Last Life

Last Life
Perasaan Jengkel Terpendam


__ADS_3

"Tuan, lepaskan aku... tuan sudah mengakui kesalahan sebelumnya. Jadi aku pamit untuk undur diri."


"Tidak bisa. Ah... aku ingat perkataan ku tadi yang ingin menjadikanmu istri, sebenarnya aku belum menikah. Perkataan ku tadi hanyalah kebohongan saja, bisakah..."


"Iya, iya aku tahu. Aku maafkan semua kesalahan tuan tadi!" ucapku setelah mendapatkan kesempatan, kemudian diriku langsung melenggang pergi.


Masih ada misi penting agar rencana meninggalkan dunia ini bisa terlaksana, sejujurnya aku tidak ingin menunda banyak waktu lagi.


Apalagi sebelumnya terhambat gara-gara pria itu.


"Haish... lupakan, lagian dia sudah tidak memperdulikan diriku."


Berjalan selama dua puluh menit lebih hingga kakiku merasa mulai pegal, akhirnya aku memilih untuk beristirahat sejenak.


Dan aku baru sadar jika diriku hanya berjalan tanpa tujuan pasti, alamat kediaman ras manusia dewa itu pun aku tidak tahu.


Yang memang dari awal Yanwu tidak memberitahuku dimana lokasinya, sepertinya akan sangat sulit mencarinya di dataran luas ini.


"Hmm, gimana ya aku harus dapatkan ini."


Sampai aku merenung dan bergumam sendiri.


Lalu aku mengingat perkataan Hyun Wo saat di kastil, dia pernah berkata ikuti takdir. Perkataannya saat itu masih ambigu menurutku, tapi untuk saat ini bisa saja adalah jalan keluar dari permasalahan yang tengah aku hadapi.


"Nona, apa nona sedang lapar?" ucap pria paruh baya yang kini menghampiri diriku. Pakaiannya aku lihat begitu kasual.


"Saya tidak lapar tuan, terimakasih sudah menanyakan hal itu!" jelas ku ramah dengan sebuah senyuman.


Gruuk...


Note: bunyi perut kelaparan.


"Nona tidak bisa menolaknya kan sekarang?"


"Ha hehe.. iya, tapi aku tidak punya uang tuan!" jawabku dengan jujur, tidak enak jika menganggu waktu orang lain. Meskipun aku melihat keramahan yang terpancar dari diri pria paruh baya ini.


"Kebetulan saya hari ini mendapatkan keberkahan, jadi saya akan mentraktir nona makan. Mari.. ikuti saya!"


"Keberkahan...?"


Pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya dan sekarang ini aku berada di sebuah tempat seperti restoran era kekaisaran.


Beberapa tanaman hijau berada didalam tempat ini menambah kesan asri serta sejuk.


Barusan aku memilih menu asal karena aku tidak tahu tampilannya seperti apa.


Aku duduk sendirian sementara pria paruh baya itu memiliki sedikit urusan mendadak, jadi dia meninggalkan diriku uang secara paksa meskipun tadi aku menolak. Lalu pergi setelahnya.

__ADS_1


Tak lama menu yang ku pesan sudah datang dan kelihatannya sangat menggugah selera.


"Silahkan nona..."


"Iyaa, terimakasih banyak."


"Sama-sama."


Dua pelayan tadi sungguh ramah mereka juga mengenakan pakaian khusus di dataran langit ini, tidak seperti di tahun asalku maupun di luar wilayah ini.


Tiga jenis menu dan satu minuman yang aku pesan. Ternyata mangkok berisi pasta dengan beberapa toping lengkap, lalu makanan hijau, karena seperti salad dan ada daging mentahnya. Aku bahkan tidak sadar memesan makanan ini.


Lalu menu terakhir adalah mangkok berisi nasi dan lauk lainnya. Sementara minuman aku pesan air putih saja.


"Baiklah, selamat makan..."



Pertama, aku akan menghabiskan pasta dengan toping lengkap ini.


"Yam... yam..."


Slurph...


"Haa..."


Tap.. tap.. tap..


"Apa kabar nona manis?" seorang pria dengan senyuman manisnya namun membuatku kesal dan aku tidak pernah berharap akan bertemu dengannya lagi. Dia adalah pria yang sebelumnya mempermainkan diriku.


