi mereka tidak ada yang berbicara sama sekali.
Aku yakin bukan karena perintah ketat ataupun aturan memaksa di tempat ini, pasti ada sesuatu yang belum aku pahami. Yah, tapi itu tak penting buatku.
"Lina, apa kamu baik baik saja, aku bawakan cemilan dan makanan untukmu?" ucapku memanggil Lina yang masih saja tak bergeming. Aku menduga ada masalah terkait dengan dirinya dan itu bisa apa saja.
"Ryu, bagaimana caranya aku masuk kedalam sel ini. Aku lihat ada cahaya aneh disekitar jeruji besi?"
"Cahaya aneh, aku tidak melihatnya, apa itu di sel Lina? sahut Sihan.
Ryu menghampiri diriku, dia mengatakan jika sel ini hanya dapat dibuka dengan suara yang dikehendaki oleh Yanwu. Caranya tinggal berucap "...." lalu sel akan terbuka.
Aku berusaha mendekati Lina yang terlihat menyadari keberadaan diriku yang tengah memasuki sel.
Grep!
"Apa yang kamu lakukan Lina?" tanyaku dalam posisi tercekik oleh tangan kanan Lina, sedangkan tangan satunya memegang pisau kecil. Sebelumnya dia bergerak dengan cepat kearah ku secara tiba-tiba.
"Semua ini gara gara kamu, yang menyebabkan diriku kehilangan orang yang paling penting bagi hidupku, dia kemungkinan tewas beserta rekan mu yang lain bukan?" jelas Lina dengan ekspresi mengancam dan serius ingin membunuhku.
Aku yakin sekali dia akan membunuhku jika saja aku salah dalam berucap, dari keahlian ku mengartikan mimik wajah dan ekspresi aku bisa menangkap arti sekilas dari ekspresinya tadi.
Yang sebenarnya Lina tidak tahu kondisi detail mengenai kejadian yang menimpa diriku dan rekanku yang telah terbunuh oleh senjata manusia tidak berkemampuan. Aku menduga jika Lina menggabungkan kejadian tragis tersebut dengan Klie yang menurutnya ikut terbunuh.
"Tenangkan dirimu, Klie masih hidup!" ucapku agak kesulitan berbicara karena beberapa saat nafasku tertahan.
Lina pun langsung melepaskan cengkraman tangannya dari leherku dengan ekspresi tertegun.
"Uhuk! uhuk!"
"Maaf, apa aku..."
Grep!
Dengan cepat diriku langsung meringkus Lina yang membuat diriku merasa dejavu.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik baik Lina, perkataan ku tadi mengenai Klie yang masih hidup tidaklah seratus persen benar, hanya lima persen kemungkinan dirinya masih hidup. Karena dia tidak ada disaat diriku dan beberapa rekanku terkena serangan memastikan itu!" jelasku sembari melepaskan Lina.
Dilihat dari ekspresi matanya dia sepertinya berharap lebih jika Klie masih hidup, dia bahkan tidak memikirkan kondisi tubuh yang terluka saat ini.
Lantaran hanyut oleh perasaan cintanya kepada orang yang dicintainya.
"Apa dia sebegitu cintanya pada Klie, orang tanpa belas kasih yang telah membunuh banyak orang. Bahkan dia sempat membunuh rekanku di waktu normal."
"Aku minta maaf karena telah menyakiti dirimu, aku terlalu terbawa suasana hati," ucap Lina meminta maaf padaku.
"Iya, aku maafin. Aku juga minta maaf karena melakukan hal tadi padamu."
"Hmm."
Ryu baru menengok ke tahanan sebelah dimana sebelumnya aku dicekik oleh Lina. Sejujurnya aku dan Ryu dari awal sudah bekerjasama untuk tidak merespon satu sama lain terlebih dahulu.
Dia lalu menyuruh diriku untuk keluar setelah melihat Lina yang sudah membaik bahkan langsung menyantap makanan yang aku bawa.
"Jadi untuk sekarang ini kita terjebak di dalam cincin ruang ini?" tanya Sihan.
Saat ini robot yang menyerupai Brain belum terlihat lagi batang hidungnya sejak kemarin bilang ingin menjelajahi dunia didalam cincin ruang ini, ada hal menarik baginya untuk di eksplorasi katanya.
Sebelum pergi Brain sempat mengungkapkan pendapat dirinya padaku bahwa ada kemungkinan cincin ruang milik Yanwu ini terjatuh setelah kejadian tragis itu terjadi.
Dan menunggu untuk ditemukan, namun masih belum dikonfirmasi olehnya karena dirinya yang asli berjarak jauh dari tempat kejadian tersebut.