"Hehe.."


"Dia menunjukkan keramahannya, mana mungkinkan aku tertipu olehnya."


Dan seenaknya saja dia duduk di meja tempatku ini dengan wajah tak bersalah sama sekali, bahkan dengan berani mengambil daging pada salah satu menu pesanan ku.


"Melihatmu cemberut begitu pasti kamu sedang mengutukku dalam hati?"


"Hm. Aku cuma sudah kenyang, kalau begitu aku akan membayar pesanku dulu!" sahut sembari mengambil uang pemberian itu di meja, kemudian hendak melenggang pergi.


"Tunggu! Kamu tidak berniat meninggalkan diriku disini kan?"


"Aku cuma mau bayar!" ucapku agak ketus melihat tangannya menahan diriku lagi.


"Aku traktir, jadi kamu duduk saja biar nanti aku yang bayar!"


Padahal aku memang sedang ingin jauh-jauh darinya dengan dalih membayar pesanan. Tapi di satu sisi aku mendapatkan keberkahan, hanya saja aku masih tidak suka dengan pria ini.

__ADS_1


"Ya... apa boleh buat."


"Tidak apa-apa tuan, aku bisa bayar sendiri." ucapku ramah dengan senyuman lantaran aku baru sadar pengunjung lain mulai memperhatikan diriku.


Lalu tak disangka pria paruh baya itu kembali kemari dia kini melihatku secara bergantian dengan pria ini.


"Jadi kalian saling kenal?"


"Ya tuan, dia ini paca... teman, temanku!" ucap pria menyebalkan.


"Bagus, kebetulan sekali saya hendak mengundang orang yang sudah merebut kembali harta peninggalan penting dari para pencuri itu, kalau bisa sekalian saja datang bersama dengan nona ini!" ajak pria paruh baya ini kepada pria menyebalkan itu, bahkan mengajak diriku yang baru bertemu dengannya ini.


Dan aku sedikit terkejut saat pria paruh baya ini mengatakan harta peninggalan penting direbut kembali oleh pria ini dari pencuri. Sampai berterimakasih padanya, rasanya agak sedikit berhubungan.


"Maaf tuan-tuan, saya memiliki kesibukan malam ini! Jadi saya tidak bisa ikut, sekali lagi saya minta maaf..."


"Hmm, begitu ya, sayang sekali nona."


Karena kedatangan pria paruh baya tadi yang sekarang sudah pergi menuju tempat pembayaran, jadinya aku terpaksa duduk kembali dan melanjutkan makan.



Menu kedua aku ambil nasi dan lauk terlebih dahulu.


Aku memakannya dengan lebih baik kali ini karena pria tanpa nama ini terus-terusan melihatku. Apa dia kelaparan?


Bukannya tadi dia menawarkan diriku traktiran, apa mungkin dia cuma iseng sebelumnya?


Beberapa saat, akhirnya aku menghabiskan setengah lauk menu ini. Aku benar-benar kenyang, sepertinya menu terakhir akan aku bungkus setelah membayar biaya pesanan.


Kembali pria paruh baya itu datang bersama dengan pelayan, katanya sudah membayar kan pesanku


"Jadi untuk uang yang nona pegang itu lebih baik nona simpan, gunakan untuk keperluan lainnya."


Benar-benar pria sejati dan baik tidak seperti pria yang sok mentraktirku itu.


•••


Kini sudah waktunya aku pergi setelah beberapa menit menemani obrolan mereka.


"Oh ya tuan, sebenarnya saya dibantu oleh seorang perempuan cantik yang mampu melumpuhkan para penjahat itu dari kejaran, dan dialah orangnya!" ucap pria itu yang mana cocok dengan hal serupa yang dialami oleh pria paruh baya ini.


Pada akhirnya aku terpaku dalam obrolan penuh kalimat sanjungan dari pria paruh baya ini yang mengucapkan rasa terimakasihnya kepadaku, karena telah membantunya menjaga peninggalan penting itu.


Untuk ajakannya itu kini aku tidak bisa menolaknya, saat beliau mengaku jika dirinya adalah seorang ayah dari kepala wilayah ini.


Yang mengemban tugas penting di dataran langit ini.

__ADS_1


"Dan saya lihat, kalian berdua sangat cocok menjadi sepasang kekasih!"


__ADS_2