Salah satu dugaan Ryu pun ada yang sepemikiran dengan Brain dan sama persis dari saat dirinya menjelaskan bagian deskripsi tentang keberadaan cincin ruang padaku.
"Aku setuju dengan dugaan mu, tapi sebelum melanjutkan pembahasan tersebut, bisakah dirimu mengeluarkan aku dari sini terlebih dahulu!" titah Sihan.
"Tunggu dulu, kamu masih belum aku percayai, meskipun kata kata dan perilaku mu sekarang ini terkesan baik tapi belum tentu kamu akan berada di pihak ini selalu!" ucapku sembari mencegah Ryu yang hendak membuka sel tempat Sihan di tahan.
"Alasan yang tak masuk akal kenapa orang baik kamu anggap masih musuh, siapa saja pun bisa melakukan hal itu," belanya.
"Aku ingatkan padamu lagi Sihan. Bahwa dirimu bekerjasama dengan kami karena perjanjian awal itu bukan, yang sangat mengiurkan untuk kamu terima. Dan sekarang ini orang yang ingin mewujudkan itu telah tiada maka..."
__ADS_1
"Hey... hey... aku tidak perlu lagi imbalan dari perjanjian itu, karena aku sudah bertarung mati matian dengan mereka berdua, Lina dan Ryu bisa menjadi saksi!"
"Lantas karena itu aku bakal percaya seratus persen padamu, sayang sekali tidak Sihan."
Melepaskan Sihan yang masih labil dan belum terbukti setia pada tim yang masih tersisa membuatku enggan setuju untuk melepaskan dirinya dari sini.
Meskipun diriku membutuhkan orang banyak untuk rencana selanjutnya. Tapi aku rasa harus berhati hati pada kondisi rawan seperti ini. Karena ras terkuat manusia dewa tidak lagi ada di sisiku.
Malahan saat ini aku lebih membutuhkan orang orang penting saja yang bisa berkontribusi dengan baik. Seperti Lina yang menurutku memiliki kelemahan pada dirinya sehingga aku bisa menggunakannya sebagai pion.
"Maaf aku terlambat, ada hal penting yang harus aku katakan kepada kalian sekarang!" ucap Brain mengagetkan diriku karena suaranya terdengar dari jauh.
Aku membalikkan badan dan melihatnya dirinya berjalan kemari terlihat satu lengannya yang membawa kotak persegi seukuran TV tabung.
"Apa kamu sudah puas menjelajah dan menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi rencana kita selanjutnya?" ucap Ryu.
"Barusan aku mengunjungi kota berteknologi canggih dan melakukan aksi pahlawan kesiangan, dalam membantu pihak kepolisian menangkap orang jahat yang hendak menyerang penduduk kota. Setelah berhasil mengalahkan sekaligus menangkap penjahat itu aku di beri hadiah menarik."
"Jadi kotak ini adalah hadiahnya?" ucapku ikut nimbrung.
"Tepat sekali, kotak ini berisi alat dan senjata yang menurutku dapat membantu kita pada rencana selanjutnya."
"Bukannya kamu bisa menciptakan sesuatu dengan imajinasi mu dan jauh lebih mutakhir dibandingkan dengan apa yang ada didalam kotak persegi ini?" ucap Ryu dan aku sependapat dengannya.
Perkataannya barusan sesuai sekali dengan keadaan dan kenyataannya, kecuali Brain dalam bentuk tiruannya ini tidak bisa menggunakan kemampuan jika bukan dirinya yang asli. Menurutku.
"Pertama, aku tidak setiap waktu ada dengan tim nantinya, akan ada waktu bagi kita untuk berpisah. Dan aku menyarankan agar kalian disenjatai dan dilengkapi oleh teknologi canggih yang ada didalam kotak persegi ini. Kedua, karena diriku tidak bisa menggunakan kemampuan milikku dengan tiruan ini!" jelas Brain panjang lebar.
"Tapi, sebelum memasuki wilayah kerajaan kamu menggunakan kemampuan terlalu sering, meskipun dirimu saat itu bukan yang asli?" tanyaku menyela pembicaraan.
"Saat itu keadaannya berbeda, karena robot yang menyerupai diriku yang asli saat itu hampir serupa atau setengah manusia!"
Jujur saja diriku merasa terkejut sekaligus kagum sekali lagi pada kemampuan yang dimiliki oleh Brain.
Terlintas dalam pikiranku jika dia menciptakan wujud tiruan Yanwu secara detail, akankah tiruan Yanwu tersebut bisa menggunakan kemampuan serupa dengan diri yang aslinya.
__ADS_1
Aku pun kembali mengikuti arus pembicaraan hingga membahas tentang rencana selanjutnya.